Thursday, April 30, 2009

TNI AU Masih Kekurangan Radar

BANDUNG - Wakil Asisten Perencanaan dan Anggaran Kepala Staf Angkatan Udara Marsekal Pertama Wasito menyatakan, TNI AU masih kekurangan radar militer. Dari kebutuhan 32 radar militer, baru 17 Radio Detection and Ranging (Radar) Militer yang dipasang diberbagai daerah untuk memantau yuridiksi Indonesia.

"Kemampuan radar TNI AU belum sepenuhnya mendukung tugas TNI, karena keterbatasan radar," kata Wasito dalam Seminar Radar Nasional III di Hotel Savoy Homan Bandung, Kamis, (30/4).

Wasito berharap, kebutuhan radar militer ini bisa diselesaikan. Kondisi pertahanan udara terutama Radar belum menenuhi kebutuhan minimum essential force TNI."Pengadaanya tergantung dari anggaran yang diberikan pemerintah yang pengadaanya akan dilakukan secara bertahap karena harganya yang mahal, TNI hanya sebagai pemakai,"ungkapnya.

Wasito menyatakan, untuk menunjang kemampuan Radar Militer, TNI AU mengintegrasikan Radar Sipil untuk memperoleh informasi kondisi udara wilayah Indonesia. Namun, beberapa Radar Sipil seperti di Banda Aceh dan Papua belum terintegrasi dengan baik."Ini yang terus diupayakan, tapi untuk terintegrasipun sangat sulit mengingat sistim sarana komado, kendali, komunikasi komputerisasi dan intelegen belum seluruhnya berbasik komputer dan terintegrasi dengan baik,"akunya.


Radar Thomson TRS 2215 D dengan Antenna Plannar

TNI AU menargetkan sampai tahun 2014 jumlah Radar Militer yang dimiliki mencapai 24 Radar dimana pada tahun 2011 direncanakan bertambah tiga satuan Radar Militer baru. TNI saat ini memiliki beberapa tipe Radar berjenis Thomson TRS 2230, Plessey AWS 2, Plessey AR 325, Pleessey AR 15 dan Thales Master T. Selain itu sedikitnya da 14 Radar Sipil dan puluhan Radar milik Badan Meteorologi dan Geofisika.

Beberapa Radar Militer yang dimiliki TNI AU sendiri usianya sudah relatif tua dengan tahun produksi 1960. Daya jangkaunya sudah tidak maksimal, dengan jarak jangkau yang hanya 100 hingga 120 nutical miles atau sekitar 120 kilometr. Padahal, jarak jangkau Radar yang baik mencapai 470 Kilometer.

Sumber : TEMPOINTERAKTIF.COM

Wednesday, April 29, 2009

PAM Pilpres 2009 Taifib-1

SURABAYA - Sejumlah anggota anti teror pasukan khusus Intai Amfibi-1 (Taifib-1) Marinir, melakukan parameter sesaat sebelum melakukan pertempuran di ruang tertutup (close quarter battle/ CQB) di Bumi Marinir Karangpilang, Surabaya, Selasa (28/4). Kegiatan tersebut merupakan latihan gultor (penanggulangan teroris) membantu Polri dalam rangka Pengamanan Pilpres 2009. FOTO ANTARA/Eric Ireng/mes/09


Cina Tingkatkan Kerja Sama Pendidikan dan Latihan dengan TNI AL

JAKARTA - TNI Angkatan Laut (AL) dan Angkatan Laut Republik Cina sepakat meningkatkan kerja sama, terutama dalam pendidikan dan latihan.

Demikian hasil pertemuan Kepala Staf Angkatan Laut (Kasal) Laksamana TNI Tedjo Edhy Purdijatno dan Kepala Staf Angkatan Laut Cina Laksamana Wu Shenghi, di sela-sela Peringatan 60 Tahun AL Cina, di Qingdao, Provinsi Shandong, Sabtu (25/4).

Kepala Dinas Penerangan TNI AL, Laksamana Pertama Iskandar Sitompul saat di konfirmasi ANTARA di Jakarta, Selasa, mengatakan, kerja sama masih difokuskan pada peningkatan pendidikan dan latihan bagi perwira kedua angkatan lain.

"Kami tidak berbicara tentang kerja sama pengadaan alat utama sistem senjata (alutsista). Hanya masalah pendidikan dan latihan, serta perkembangan keamanan maritim di Asia dan global," tuturnya.

Sementara itu secara terpisah, Kepala Staf Angkatan Laut Cina Laksamana Wu Shenghi mengatakan, Cina berambisi untuk mengembangkan angkatan lautnya untuk mengamankan wilayah maritim di perairan jauh dari pesisir Cina.

Terkait itu, Cina merasa perlu untuk menjalin kerja sama dan kemitraan dengan angkatan laut sejumlah negara.

Peningkatan kerja sama juga dibicarakan antara TNI AL dan Angkatan Laut Jepang dan Rusia.

Peringatan 60 tahun AL Cina ditandai dengan parade internasional kapal perang yang diikuti 21 kapal perang dari 14 negara serta dihadiri pula oleh 29 negara delegasi.

Sumber : ANTARA

Pesawat TNI AL Berhasil Dievakuasi


TB-10 Tobago TNI AL

JAKARTA - Tim gabungan TNI/Polri dan PT Angkasa Pura berhasil mengevakuasi pesawat latih TNI Angkatan Laut Tobago/TB-10 yang jatuh di sekitar Pantai Maron, Semarang, Jawa Tengah, Selasa (28/4).

Kepala Dinas Penerangan TNI Angkatan Laut (Kadispenal) Laksamana Pertama TNI Iskandar Sitompul di Jakarta, mengatakan, kini seluruh badan pesawat sudah berada di hanggar Pangkalan Udara (Lanud) Ahmad Yani, Semarang.

Setelah evakuasi berhasil, maka mulai Rabu (29/4) tim investigasi dari Pusat Penerbangan TNI AL (Puspenerbal) akan segera bekerja, katanya, ketika di konfirmasi ANTARA.

Pesawat latih milik TNI AL jenis Tobago/TB-10 bernomo register L-208 melakukan pendaratan darurat di Pantai Maron, Semarang, karena mengalami gangguan mesin saat melaksanakan latihan terbang Perwira Siswa Penerbang Angkatan XVII Sekolah Penerbangan Komando Pendidikan dan Pengembangan TNI AL (Kobangdikal) pada pukul 09.40 Wib.

Pesawat tinggal landas dari runway 13 Lanud Ahmad Yani pada pukul 09.00 Wib dan saat melaksanakan di "left down wind runway" 13, pesawat diperintahkan untuk "extend down wind" oleh menara kontrol namun pesawat mengalami kegagalan mesin (engine failure) sehingga pilot mengambil keputusan untuk melaksanakan pendaratan darurat kurang lebih 200 meter dari runway 13.

Akibatnya pilot Letkol Laut (P) Imam Musani sekaligus instruktur dan Perwira Siswa (Pasis) Penerbang Lettu Laut (P) Ruby Mohtar mengalami luka-luka dan kini dirawat di Rumah Sakit Pusnerbad, Semarang.

Iskandar menambahkan, Pasis Dikbang Kobangdikal yang melakukan latihan terbang berjumlah 10 orang, antara lain Lettu Laut (P) Ruby melaksanakan latihan terbang pre solo.

Kegiatan tersebut dilaksanakan untuk melanjutkan program terbang para siswa Dikpabang setelah melewati program "ground school" dan flight "simulator training" di Juanda, Surabaya.

Ia mengemukakan, para siswa tersebut akan melaksanakan latihan terbang secara intensif di Semarang dibawah kendali Sekolah Penerbangan Kobangdikal. Kesepuluh siswa itu dilatih dengan menggunakan pesawat latih Tobago-10 untuk menjadi penerbang yang sesungguhnya.

"Sebelum berangkat ke Semarang, sejumlah siswa tersebut telah dibekali dengan latihan terbang selama lima jam dengan pesawat yang sama di Juanda, Surabaya," tuturnya.

Mengingat padatnya lalulintas udara di Bandara Juanda, maka untuk memenuhi silabi para Siswa Penerbang secara efektif, kegiatan tersebut dialihkan ke Lapangan Udara Achmad Yani, Semarang selama sekitar dua minggu.

Pesawat Tobago dari Skuadron 200 Pusat Penerbangan TNI AL adalah buatan Socata, Prancis dan resmi sebagai pesawat latih TNI AL pada 30 Nopember 2005.

Tobago/TB-10 memiliki panjang 25,43 kaki, lebar 32,84 kaki, tinggi 9,91 kaki dan berat maksimal 1.060 kg.

Sumber : ANTARA

TNI AL Lebih Pas Awasi Namru

JAKARTA - TNI AL dinilai paling pas mengawasi kegiatan Laboratorium Marinir Amerika Serikat (Namru) 2. "Koordinasinya menjadi setara," kata pengamat intelijen Wawan Purwanto saat Forum Publik "Menolak Namru 2" di Gedung Dewan Pers, Jakarta, Selasa (28/4).

Namru pertama kali hadir tahun 1968 atas permintaan pemerintah Indonesia. Ketika itu, Presiden Soeharto menyerahkan kewenangan pengawasan kepada Laksamana Soedomo. "Kembalikan saja kewenangan tersebut," kata dia. Meski pengawasan pada TNI AL, Departemen Kesehatan tetap bisa beroperasi sebagai pelaksana penelitian.

Menurutnya, pendekatan diplomasi lebih cocok diterapkan dalam kasus Namru. Tuntutan menutup Namru, kata dia, memiliki banyak konsekuensi. "Dampaknya luar biasa. Siap tidak kita menghadapi AS?" kata Wawan. Ketimbang mempersoalkan keberadaan Namru, pemerintah seharusnya lebih fokus membangun lembaga dan pusat riset yang memadai.

"Kompetisi terbuka lebih baik," katanya. Dengan penelitian dalam negeri yang mumpuni, keberadaan Namru menjadi tidak penting. Hal senada diungkapkan Deputi Ilmu Hayati, Lembaga Ilmu Pengtahuan Indonesia (LIPI) Endang Sukara. Menurutnya, Namru bisa dijadikan lembaga riset bersama.

"Perjuangkan posisi tawar ini," kata dia. Kalaupun opsi ini ditolak, Indonesia tetap bisa melakukan penelitian sendiri. "Alat-alat yang kita punya setara kok," katanya. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan di Namru di Jakarta. Spesimen yang dibawa ke luar Indonesia itu yang perlu diketahui digunakan untuk apa.

"Karena itu, pengawasan menjadi penting." Pasalnya, Indonesia tidak bisa mengontrol lagi setelah lolos ke luar. Anggota Komisi III (bidang hukum) DPR Soeripto mengatakan, Badan Intelijen Negara (BIN) harus bekerja keras mengantisipasi semua operasi illegal asing di wilayah Indonesia.

Sumber : JURNAS

Tuesday, April 28, 2009

KRI Diponegoro-365 Hailing 23 Kapal

LEBANON - Setelah satu minggu beroperasi di AMO (Area Maritime Operation) baik siang maupun malam hari, KRI Diponegoro-365 berhasil melaksanakan hailing atau kontak komunikasi terhadap 23 kapal.

"Kita telah mengadakan hailing terhadap lebih kurang 23 kapal yang melintas di kawasan AMO dan semuanya clear/tidak bermasalah", ujar Komandan Satuan Tugas Maritime Task Forces Konga XXVIII-A/UNIFIL Laut (P) Arsyad Abdullah yang juga sekaligus sebagai Komandan KRI Diponegoro-365. Sebagian besar kapal yang dihailing adalah jenis kapal kargo dan tanker, baik yang melintas dari arah Utara ke Selatan (Lebanon ke Israel) maupun sebaliknya.

Ia menambahkan bahwa bertugas di AMO ini memang membutuhkan keseriusan tinggi karena misi pokok yang dilaksanakan adalah mencegah terjadinya penyelundupan senjata sekaligus material terkait dan juga berkaitan dengan pelatihan Lebanon Navy.

Berkaitan dengan tugas yang pertama tentu berat sekali karena AMO/daerah operasi kita juga merupakan lalulintas pelayaran kapal-kapal yang harus dimonitor dan setiap saat dilaporkan kepada Commander Task Force (CTF).

Diawal penugasannya KRI Diponegoro-365 dengan jumlah personal 100 orang tersebut mendapat wilayah pengamanan di Zone 1 Kawasan yang berada di luar perairan teritorial Lebanon bersama-sama dengan Kapal perang Belgia Namun kemudian karena keterbatasan unsur-unsur MTF maka pembagian zone sesuai dengan perintah operasi dari Commander Task Force (CTF). KRI Diponegoro berada di bawah CTF 448 dengan Komandan Rear Admiral Jean Thiery Pinooy, dengan kapal markas sekaligus MIO Commander Kapal BNS Leopold milik Belgia.

Menurut Komandan KRI Diponegoro-365 Pada hari pertama sejak bertolak dari Beirut 19 April 2009 pukul 10.00 (sudah harus berada di AMO) KRI Diponegoro sudah bisa mendeteksi incident report (AMO Penetration) yang dilakukan oleh F- 16 Israel kemudian dilaporkan ke CTF.

Disela-sela melaksanakan operasi KRI Diponegoro-365 juga mendapatkan briefing dari personel kapal markas (Belgia). Yang intinya adalah menjelaskan tugas apa saja yang akan dilaksanakan, apa saja yang boleh, format komunikasi, fasilitas apa yang kita dapatkan, bagaimana cara pelaporan, bagaimana melaksanakan offtask sandar di pelabuhan khususnya sebagai prajurit yang melaksanakan tugas menjaga perdamaian. Disamping itu juga melaksanakan internal latihan dengan unsur-unsur MTF yang bertujuan untuk meningkatkan kerjasama yang baik dan pemahaman serta penguasaan dan peningkatan kemampuan di profesi keangkatanlautan.

Sementara untuk pengawasan udara, Hellikopter BO-105 juga tidak kalah sibuknya. Helly dengan Pilot Kapten Laut (P) Panji P setiap hari melaksanakan ISR (Inteligent, Survailance and Recognation) 2 kali sehari, pukul 09.00 dan pukul 14.00 waktu setempat. Hasil operasi berupa foto akan dijadikan bukti dalam pembuatan laporan ke CTF secara berjenjang.

Sumber : DISPENAL

Latihan Persiapan Pengamanan Pertemuan ADB

DENPASAR - Beberapa personil TNI melakukan latihan dalam rangka persiapan pengamanan pertemuan tahunan Asian Development Bank (ADB), di Lapangan Niti Mandala Renon, Denpasar, Bali, Senin (27/4). Sidang Tahunan ke-42 ADB (Asian Development Bank) yang akan diselenggarakan di Nusa Dua, Bali tanggal 2 s/d 5 Mei 2009, akan melibatkan 3000 delegasi meliputi gubernur bank sentral, menteri keuangan, dan akademisi. FOTO : ANTARA/Satya Bati, LANCERO.




Empat Hawk TNI AU Amankan Perairan Ambalat


Hawk-109 TNI AU. Foto: Razabanjar@kaskus.us

PONTIANAK - Empat pesawat Hawk 100/200 dari Skadron Udara (skadud) 1 Elang Khatulistiwa Pontianak dan Balikpapan, melakukan operasi pengamanan wilayah udara di atas perairan Ambalat.

Siaran pers Penerangan Pangkalan Udara (Lanud) Pontianak, di Jakarta, Senin (27/4) menyebutkan, keempat pesawat Hawk itu disiagakan di Tarakan, Kalimantan Timur untuk mendukung operasi pengamanan tersebut.

Pengamanan di wilayah udara perbatasan RI-Malaysia, khususnya di wilayah Ambalat, dilakukan guna mengantisipasi segala bentuk ancaman dan gangguan terhadap kedaulatan RI. Selain empat pesawat Hawk, operasi pengamanan Ambalat juga diperkuat Satuan Radar (Satrad) 225 Tarakan dan akan berlangsung hingga 1 Mei 2009.

Sumber : MEDIAINDONESIA.COM

Friday, April 24, 2009

Dephan Pernah Dijuluki Departemen "Bobo"

JAKARTA - Reformasi birokrasi dalam satu dasawarsa terakhir menjadi momok bagi semua departemen, tidak terkecuali Departemen Pertahanan (Dephan) dan Keamanan.

Masuknya era reformasi menjadi tonggak baru di negara ini, karena reformasi dalam birokrasi menjadi tuntutan yang harus dipenuhi.

Khusus Dephan salah satu yang direformasi adalah terkait anggaran pengadaan alat utama sistem senjata (Alutsista).

"Selama ini masyarakat mengetahui bahwa Dephan memiliki anggaran cukup besar untuk alutsista. Saking seramnya departemen ini tidak banyak pihak yang mau mengutak-atik masalah penggunaan anggaran itu," kata Sekjen Dephan Letjen TNI Sjafrie Sjamsoeddin saat berbicara pada acara Innovative Leader Forum V bertajuk Inovator dalam Reformasi Birokrasi, di Jakarta, Kamis (23/4) malam.

