Thursday, August 16, 2007

Militer China Tak Jelas : Anggaran Mencapai Rp 427,5 Triliun



Canberra, Rabu - China didesak agar lebih transparan menyangkut tujuan militer dan pembangunan kekuatan angkatan lautnya di Asia Pasifik. Langkah transparansi ini diperlukan terutama untuk mengurangi keprihatinan strategis yang muncul di wilayah ini.

Menteri Angkatan Laut (AL) Amerika Serikat Donald C Winter hari Rabu (15/8) saat berkunjung ke Canberra, Australia, menegaskan bahwa pihaknya terus memerhatikan China dan berupaya memahami apa yang dikehendaki China. "Level transparansi meningkat setiap waktu dan kami berupaya memahami tidak hanya soal apa yang mereka lakukan, tetapi juga mengapa mereka melakukan itu," ujar Winter kepada wartawan.

China dan AS sejak lama berbeda dalam melihat pembangunan militer China. Washington DC mengatakan, China terus berupaya mengembangkan militer untuk meningkatkan kekuatannya, sedangkan China mengatakan pihaknya mengembangkan kekuatan militernya hanya untuk keperluan pertahanan diri.

China bulan Maret mengemukakan akan meningkatkan jumlah anggaran pertahanan mereka sebesar 17,8 persen menjadi total 45 miliar dollar AS (sekitar Rp 427,5 triliun) pada tahun ini. Anggaran ini untuk memodernisasi pesawat tempur dan kapal perang.

Namun, Departemen Pertahanan AS di Pentagon dalam laporan bulan Mei lalu menegaskan, jumlah anggaran China berkaitan dengan pembangunan militernya bisa dua kali lipat dari apa yang dilaporkan itu.

Kekuatan samudra

AL China dilaporkan mengalami modernisasi secara cepat dan terlihat ada peralihan kekuatan dari sebuah AL pesisir menjadi sebuah kekuatan samudra (laut dalam). Ini terlihat dari kehadiran lebih dari 20 kapal serang amfibi baru dan kapal selam serbu terbaru bertenaga nuklir.

Kapal selam baru bertenaga nuklir yang dilengkapi peluru kendali balistik, serta kapal selam bertenaga nuklir dengan peluru kendali antarbenua milik China, kini sedang dalam uji coba.

Australia yang merupakan sekutu dekat AS selama ini secara tetap berbeda pandang dengan AS dalam melihat pembangunan ekonomi dan, menurut Australia, militer China bisa menyebabkan munculnya konflik regional. Namun, dalam kertas kerja pertahanan Australia belum lama ini, disebutkan bahwa berkembangnya China dapat menciptakan ketidakstabilan.

Jepang dan Taiwan sejauh ini juga mengungkapkan keprihatinannya akan perkembangan kekuatan militer China, terutama kekuatan AL-nya. Taiwan yang selama ini masih dianggap Beijing sebagai wilayahnya yang memberontak khawatir kekuatan AL China yang luar biasa ini membuat Taipei setiap waktu bisa diserang dan diduduki China.

Sekalipun Australia prihatin, dua kapal perang China akan berkunjung ke Sydney, September nanti, untuk sebuah latihan penyelamatan bersama dengan AL Australia dan Selandia Baru. Belum ditetapkan di mana latihan bersama ini akan berlangsung.

Langkah ini dilakukan guna mendorong saling pengertian di antara AL negara-negara ini, sekaligus mendorong sebuah kerja sama militer. Negara-negara di Asia Pasifik, sekalipun prihatin dengan perkembangan militer China, tetap menjaga hubungan melalui latihan militer bersama.

Winter kemarin menegaskan, sebuah rudal pertahanan semesta baru kini dikembangkan AS dan Jepang. Jika rampung, rudal ini bisa digelar pada kapal perang mitra AS di Asia Pasifik, termasuk pada kapal perusak milik AL Australia yang sedang dibangun. Menurut Winter, pengembangan rudal pertahanan semesta ini diyakini akan makin mendorong stabilitas dan keamanan kawasan.

"Ini adalah sebuah sistem pertahanan, ini sebuah konsep pertahanan. Diharapkan langkah ini akan membangun sebuah stabilitas," ujar Winter.

(Reuters/AFP/PPG)

No comments: