Wednesday, December 28, 2011

Latihan Penembakan Meriam Howitzer Pasukan Marinir

SITUBONDO - Sejumlah prajurit Korps Marinir TNI AL mempersiapkan senjata Howitzer 105 mm saat Latihan Pemantapan Brigade Pendarat (Lattap Brigrat) Korps Marinir di Pusat Latihan Tempur Korps Marinir Baluran, Asembagus, Situbondo, Jawa Timur, Selasa, (27/12). Latihan yang melibatkan 3000 prajurit Baret Ungu itu dalam rangka meningkatkan kemampuan taktik dan tehnik serta keterampilan tiap-tiap kesenjataan dijajaran Korps Marinir. .FOTO ANTARA/KUWADI/ss/nz/11



Demo Kemampuan Tempur Prajurit Kopaska

LAMONGAN - Sejumlah anggota Komando Pasukan Katak (Kopaska) TNI Angkatan Laut (AL) saat melakukan simulasi pembebasan dan perebutan kembali kapal yang telah dibajak oleh perompak di Wisata Bahari Lamongan (WBL), Jawa Timur, Rabu (28/12). Aksi demontrasi kemampuan tempur prajurit Kopaska dalam mengatasi terorisme di laut tersebut dalam rangkah peringatan Hari Nusantara XII Provinsi Jawa Timur. FOTO ANTARA/SYAIFUL ARIF/mes/11



Latihan Pemantapan Brigade Pendarat

SITUBONDO - Beberapa tank Korps Marinir TNI AL melakukan Latihan Pemantapan Brigade Pendarat (Lattap Brigrat) di Pusat Latihan Tempur Korps Marinir Baluran, Asembagus, Situbondo, Jawa Timur, Rabu (28/12). Lattap Brigrat merupakan kemampuan taktik , teknik dan keterampilan bertempur sesuai dengan kesenjataan di jajaran Korps Marinir.

Dalam latihan yang melibatkan 3.000 prajurit Baret Ungu dari berbagai unsur ini, juga melibatkan sejumlah material tempur yang dimiliki oleh Korps Marinir TNI AL diantaranya : 15 unit BMP-3F, 5 unit Tank PT-76, 32 unit BTR-50, 6 unit LVT-7, 4 unit BVP-2, 6 unit Roket Multi Laras (RM 70 Grad), 8 pucuk Howitzer 105 mm, dan 4 pucuk Meriam 57 mm. Selain itu juga melibatkan 7 pesawat udara (3 unit Heli, 4 unit Cassa 212), 3 buah Kapal Perang ( KRI Teluk Mandar, KRI Hasanudin, KRI Makassar), dan 4 unit Sea Raider.FOTO ANTARA/Seno S./Koz/mes/11.



Tuesday, December 27, 2011

Latihan Tempur Terpadu Korps Marinir

SITUBONDO - Sejumlah kendaraan tempur amfibi Korps Marinir melintas di kawasan pantai Banongan, Situbondo, Jawa Timur, Minggu (25/12). Di penghujung tahun 2011, Korps Marinir TNI AL berencana menggelar latihan kesenjataan terpadu (Latsendu) di Pusat Latihan Tempur Baluran, Situbondo, Jawa Timur. FOTO ANTARA/HO-Sertu Marinir Kuwadi/ed/NZ/11


Sunday, December 25, 2011

Kebutuhan Kapal Selam TNI AL 8 Unit Hingga 2024



JAKARTA - Kebutuhan Kapal Selam TNI AL dalam blue print pertahanan hingga tahun 2024 adalah delapan unit kapal selam. Jumlah ini sebenarnya masih jauh dari cukup untuk mengamankan laut Indonesia yang sangat luas.

“Sampai 2024 kami akan mengadakan delapan unit kapal selam,” kata Kepala Dinas Penerangan TNI AL (Kadispenal) Laksamana Pertama Untung Suropati di Jakarta, Jumat (23/12).

Tiga kapal selam yang kontraknya ditandatangani antara Kemhan dan perusahaan galangan kapal asal Korea Selatan Daewoo Shipbuilding Marine Enginering (DSME) berada pada rencana strategis (renstra) pertama 2010-2014. Ketiga kapal selam tersebut diharapkan selesai dan berada di Indonesia berturut-turut pada 2015, 2016, dan 2018.