Terkait reformasi di departemen itu, Sjafrie mengakui memiliki pengalaman pahit dalam hal pengadaan persenjataan yang tidak terukur.

Demikian parahnya diutarakannya, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pernah menganugerahi gelar kepada institusinya sebagai Departemen "Bobo" atau "Boros dan Bocor".

"Akan tetapi sejujurnya julukan ini menyebabkan tekanan psikologis bagi kami," ujarnya.

Ia pun melanjutkan, pengalaman pahit dalam pengadaan Alusista tersebut disebabkan pembelian alat-alat senjata dilakukan sebagian besar melalui perantara (broker).

Ia menduga hal itu disebabkan keuntungan yang diperoleh dari proyek-proyek pengadaan Alutsista tersebut sangat besar.

"Hingga kini ada Alusista yang masih terbungkus dan belum terpakai karena pesanan tersebut tidak sesuai dengan kebutuhan," tegasnya.

Lemahnya birokrasi secara langsung menyebabkab ekonomi biaya tinggi terjadi di lembaga tersebut.

Bahkan lembaganya pernah membeli Alusista yang sebenarnya tidak ada dalam program kerja.

Seiring dengan tuntutan reformasi birokrasi, lanjut Sjafri, Dephan terus melakukan berbagai upaya untuk mencegah terjadinya kembali praktik "markup" pengadaan Alusista.

Upaya reformasi birokrasi dilakukan dengan membuat tiga lapisan dalam pembuatan kebijakan pengadaan Alusista.

Pertama, Dephan sebagai pelaksana, kedua TNI dan Polri sebagai pengguna, dan ke tiga pabrikan sebagai pemasok.

Selain itu, Dephan juga melakukan Link Center Management dimana setiap keputusan harus memperoleh persetujuan dari pihak lain dan tidak bisa diputuskan sendiri (single handled management).

Sumber : ANTARA

Thursday, April 23, 2009

Marinir RI-AS Latihan Bersama di Situbondo




SURABAYA - Korps Marinir Indonesia mengadakan latihan bersama dengan Korps Marinir Amerika Serikat atau United State Marine Corps (USMC) bertajuk "Latern Iron 09-1 Exercise 2009" di Pusat Latihan Tempur Korps Marinir Karangtekok Situbondo pada 20 April hingga 20 Mei 2009.

"Latihan bersama itu dilaksanakan untuk meningkatkan kesiapan standarisasi teknik dan taktik," kata Komandan Pasmar-1 Brigjen TNI (Mar) I Wayan Mendra di Surabaya, Kamis, setelah meninjau latihan bersama itu di Situbondo.

Saat melakukan peninjauan latihan untuk mewakili Komandan Korps Marinir Mayjen TNI (Mar) Djunaidi Djahri, ia mengatakan, kerjasama pertahanan dan keamanan Indonesia-AS itu juga sebagai sarana meningkatkan kerjasama yang saling menguntungkan dan dapat memberikan kontribusi yang positif bagi Marinir Indonesia dan USMC.

Latihan bersama selama satu bulan itu melibatkan peserta latihan dari Korps Marinir (Denjaka dan Taifib ) sebanyak 40 orang, dan USMC (US Marsoc) sebanyak 11 orang, serta bertindak selaku pemimpin latihan adalah Letkol Marinir Widodo yang juga Komandan Denjaka.

Taifib merupakan singkatan dari Intai Amfibi yang merupakan pasukan khusus TNI AL seperti halnya Kopassus di TNI AD, sedang Denjaka merupakan singkatan dari Detasemen Jala Mangkara yang merupakan prajurit pilihan dari Batalyon Taifib (Yon Taifib).

Latihan itu juga sempat ditinjau Komandan Kolatmar Kolonel Marinir Siswoyo H.S, Danbrigif-1 Mar Kolonel Marinir K. Situmorang, Asintel Kaspasmar-1 Letkol Mar Edi Juardi, Paban Ops Kormar Letkol Mar Nur Alamsyah, Danyon Taifib-1 Mar Letkol Mar Nur Azis, dan jajaran Muspida Situbondo.

Sebelumnya, Korps Marinir RI-AS juga baru saja mengakhiri latihan bersama di Jakarta pada tanggal 16 Februari hingga 27 Februari 2009 yang melibatkan 90 personel dari Markas Komando Korps Marinir Pasmar II dan 48 prajurit dari Resimen ke-4 USMC yang dipimpin Kolonel You.

Sumber : ANTARA

Wednesday, April 22, 2009

Wilayah Perbatasan Udara Indonesia - Timor Leste Kondusif


View Larger Map

MAKASSAR - Panglima Komando Operasi TNI AU (Pangkoopsau) II, (Marsda) TNI Yushan Sayuti menegaskan, saat ini wilayah perbatasan udara RI - Timor Leste dalam keadaan kondusif dan tidak terjadi gangguan keamanan.

"Kita tidak merasakan adanya ancaman udara di wilayah perbatasan udara Timor Leste dan NTT (Indonesia), dan saya juga tidak melihat kekuatan udara Timor Leste sebagai sebuah ancaman, merekakan negara yang sedang membangun angkatan bersejatanya dan kekuatan udaranya jauh di bawah kita," ujar Pangkoopsau II di Kupang, Selasa (21/4).

Namun demikian, lanjut Pangkoopsau II yang dikutip Kepala Penerangan Koopsau II, Mayor Sonaji Wibowo, tindakan pengamanan dan pengamatan di wilayah tersebut tetap dilaksanakan oleh TNI AU. Selain melaksanakan patroli udara, juga dilaksanakan pengamatan oleh radar-radar TNI AU yang ada secara terus menerus.

Pangkoopsau II menyatakan, TNI AU melaksanakan pengamanan wilayah udara perbatasan bila memang sudah ada bentuk nyata ancaman itu dan sampai sekarang belum ada informasi dari intelijen tentang ancaman di perbatasan wilayah udara RI - Timor Leste.

"Kita punya radar yang ada di Buraen, Nusa Tenggara Timur (NTT), yang secara berkesinambungan melaksanakan pengamatan wilayah udara di kawasan tersebut," ujar Pangkoopsau II sembari menyatakan kalau Satuan Radar bukan merupakan domain Koopsau II tetapi miliknya Kohanudnas.

Kepada Komandan Lanud Eltari-Kupang, Pangkoopsau II minta agar senantiasa menyiapkan Lanud Eltari mejadi Lanud yang siap operasional. Menurut dia, secara geografis, Lanud Eltari memiliki nilai yang strategis, karena berbatasan dengan dua negara tetangga, yaitu Timor Leste dan Australia.

Selain itu, wilayah ini juga menjadi bagian penting dari Alur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI) yang sering kali menjadi lalu lintas laut kapal-kapal asing yang melintas menuju maupun dari Australia.

Keberadaan Lanud Eltari yang strategis, menuntut seluruh prajurit Lanud Eltari untuk senantiasa meningkatkan kewaspadaan dan dalam kondisi siap operasional, kata Pangkoopsau II.

Sumber : ANTARA

Monday, April 20, 2009

RI-Perancis Jajaki Kerja Sama Konkrit Bidang Pertahanan

PARIS - Kedua belah pihak sepakat untuk menjajaki bentuk-bentuk kerjasama konkrit bidang pertahanan. Ada bantuan dana dari perbankan Prancis untuk mengembangkan industri pertahanan Indonesia. Hal itu mengemuka dalam pembicaraan bilateral antara Menhan RI Juwono Sudarsono dengan Menhan Perancis Herve Morin dalam kunjungan kerja dua hari, di Paris, Perancis (15-16/4/).

Kunjungan Menhan RI ini dalam rangka memenuhi undangan Menhan Perancis Morin untuk membina, meningkatkan dan mempererat hubungan bilateral Indonesia-Prancis dalam bidang pertahanan. Pertemuan bilateral kedua menteri terfokus pada prospek kerjasama bilateral dan peningkatan kerjasama pengadaan kebutuhan militer Indonesia.

Dalam hal kerjasama bilateral, kedua belah pihak sepakat untuk menjajaki bentuk-bentuk kerjasama konkrit seperti pendidikan dan pelatihan untuk personel dan teknologi militer, seminar dan dialog bilateral antara kedua negara dalam bidang pertahanan, penelitian dan pengembangan, komunikasi medan, dan pengembangan industri pertahanan.

Terkait hal itu telah dibentuk semacam komite dari kedua belah pihak di mana komite tersebut diharapkan menjadi wadah realisasi kerjasama kedua negara. Mengenai pengembangan industri pertahanan, Menhan Prancis mengemukakan kemungkinan adanya bantuan dana dari perbankan Prancis untuk mengembangkan industri pertahanan dengan mengikutsertakan perusahaan Indonesia .

Pada kesempatan itu Menhan RI juga bertemu dengan pihak Renault Trucks Defense (RTD), pemasok APC pasukan perdamaian RI di Lebanon. Prospek kerjasama dalam pengadaan kebutuhan angkatan bersenjata Indonesia merupakan isu utama pertemuan Menhan RI dengan pimpinan RTD.

Juga dijajaki kerjasama antara RTD dengan perusahaan di Indonesia dalam bidang produksi bersama panser. Selama ini terdapat dua perusahaan Prancis yang beroperasi di Indonesia dalam bidang pertahanan, yakni European Aeronatic Defense and Space Company (EADS) dan Thales yang memasok keperluan radar AU & AL.

Sumber : DMC

Panser VAB TNI di Lebanon Kurang Sukucadang


Panser VAB buatan Pindad

LEBANON - Komandan Force Head Quarter Support Unit Pasukan Pemelihara Perdamaian PBB di Lebanon Selatan (FHQSU UNIFIL) Kolonel TNI Saud Tamba Tua, mengatakan, panser VAB yang digunakan TNI di Lebanon, memerlukan tambahan suku cadang.

Ditemui ANTARA usai memberikan paparan di hadapan Panglima Armada RI Kawasan Timur (Pangarmatim) di Naquora, Sabtu (18/4), Kolonel Saud Tamba Tua mengungkapkan, untuk mendukung tugas pokok Kontingen Garuda (Konga) XXVI-A di Naquora, Lebanon, dilengkapi dengan tujuh unit panser VAB.

"Dari tujuh itu, ada beberapa yang memerlukan tambahan suku cadang. Ini penting, untuk memaksimalkan pelaksanaan tugas pokok menjaga keamanan dan pengamanan," ungkapnya.

Ia menambahkan, pengajuan tambahan suku cadang bagi panser VAB itu telah diajukan ke Mabes TNI sejak enam bulan silam.

Berbeda dengan kontingen TNI lain di Lebanon, maka tujuh unit panser VAB yang digunakan Konga XXVI-A adalah jenis panser lama.

"Ini masih asli buatan Renault, Perancis. Dari "`body" hingga mesin yang digunakan, bukan VAB baru yang diproduksi bersama PT Pindad dan Renault," ungkap salah seorang perwira TNI yang enggan disebut namannya.

Pada 2006, pemerintah Indonesia pernah membeli 32 panser VAB dari Renault Truck, Perancis untuk mendukung Konga XXIII-A di Lebanon Selatan.

Puluhan kendaraan lapis baja yang dibeli itu memiliki spesifikasi rangka tahun 1997 hingga 2000, tapi menggunakan komponen dan teknologi tercanggih.

Panser itu dibuat tiga jenis, yaitu jenis komando, angkut, dan ambulans yang dilengkapi dengan sistem integrated logistic support (ILS). Tidak hanya itu, TNI akan memperoleh 14 ILS tambahan dan tenaga teknis.

Selain itu, pemerintah juga memesan 150 unit panser sejenis dari PT Pindad yang bekerja sama dengan Renault Truck`s pada 2008 yang rencananya sebagian digunakan pula bagi kontingen TNI di Lebanon.

Sumber : ANTARA

Friday, April 17, 2009

BPPT Uji Coba Pesawat Tanpa Awak

JAKARTA - Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) pada 16-17 April 2009 mengadakan uji coba penerbangan pesawat udara nirawak (PUNA) tipe 02 Pelatuk. Uji coba dilaksanakan di Lapangan Udara Nusawiru Pangandaran, Ciamis, Jawa Barat.

Kepala BPPT Marzan Azis Iskandar turut menyaksikan uji terbang ini. Masa sekali penerbangan untuk jenis pesawat pengintai ini selama 30 menit sampai satu jam.

Diharapkan aplikasi teknologi dirgantara ini dapat bermanfaat untuk pemantauan hutan maupun laut. Juga dapat diaplikasikan untuk pemotretan udara skala area kecil.

Sumber : KOMPAS.COM

Membangun TNI Perlu Kesinambungan

JAKARTA - Hanya satu hal yang selalu terpatri di benak Marsda TNI Eris Herryanto, Direktur Jenderal Sarana Pertahanan (Ranahan) Dephan, setiap kali akan meloloskan kontrak pengadaan alutsista TNI dengan pihak luar. "Transfer teknologi," ujar Eris, mantan penerbang F-16 Fighting Falcon ini singkat.

Alih teknologi seperti harga mati. Sikap tanpa kompromi berikutnya adalah, keharusan menggunakan produk dalam negeri jika nyata-nyata BUMNIS (Badan Usaha Milik Negara Industri Strategis) dan industri swasta mampu membuatnya. "Wajib hukumnya," aku Eris.

Sejauh ini untuk senjata perorangan dan berbagai jenis peluru, TNI sepenuhnya beli dari Pindad. Termasuk kendaraan tempur, kapal patroli, dan pesawat angkut ringan.

Sebagai pejabat yang bertanggung jawab penuh dalam hal pengadaan peralatan TNI bersifat pembangunan yang dibiayai kredit ekspor (KE), devisa atau APBN yang sifatnya pembangunan, Eris tentu sadar bahwa direktorat yang dipimpinnya sangat vital. Kekeliruan apalagi aksi main mata pihaknya dengan pabrikan atau rekanan TNI, bisa berakibat fatal terhadap prajurit di lapangan.

"Untuk itu saya harus betul-betul tahu rincian klausul dari kontrak sebagai pedoman," beber Eris lagi. Selain mengurusi soal pengadaan, Dirjen Ranahan juga mengikuti kebijakan Mabes TNI seputar hibah alutsista dari negara lain.

Seperti saat ini pihak Korea Selatan berencana menghibahkan 20-an LVT (Landing Vehicle Tracked) kepada TNI. Untuk menjawab semua persoalan ini, berikut petikan wawancara Beny Adrian dengan Marsda Eris Herryanto di ruang kerjanya di Dephan.

Pengadaan alutsista sering menimbulkan kecurigaan publik. Pemerintah dituding maju mundur?

Soal pemerintah dibilang maju mundur, menurut saya hanya persepsi yang berasal dari media massa. Pembangunan kekuatan pertahanan kita didasari pada dua hal yaitu capability base defence dan budget base defence. Untuk itu kami menginventarisir, kemampuan apa saja yang bisa dilakukan BUMNIS. Kalau bisa dibuat di dalam negeri, hukumnya wajib. Selain itu TNI juga harus memenuhi kebutuhan alutsista berstandar tinggi.

Nah, di sini tugas saya untuk memasukkan unsur transfer teknologi. Seperti saat ini kita sedang mengadakan panser kanon. Pindad belum punya kemampuan sepenuhnya untuk ini. Lalu kami kerjasama dengan Korsel dengan melibatkan Pindad.

Pindad mempelajari cara mengintegrasikan platform dengan kanon 90 mm dan kemampuan amfibi. Karena panser kanon Korea ini punya radius belok' kecil sekali, 6,5 m, Pindad juga mempelajari. Jadi tidak benar pemerintah seperti yang disebutkan.


Berapa jumlah panser kanon yang kita beli?

Prosesnya mirip pengadaan kapal LPD (Landing Platform Dock). Kita beli 22 panser kanon dengan kesepakatan 11 dibuat di Korea sisanya di Pindad. Sesuai kontrak mereka berikan technical data package (TDP) dan manufacture data package (MDP). Artinya drawing design dan manufacture mereka berikan. Ini sudah deal.

Sejumlah BUMNIS mengeluhkan sepi order. Dimana letak persoalannya?

Semua pihak harus bekerjasama dan melihat dirinya sendiri. Masing-masing punya kepentingan dan sudut pandang. Saya paham yang disampaikan industri, tidak salah. Saya tidak menyalahkan mereka, mereka untuk overhead coast saja tinggi.

Namun jika kami sebagai pelaksana pengadaan hanya diberi dana segitu, terus bagaimana? Sementara industri ingin hidup. Namun kami tidak menyerah. Berbagai upaya dilakukan untuk mempromosikan mereka seperti mengajak ikut pameran di luar negeri. Itu fungsi kami sebagai pembina industri dalam negeri.

Bisa Anda jelaskan rencana-rencana pengadaan TNI ke depannya?

