Friday, September 18, 2009

Scorpène, Kapal Selam Baru Andalan TLDM (IV)

Intrik Dibalik pembelian Scorpene

Pada Oktober 2008, KD Tunku Abdul Rahman (KD TAR) resmi diluncurkan dari dry dock DCNS di Cherbourg oleh istri Wakil Perdana Menteri Tun Najib Razak, yakni Datin Seri Rosmah Mansor.

Saat itu seremoni acara peluncuran dilakukan oleh Datin dengan memecahkan botol ke kapal yang disaksikan Tun Najib Razak, didampingi Kepala Staf AL Tan Sri Ramlan Mohamed Ali, Menhan Prancis Herve Morin, dan para pejabat lain.

Usai peluncuran, kapal selam melakukan uji berlayar (sea trial) untuk mengecek seluruh sistem. Uji coba ini selesai dilakukan pada Desember 2008 termasuk keberhasilan menguji penembakan torpedo ‘Black Shark’ dan rudal permukaan SM-38 Exocet.

KD TAR diserah terimakan kepada RMN di Toulon-Prancis pada akhir Januari 2009 lalu, Serah terima ini menimbulkan protes di Malaysia, hal ini dikarenakan dugaan adanya komisi sebesar 540 juta ringgit (US$149.50 Juta) yang dibayarkan kepada orang dekat Wakil Perdana Menteri Najib Razak yang bertindak sebagai broker pada transaksi ini.


Serah terima Scorpène kepada RMN di Toulon, Prancis

Wakil Perdana Menteri Tun Najib Razak kini telah menjabat sebagai Perdana Mentri menggantikan Abdulah Ahmad Badawi yang mundur Maret 2009 lalu. Najib membantah telah melakukan apapun yang melanggar aturan pada deal pembelian Scorpène saat beliau menjabat Menteri Pertahanan.

Tetapi pemimpin oposisi senior Lim Kit Siang menginginkan Komisi Anti Korupsi Malaysia yang baru untuk menyelidiki tuduhan tersebut. Program angkatan laut Malaysia (TLDM) ini menghabiskan biaya US$ 2,87 Milyar, menurut Wakil Perdana Menteri dan Menteri Pertahanan Najib Tun Razak ketika berbicara kepada Parlemen Malaysia kontrak pembelian tersebut termasuk pelatihan dan logistik kapal.

Alasan Pengadaan

Peningkatan kemampuan armada laut Kerajaan Malaysia dianggap penting karena perairan Laut China Selatan adalah perairan tersibuk kedua di dunia. Jika terjadi konflik, Selat Malaka akan terkena imbasnya. Selain itu, perairan Laut China Selatan banyak mengandung minyak dan gas serta biota laut.



Kru kapal KD TAR bersama para petinggi RMN dan pemerintah

Malaysia menganggap tiga pulau di gugusan Kepulauan Spratly sebagai wilayah kedaulatannya, yakni Terumbu Ubi (Ardasier Reef), Terumbu Mantanani (Maruiveles Reef) dan Terumbu Layang-layang (Swallow Reef). Negara itu juga menduduki dua terumbu lagi yang berada di luar Kepulauan Spratly dan diperkirakan bisa memicu konflik yakni Terumbu Siput (Erica Reef) dan Terumbu Peninjau (Invertigator Reef).

Armada laut yang kuat dirasa perlu supaya pihak lain tidak dengan mudah dan sewenang-wenangnya membuat tuntutan wilayah yang diklaim milik Malaysia. Malahan ada pendapat dua kapal selam tak mencukupi untuk mengawal perairan Malaysia yang begitu panjang.

Pangkalan Kapal Selam TLDM

Rencananya Juli nanti KD Tunku Abdul Rahman tiba di Malaysia dan bakal berpangkalan di Pangkalan kapal selam TLDM di Kota Kinabalu, Teluk Sepanggar-Sabah.

Kapal selam kedua pada pertengahan Februari 2009 lalu juga tengah melakukan uji berlayar (sea trial) di Cartagena-Italia, dan dijadwalkan bisa diserah terimakan pada bulan Oktober tahun ini.

Scorpène yang dibangun untuk Royal Malaysian Navy (RMN) memiliki bobot 1.500 ton dengan panjang total 67.5m. Kapal didukung oleh dua mesin diesel elektrik (menggunakan GM synchronous motor bermagnet permanen) yang mampu menyediakan tenaga lebih dari 2500kW.

Torpedo Black Shark

“Black Shark”, torpedo kelas berat berteknologi canggih (Advanced Heavyweight Torpedo) adalah senjata bawah air multiguna untuk sasaran bawah air dan permukaan (SUT/ Surface and Underwater Torpedo).

Torpedo ‘Black Shark’ dibuat oleh perusahaan asal Italia WASS-Finmeccanica Company, yang telah lama (20 tahun) berkecimpung dalam pembuatan persenjataan bawah laut.

Torpedo berpandu sonar akustrik ASTRA (Advanced Sonar Transmitting and Receiving Architecture), adalah torpedo berpandu sonar aktif dan pasif yang mampu mempresentasikan keberhasilan pengembangan persenjataan mutakhir dari Whitehead Alenia Sistemi Subacquei (WASS).

Black Shark merupakan torpedo generasi terbaru berdiameter 21 inch (533mm) yang powerful, berdaya jangkau jauh, berpandu kabel serat (wire) dan mandiri (self-homing) dan fully stealth.



Torpedo juga dilengkapi dengan counter-countermeasures system (anti-jamming), serta diperkuat oleh motor penggerak propeler terbaru. Daya penggerak Torpedo didapat dari batere berbahan silver oxide dan alumunium.

Karakteristik utama Torpedo Black Shark :
- Dua target sasaran, kapal selam dan kapal permukaan
- Dapat diadopsi oleh berbagai discharge system, peluncur kapal dan submarine
- Panjang 6.3 meter, memungkinkan diintegrasi kedalam tabung
- Dapat diintegrasikan dengan semua Fire Control
System (FCS), kompatibel dengan FCS modern STANAG 4405
- Tampilan antarmuka yang mudah dengan unit komputer dan sensor kapal
- Tersedia channel Audio
- Kabel serat optik berpemandu communication link
- Sistem pendorong elektris dengan baterai utama berdaya tinggi
- Berkecepatan tinggi dengan pengontrol elektronik tinggi-rendah kecepatan
- Bentuk kepala akustik dirancang mengurangi flow-noise
- Radiasi noise sangat senyap (fully stealth)
- Optimal beroperasi di perairan berkedalaman tinggi dan rendah/ dangkal (coastal)
- Pendeteksian jarak jauh, bahkan pada low TS (sinyal rendah), zero Doppler dan target silence.
- Fully digital untuk beam-forming, sinyal dan pemrosesan data
- Dapat diluncurkan secara bersamaan (simultan) ke beberapa sasaran
- Kemampuan menghindar Acoustic Counter-Counter-Measures (ACCM) tercanggih/ anti-jamming.

Bangkai Pesawat Latih TNI AU yang Jatuh di Sragen

SRAGEN - Sejumlah petugas dari Skuadron Pendidikan Adisucipto berjaga disekitar bangkai pesawat latih TNI AU jenis AS 202 Bravo No.LM 2039 buatan Switzerland di areal persawahan desa Jati, Sumberlawang, Sragen, Jateng, Kamis (17/9). Dalam kecelakaan ini terdapat satu korban meninggal yaitu pilot pesawat, Felix Kurniawan siswa dari skuadron pendidikan Adisucipto, Yogyakarta dan sampai saat ini belum ada kepastian penyebab jatuhnya pesawat. FOTO ANTARA/Hasan Sakri Ghozali/ss/nz/09





AS-202 Bravo

Drop Tank TNI AD Untuk Kodam Iskandar Muda

ACEH - Prajurit TNI-AD menurunkan tank dari kapal TNI AD- XLVI saat tiba di pelabuhan Ulee Lheue, Banda Aceh,Kamis (17/9). Tank yang didatangkan dari Pulau Jawa tersebut merupakan bagian dari program kerja Kodam Iskandar muda guna memenuhi organisasi batalyon kavaleri 11 serbu Jantho, Aceh Besar. FOTO ANTARA/Ampelsa/ss/nz/09



Thursday, September 17, 2009

Noordin M Top Dipastikan Tewas!!

JAKARTA - Kepala Polri (Kapolri) Jenderal Polisi Bambang Hendarso Danuri mengatakan salah satu dari empat korban yang tewas dalam penggerebekan oleh Tim Densus 88 di Jebres, Solo, Jawa Tengah, adalah Noordin M Top.

Hal itu dikemukakan Kapolri setelah menghadap Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di Istana Negara, Kamis (17/9). Sore hari ini dalam konfrensi pers, saat ditanya wartawan apakah itu benar Noordin, Kapolri hanya menjawab, "Iya, ya." Kapolri menjawab sambil mengacungkan jempol dan tersenyum.

Mengenai kepastian identifikasi DNA atau sidik jari, Kapolri hanya menyatakan akan memberikan penjelasan di Mabes Polri. Kedatangan Kapolri ke Istana di luar jadwal, tetapi itu biasa dilakukannya tiap kali berlangsung operasi terorisme. Hal yang sama terjadi setelah densus 88 melakukan operasi penggerebekan di Jatiasih, Bekasi, dan Temanggung, Jawa Tengah.