Untuk menambahkan, standar minimal kapal selam yang harus dimiliki Indonesia adalah 14 unit. “Standar minimal dalam konteks keamanan negara kepulauan adalah 14-18 unit,” ujar Untung.

Namun begitu Wakil Kepala Staf TNI AL Laksamana Madya TNI Marsetio sebelumnya mengatakan Indonesia perlu menambah 39 kapal selam untuk menjaga wilayah lautnya.

Kadispenal menjelaskan, untuk melakukan pengamanan terhadap Indonesia yang memiliki laut sangat luas memang dibutuhkan kapal selam sejumlah tersebut. Dia mencontohkan, Jepang dengan luas laut yang kecil memiliki 24 unit kapal selam. “Dengan pertimbangan luas wilayah, Indonesia memang harus ada menambah 39 kapal selam,” tambahnya.

Tim Kapal Selam Berangkat Januari 2012

Tim Indonesia yang akan mengikuti proses pembangunan kapal selam di Korea Selatan direncanakan berangkat Januari 2012 mendatang. Tim yang berjumlah 50 orang itu akan mempelajari pembangunan kapal selam agar bisa mengaplikasikannya di Indonesia.

“Diperkirakan tim yang terdiri dari 50 orang itu akan berangkat Januari,” kata Kepala Pusat Komunikasi Publik (Kapuskomblik) Kementerian Pertahanan Brigjen TNI Hartind Asrin di Jakarta, Jumat (23/12).

Pemberangkatan tim tersebut dalam rangka mengikuti proses alih teknologi sesuai kesepakatan kontrak pengadaan kapal selam yang telah ditandatangani, ujarnya. Tim tersebut akan mengikuti keseluruhan proses pembangunan hingga kapal siap dikirim ke Indonesia.

Sebelumnya, Wamenhan Sjafrie Sjamsoeddin menyatakan pada tahap pengadaan kapal selam yang pertama, SDM Indonesia melalui PT PAL akan dikirimkan ke Korea untuk melihat langsung pembuatan kapal selam tersebut. Sebanyak 50 orang teknisi dengan masa kerja yang masih panjang akan mengikuti proses ini.

Pada pengadaan yang kedua, para teknisi ini direncanakan mulai terlibat dalam pembuatan kapal selam. Sehingga pada tahap ketiga para teknisi Indonesia sudah mampu memproduksi sendiri kapal selam.

Menurut Sjafrie, kebijakan dasar pengadaan alutsista harus memberi keuntungan dalam meningkatkan kemampuan industri pertahanan nasional salahsatunya dengan cara alih teknologi. Hartind menambahkan, pembelian kapal selam tersebut sudah sesuai dengan rencana strategis (renstra) dan blue print pertahanan untuk meningkatkan minimal essential forces.

Sumber : JURNAS

CN-235 Pesanan Korean National Guard diserahkan



BANDUNG - Korean National Guard menerima pesawat CN-235 Maritme Patrol Aircraft ketiga dari PT Dirgantara Indonesia (PTDI), di Bandung, Jumat (23/12). Total pesanan pesawat intai maritim menengah dari Korea Selatan itu sebanyak empat unit dengan total nilai kontrak sekitar 94 juta dolar Amerika Serikat.

"Sebelum pesawat CN-235 MPA yang ketiga ini diterbangkan ke Korea Selatan, pesawat telah menjalani serangkaian pengujian sesuai prosedur yang berlaku serta telah menjalani uji penerimaan," kata Direktur Aircraft Integration PTDI, Budiman Saleh.

Korea Selatan sebetulnya memiliki sendiri industri pesawat terbang yang cukup mumpuni di kelas dunia. Namun telah beberapa kali negara itu mempercayakan keperluan pesawat terbangnya kepada PT Dirgantara Indonesia. Ini menjadi bukti keampuhan produk dalam negeri Indonesia dengan harga bersaing di tingkat internasional.

Korea Selatan sejak 1994 tercatat telah menggunakan dua skuadron pesawat CN-235 untuk memperkuat angkatan udaranya.

"Kepercayaan ini tentu harus dipelihara terus agar PTDI memperoleh kontrak-kontrak berikutnya, bukan hanya dari Pemerintah Korea Selatan, melainkan juga dari pelanggan-pelanggan lain yang memang membutuhkan pesawat sekelas CN-235," ujarnya.