Rencana untuk tahun 2006-2009 yang harus dipenuhi dari dalam negeri adalah pengadaan kendaran taktis, panser escape, helikopter NBO-105, dan rantis 3/4 ton sebanyak 300 unit.

Untuk rantis 3/4 kami libatkan AIPO (Asosiasi Industri Pertahanan Otomotif) sebagai konsultan. Jika desain sudah disetujui, kami akan buka tender buat industri otomotif untuk membuat prototipe yang kemudian dilombakan.

Kami sengaja libatkan TNI AD sebagai calon user agar konsep sesuai kebutuhan. Oh ya, selain itu saat ini juga tengah berlangsung pengerjaan dua unit LCU (landing craft utility) 1.000 DWT milik TNI AD di Kodja Bahari. Ini swasta biasa loh, bukan BMUNIS. Saya juga bisa sampaikan bahwa TNI AL berminat terhadap rudal jelajah Brahmos.


Satu program pembelian yang masih tanda tanya yaitu soal kapal selam?

Dengan berpedoman kepada keinginan TNI AL, saya sudah undang dua pabrikan ke sini untuk 4 presentasi. Saya bilang bahwa kita akan beli dua kapal selam. Konsep apa yang akan Anda berikan kepada kami, akan jadi pertimbangan bagi kami untuk memilih Anda.

Dari kedua perusahaan menyampaikan bahwa, jika Indonesia beli empat kapal selam dalam program 25 tahun ke depan, maka yang keempat Indonesia sudah bisa bikin dengan under control mereka. Bisa di buat di PT PAL. Saya tanya lagi, kok Anda begitu yakin di yang keempat bisa. Ternyata mereka sudah survei ke PAL.


Kedua pabrikan dari negara mana?

Apa perlu saya sampaikan ... he he he. Yang jelas mereka sudah melakukan transfer teknologi di tujuh negara.


Sejauh ini hanya perusahaan HDW-Kiel Jerman yang memberikan lisensi pembuatan kapal selam kelas 209 ke 7 negara.

Kembali ke tudingan sikap pemerintah, mungkin disebabkan oleh adanya informasi yang belum tersalurkan?

Yang jelas selama rencana belum dimasukkan ke dalam green book, belum ada duitnya dan kami juga tidak bisa jalan. Kondisi ini mungkin belum diketahui industri. Kadang sudah saling mengerti namun bingung, di mana ya salahnya. Menurut saya di birokrasi.

Hebatnya Ranahan itu, karena menjadi jembatan dari pemerintah ke industri. Jadi saya dengar keluhan dari berbagai pihak. Saya dengar keluhan pengguna, keluhan BUMNIS, yang kasih uang, dan Bappenas yang merencanakan. Jadi kami di sini pahamlah situasinya. Makanya setiap celah itu saya caba manfaatkan semaksimum mungkin dengan menaikkan nama industri kita dan menjelaskan kepada user hingga mereka yakin menggunakannya.


Dirjen Ranahan memiliki tugas membina industri pertahanan dalam negeri. Seperti apa konkritnya?

Kami ada pertemuan tiga bulanan dengan industri dalam negeri, baik BUMNIS atau bukan. Semua kami kumpulkan di sini beserta lima departemen pembina industri yaitu perindustrian, BUMN, Bappenas, Keuangan, Pertahanan, Ristek, plus Industri Strategis dan TNI. Rapat dipimpin Sekjen Dephan. Dalam pertemuan ini, semua persoalan didikusikan.

Jumlah pesanan panser di Pindad dikurangi. Kenapa bisa begitu?

Saya tidak bisa jawab secara detail. Namun yang jelas, pengadaan panser Pindad yang diprakarsai Wapres ini juga melibatkan industri asing yaitu Renault untuk urusan mesin. Direncanakan sampai November ini, akan didatangkan 150 mesin dari Renault.

Kebutuhan TNI adalah 154 panser, namun karena anggaran yang terseclia sementara baru untuk 40 panser, jadinya ya kami beli segitu dulu. Membangun TNI dan melengkapi alat pertahanan itu butuh tah unan dan kesinambungan.


Dikutip dari : ANGKASA Edisi Alutsista Dalam Negeri

Menteri Pertahanan Lakukan Kunjungan Ke Perancis dan Inggris

PARIS - Menteri Pertahanan Juwono Sudarsono, Kamis (16/4), beserta rombongan, melakukan kunjungan kerja ke Menteri Pertahanan Perancis Hervĕ Morin di Paris, Perancis.

Sehari sebelum melakukan courtessy call dengan Menhan Perancis, Menhan Juwono dan rombongan melakukan pertemuan dengan Renault Trucks Defense (RTD). Dalam pertemuan ini juga dibahas mengenai pengadaan mesin Renault untuk Panser Pindad yang diprakarsai Wapres Jusuf Kalla tahun lalu. Diharapkan rencana pengadaan 150 mesin bisa selesai hingga akhir tahun ini.

Dari Perancis, Menhan Juwono beserta rombongan berkunjung ke London, Inggris selama tiga hari untuk melakukan beberapa pertemuan. Menhan Juwono dijadwalkan berkunjung ke Oxford University di London dan melakukan pertemuan dengan mahasiswa Indonesia yang berada di Inggris, serta menyampaikan paparan tentang “Peran Daya Saing Indonesia 2015 di KBRI.

Dalam kunjungan ke Perancis dan Inggris kali ini Menhan didampingi ; Dirjen Potensi Pertahanan Dephan Prof Dr Budi Susilo Soepandji DEA, Staf Ahli Menhan Bidang Ekonomi Dr Ir Pos Marodjahan Hutabarat, MA, Staf Khusus Menhan bidang Ekonomi Adnan Ganto, dan Staf Khusus/Koorspri Menhan Leonard Abdul Azis Darmajaya.

KRI Diponegoro-365 Tiba di Lebanon


Korvet TNI AL KRI Diponegoro-365 (Foto: Ambalat)

BEIRUT - KRI Diponegoro-365 sebagai Satgas Maritim TNI Kontingen Garuda (Konga) XXVIII-A yang tergabung dalam Satgas Maritim Pasukan Pemelihara Perdamaian PBB di Lebanon Selatan (Maritime Task Force/MTF-UNIFIL), tiba di pelabuhan Beirut, Kamis (16/4)

Kedatangan KRI Diponegoro tersebut disambut Panglima Armada RI Kawasan Timur (Pangarmatim) Laksamana Muda TNI Lili Supramono, Dubes RI untuk Lebanon Bagas Hapsoro dan Komandan Angkatan Laut Lebanon, Laksamana Muda Moallam dalam sebuah upacara militer.

Komandan KRI Dipononegoro-365 Letkol Laut Arsyad Abdullah mengatakan, pelayaran KRI ini singgah di beberapa pelabuhan di beberapa negara seperti Cochin (India), Salalah (Oman), Port Said (Mesir), Beirut (Lebanon) dengan keseluruhan jarak tempuh mencapai 6.555 mil laut.

KRI Diponegoro-365 juga dilengkapi helikopter BO-105 NV-414.


Helikopter NBO-105 No. registrasi NV414 (Foto: Puspenerbal)

Di Lebanon, KRI Diponegoro akan bergabung dalam Satuan Tugas Maritim (Maritime Task Force/MTF) UNIFIL di bawah Comander Task Force (CTF 448) dimana beberapa negara telah mengirimkan kapal perangnya seperti Prancis, Turki, Yunani, Italia, Belgia, Spanyol, dan Jerman.

Arsyad menambahkan, KRI Diponegoro akan bertugas di zona 1 dari empat zona wilayah perairan Lebanon yang menjadi tanggung jawab MTF/UNIFIL. "Di zona 1 kita bersama dengan Kontingen Satgas Maritim dari Belgia," katanya.

Persyaratan minimal untuk kapal perang yang akan bergabung dalam MTF UNIFIL antara lain mampu mengoperasikan/mengendalikan heli, mampu melaksanakan SAR, mampu melaksanakan RAS (Pengisian BBM di laut), memiliki fasilitas kesehatan kelas satu, dan memiliki "combat management system" secara "real time".

Selain itu mampu melaksanakan "self protection", memiliki kemampuan mengidentifikasi kawan/lawan (IFF) memiliki berbagai jenis persenjataan serta mampu memberikan bantuan kepada Angkatan Laut Lebanon.

Satgas Maritim TNI Konga XXVIII dikomandani oleh Kolonel Laut (P) Aan Kurnia dan Komandan KRI Diponegoro-365 adalah Letkol Laut (P) Arsyad Abdullah.