"Korban kelima dalam penggebrekan tersebut dipastikan Noordin M Top dengan empat belas titik kesamaan sidik jari kiri dan kanan yang dapat dipertanggungjawabkan," ujar Kapolri. Ucapan itu langsung disambut tepuk tangan oleh yang hadir di ruangan itu.



Menurut Kapolri, kepastian bahwa korban tersebut adalah Noordin M Top didapat setelah pihak Pusdokkes Polri melakukan investigasi dan konfirmasi dengan pihak kepolisian Malaysia. "Sidik jari yang didapat sama persis dengan yang dimiliki kepolisian Malaysia dan sesuai dengan daftar pencarian orang yang dimiliki selama sembilan tahun belakangan ini," ujar Kapolri.

Menurut Kapolri, hal tersebut dapat terjadi atas kebesaran Allah dan berkat kerja keras Satgasus Densus 88 di lapangan. Kapolri juga menjelaskan bahwa proses penangkapan Noordin dimulai dari penangkapan Rahmat Puji Prabowo alias Bejo dan Supano alias Kedu. Keduanya memberi petunjuk bahwa gembong teroris, Noordin M Top, terdapat di sebuah rumah di kampung Kahuripan, di rumah milik Susilo alis Adip.

Selain Noordin M. Top, polisi juga berhasil menewaskan beberapa gembong teroris di rumah milik Susilo tersebut akibat baku tembak karena pihak teroris memberikan perlawanan. Mereka adalah Bagus Budi Pranoto, pelaku pengeboman Kedubes Australia 2003 silam yang kembali bermain, dan Hadi Susilo, murid langsung dokter Azhari, dan Aryo Sudarso alias Aji.

Sumber : MEDIAINDONESIA.COM

Pesawat Latih TNI AU, AS202 Bravo Jatuh di Sragen

SRAGEN - Kamis (17/9) pagi tadi sekitar pukul 10.30 dikhabar kembali terjadi kecelakaan pesawat TNI AU di Kampung Gulon, Desa Jati, Kecamatan Sumberlawang, Kabupaten Sragen, Jawa Tengah. Pesawat latih jenis AS 202 Bravo itu memakan korban siswa penerbangan TNI Angkatan Udara, Letda Felix, langsung di lokasi kejadian .

Wartawati Kompas dari lokasi kejadian melaporkan, badan pesawat latih yang hancur itu ditutupi terpal coklat. Pesawat itu jatuh di tengah persawahan kering yang sudah tidak ditanami padi lagi.

Sampai pukul 14.30, ratusan warga berdatangan, menyaksikan lokasi jatuhnya pesawat yang sudah dibatasi dengan garis polisi.

Saksi mata, Dinah (30), mengungkapkan, pesawat latih itu terbang sangat rendah di atas atap rumahnya. “Pesawat itu terbang tidak seperti biasanya. Rendah sekali. Lalu, tiba-tiba terdengar suara keras. Rupanya pesawat itu jatuh,” kata Dinah sambil menggendong bayinya yang berusia dua tahun.

Sumber : KOMPAS.COM

Kapal Perang LPD Selesai September

JAKARTA - PT PAL tengah menyelesaikan pembangunan kapal perang jenis Landing Platform Dock (LPD). Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL) Laksamana Tedjo Edhy Purdijatno mengatakan, PAL berjanji menyerahkan kapal angkut taktis itu pada September mendatang.

Dia berharap, tidak ada lagi penundaan. "Karena sudah 11 kali penyerahannya ditunda," katanya usai menghadiri peluncuran buku mantan KSAL Laksamana (purn) Sumardjono di Jakarta, Selasa (14/7) malam.

Tedjo mengatakan, pembangunan LPD adalah realisasi alih teknologi rancang bangun kapal dari Daewoo-Korea Selatan. Angkatan Laut memesan empat kapal LPD. Dua kapal pertama, KRI Surabaya dan KRI Makassar, langsung dibuat di negeri ginseng tersebut dan telah beroperasi memperkuat jajaran matra laut.

Dua kapal terakhir dibangun di PT PAL, Surabaya, dengan asistensi penuh Korea. Kapal ke-empat rencananya kelar Januari 2010.

Tedjo mengatakan, setelah LPD, diharapkan PAL bakal diikut sertakan membangun kapal perusak kawal rudal (PKR). Saat ini, TNI AL tengah menjajaki negara produsen yang berkomitmen memberikan alih teknologi. Beberapa calonnya, Prancis, Belanda (Sigma-105 Class), dan Italia (Commandate Class). "Masih ditimbang mana yang terbaik," kata lulusan Akademi Angkatan Laut tahun 1975 itu.

Sumber : JURNAS

Peremajaan Hercules Tetap Dilanjutkan



JAKARTA - Pemerintah Indonesia memutuskan untuk melanjutkan program peremajaan pesawat angkut C-130 Hercules TNI Angkatan Udara untuk memelihara dan meningkatkan kesiapan skadron udara angkut berat.

"Dalam waktu dekat dua Hercules TNI AU akan segera diremajakan di dalam negeri," kata Dirjen Sarana Pertahanan Departemen Pertahanan Marsekal Muda TNI Erris Heryanto, di Jakarta, Rabu (16/9).

Sebelumnya, empat Hercules C-130 telah diremajakan. Pertama diremajakan di Singapura, dan TNI Angkatan Udara sekaligus mengirimkan teknisi untuk meningkatkan kemampuannya dalam pemeliharaan dan perbaikan pesawat Hercules.

Peningkatan kemampuan pesawat Hercules TNI Angkatan Udara yang dilakukan di Singapura mencakup perbaikan airframe (badan pesawat), modifikasi avionik dan modifikasi mesin.

Peremajaan dua pesawat Hercules terakhir akan dilakukan di Depo Pemeliharaan 30 Pangkalan Udara Abdurrahman Saleh yang mencakup peningkatan kemampuan mesin dari T56-7 ke T56-15 atau ditingkatkan dari tipe B ke tipe H.

Sementara itu, peningkatan kemampuan yang dilakukan di Depo Pemelihartaan 10 Pangkalan Udara Husein Sastranegara, Bandung, mencakup perbaikan badan pesawat dan modifikasi avionik.

Peningkatan kemampuan dua Hercules di Depo 10 dan 30 sudah dilakukan sepenuhnya oleh teknisi TNI AU yang sebelumnya dikirim ke Singapura. "Kini, dua Hercules mendatang seluruhnya akan dikerjakan di Tanah Air, mencakup seluruh aspek peremajaan," katanya.

Pada kesempatan terpisah, Asisten Logistik Kepala Staf Angkatan Udara Marsekal Muda TNI Imam Wahyudi mengatakan, program peremajaan terhadap dua unit Hercules TNI Angkatan Udara tipe B akan dilakukan di Depo Pemeliharaan 10 Pangkalan Udara Husein Sastranegara dan Depo Pemeliharaan 30 Pangkalan Udara Abdurrahman Saleh

"Dengan program peremajaan tersebut, maka dapat memperpanjang usia pakai pesawat-pesawat itu 15 hingga 20 tahun mendatang, dengan kondisi kembali prima," katanya.

Tentang ketersediaan mesin Hercules tipe B yang sudah langka di pasaran, Imam mengatakan, tidak masalah karena mesin C-130 Hercules Tipe B dapat ditingkatkan menjadi mesin Hercules Tipe H yang masih banyak terdapat di pasaran.

Sumber : MEDIAINDONESIA.COM

Wednesday, September 16, 2009

Dephan Tambah Alokasi Anggaran untuk Dukung Kemampuan Pertahanan Negara


Menhan Juwono Sudarsono (L) dan Panglima TNI Djoko Susanto (R)

JAKARTA – Dalam rangka mendukung kesiapan alat utama sistem senjata (alutsista) TNI, Departemen Pertahanan (Dephan) telah menambah alokasi anggaran untuk meningkatkan kemampuan pertahanan negara antara lain melalui melalui repowering, retrofiiting, pemeliharaan dan pengadaan alutsista secara terbatas. Hal ini dikatakan Menteri pertahanan Republik Indonesia Juwono Sudarsono pada saat menghadiri Rapat Kerja bersama Panglima TNI dan Komisi I DPR RI beserta para pejabat Dephan dan TNI, Senin (14/9) kemarin di gedung Nusantara II Paripurna DPR RI, Jakarta.

Lebih lanjut menhan menjelaskan, kendala yang dihadapi Dephan dalam rangka mendukung kesiapan alutsista TNI, antara lain masih kurang memadainya kuantitas dan kualitas Alutsista TNI serta sarana dan prasarana, sarana dan optimalnya upaya mensinergikan industri pertahanan nasional. Selain itu pula yang menjadi kendala seperti kegiatan penelitian dan pengembangan industri pertahanan secara terpadu serta tingginya ketergantungan pada teknologi dan industri militer luar negeri serta rendahnya tingkat kesejahteraan prajurit TNI, termasuk jaminan sosial dan asuransi bagi prajurit TNI.