Saleh menjelaskan, pesawat CN-235 MPA untuk Korean National Guard pertama dan ke dua telah diserahkan pada Mei 2011, sedangkan untuk pesawat yang keempat akan diserahkan pada kuartal pertama tahun 2012. Kontrak jual beli pesawat KCG ini ditandatangani pada Desember 2008 lalu.

Spesifikasi khusus CN-235 MPA antara lain dilengkapi instrumen radar khusus, forward looking infra red (FLIR-penjejak berbasis infra merah tinjauan bawah), ESM, instrumen identification friend or foe (IFF-pengenal wahana kawan atau musuh), navigasi taktik, sistem komputer taktis, kamera pengintai udara, dan beberapa yang lain. Dua mesin CT7-9C yang masing-masing berkekuatan 1.750 daya kuda dipasang di kedua pilon mesin di bentang sayapnya.

Secara fisik, CN-235 MPA ini berukuran lebih panjang dan memiliki struktur lebih kuat ketimbang seri sipil CN-235. Di bagian hidung di bawah jendela kokpit, terdapat tonjolan berisikan berbagai instrumen khusus itu. Struktur pesawat terbang juga diperkuat karena operasionalisasi CN-235 MPA lebih dominan di wilayah maritim yang berpotensi korosif terhadap metal penyusun pesawat terbang itu.

Secara khusus, Saleh bersyukur dan gembira bahwa restrukturisasi bisnis di lingkungan PTDI terus berjalan. Program restrukturisasi bisnis tersebut bertujuan untuk meningkatkan nilai ekonomi perusahaan.

Melalui upaya restrukturisasi itu PTDI terus mengembangkan dan mempertahankan lini CN-235, kelompok Aircraft Services, dan kelompok Manufacturing Services.

Selain itu PTDI juga terus mencari mitra strategis untuk lini N250, NC-212, Helikopter, dan kelompok Engineering Services, sementara lini usaha pertahanan keamanan dan Advanced Technology Education Center (ATEC) diupayakan agar mampu mandiri.

Sumber : ANTARA.CO.ID

Friday, December 23, 2011

Hari Ini Hercules TNI AU Kembali Dari Oklahoma, AS



JAKARTA - Jumat (23/12) ini, satu unit pesawat angkut C-130 Hercules TNI-AU akan kembali mengarungi udara Indonesia usai menjalani pemeliharaan tingkat berat di Oklahoma, Amerika Serikat.

"Menurut rencana, besok pesawat mulai diberangkatkan ke Indonesia," kata Asisten Perencanaan Kepala Staf TNI-AU, Marsekal Muda TNI Rodi Suprasojo, di Jakarta, Kamis (22/12).

Satu unit pesawat angkut berat C-130 Herkules TNI-AU menjalani pemeliharaan berat dalam Programmed Depot Maintenance di hanggar perusahaan swasta ARINC, di Oklahoma, Amerika Serikat. Program penyehatan kembali jajaran "Herky" Indonesia itu bagian dari kerja sama militer Indonesia dengan Amerika Serikat.

Satu pesawat yang menjalani pemeliharaan berat di ARINC untuk kali pertama itu, bernomor register A-1323. Perbaikan menyeluruh mulai dari inspeksi D (inspeksi berat) sampai ke berbagai sistem dan subsistem di tubuh Herkules itu cukup menyita waktu, dari rencana enam bulan selesai molor hingga satu tahun.

Suprasodjo mengemukakan, program dibiayai hibah Amerika Serikat itu bertujuan meningkatkan kemampuan dan kesiapan pesawat C-130 Hercules TNI Angkatan Udara. Kedayagunaan Herkules bagi banyak negara sudah terbukti, dia bisa dikerahkan untuk misi perang atau non perang serta kemanusiaan.

Ia menambahkan, hibah bagi pemeliharaan C-130 Hercules TNI Angkatan Udara akan dilakukan bertahap. Indonesia adalah negara pertama di luar Amerika Serikat yang mengoperasikan C-130 Herkules dan pesawat transpor berat pertama milik Indonesia itu masih ada; diparkir selamanya sebagai monumen di Markas Komando Korps Pasukan Khas TNI-AU, di Pangkalan TNI-AU Sulaeman, Kabupaten Bandung, Jawa Barat.