Sumber : ANTARA

Thursday, April 16, 2009

Pengadaan Radar di Kawasan Timur Indonesia Dipercepat


Thales Master T Radar

JAKARTA - Pengadaan tiga radar militer di kawasan Timur dipercepat. TNI AU menjamin radar pertama yang akan dipasang di Merauke, Papua, beroperasi pertengahan tahun depan.

"Percepatannya sekitar enam sampai tujuh bulan," kata Asisten Perencanaan Kepala Staf TNI AU (KSAU) Marsda Erry Biatmoko kepada Jurnal Nasional di Jakarta, Rabu (15/4).

Tahun berikutnya, radar Master T buatan Thales, Prancis itu direncanakan dipasang di wilayah Saumlaki. Terakhir, radar dipasang di Timika, Papua, 2012. Untuk dua pengadaan radar itu, kata Erry, juga tengah diupayakan percepatan.

Pasalnya, di kawasan timur Indonesia, masih banyak wilayah udara yang tidak terpantau radar (blank spot). Akibatnya, benda asing yang terbang, bisa luput dari penjejakan radar. Ujung-ujungnya, banyak penerbangan tanpa izin (black flight).

Dari data Kementerian Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Polhukam), sepanjang 2008 tercatat 28 kali pelanggaran wilayah udara. Mayoritas pelanggaran terjadi di wilayah Tarakan, Kalimantan Timur yang berbatasan dengan Malaysia.

"Karena itu radar terus ditambah," katanya. Dalam rencana strategis 2014-2019, matra udara berencana menambah tiga radar lagi. Masih diusulkan akan dipasang di wilayah mana. Namun, Erry menyebut Manado (Sulawesi Utara) dan Singkawang (Kalimantan Barat) sebagai alternatif lokasi.

Di sisi lain, peralatan tempur AU banyak yang uzur, termasuk pesawat tempur.
Asisten Operasi KSAU Marsekal Muda Pandji Utama mengakui, kesiapan pesawat makin turun tahun ini. "Kesiapannya tak sampai 50 persen," kata dia. Dari anggaran Rp.3,2 triliun yang diterima TNI AU, tak sampai 15 persen untuk dukungan pemeliharaan dan operasional pesawat-pesawat yang dimiliki. Mayoritas dipergunakan untuk gaji serta tunjangan prajurit dan pegawai negeri sipil. Termasuk anggaran belanja dan jasa.

Sumber : JURNAS

Penyelidikan Fokker Tiga Bulan

JAKARTA - TNI AU menargetkan investigasi penyebab jatuhnya Fokker F-27 di Bandar Udara Husein Sastranegara, Bandung, selesai dalam tiga bulan. "Saat ini tim intensif bekerja," kata KSAU Marsekal Subandrio usai upacara HUT ke 63 TNI AU di Pangkalan TNI AU (Lanud) Halim Perdanakusuma, Jakarta, Rabu (15/4).

"Tim diisi perwira-perwira mumpuni," kata dia. Tidak hanya penerbang Fokker, teknisi mesin dan psikolog juga diturunkan. Dia menjelaskan, dari rekaman pembicaraan terakhir pilot dan petugas tower bandara tidak diketemukan pembicaraan tentang rusaknya pesawat. "Pilot bilang akan segera mendarat," kata dia.

Sumber : JURNAS



Wednesday, April 15, 2009

Display statis Sukhoi 30MK2

JAKARTA - Reportase foto langsung dari lokasi HUT TNI AU ke-63 di Lanud Halim Perdanakusumah Rabu (15/4). ©alutsista







Sukhoi Terbaru Pamer Kemampuan Saat HUT TNI AU

JAKARTA - Pesawat terbaru TNI AU SU-30MK2 dengan pilot Letkol Pnb. Widyargo "Redbee" Ikoputra dan Mayor Pnb. M. Tonny "Racoon" Haryono melakukan aerobatik pada HUT ke-63 TNI AU di Halim Perdanakusuma, Jakarta, Rabu (15/9).

Delapan manuver dilakukan pesawat tempur yang dijuluki Flanker tersebut, diantaranya"Half Cuban, Hi G Turn, Inverted, 4 Point Roll, Knife Edge, Slow Speed, Oblique Loop, dan Hi Speed Pass, dengan ketinggian rata-rata 300 kaki serta kecepatan 350 knot.

Half Cuban yaitu pesawat menanjak dengan sudut 60 derajat dan berputar satu setengah kali yang dilanjutkan membuat setengah lingkaran menuju ketinggian semula.

Manuver ini dilanjutkan dengan "Hi G Turn" dimana pesawat membentuk lingkaran pada bidang horizontal dengan "radius turn" yang minimum. Membentuk "radius turning" yang sangat sangat minimum ini merupakan salah satu kelebihan yang dimiliki pesawat Sukhoi dan berperan penting dalam pertempuran jarak dekat.

"Inverted" adalah manuver pesawat yang melaju dengan kecepatan tinggi dalam posisi terbalik tanpa mengubah kecepatan dan ketinggian.

Pesawat ini mampu melesat pada dua kali kecepatan suara atau setara 2.386 km/jam. Pada kecepatan itu pesawat diuji melaksanakan manuver "Oblique Loop" yang membutuhkan kecepatan tinggi dan membuat lingkaran vertikal dengan sudut 45 derajat dan lingkaran yang terbentuk merupakan bidang sudut kemiringan 45 derajat.

Solo aerobatik tersebut dilakukan dalam rangka memperingati HUT Ke-63 TNI AU yang diperingati tanggal 9 April setiap tahunnya. Namun peringatan ini dilaksanakan pada tanggal 15 April 2009 mengingat 9 April bersamaan dengan Pemilu.

Sumber : ANTARA

Tuesday, April 14, 2009

Rabu (15/4), Aerobatik Sukhoi di Lanud Halim



JAKARTA - Pesawat terbaru milik TNI Angkatan Udara SU-30 MK2 Sukhoi yang dipiloti Letkol Pnb. Widyargo “Redbee” Ikoputra dan Mayor Pnb. M. Tonny “Racoon” Haryono menggunakan pesawat TS 3003 dan TS 3001 sebagai pesawat cadangan, akan membelah langit udara Jakarta sekitar Lanud Halim Perdanakusuma dengan manuver-manuvernya yang khas dari pesawat tempur Sukhoi buatan pabrik Knaapo-Irkut, Russia.

Sedikitnya delapan manuver akan dilakukan pesawat yang dijuluki Flanker tersebut, diantaranya Half Cuban, Hi “G” Turn, Inverted, 4 Point Roll, Knife Edge, Slow Speed, Oblique Loop dan Hi Speed Pass, dengan ketinggian rata-rata 300 feet serta kecepatan 350 knot.

Half Cuban yaitu pesawat menanjak dengan sudut 60 derajat dan berputar satu setengah kali yang dilanjutkan membuat setengah lingkaran menuju ketinggian semula, manuver tersebut dilanjutkan dengan Hi G Turn, dimana pesawat akan membentuk lingkaran pada bidang horizontal dengan radius turn yang minimum. Membentuk radius turning yang sangat minimum ini merupakan salah satu kelebihan yang dimiliki pesawat sukhoi dan berperan penting dalam pertempuran jarak dekat.

Inverted adalah manuver pesawat yang melaju dengan kecepatan tinggi dalam posisi terbalik tanpa mengubah kecepatan dan ketinggian, gerakan ini mempunyai kesulitan tersendiri karena semua referensi yang biasa digunakan dalam penerbangan akan tampak terbalik. Sedangkan 4 Point Roll adalah pesawat berputar pada satu poros dengan empat titik putaran dengan masing-masing sudut 90 derajat, Knife Edge yaitu pesawat terbang dengan posisi miring pada ketinggian dan kecepatan yang tetap dengan mengandalkan vertical stabilizer untuk menghasilkan gaya angkat.

Pesawat yang memilki daya dorong 55.000 lbs ini mampu melesat pada dua kali kecepatan suara atau setara dengan 2386 km/jam, dirancang tetap stabil pada kecepatan rendah 160 kts dan membentuk sudut serang (angle of attack) kurang lebih 20 derajat. Pada kecepatan tersebut pesawat akan diuji untuk melaksanakan maneuver Oblique Loop yang membutuhkan kecepatan tinggi dan membuat lingkaran vertical dengan sudut 45 derajat, sehingga lingkaran yang berbentuk merupakan bidang sudut kemiringan 45 derajat.

Pada penampilan akhir pesawat yang bermarkas di Skadron Udara 11 Lanud Sultan Hasanuddin Makassar, akan melintas dengan kecepatan tinggi yang dilanjutkan gerakan menanjak 60 derajat sambil melakukan aileron roll (berputar-putar) dengan menggunakan tambahan tenaga (afterburner).