Berdasarkan kendala tersebut di atas, untuk dapat mencapai sasaran pembagunan pertahanan negara, menurut menhan perlu ditempuh langkah-langkah sebagai berikut, yakni penajaman dan sinkronisasi kebijakan strategi pertahanan, peningkatan kemampuan dan profesionalisme TNI, peningkatan penggunaan alutsista produksi dalam negeri, peningkatan pendidikan bela negara dan peran aktif masyarakat dalam pertahanan negara dan mendorong percepatan pembentukan Komite Kebijakan Industri Pertahanan dan Kelembagaan Dewan Keamanan Nasional serta meningkatkan kesejahteraan prajurit termasuk jaminan asuransi prajurit.

Disamping itu, menyangkut penghapusan aktivitas bisnis TNI menhan menjelaskan, bahwa Dephan telah melakukan restruksi bisnis TNI yang dimulai dengan tahapan inventarisasi secara cermat, berhati-hati dan bertanggung jawab melalui koordinasi dengan instansi terkait.

Performance Based Budget

Semetara itu Ketua Komisi I DPR RI Theo L Sambuaga membacakan kesimpulan hasil rapat yaitu, untuk pemenuhan kebutuhan minimal anggaran serta pencapaian target sasaran, Komisi I DPR RI memandang perlunya untuk dilakukan kajian oleh menteri Pertahanan tentang Performance Based Bugdet dan prospek pembangunan kekuatan yang berorentasi pada Minimum Esential Force dengan menekankan unsur efektivitas, efisiensi serta pencapaian sasaran khususnya mempertahankan pertahanan-pertahanan yang vital, seperti wilayah-wilayah perbatasan dan pulau terluar.

Komisi I DPR RI juga menyampaikan beberapa hasil pengkajian antara lain tentang sistem pertahanan dan manajemen alutsista, aset tanah negara di lingkungan Dephan dan Mabes TNI, dukungan untuk mewujudkan Universitas Pertahanan sebagai universitas yang dapat diandalkan didalam melakukan pengkajian dan pembelajaran dibidang studi pertahanan dengan tetap terus mengkoordinasikan dengan Departemen Pendidikan Nasional.

Pada kesempatan pertemuan tersebut sehubungan dengan berakhirnya masa jabatan Komisi I DPR RI periode 2004 -2009, Komisi I DPR RI memberikan penghargaan tinggi dan terimakasih sebesar-besarnya atas hubungan kerjasama yang terjalin secara produktif dengan Menhan dan Panglima TNI sebagai mitra kerja Komisi I DPR RI selama tahun 2004-2009 dan menghargai berbagai kemajuan yang telah dicapai oleh TNI dalam merealisasikan agenda reformasi TNI serta minta panglima untuk melanjutakan usaha-usaha dalam menuntaskan agenda reformasi di lingkungan TNI.

Bersamaan dengan rapat terakhir ini, Komisi I DPR RI meminta Dephan untuk melanjutkan program legislasi yang telah berlangsung berdasarkan agenda reformasi sektor pertahanan serta melanjutkan hubungan kerja dengan DPR RI, khususnya Komoisi I DPR RI periode 2009-2014 untuk merealisasikan agenda program legislasi nasional.

Sumber : DMC

TNI AL Prioritaskan Kapal Patroli Cepat Pada 2010


Offshore Patrol Vessel (FPB) 60 meter, buatan PAL

JAKARTA - Mabes TNI AL pada 2010 akan memprioritaskan pengadaan kapal patroli cepat untuk menjaga wilayah perairan nasional, termasuk di wilayah perairan yang berbatasan dengan negara lain.

Dalam perbincangan singkat dengan ANTARA di Jakarta, Selasa (15/9) malam, Kepala Staf Angkatan Laut Laksamana TNI Tedjo Edhy Purdijatno mengatakan, untuk menimbulkan efek tangkal (detterence) maka kapal-kapal patroli cepat itu akan dilengkapi persenjataan seperti peluru kendali yang memadai.

"Dengan tingkat kesiapan kapal-kapal perang yang minim, maka kita harus memiliki strategi dan skala prioritas tinggi agar wilayah perairan kita tetap terjaga, karena banyak kandungan mineral, minyak dan sumber daya alam lainnya ada di laut," tuturnya.

Tak hanya itu, dengan pengadaan kapal-kapal patroli cepat dapat makin memberdayakan industri pertahanan dalam negeri karena PT PAL sudah dapat membuat kapal-kapal patroli cepat.

"Selain itu, kapal patroli cepat dapat lebih lincah bermanuver terutama di wilayah-wilayah perairan sempit seperti di sebagian perbatasan laut kita dengan negara lain," kata Tedjo.

Berdasarkan hasil audit bersama Departemen Pertahanan dan Mabes TNI tentang persenjataan TNI, kesiapan rata-rata persenjataan TNI hanya 35 persen.

Kasal mengatakan, pihaknya tidak dapat memprediksi berapa persen kenaikan kesiapan alutsista matra laut dari kenaikan anggaran pertahanan pada 2010 sebesar Rp40,7 Triliun.

"Semua sangat tergantung dari apa yang akan kita prioritaskan, apakah tempur, angkut atau apa. Tetapi, yang jelas dengan kondisi yang ada maka kita akan prioritaskan kapal patroli cepat yang dipersenjatai rudal secara memadai hingga menimbulkan efek tangkal efektif dan efisien," demikian Tedjo.

Sumber : ANTARA

CN-235MPA Pengganti Pesawat Nomad Selesai 2010


CN 235-220 MPA buatan PTDI


JAKARTA - Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL) Laksamana TNI Tedjo Edhy Purdijatno mengatakan, tiga pesawat intai maritim CN-235 MPA dari PT Dirgantara Indonesia pengganti Nomad, selesai dalam dua tahun.

"Satu unit selesai dan diterima pada 2010 dan sisanya dua unit pada 2011," kata Tedjo Edhy Purdijatno, usai berbuka puasa bersama dengan media massa di Jakarta, Selasa (15/9) malam.

Ia menambahkan, ketiga pesawat CN-235 MPA itu sudah selesai lengkap dengan berbagai fasilitas sebagai pesawat intai maritim. KSAL menegaskan, hingga kini pihaknya masih melakukan penyelidikan sebab musabab jatuhnya pesawat intai maritim TNI Angkatan Laut jenis Nomad P-837 di Sekatak, Kalimantan Timur pada 7 September 2009.

"Proses penyelidikan masih dilakukan oleh tim Pusat Penerbangan TNI Angkatan Laut (Puspenerbal) sedangkan tujuh Nomad kini tengah menjalani pengecekan ulang dan tidak boleh diterbangkan," kata KSAL.

Pesawat Nomad P-837 merupakan buatan Australia pada 1982. TNI Angkatan Laut memiliki dua unit Nomad P-837 bernomor seri N24A-135, dari keseluruhan Nomad yang dimiliki sebanyak 42 unit.

Dari 42 unit tersebut 23 unit telah disisihkan dan 19 unit lainnya masih dapat dioperasionalkan. Namun dari 19 unit tersebut hanya 14 unit yang disiapkan sesuai dengan anggaran yang tersedia.

Dari ke-14 unit itu hanya delapan unit yang dinyatakan siap dan kini tinggal tujuh unit menyusul kecelakaan yang terjadi pada awal September. Pesawat Nomad terbagi dalam empat jenis, yakni N-22S, N-22B, N-22MK 1, dan N-24, dengan tahun pembuatan beragam yaitu tahun 1974, 1981 dan 1984.

Data teknis Nomad: memiliki panjang 14,34 m, lebar/wing span 5,53 m, kecepatan maksimum 166 knot, jarak jelajah 900 mil laut, kemampuan lama terbang lima jam dengan mesin turboprop.

Sumber : MEDIAINDONESIA.COM

Tuesday, September 15, 2009

Presiden Minta Intensifkan Pemeliharaan Alutsista


Panglima TNI Jenderal Djoko Santoso (duduk) dan Sekjen Dephan Letjen TNI Sjafrie Sjamsoeddin (3 kanan) sebelum rapat kerja dengan Komisi I DPR di Gedung DPR, Jakarta.

JAKARTA - Presiden Susilo Bambang Yudhoyono meminta TNI untuk mengintensifkan manajemen pemeliharaan alat utama sistem senjata dan pengadaannya sesuai anggaran yang dialokasikan.

Demikian tanggapan Presiden tentang hasil audit bersama Departemen Pertahanan dan Mabes TNI tentang Manajemen Pembinaan Teknis dan Pengadaan Alat Utama Sistem Senjata, seperti dikutip Panglima TNI Jenderal TNI Djoko Santoso di Jakarta, Senin (14/9).

Ditemui usai menghadiri rapat kerja bersama Menteri Pertahanan Juwono Sudarsono dengan Komisi I DPR, Djoko Santoso mengatakan, menanggapi perintah Presiden itu, pihaknya dan bersama kepala staf tiga angkatan telah menginventaris alat utama sistem senjata di masing-masing angkatan dalam audit tersebut.

"Ada yang masih bisa dioperasionalkan, ada yang harus diperbaiki, dan ada yang harus disishkan," katanya.

Djoko mengatakan, beberapa alat utama sistem senjata yang disisihkan itu termasuk persenjataan strategis seperti pesawat tempur, kapal perang, dan kendaraan tempur.

Sumber : ANTARA

Kenaikan Anggaran Pertahanan 2010 Fokus ke Alutsista


KRI Teluk Sabang-544 dari kelas Frosch buatan 1970-an

Hasil Audit Alutsista: Kesiapan TNI Hanya 35%

JAKARTA - Menteri Pertahanan Juwono Sudarsono mengatakan kenaikan anggaran pertahanan pada 2010 sebesar Rp7,02 miliar dibanding 2009, sebagian besar akan digunakan untuk pengadaan alutsista TNI.

Berbicara dalam rapat kerja bersama Panglima TNI Jenderal TNI Djoko Santoso beserta ketiga kepala staf angkatan dengan Komisi I DPR, Senin (14/9) Menhan mengatakan Departemen Pertahanan/TNI pada 2010 mendapat alokasi anggaran sebesar Rp40,7 miliar.

"Dari kenaikan itu, untuk kegiatan operasi kita alokasikan Rp559,8 miliar, pendidikan dan latihan Rp196,3 miliar, kesejahteraan prajurit Rp465,3 miliar, dan pemeliharaan alutsista Rp791,9 miliar," katanya.

Sedangkan sisanya sebesar Rp2.454,2 miliar (US$ 245 juta) untuk pengadaan alutsista baru TNI, kata Juwono menambahkan. Sebelumnya, berdasar hasil audit bersama antara Departemen Pertahanan dan Mabes TNI tentang alutsista terungkap kesiapan rata-rata persenjataan TNI hanya 35 persen.

Hasil itu tampak dari kondisi alutsista TNI saat ini, kendaraan tempur TNI Angkatan Darat 61,81 persen, Kapal Perang TNI Angkatan Laut 16,55 persen dan kesiapan pesawat tempur TNI Angkatan Udara sekitar 30,88 persen.

Karenanya, lanjut Juwono, sasaran pengadaan alutsista serta pemeliharaanya pada Tahun Anggaran 2004-2009 adalah meningkatnya jumlah dan kondisi peralatan pertahanan agar mampu menyelenggarakan pertahanan negara secara terpadu dan berkelanjutan sesuai skala prioritas ke arah pertahanan yang integratif matra darat, laut, dan udara.

"Terkait itu perlu mengganti alutsista yang sudah habis masa usia pakainya dengan persenjataan berteknologi tinggi terkini dengan mempertahankan kondisi alutsista untuk memperpanjang usia pakainya untuk meningkatkan kualitas senjata untuk mencapai kekuatan pokok minimum," katanya.

Selain itu, meningkatkan dan mengikutsertakan industri dalam negeri melalui program transfer tekonologi untuk meningkatkan pemberdayaan industri dalam negeri untuk mengurangi ketergantungan terhadap negara lain, kata Juwono.

Sepanjang 2004-2009, kata dia, telah dilakukan berbagai upaya untuk mempertahankan dan meningkatkan kekuatan yang ada melalui "repowering" dan "retrovit" dengan capaian dari total pengadaan sebanyak 172 program sudah selesai 32 program dan sisanya belum ditetapkan. "Rendahnya capaian itu dikarenakan panjangnya proses perencanaan hingga pengadaan," jelasnya Juwono.

Kanibalisme Sukucadang

Selain itu, memprioritaskan pemeliharaan alutsista TNI berdasar skala prioritas, dari hasil audit juga tampak bahwa penurunan pemeliharaan persenjataan TNI dikarenakan keterbatasan suku cadang, menurunnya kondisi `tools` dan fasilitas pendukung seperti hanggar `dacking`, bengkel yang kurang memenuhi syarat.



Dari hasil audit juga tergambar, keterbatasan anggaran untuk pemeliharaan alutsista mengakibatkan TNI masih melakukan kanibalisme, memperpanjang usia pakai pada suku cadang tertentu, untuk memenuhi kebutuhan operasional.

Juwono menambahkan, keterbatasan anggaran yang berujung pada kesiapan alutsista berpengaruh terhadap latihan dan pemberdayaan sumber daya manusia.

"Misalnya di lingkungan TNI Angkatan Udara jumlah penerbang Hercules saat ini ada 47 orang yang bisa terbang hanya delapan unit, untuk helikopter Puma ada 56 orang sedangkan pesawat yang siap terbang hanya sembilan unit, sedangkan untuk tempur dari 90 orang hanya disiapkan 21 unit pesawat tempur," tuturnya.

Sumber : MEDIAINDONESIA.COM

Monday, September 14, 2009

Penggantian Dua Pesawat Tempur Mendesak

JAKARTA - Tentara Nasional Indonesia (TNI) Angkatan Udara meminta penggantian dua pesawat tempur, yakni OV-10 Bronco dan Hawk MK-53 tidak tertunda.

"Secara operasional sudah mendesak," kata Kepala Dinas Penerangan TNI AU Marsekal Pertama Bambang Soelistyo di Jakarta, pekan lalu.

Bambang menanggapi rencana Departemen Pertahanan (Dephan) yang hingga 2011 belum akan melakukan pengadaan senjata strategis ber-budget besar seperti pesawat tempur dan kapal selam.

Dia berharap, pengadaan pesawat bisa dikecualikan. "Karena tinggal proses akhir," katanya.

Pemerintah sudah mengalokasikan US$400 juta (sekitar Rp4 triliun) guna mengganti dua skadron pesawat pemukul tersebut. "Tinggal menunggu persetujuan Departemen Keuangan (Depkeu) menggunakan kredit ekspor yang mana," katanya.

Bronco sudah dikandangkan sejak medio 2007 lalu. Matra udara sudah merekomendasikan Super Tucano dari Brasil untuk menggantikan Bronco.

Sedangkan enam unit MK-53 yang ada, hanya dua unit yang kondisinya siap terbang. Ketersediaan suku cadang yang makin sulit mengakibatkan tingkat kesiapan MK-53 makin menurun. "2011 sudah tidak bisa dipakai lagi," kata Bambang.

Untuk pengganti MK-53, TNI AU mengaku masih menggodok berbagai jenis pesawat. Setidaknya terdapat lima alternatif, yakni, L-159B dari Republik Ceko, Yak-130 dari Rusia, Aermacchi M346 asal Italia, Chengdu FTC-2000/JL-9 dari China, dan B-50 asal Korea.

"Akan dipilih dua untuk diajukan ke Dephan," kata dia.

Mengenai spesifikasi, Markas Besar AU menginginkan pesawat yang dipilih tidak hanya untuk keperluan latihan. Pesawat juga harus bisa "berkelahi" agar dapat mengantisipasi kehadiran pesawat asing.

Tawarkan Hercules

Pemerintah Norwegia menawarkan empat pesawat angkut C-130 Hercules tipe H untuk dibeli pemerintah Indonesia. Seluruh pesawat ditawarkan US$66 juta (sekitar Rp660 miliar).

Sebelumnya, Amerika Serikat (AS) juga menawarkan 34 Hercules. Satu pesawat dibanderol U$40 juta (sekitar Rp400 miliar). "Dephan telah meminta TNI AU mengkaji tawaran yang ada," kata Bambang.


C-130H milik Royal Norwegian

Enam Hercules dari AS itu merupakan pesawat yang sebelumnya diperuntukkan bagi tiga negara di Asia dan Afrika. Namun, semua sebelum dihibahkan ke Indonesia telah mengalami perbaikan dan modifikasi. Sebelumnya, AS menjanjikan bantuan pengadaan enam pesawat angkut C-130 Hercules tipe H dan J untuk Indonesia.

Bantuan berupa potongan harga dengan menggunakan fasilitas Foreign Military Financing (FMF) dan bantuan suku cadang bagi pesawat angkut berat Hercules. Australia menawarkan Hercules Tipe J, namun pesawat dari Australia masih jangka panjang, kendati prosesnya sudah dilaksanakan sejak sekarang, namun realisasinya masih lama.

Hingga kini Indonesia memiliki satu skadron C-130 Hercules berbagai tipe, yakni C-130 Hercules VIP, C-130 H/HS, C-130 B/H dan C-130 BT dengan tingkat rata-rata kesiapan 60 persen atau sekitar sembilan unit.

Meskipun telah puluhan tahun, TNI AU tetap menggunakan dan memelihara C-130 Hercules melalui perawatan terjadwal service life extension programmed (SLEP), inspection repair as necessary (IRAN), dan program retrofit dengan biaya 51 juta dolar AS untuk empat pesawat agar dapat bertugas lebih lama lagi yakni sekitar 15 tahun.

"Kini dari empat Hercules yang menjalani peremajaan di Singapura, dua telah selesai, dan dua sisanya masing-masing diremajakan di Singapura dan Depo Pemeliharaan 10 TNI AU," demikian Imam..

Sumber : JURNAS

Friday, September 11, 2009

Scorpène, Kapal Selam Baru Andalan TLDM (III)


KD Tunku Abdul Rahman

Sistem Penggerak dan MESMA/ AIP

Scorpène mempunyai dua mesin generator diesel berdaya 1250kW, mesin ini di buat oleh Breach machinery shipping hatch-Belanda. Tingkat elastisitas baja pada kompartemen mesin kapal mampu mendukung daya hingga 2900kW.

Dari tiga varian yang ada, Scorpène dapat diklasifikasikan menjadi 2 kelas sistem penggerak yakni sistem penggerak konvensional (CM-2000) dan sistem penggerak MESMA/AIP (AM-2000).