Solo Aerobatic tersebut dilakukan dalam rangka memperingati ke-63 Hari Angkatan Udara yang diperingati tanggal 9 April setiap tahunnya, namun peringatan tahun ini akan dilaksanakan pada tanggal 15 April 2009, mengingat pada tanggal 9 April bertepatan dengan pesta demokrasi bangsa Indonesia yaitu pemilu legislatif.

Sumber : DISPENAU

Dana Pemeliharaan Pesawat Cuma 15 Persen



JAKARTA - Tahun ini, Tentara Nasional Indonesia (TNI) Angkatan Udara menerima anggaran sebesar Rp3,2 triliun. Dukungan dana untuk pemeliharaan dan operasional pesawat-pesawat yang dimiliki ternyata hanya 14,9 persen dari anggaran yang diterima.

Jumlah tersebut digunakan untuk "menghidupi" ratusan pesawat dari berbagai jenis, mulai helikopter, pesawat angkut, hingga pesawat tempur. "Jadi (anggaran yang ada) belum maksimal," kata Kepala Staf Angkatan Udara (KSAU) Marsekal Subandrio di sela-sela geladi resik peringatan HUT ke-63 TNI AU di Pangkalan TNI AU (Lanud) Halim Perdanakusuma, Jakarta, Senin (13/4).

Dia menjelaskan, keterbatasan dana berdampak ke seluruh lini. Namun, yang paling terasa, menurunnya kesiapan armada yang dimiliki. Terlebih, pesawat yang dimiliki TNI AU sekitar 70 persen berusia di atas 20 tahun. "Tapi kami terus berupaya yang terbaik," katanya.

Terkait komitmen matra udara menuju zero accident, Subandrio mengatakan, tergantung banyak hal. Mulai dari manusia, pesawat, teknologi, hingga cuaca. Semua harus dilihat menyeluruh mulai perencanaan, pelaksanaan, pengawasan, dan evaluasi.

"Kalau semuanya diteliti sejak awal, kecelakaan dapat dihindari," kata lulusan Akademi Angkatan Udara tahun 1975 itu. Kepala Dinas Penerangan TNI AU Marsma Bambang Soelistyo menambahkan, porsi terbesar kue anggaran yang diterima dipergunakan untuk gaji dan tunjangan prajurit dan pegawai negeri sipil matra udara yang jumlahnya berkisar 26 ribu orang.

Alokasinya mencapai 46,8 persen. Porsi terbesar kedua, ditempati anggaran belanja dan jasa yang dipatok 39,8 persen. "Jadi lebih dari 85 persen untuk dana rutin," katanya.

Dana tersebut, jelas tidak memadai memelihara kesiapan pesawat yang dimiliki. "Tidak ada cara lain selain mengedepankan skala prioritas," kata Bambang. Upacara HUT ke-63 TNI AU rencananya dilaksanakan, Rabu (15/3) mendatang. Solo aerobatik jet tempur Sukhoi menjadi salah satu rangkaian acara. Satu unit lainnya akan dipajang sebagai bagian dari static show.

Sumber : JURNAS

Monday, April 13, 2009

LPD ke-3 TNI AL di Serahterimakan Mei 2009

SURABAYA - Salah satu dari dua unit kapal jenis Landing Platform Dock 125 meter, yang tengah dibangun di galangan kapal oleh Divisi Kapal Perang, PT PAL, Surabaya. Rencananya kapal pesanan dari Departemen Pertahanan untuk TNI Angkatan Laut itu selesai satu unit pada Mei 2009.

Dua unit kapal itu adalah bagian dari total empat unit kapal yang dipesan Pemerintah Indonesia (Departemen Pertahanan) ke galangan pembuatan kapal di Korea Selatan, yang kemudian disubkontrakkan kembali ke PT PAL.

Kapal LPD 125 meter itu dirancang sebagai kapal angkut personel yang dilengkapi tiga unit helikopter berukuran sedang (NBO-105/NBell-412), dengan kecepatan maksimum kapal mencapai 15 knot dan memiliki daya tahan (endurance) berlayar selama 30 hari. ©alutsista

Spesifikasi LPD :
• Panjang Keseluruhan : 122m
• Kedalaman (tank deck) : 6,7m
• Bobot total : 7.300 ton (maks)
• Kecepatan : 15 knot (maks)
• Endurance : 30 hari
• Kemampuan Jelajah : 8.600 - 10.000 miles
• Kapasitas angkut pasukan : >300 personel
Persenjataan & Kelengkapan :
• Ada 3 opsi : Meriam Bofors 57/40mm, Otomelarra 76/62mm dan A-190/100mm
• 3 unit Heli kelas NBO-105 atau NBell-412
• 2 unit Landing Craft Utility (LCU) 23m


18 Kapal Perang Asing Ikut 'Sail Bunaken'

MANADO - 18 kapal perang asing dari berbagai negara di dunia, dipastikan ikut meramaikan 'Sail Bunaken' yang akan dilaksanakan di Kota Manado, 12-20 Mei 2009.

"Kapal perang asing itu akan bergabung bersama 30 Kapal perang milik Indonesia, pada parade angkatan perang di perairan Sulawesi Utara (Sulut)," kata Komandan Lantamal VIII Sulut, Laksamana Pertama Willem Rampangiley, Minggu (12/4).

Negara adikuasa Amerika Serikat turut menghadirkan tiga kapal perang serta satu kapal induk, untuk berparade bersama di perairan Sulut, yang mengambil rute khusus di Manado dan Pelabuhan Bitung.

Selain parade kapal perang (fleet review), juga ada lintas layar (sail pass), yacht rally Darwin (Australia) ke Manado, lintas terbang (fly pass), kirab kota dan bakti sosial.

Kesiapan Manado sebagai tuan rumah Sail Bunaken terus dimatangkan, termasuk infrastruktur dan keamanan, katanya, sambil menyebut masih akan ada tambahan peserta lainnya.

Sebelumnya, Sabtu (11/4), Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL) Tedjo Edhi Purdijanto, bersama Gubernur Sulut, SH Sarundajang, turut menyaksikan simulasi pelaksanaan Sail Bunaken, yang mengambil lokasi di perairan Mega Mass hingga Pantai Malalayang.

Gubernur Sulut SH Sarundajang, menilai Kota Manado dan Bitung sangat siap menjadi tuan rumah iven internasional, bahkan menjadi destinasi kegiatan-kegiatan dunia di Indonesia. Apalagi Sulut merupakan wilayah paling utara di Indonesia yang berbatasan dengan perairan Pasifik, yang rentan dengan bahaya-bahaya perang.

Sumber : MEDIAINDONESIA.COM

KRI Frans Kaisiepo-368 Resmi Berlayar ke Indonesia


KRI Frans Kaisiepo-368 (Foto: AMBALAT)

BELANDA - Dubes RI untuk Belanda, JE Habibie di pelabuhan Vlissingen, Belanda, Sabtu (11/4), melepas KRI Frans Kaisiepo 368 berlayar menuju Indonesia dengan lama perjalanan sekitar 46 hari. KRI Frans Kaisiepo 368 dibuat di Belanda selama dua tahun lebih.

Kapal ini akan berlayar melalui Spanyol, Italia, Mesir, Jeddah (Arab Saudi). Di Jeddah, sejumlah ABK KRI Frans Kaisiepo akan mendarat selama empat hari untuk melakukan ibadah umrah. Setelah itu, mereka kembali melakukan perjalanan menuju India, Sabang, Jakarta dan Surabaya.

Dubes J.E Habibie berharap, kehadiran KRI ini, bisa semakin menambah kekuatan armada TNI AL karena telah dilengkapai fasilitas yang canggih.

Sementara Komandan Satgas Yekda Korvet, Kolonel Laut Widodo mengatakan, KRI Frans Kaisiepo ini, adalah kapal terakhir yang dibuat di Belanda dengan menggunakan alat teknologi canggih yang tak dimiliki negara lain. Ketiga kapal perang TNI AL yang sebelumnya dibuat di Belanda adalah KRI Diponegoro 365, Hasanuddin 366, Iskandar Muda 367 dan KRI Frans Kaiseipo 368.

Menurut Widodo, pembuatan keempat kapal ini merupakan program Departemen Pertahanan dan Keamanan yang dananya berasal dari hasil kredit ekspor. Pengerjaan keempat kapal itu, dilakukan Damen Schelde Naval Shipbuilding sejak 2004.