Kendala yang sering ditemukan kapal selam diesel-elektrik ialah saat operasional seringkali harus muncul ke permukaan, hal ini diperlukan agar snorkel kapal dapat mensirkulasi oksigen untuk pembakaran mesin diesel guna mengisi ulang batere. Hal inilah yang menjadi kelemahan pada kapal berpengerak diesel konvensional, sehingga sangat rentan terdeteksi lawan.

Rasio antara waktu kerentanan dan total waktu operasional yang dikenal sebagai "indiscreation rate", bagi semua kapal konvensional berkisar antara 7 sampai 10%. Dengan batasan-batasan pada saat berpatroli dengan kecepatan 4 knot, dan transit antara 20% sampai 30% pada kecepatan 8 knot. Maksudnya adalah pada kapal selam diesel konvensional diperlukan waktu antara 20-30% dari waktu operasionalnya untuk kembali kepermukaan.

Beda halnya dengan kapal selam diesel elektrik modern berpenggerak MESMA/ AIP, kapal tidak selalu harus muncul kepermukaan. Artinya waktu operasional 100% tergantung dari endurance kapal dan awaknya.

Penggunaan sistem ini membuat umur masa pakai kapal jauh lebih lama dibanding dengan yang tidak menggunakannya. Sistem MESMA/ AIP meningkatkan daya tahan (endurance) penyelaman hingga 3 - 4 kali lebih baik dari kapal konvensional. Risiko kapal terdeteksi pun bisa lebih dikurangi.

Sistem pembangkit udara independen (MESMA/ AIP) juga berfungsi mengurangi kerentanan mesin dan batere, selain itu mesin diesel juga dilengkapi sel bahan bakar (fuel cell) yang dihasilkan dari Closed Circuit Diesel dari sistem anaerobic Modul d'energie Sous-Marine Autonome (MESMA).



MESMA anaerobic system, berfungsi mereduksi panas dari sirkuit utama yang dihasilkan oleh pembakaran ethanol dengan oksigen. Sistem ini dapat dengan mudah dipasang, bahkan pada saat konstruksi kapal pertama kali dibuat sehingga di kemudian hari kapal dapat modernisasi dari CM-2000 ke standar AM-2000. Pembeli diberikan kebebasan untuk menentukan pilihan.

Namun demikian Scorpène tetap memiliki performa yang sama disemua kelas (konvensional dan MESMA/AIP), kecuali panjang kapal bertambah menjadi 70M dan berat selamnya pun menjadi 1.870 ton (CM-2000 : panjang total 61.7m dan berat selam 1.565 ton).

Varian Scorpène

DCNS memasarkan 3 varian kapal selam kelas Scorpène. diantaranya : : Scorpène Basic, Scorpène Basic-dengan AIP dan Scorpène Compact.

Scorpène Basic, kapal selam berukuran sedang yang didesain dan dikembangkan langsung berdasarkan kapal selam nuklir (SSN & SSBN) AL Prancis generasi terbaru. Tentunya dengan mengedepankan keefektifan rasio biaya pembuatan.

Scorpène basic sangat cocok untuk beroperasi diperairan dangkal dan dalam. Kapal dengan efektifitas dan performa yang tinggi serta kemampuan angkut senjata yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan dimasa datang.

Scorpène Basic mempunyai keuntungan sebagai berikut : kemampuan angkut senjata lebih besar, belum ada pesaing dikelasnya (speed & stealth design), underwater endurance dan sistem pertempuran sangat fully-otomated.

Varian ini dirancang untuk diawaki 31 pelaut, hampir setengah dari jumlah awak kapal selam konvensional (50-60 awak). Biaya operasional pun mampu dipotong dengan mereduksi waktu pemeliharaan dan memperpanjang interval waktu overhaul.


Cut-off KS Scorpène di kelas O'Higgins seperti milik TLDM

Scorpène Basic-AIP,
mempunyai spesifikasi yang sama dengan basic, hanya saja varian ini sudah dilengkapi dengan MESMA/ AIP sehingga endurance kapal lebih lama beroperasi dikedalaman.

Scorpène Basic-AIP dengan system MESMA mempunyai keuntungan sebagai berikut : asset militer terkuat dalam gugus tugas penangkalan, integrasi sistem pertempuran modern, disain modular memudahkan upgrade, endurance lebih baik dan mereduksi biaya perawatan (life-cycle) lebih hemat.

Scorpène Compact, versi kapal selam terpendek dari Scorpène yang didesain khusus untuk beroperasi dengan efektivitas tinggi diperairan dangkal. Bentuk hull yang lebih pendek memungkinkan manuver lebih tinggi serta kemampuan infiltrasi kewilayah lawan dengan senyap tanpa harus muncul ke permukaan.

Untuk menghindari pendeteksian, varian ini juga dapat ditingkatkan dengan mengaplikasi MESMA/ AIP. Satu generator diesel di pasang untuk menyediakan tenaga pendorongan saat merecharge di permukaan.

Negara Pengguna

Saat ini sudah ada 4 negara diluar Prancis dan Spanyol yang melakukan kontrak pembelian kapal selam Scorpène untuk memperkuat armada lautnya, Salah satunya adalah Malaysia, Chile, India dan Brazil.

Kontrak pembelian pertama Scorpène dilakukan oleh Royal Malaysian Navy (RMN) pada Juni 2002 sebanyak 2 unit. Ini menjadi kali pertama RMN mempunyai kekuatan arsenal kapal selam dijajaran armada lautnya.

Kapal pertama (KD Tunku Abdul Rahman), dibangun di DCNS-Cherbourg pada Oktober 2007 dan telah diserahterimakan pada Januari 2009. Yang kedua (KD Tunku Razak), dibangun di Cartagena Navantia pada Oktober 2008 dan dijadwalkan diserahterimakan kepada RMN Oktober 2009.


KD Tunku Abdul Rahman di galangan DCNS-Cherbourg, Prancis

Kontrak pembelian kedua dilpesan oleh Chile sebanyak 2 unit pada November 2003, kapal selam ini digunakan sebagai pengganti 2 kapal selam kelas Oberon yang habis masa pakainya pada 1998 dan 2003.

Kontrak pembelian ketiga dipesan oleh India sejumlah 6 unit pada Oktober 2005. Kapal selam ini dibangun di Mazagon Dockyard-Bombay, dengan bantuan teknisi dan peralatan dari DCNS Shipyard dan Thales-Prancis.

Disaat yang sama India juga memesan rudal anti kapal buatan MBDA SM-39 Exocet sejumlah 36 unit untuk mempersenjatai kapal tersebut. Konstruksi pertama dimulai pada Desember 2006 dan dijadwalkan serah terima pada Desember 2012. Pengiriman selanjutnya diserahkan satu unit setiap tahun hingga 2017.

Kontrak pembelian keempat dipesan oleh Brazil sejumlah 4 unit pada Desember 2008 lalu. Kapal selam dibangun dalam paket kerjasama antara DCNS Shipyard dan Odebrecht Shipyard-Brazil, kapal ini dibangun di Brazil dengan bantuan pengawasan teknisi DCNS Prancis.

Secara resmi DCNS tidak pernah mengungkapkan harga pasti dari kapal selam Scorpène. Tetapi menurut globalsecurity.org, enam Scorpène India menelan biaya sekitar US$ 4,6 miliar. Dan kontrak terakhir dengan Brazil menelan biaya US$ 6 miliar, namun karena ada alih teknologi yang disertakan dalam paket pembelian ini dilaporkan total kontrak yang disepakati sejumlah US$ 8 miliar. ©alutsista

Hercules TNI AU A-1305 Kembali Dari Overhaul di Singapura



SEMARANG - "Skadron Udara 32 Lanud Abd Saleh yang salah satunya memiliki tugas dan kewajiban mengoperasikan serta memelihara sampai tingkat sedang pesawat C-130 Hercules dalam mendukung tugas-tugas operasi TNI AU, dituntut pesawat yang ada harus dalam kondisi siap operasional". Demikian sambutan Komandan Lanud Abd Saleh Marsma TNI Ida Bagus Anom M., SE. dalam acara penyambutan pesawat Hercules A-1305 di lapangan apel Skadron Udara 32 Lanud Abd Saleh, Kamis (10/9). Disaksikan para pejabat Lanud Abd Saleh dan Insub.

Mengingat jam terbang pesawat Hercules begitu besar, maka diperlukan perawatan berkala dan menyeluruh agar pesawat dapat beroperasi dengan maksimal. Oleh karena itu di lakukan program perawatan menyeluruh Hercules TNI AU A-1305 yang telah selesai dilaksanakan di Singapura. Dengan demikian di harapkan tidak ada lagi accident dan incident terhadap pesawat pesawat Hercules yang ada di Lanud Abd Saleh.

Sumber : DISPENAU

Deplu: Ada Indikasi Tindak Kriminal Dalam Kasus Pindad

JAKARTA - Juru bicara Departemen Luar Negeri Indonesia Teuku Faizasyah menyatakan, ada indikasi tindak kriminal dalam kasus penahanan senjata milik perusahaan BUMN PT Pindad oleh pihak berwajib di Filipina.