Sumber: MEDIAINDONESIA.COM

Wednesday, April 08, 2009

Kementerian Ristek-TNI AU Kembangkan Teknologi Dirgantara



JAKARTA - Kementerian Negara Riset dan Teknologi (Ristek) dan Mabes TNI Angkatan Udara (AU) sepakat untuk menjalin kerja sama penelitian dan pengembangan teknologi dirgantara.

Kepala Staf Angkatan Udara (Kasau) Marsekal TNI Subandrio usai penandatangan nota kesepahaman Kementerian Ristek dan Mabes TNI AU, di Jakarta, Rabu (8/4), mengatakan, kesepakatan kerja sama tersebut merupakan momentum untuk makin mewujudkan kemandirian industri teknologi dirgantara.

"Hal itu selaras dengan kebijakan pemerintah untuk menggunakan dan memberdayakan produk dalam negeri, sehingga mengurangi ketergantungan kita dengan mancanegara," katanya.

Subandrio menambahkan, kerja sama itu menyangkut pengembangan dan pemberdayaan sumber daya, optimalisasi penelitian dan pengembangan, rancang bangun di bidang kedirgantaraan termasuk dalam peningkatan proses alih teknologi alat utama sistem senjata (alutsista) serta penerapan hasil litbang kedua pihak.

"Kesemua cakupan kerja sama itu dapat meningkatkan kesiapan operasional TNI AU dalam menjalankan peran, fungsi dan tugas pokoknya," katanya.

Sementara itu, Menristek Kusmayanto Kardiman mengatakan, kerja sama juga menyangkut audit teknologi pesawat-pesawat TNI AU baik angkut maupun tempur yang berusia diatas 20 tahun.

"Ada juga yang menyangkut alih teknologi antara kedua pihak. Jadi, terus terang kami memang tidak tahu teknologi pesawat, tetapi kami punya pengetahuan yang sama," katanya.

Beberapa pengembangan iptek yang telah dilakukan antara Kementerian Ristek dan TNI AU antara lain pengembangan roket 70 mm, pemanfaatan dan pengembangan pesawat nirawak, pengembangan bom tajam BT 250 dan pemanfaatan dan pengembangan blast effect bomb.

Kerja sama yang berlaku selama lima tahun itu juga berkerja sama dengan PT Dirgantara Indonesia (DI), PT LEN, dan PT Krakatau Steel.

Sumber : ANTARA

Kohanudnas Gelar Latihan


F-5 Tiger II TNI AU

MAKASSAR - Komando Pertahanan Udara Nasional (Kaskohanudnas) menggelar latihan Pertahanan Udara (Hanud), selama tiga hari (7-9 April) yang dimulai selasa (7/4) kemarin. Gelar latihan Hanud Kilat mengambil lokasi wilayah Komando Sektor Pertahanan Udara Nasional (Kosekhanudnas) II Makasar, bertempat di Lanud Balikpapan, Kalimantan timur.

Latihan untuk pelaksanaan program kerja, dalam menghadapi kontijensi permasalahan yang mungkin timbul dalam negeri pada masa depan. Selain itu juga sebagai pembinaan kesiapan personel satuan radar maupun unsur awak pesawat tempur sergap yang ada di bawah kendali Kohanudnas. Buntutnya, latihan ini diharapkan meningkatkan profesionalisme personel dan kesiapan operasional penyelenggaraan latihan Air Interception (AI) dan Ground Control Interception (GCI).

Mengutip siaran pers yang diterima redaksi, latihan melibatkan seluruh unsur Hanud jajaran Kohanudnas dari Komando Sektor Hanudnas 1-IV sebagai Komando Latihan (Kolat), pesawat tempur F-5 Tiger II, satuan radar (Satrad) 223 yang diasumsikan sebagai pusat wilayah yang menghadapi ancaman musuh, Helikopter SAR dan didukung pesawat C-130 Hercules sebagai angkutan.

Sumber : JURNAS

Tuesday, April 07, 2009

Kasau: Fokker Masih Layak Terbang Meski Tua


JAKARTA - Kepala Staf Angkatan Udara (Kasau) Marsekal TNI Subandrio menegaskan, meski tergolong alat utama sistem senjata (alutsista) tua namun pesawat Fokker-27 milik TNI AU masih layak terbang.

"Jangan dilihat dari tua mudanya pesawat, tetapi masa pakainya," katanya, di Jakarta, Selasa, usai memimpin upacara pelepasan keenam jenazah awak pesawat Fokker 27 TS (Troopship) yang naas di Hanggar Skadron Udara 17 Pangkalan Udara Halim Perdanakusuma.

Subandrio mengemukakan, berdasar hasil tim penilaian kelaikan alutsista TNI AU berusia 30 tahun ke atas, Fokker 27 TS yang bergabung dengan TNI AU pada 1976, masih layak diterbangkan.

"Jika pesawat tidak layak, saya suruh terbang, berarti saya membunuh anak buah saya. Tidak mungkin saya menerbangkan pesawat yang tidak layak," katanya.

Jadi, jangan dilihat dari usia pembuatannya, tetapi usia pakainya mengingat setelah mengalami peremajaan usia pakai pesawat dapat diperpanjang sepuluh hingga 15 tahun. "Pesawat Raptor Amerika Serikat yang tergolong baru saja bisa jatuh," ucapnya.

Ketersediaan Suku Cadang

Tentang ketersediaan suku cadang, mengingat pesawat jenis tersebut tidak diproduksi lagi, Kasau mengatakan, di Skadron 2 Angkut Ringan, mengoperasikan dua jenis pesawat yakni CN-235 dan Fokker 27/28 yang menggunakan tipe mesin dan beberapa komponen yang mirip.

"Jadi, bisa saling menggantikan (substitusi). Dan lagi masih banyak pesawat yang menggunakan tipe mesin yang sama, sehingga masih ada di pasaran," ungkap Subandrio.

Markas Besar TNI AU telah mengajukan penggantian sejumlah pesawat tempur yang telah berusia di atas 15 tahun kepada Dephan. Beberapa jenis pesawat tempur yang akan diganti itu adalah OV-10 Bronco, F-5 Tiger, Hawk MK-53, pesawat angkut Fokker-27, dan Helikopter Sikorsky. Pesawat OV-10 Bronco dibuat pada 1976 dan mulai digunakan TNI AU sejak 1979, sampai saat ini statusnya masih grounded.


Hawk MK-53 masa pakainya hingga akhir 2009

Sedangkan untuk Fokker 27 dari tujuh yang ada hanya lima yang dikategorikan siap. Pabrik pesawat tersebut sudah tutup, namun masih bertanggung jawab untuk memproduksi suku cadang hingga 15 tahun.

Sejumlah pesawat jenis lain milik TNI AU juga sudah tak diproduksi, antara lain F-16 Fighting Falcon varian A/B dan OV-10 Bronco. "Untuk saat ini TNI AU baru menghanggarkan OV-10 Bronco, menyusul nanti Hawk MK-53 (2009/2010)," ungkap Kasau.

Penyebab Kecelakaan

Fokker-27 TS dengan "tile number" A-2703 pertama kali bergabung dengan TNI AU pada 26 September 1976. Pesawat angkut ringan tersebut, memiliki dimensi rentang sayap 29 meter, panjang badan 23,56 meter, dan tinggi 8,5 meter.

Pesawat bermesin berupa dua unit "turboprop" rolls Royce Dart RDa Mk 536-7R, merupakan pesawat turboprop terlaris yang banyak digunakan baik untuk militer maupun komersial.

Pesawat Fokker-27 memiliki beberapa keunggulan yakni sayap utama berkonfigurasi High Wing menyebabkan pesawat ini dapat mendarat pada landasan pangkalan udara yang minim fasilitas, bahkan pesawat ini bisa mendarat dan tinggal landas pada landasan pendek.

Kapasitas pesawat ini mampu mengangkut pasukan payung bersenjata lengkap (paratroop) berjumlah 40 orang dalam misi penerjunan statik dan `free fall`.

Selain itu, pesawat ini mampu mengangkut kargo sipil maupun militer, evakuasi medis, SAR, maupun komando pengendalian pada operasi militer strategis.

Kasau mengatakan, penyebab kecelakaan pesawat Fokker 27 TS di Bandara Hussein Sastranegara, diduga kuat karena cuaca buruk. "Saya kemarin ke Bandung menggunakan jalan darat, karena memang cuacanya sangat buruk apalagi ketika berada di Bandung," ungkapnya.

Namun, Mabes AU tetap menurunkan Tim Penyelidik Kecelakaan Pesawat Terbang yang diketuai oleh Kepala Dinas Keselamatan Terbang dan Kerja.

Sumber : ANTARA