"Dari hasil pertemuan kedua antara KBRI Manila dengan otoritas Filipina yang berlangsung tanggal 8 September 2009 lalu, ada indikasi adanya tindakan melawan hukum pada saat kapal tersebut bersandar di pelabuhan Filipina," ujar Faizasyah di Jakarta, Jumat (11/9).

Dia menjelaskan polisi Filipina telah melakukan investigasi dan sebanyak 37 orang telah dinyatakan sebagai tersangka termasuk beberapa warga negara asing.

Namun, Faizasyah menyatakan belum bisa memberi keterangan lebih lanjut mengenai kasus ini karena masih dalam penyelidikan.

"Sejauh ini kami menghormati penyelidikan yang dilakukan otoritas Filipina dan berharap kasus ini segera bisa diselesaikan," ujarnya.

Menurut Faizasyah, parlemen Filipina juga tengah membentuk suatu tim khusus untuk menyelidiki kasus ini secara menyeluruh.

Aparat bea cukai Filipina pada Kamis (20/8) menahan sebuah kapal kargo "Capt Ufuk" yang mengangkut sekitar 50 senapan di daerah Bataan.

Setelah dicek, ditemukan senapan buatan Pindad berjenis SS1-V1, beberapa perlengkapan militer lainnya, dan senjata laras panjang bermerek Israel "Galil". Senjata itu adalah sejenis senjata tipe serbu yang sangat akurat (300-800 meter).

Selain senjata-senjata itu, aparat Filipina juga menahan 14 kru dari Georgia dan Afrika. Kapal tersebut disebutkan berangkat dari Pelabuhan Georgia dan singgah di Indonesia untuk mengambil barang, sebelum kemudian berlayar ke Pelabuhan Mariveles.

Menurut catatan, pada 2008 PT Pindad mengekspor berbagai jenis senjata sebanyak tujuh kali ke luar negeri, sedangkan pada 2009 mengeskpor 13 kali antara lain Thailand dan Mali. Sedangkan Filipina relatif baru sebagai negara tujuan.

Sumber : ANTARA

Menhan: Dua Negara Tawarkan Pesawat Pengganti Nomad


M-28 Skytruck buatan Polandia yang ditawarkan ke Dephan sebagai pengganti Nomad

JAKARTA - Menteri Pertahanan Juwono Sudarsono mengatakan, saat ini ada dua negara yang menawarkan untuk menjual pesawat pengganti Nomad. Hal ini ditegaskan Juwono terkait adanya wacana penggantian pesawat Nomad pascamusibah jatuhnya pesawat jenis Nomad milik TNI Angkatan Laut di Nunukan, Kaltim.

"Ada dua negara yang menawarkan, yaitu Polandia dan Korea Selatan. Dephan dan TNI masih mempertimbangkan mana yang akan dibeli untuk menggantikan pesawat Nomad dua sampai tiga tahun mendatang," kata Menhan Juwono Sudarsono, Kamis (10/9).

Ia juga menjelaskan, ada opsi untuk mendahulukan pembelian pesawat jenis patroli laut yang diproduksi oleh PT Dirgantara Indonesia (DI). Namun, untuk mewujudkan hal itu diperlukan suntikan dana khusus dari pemerintah kepada PT DI.

"Kita mengharapkan hal itu karena komitmen Presiden dan Wakil Presiden adalah kita mendahulukan industri penerbangan dalam negeri," kata Juwono.

Mesin Nomad Mati Mendadak

Sementara itu Pilot Letnan Satu Laut (P) Erwin Wahyuwono di RSAL dr Ilyas di Tarakan, Kamis (10/9) ketika dimintai keterangan mengenai kecelakaan pesawat Nomad mengatakan: Kedua mesin mengalami mati mendadak secara bergantian. Akibatnya, pesawat intai maritim itu jatuh dan terhempas ke pertambakan Sukun-Mentadau di Desa Sekatak Bengara, Kecamatan Sekatak, Kabupaten Bulungan, Kalimantan Timur. "Mesin kanan mendadak mati lebih dulu. Setengah menit kemudian mesin kiri ikut mati".

Pesawat jatuh saat terbang dari Long Ampung, Kabupaten Malinau, tujuan Tarakan. Pesawat berangkat dari Long Ampung pukul 12.04 Wita. Pesawat dijadwalkan mendarat di Tarakan pukul 13.17 Wita. Namun, pukul 13.00 Wita, kontak dengan Nomad terputus.

Saat mesin kanan mati, menurut Erwin, penerbangan diteruskan dengan satu mesin dan dimungkinkan karena Tarakan sudah dekat. Namun, saat mesin kedua mati, Erwin harus segera mendaratkan pesawat berpenumpang teknisi Sersan Mayor Sodikin dan enam warga sipil dari Long Ampung.



Kopilot Letnan Satu Laut (P) Syaiful menyarankan agar pesawat mendarat di sungai. Namun, menurut Erwin, mendarat di sungai yang dekat muara cukup berbahaya sebab diduga banyak buaya. Karena Syaiful kian cemas, Erwin memutuskan mendaratkan pesawat di pertambakan.

"Jelas mukjizat saya masih bisa hidup karena pesawat terbelah dua dan nyaris hancur," kata Erwin.

Erwin menyatakan duka mendalam sebab kecelakaan itu menewaskan empat dari enam penumpang sipil seketika. Mereka adalah Yakub Kayan asal Bulungan, Muslimin asal Tarakan, serta Fikri dan Sri Hardi asal Nusa Tenggara Barat. Seorang lainnya yakni Muhib meninggal dua hari kemudian di RSUD Tarakan seusai menjalani operasi di RSAL. Korban lain yang selamat yakni Muhaimin asal Tenggarong, Kabupaten Kutai Kartanegara, masih dirawat di RSAL.

Muslimin telah dimakamkan di Tarakan, sedangkan Yakub dimakamkan di Bulungan. Jenazah Fikri dan Sri Hardi telah diterbangkan ke NTB melalui Kota Surabaya dengan pesawat Boeing maskapai Batavia Air, Rabu. Jenazah Muhib dibawa ke NTB juga lewat Surabaya dengan pesawat serupa, Kamis siang.

Sumber : KOMPAS.COM

Thursday, September 10, 2009

'Bangkai' Nomad TNI AL

BULUNGAN - Bangkai pesawat Nomad TNI Angkatan Laut yang jatuh pada Senin (7/9) di Sekatak Bengara, Kabupaten Bulungan, Kaltim, Rabu (9/9). Bangkai pesawat naas tersebut masih berada di lokasi menunggu dipindahkan ke lokasi Lanal Tarakan. FOTO ANTARA/M Imron Rosyadi/Koz/mes/09.


TNI: 70% Persenjataan harus Diganti



JAKARTA - Sekitar 70% persenjataan yang dimiliki TNI sudah saatnya untuk diganti dengan yang baru, kata Juru bicara TNI Marsekal Muda TNI Sagom Tamboen.

"Sekitar 70% persenjataan yang dimiliki TNI sudah berusia di atas 20 tahun dan memang sudah saatnya diganti," katanya, saat dikonfirmasi hasil audit bersama Departemen Pertahanan dan Mabes TNI tentang alat utama sistem senjata, di Jakarta, Rabu (9/9).

Namun begitu, apakah seluruh persenjataan itu akan langsung dikandangkan dan tidak digunakan lagi, itu perlu kajian dan penelitian lebih lanjut," ujarnya menambahkan.

Bagaimana pun, tambah Sagom, TNI tetap membutuhkan peralatan dan persenjataan untuk latihan dan melaksanakan operasi sesuai tugas pokok, peran dan fungsi TNI.

Jika semua peralatan dan persenjataan yang telah berusia diatas 20 tahun langsung dikandangkan, TNI tidak dapat melaksanakan latihan rutin untuk memelihara kesiapan operasional dan profesionalitasnya.

Sagom mengemukakan, peralatan dan persenjataan TNI yang berusia lebih dari 20 tahun, sebagian telah mengalami peremajaan (retrovit) atau repowering. "Sehingga masih tetap kita pakai, meski sudah saatnya diganti dengan yang benar-benar baru," tuturnya.

Ia menambahkan, saat ini rata-rata kesiapan alat utama sistem senjata (alutsista) TNI hanya berkisar antara 40-70% dari kebutuhan ideal. Sebagian peralatan dan persenjataan TNI merupakan 'sisa' pengadaan pada era 1960-an, 1980-an dan periode 1990 hingga 2000.

Era 1960-an boleh dikatakan sebagai masa puncak kejayaan TNI tidak saja di kawasan ASEAN, tetapi juga belahan bumi Selatan. Sayang masa kejayaan itu tidak bertahan lama. Pada era 1970-an kondisi dan tingkat kesiapan alutsista yang dimiliki TNI cenderung menurun. Pesawat, kapal dan kendaraan tempur asal negara Timur banyak yang harus diistirahatkan dan diganti buatan negara negara barat.

Kebangkitan TNI baru terasa kembali pada 1980-an. Saat itu TNI diperkuat dengan beberapa persenjataan dan peralatan baru meski tidak terlalu siginfikan. Kondisi ini mengalami sedikit perbaikan di era 1990-2000 dengan penambahan dua Sukhoi, dua Korvet dan panser VAB. "Selain itu, sebagian besar peralatan TNI atau sekitar 70% telah berusia diatas 20 tahun," kata Sagom.

Sumber : MEDIAINDONESIA.COM

Wednesday, September 09, 2009

TNI-AL Kaji Percepatan Penggantian Nomad

JAKARTA - Mabes TNI AL mengkaji percepatan penggantian pesawat patroli Nomad dengan CN-235 buatan PT Dirgantara Indonesia, menyusul kecelakaan yang menimpa pesawat Nomad P-837 di Kalimantan Timur, Senin (7/9).

"Saat ini, kita masih nyatakan pesawat Nomad masih layak pakai meski usianya sudah sangat tua dan kini jumlahnya tinggal tujuh unit dari semula 42 unit," kata Kepala Dinas Penerangan TNI Angkatan Laut Laksamana Pertama TNI Iskandar Sitompul ketika dikonfirmasi ANTARA News di Jakarta, Rabu (9/9).

Ia mengemukakan, untuk sementara waktu tujuh unit pesawat Nomad yang tersisa tidak dioperasionalkan guna penyelidikan lebih lanjut tentang sebab-musabab jatuhnya pesawat Nomad tersebut.

"Sambil melakukan penyelidikan, kita juga mengkaji kemungkinan untuk mempercepat penggantian Nomad dengan CN-235MPA dari PT DI," kata Iskandar.

Setidaknya dalam waktu dekat ini, akan ada tiga pesawat jenis CN-235 yang dipesan TNI AL dari PT DI.

Rencana pembelian ini diharapkan menjadi tonggak penambahan sekaligus peremajaan alat utama sistem senjata (alutsista) di Pusat Penerbangan TNI AL (Puspenerbal).

Sumber : ANTARA

Nomad, MPA, dan Kemaritiman Kita


N24 Nomad TNI AL buatan Government Aircraft Factory, Australia

Oleh : Ninok Leksono

Berita jatuhnya pesawat Nomad TNI Angkatan Laut di Kalimantan Timur, Senin (7/9), selain menimbulkan rasa sedih juga membangkitkan momentum. Mungkin di satu sisi kita masih terus merisaukan jatuhnya alat utama sistem persenjataan (alutsista) tua kita. Namun, tidak kalah fundamental adalah bagaimana kita menempatkan pesawat seperti Nomad dalam visi kemaritiman kita.

Dalam perspektif negara maritim, yang kemarin banyak mendapat sorotan dengan acara Sail Bunaken yang dihadiri kapal-kapal perang asing, pesawat patroli maritim sebenarnya merupakan komponen yang vital. Negara-negara besar atau negara yang punya visi kemaritiman punya pesawat jenis ini, yang dikenal sebagai MPA (maritime patrol aircraft). AS punya P-3C Orion, Inggris punya Nimrod, Perancis punya Atlantique, dan Spanyol punya Persuader.

Nomad N24 yang dibuat oleh pabrik Government Aircraft Factory Australia ini tidak pertama-tama dirancang untuk pesawat patroli maritim, tetapi hanya sebagai pesawat berciri transpor serba guna dengan kemampuan STOL (short take-off and landing).

Setelah prototipe pertama Nomad N2 terbang pada 23 Juli 1971, unit produksi pertama —N22—diserahkan kepada militer Filipina tahun 1975. Tipe N22 ini juga menjadi dasar bagi pembuatan pesawat patroli pantai Searchmaster, yang selain digunakan oleh militer juga oleh dinas pabean Australia dan AS. Dari N22 ini pula dikembangkan N24, pesawat Nomad yang badannya lebih panjang 1,14 meter dibandingkan dengan N22. N24 memang lalu dipasarkan sebagai pesawat komuter yang kabinnya bisa menampung 16 kursi penumpang. Selain untuk penumpang, N24 juga ditawarkan sebagai pesawat barang Cargomaster dan ambulans udara Medicmaster.

Pesawat yang produksinya berakhir tahun 1984 ini untuk tipe Searchmaster B dilengkapi radar pencari Bendix RDR 1400 dan punya awak normal empat orang. Sementara itu, untuk Searchmaster L yang lebih canggih punya radar Litton LASR (AN/APS504) yang berada di bawah hidung pesawat dan punya kemampuan pindai 360 derajat.


Nomad N22

Kebutuhan

Memang untuk negara-negara besar, pengertian patroli maritim terkait dengan perang antikapal selam (anti-submarine warfare/ASW). Karena misi tersebut, pesawat patroli dipasangi sistem sonar berteknologi canggih, lalu ada juga yang dipersenjatai dengan bom dan rudal Exocet.

Kini ketika argumen perang konvensional relatif surut, muncul argumen patroli maritim yang dilatarbelakangi oleh kepentingan ekonomi dan keamanan laut. Patroli maritim terus digelar dari Laut Utara hingga di ribuan pulau di Filipina dan Indonesia. Dan—seperti disebut dalam kutipan pada awal tulisan ini—metode yang paling efektif adalah melalui, dan dengan, pesawat udara.

Bagi Indonesia yang dua pertiga wilayahnya laut, patroli maritim tak diragukan lagi merupakan keniscayaan. Memantau gerakan kapal musuh, memburu pelaku penangkapan ikan ilegal, penyelundup barang maupun manusia, dan aktivitas polutif bisa disebut sebagai aktivitas yang membutuhkan dukungan pesawat patroli maritim.

Untuk maksud dan tujuan itu, pesawat patroli maritim punya kemampuan untuk menemukan tempat (locating), mengenali (identifying), dan bila diperlukan menghadapi (dealing) problem yang ada.

Nomad TNI AL bisa dikatakan terlalu tua dan terlalu simpel untuk tujuan dan tugas besar ini. PT Dirgantara Indonesia pernah menawarkan pesawat MPA yang berbasis CN-235. Pesawat juga ditawarkan ke pasar lebih luas dalam pameran kedirgantaraan seperti Singapore Airshow. Namun, sebegitu jauh belum ada deal.


CN-235MPA buatan PTDI, Bandung

Seperti yang sering kita dengar, problem yang selalu disebut dalam pengadaan alutsista adalah anggaran. Namun, ketika ada wilayah seluas 8,5 juta kilometer persegi yang harus diawasi, pemenuhan kewajiban itulah yang seharusnya dilakukan. Kalau tidak, kita hanya akan berhenti pada wacana saat mengatakan bahwa setiap tahun kita menderita kerugian 4 miliar dollar AS karena penangkapan ilegal, 5 miliar dollar AS karena penyelundupan bahan bakar minyak, dan 600 juta dollar AS karena penyelundupan kayu. Selain itu, juga akan terus berlangsung pencemaran laut sepanjang garis 167.000 kilometer dan adanya lebih dari 3.000 kapal nelayan asing yang beroperasi tanpa izin.

Sebegitu jauh, Indonesia hanya punya satu atau dua Boeing 737-200 dan sebuah Hercules C-130H-MP untuk memantau perairannya.

Nomad yang hanya punya kemampuan untuk patroli pantai jelas jauh dari memadai untuk mematroli perairan Indonesia. Dengan demikian, misalnya penambahan C-130MP dirasakan masih membutuhkan persiapan alokasi anggaran lebih besar, pengadaan CN-235 MPA dalam jumlah yang optimal mestinya harus lebih fisibel.

Kerugian yang ada akibat pencurian ikan memang mestinya bisa digunakan untuk membeli pesawat MPA. Namun, jelas orang akan dihadapkan pada pertanyaan mana lebih dulu, ayam atau telurnya.

Solusi teknologi

Sementara solusi finansial masih belum tampak, teknologi telah banyak menawarkan solusi. Dengan radar canggih yang kini terpasang pada pesawat seperti CN-235 MPA, misi penemuan, identifikasi, dan bila perlu menghadapi problem di laut dapat dipecahkan.

Adanya pesawat patroli yang andal akan bisa setiap kali memberi informasi kepada TNI AL, Polri, Departemen Kelautan dan Perikanan, serta Departemen Perhubungan untuk ditindaklanjuti (Kompas, 15/9/2004).

Tampaknya di sini yang lebih dulu perlu ada ialah visi kemaritiman, yang memberi kerangka dan cetak biru pemanfaatan laut, baik untuk pertahanan maupun pendayagunaan sumber daya untuk kesejahteraan bangsa. Dengan adanya visi yang gamblang di sini, pengadaan pesawat MPA sebagai sistem dan metode sahih untuk mencapai tujuan di atas tak harus menjadi problem. Dengan itu, negara seperti Indonesia tidak akan lagi merasa nyaman untuk menerbangkan pesawat era 1970-an seperti Nomad.

Sumber : KOMPAS

Audit Alutsista TNI Akan Segera Diselesaikan


Nomad TNI AL mengalami landing failure di Nunukan, Maret 2009. (Foto: Master_Chief@mp.net)

JAKARTA - Menteri Pertahanan Juwono Sudarsono mengatakan hasil audit alutsista yang dilakukan Departemen Pertahanan dan Mabes TNI akan segera diselesaikan dan dilaporkan ke Presiden.

"Ya hasilnya untuk dilaporkan kepada bapak Presiden," katanya kepada ANTARA News di Jakarta, Selasa (8/9), saat ditanya seputar hasil audit alutsista yang telah diserah terimakan Mabes TNI kepada Dephan 11 Agustus lalu.

Mengenai bagaimana hasil penyidikan yang di Ketuai tim audit alutsista TNI Letnan Jenderal Liliek AS Sumaryo dan kapan hasil audit tersebut dilaporkan kepada presiden, Juwono enggan berkomentar lebih jauh.

Sementara itu Kepala Biro Humas Departemen Pertahanan Brigjen TNI Slamet Heriyanto mengemukakan, proses audit alutsista masih memasuki tahap finalisasi dengan meneliti hasil laporan yang ada mengingat banyaknya perlengkapan dan persenjataan yang harus diteliti satu per satu kondisinya.

"Alutsista yang diperiksa banyak sekali tidak saja satuan tetapi juga persenjataan perseorangan," katanya.

Beberapa waktu lalu, Departemen Pertahanan dan Mabes TNI membentuk tim audit bersama terhadap manajemen pembinaan, teknik dan anggaran seluruh alat utama sistem senjata TNI menyusul kecelakaan yang menimpa beberapa pesawat TNI hingga menimbulkan korban jiwa.

Peristiwa terakhir pada Senin (7/9) siang, pesawat Nomad P-837 milik TNI Angkatan Laut mengalami hilang kontak pukul 13.00 WITA dan jatuh ketika melaksanakan patroli rutin Maritim dan perbatasan pada koordinat 03 09 618 U ? 117 11 575 T sekitar 24 mil Barat Tarakan.

Akibatnya, tiga orang awak pesawat masing-masing Pilot Lettu Laut (P) Erwin mengalami luka berat sedangkan Co pilot Lettu Laut (P) Saeful dan teknisi Serma SAA Sodikin mengalami luka ringan. Sementara korban lainnya empat meninggal dunia dan dua orang selamat.

Sumber : ANTARA

Tuesday, September 08, 2009

Scorpène, Kapal Selam Baru Andalan TLDM (II)


KS Scorpène di Port Klang

Kinerja Scorpène

Performa tinggi Scorpène yang terintegrasi dalam sistem pertempuran, menawarkan fleksibilitas dan kehandalan pada awak yang mengoperasikannya. Setiap operator diberikan kontrol penuh atas konsol multifungsi yang menjadi tanggung jawabnya, seperti : operator sonar, sensor permukaan, persenjataan, navigasi dan kontra-aksi dalam pertempuran.

Scorpène dapat meluncurkan berbagai varian senjata 21 inci (533mm), termasuk torpedo berpemandu wire (kabel serat optic), rudal anti kapal Exocet dan ranjau laut.

Saat menyelam, Scorpène memiliki tingkat kebisingan yang amat sangat rendah. Didukung dengan perangkat sensor-sensor pendeteksi canggih, kapal ini mampu mengeliminir pendeteksian sehingga mengurangi risiko terdeteksi sensor kapal lawan.

Tingkat radiasi suara yang rendah dicapai melalui penggunaan desain advanced hydrodynamics berbentuk Albacore bow, yang mampu memperkecil hambatan air pada badan kapal serta mengoptimalkan puntiran air saat kapal bermanuver.

Kemampuan mengeliminasi sinyal akustik dan bentuk yang hydrodynamics memberikan Scorpène kemampuan untuk menghindar dan bersembunyi dalam operasi pertempuran laut, baik di kondisi perairan laut tertutup maupun perairan laut terbuka. Juga mampu bekerja sama dalam mendukung infiltrasi pasukan khusus ke pesisir pantai.

Sistem Senjata dan Kendali Tempur

Scorpène dilengkapi dengan enam peluncur rudal dalam 21 tabung torpedo, dimana masing-masing peluncur mampu memberikan tembakan secara simultan. Hal ini dimungkinkan karena peluncur mengadopsi pompa turbin udara, dimana pengendaliannya diatur oleh Advanced Combat System (ACS)

ACS memungkinkan kendali persenjataan bekerja bersama dengan rangkaian perangkat sensor secara simultan, hal ini berpengaruh terhadap penanganan persenjataan lebih cepat, senyap dan fleksibel. Dengan sistem ini setiap tabung peluncur dapat meluncurkan rudal dengan aman dan senyap di kedalaman laut.

Sistem ini tersaji lengkap ke Pusat Informasi Tempur (PIT) berkat bantuan SUBTICS (Submarine Tactical Integrated Combat System). Guna menghindari deteksi sonar lawan Scorpène juga dilapisi media penyerap frekuensi sonar aktif / pasif, persenjataan utama kapal ini berupa torpedo kelas berat terbaru ‘Black Shark’ buatan WASS Company (Whitehead Alenia Sistem Subacquei). Sebuah industri strategis pembuat torpedo asal Italia.


SM-39 Exocet, rudal anti kapal permukaan andalan Scorpène

Selain torpedo, Scorpene juga mampu menembakkan rudal anti kapal permukaan SM-39 Exocet (Exocet berpeluncur bawah laut) buatan MBDA berdaya jangkau 50km. Rudal ini bisa ditembakkan langsung dari tabung peluncur yang sama dengan peluncur torpedo. Dan beberapa perlengkapan pendukung pertempuran lainnya, seperti : sistem pengintai (EDO Roconnaissance Systems AR-900) dan sisten penjejak Electronic Support Measures/Direction-Finding (ESM/DF).

Scorpène dapat membawa 18 buah torpedo dan beberapa rudal termasuk 30 buah ranjau laut, semua persenjataan tersebut dikontrol dan dimuat ke peluncur secara otomatis.

Manajemen Pertempuran, Sonar dan Navigasi

SUBTICS (Submarine Tactical Integrated Combat System) adalah sistem manajemen pertempuran di Scorpène yang terintegrasi kedalam enam konsol multi-fungsi yang dilengkapi layar monitor, dimana kesemua hasil pemrosesan dipusatkan kedalam sebuah meja taktis pertempuran dimana pusat kegiatan tempur dilaksanakan. Semua tersaji dan terintegrasi dengan platform-fasilitas kontrol yang ada di kapal.

Sistem manajemen pertempuran ini terdiri dari komando, sistem penanganan data taktis, kontrol sistem senjata dan rangkaian yang terintegrasi dengan radar dan sensor akustik. Semua ditampilkan secara lengkap bersama deteksi sensor bawah dan atas permukaan yang dipadukan dengan sistem navigasi. Sistem ini juga dapat meng-unduh (download) data dari sumber eksternal.

Rangkaian deteksi sonar Scorpène mencakup silindris-passive array berdaya jangkau tinggi, intersep sonar, sonar aktif, distribute array, flank array, sonar beresolusi tinggi untuk mendeteksi ranjau, penghindar rintangan dan towed-array.

Sistem navigasi yang dikombinasi dengan data dari Global Positioning System (GPS), data perjalanan, pengukuran kedalaman dan jalur tempuh kapal terpadu dalam sistem pemantauan. Scorpène juga mampu memonitor lingkungan laut di sekitar kapal termasuk densiti air laut dan temperatur suhunya.

Sensor dan fasilitas awak kapal

Hampir semua kapal selam pengoperasiannya dikendalikan dari ruang kendali. Begitu pula dengan Scorpène, kapal ini dilengkapi dengan kontrol otomatis berakurasi tinggi. Terutama saat melakukan pengintaian secara terus-menerus, kontrol secara otomatis memantau pergerakan sistem propeler, rudder dan platform instalasi lainnya.


Awak kapal selam TLDM saat training mengendalikan Scorpène

Awak kapal juga sangat terbantu berkat adanya Perangkat manajemen sistem terintegrasi (IPMS: Integrated Platform Management System) yang berfungsi memonitor keseluruhan sistem, termasuk status mesin dan sub-sistemnya. Fungsi-fungsi seperti kontrol/ kendali, status penyelaman dan status power/propulsion semua terpadu satu membuat awak kapal dapat berkonsentrasi pada masing-masing tugasnya.

Secara otomatis IPMS dan combat system Scorpène mampu mengurangi beban kerja menjadi lebih efisien dan efektif, dengan hanya diperkuat 30-an awak kinerjanya setara dengan kerja 50 awak di generasi kapal sebelumnya. Lingkungan kerja yang aman dan nyaman memberikan situasi dan kondisi yang optimal untuk seluruh awak kapal.

Selain itu juga kapal memiliki sensor internal berkesinambungan terhadap semua potensi bahaya (seperti : kebocoran, kebakaran, deteksi gas) yang mempengaruhi keselamatan kapal dan awak kapal sewaktu melakukan penyelaman.



Kapal dapat membawa total awak kapal sejumlah 31 orang ditambah dengan pasukan khusus bersenjata lengkap sejumlah 9 orang. Ruang komando dan ruangan lain tempat awak beraktifitas ter-instalasi perangkat AC dan terisolasi dalam sebuah modul “akustik floating platform”. Kapal juga memiliki ruang tambahan non permanen untuk awak dalam melakukan operasi khusus.

Kapal ini dilengkapi dengan sistem untuk memenuhi semua kebutuhan vital yang diperlukan, seperti : air bersih, kebutuhan sehari-hari, reproduksi oksigen dan untuk kebutuhan darurat (survival) semua awak selama tujuh hari.

Selain itu kapal juga dilengkapi dengan semua peralatan rescue dan sistem keamanan, termasuk pintu darurat untuk kendaraan penyelamat (Diving Submergence Rescue Vihicle/ DSRV) dalam melakukan operasi penyelamatan.©alutsista