"Jika satu unit ini telah selesai dan berhasil ditingkatkan kemampuannya, maka dua unit pesawat angkut berat sejenis juga akan menjalani pemeliharaan di Oklahoma," tutur Rodi.

Teknisi TNI Angkatan Udara sebenarnya telah memiliki kemampuan untuk melakukan pemeliharaan pesawat C-130 Hercules seperti Depo Pemeliharaan 30 di Pangkalan Udara Abdurahman Saleh, Malang. Hanya saja, pihak AS ingin melakukan pengecekan dan pemeliharaan secara menyeluruh dan teliti.

Sumber : ANTARA.CO.ID

PAL Siapkan Lokasi Khusus Untuk Galangan Kapal Selam

SURABAYA - PT.PAL menyatakan kesiapannya menyediakan sumber daya manusia (SDM) dan fasilitas pembuatan kapal selam dalam rangka persiapan persyaratan teknis untuk membangun galangan kapal selam. Hal tersebut diungkapkan Direktur SDM dan Umum PT PAL Indonesia Sewoko Kartanegara, Kamis (22/12) kemarin.

Persiapan yang sudah dilakukan diantaranya menginventarisir kebutuhan beberapa peralatan khusus yang diharapkan pendanaannya datang dari pemerintah pusat. Peralatan apa yang dimaksud, Sewoko tidak mengungkapkan. Namun, alat khusus ini dipastikan sangat vital dan mahal. Manajer Humas PT PAL Indonesia Bayu Witjaksono yang dihubungi terpisah juga mengatakan, pihaknya sudah melakukan sejumlah persiapan untuk memproduksi bersama kapal selam hasil alih teknologi dengan Daewoo Ship-building and Marine Enginering (DSME), Korea.

“Kami sudah mulai menyiapkan lokasi pembangunan untuk memproduksi kapal selam itu. Konsep rancangan sarana dan prasaranannya juga sudah kami buat,”ujarnya. Anggota Komisi I DPR Sidarto Danusubroto mendukung proses pembelian alat pertahanan ini, harapannya pemerintah tidak bergantung lagi pada negara lain. Politikus asal PDI Perjuangan itu pun mengingatkan, selama ini komitmen dan dukungan pemerintah terhadap perusahaan-perusahaan dalam negeri seperti PT PAL masih belum tampak.Padahal, perusahaan tersebut punya kemampuan dalam memproduksi alat-alat pertahanan.

Sebelumnya Wakil Menteri Pertahanan (Wamenhan) Letjen TNI Sjafrie Sjamsoeddin menuturkan, dalam kontrak pembelian kapal ada mekanisme ToT mulai dari awal hingga akhir pengadaan 3 kapal selam. Sebagai langkah awal, Indonesia akan mengirimkan sejumlah teknisi untuk mempelajari langsung proses pembuatan kapal selam. Pada pengadaan tahap kedua, para teknisi yang telah dikirim diharapkan mulai terlibat pekerjaan teknis pembuatan kapal selam. Selama proses pembuatan dua kapal selam itu pula, galangan kapal selam di Indonesia mulai dibangun. Selanjutnya pada pembuatan kapal selam ketiga diharapkan PAL sudah siap membuatnya di Tanah Air.

Learning by Doing

PT PAL mengusulkan, dalam pengadaan tiga kapal selam dengan konsep joint productions itu, mekanisme alih teknologi dilakukan dengan model ‘learning by doing’,yakni PT PAL juga ikut dilibatkan mulai dari proses desain hingga proses produksi untuk seluruh kapal, termasuk yang diproduksi di Korsel. Model-model ToT seperti ini penting untuk diperhatikan karena sangat menentukan dalam kemampuan penyerapan teknologi. Dia kemudian menuturkan, Korsel adalah negara yang peduli mengenai masalah ini.

Menurut Sewoko,pada saat Korea Selatan/DSME melakukan ToT dengan Howaldtswerke-Deutsche Werft GmbH (HDW) Jerman, mereka mengirim 200 orang ke Jerman untuk ToT.Sedangkan pada saat overhaulkapal selam kita di Korea Selatan, kita diminta mengirim personel terbatas untuk 10 orang dengan waktu yang pendek. Kami harapkan itu tidak terjadi lagi kedepan.

Sumber : SEPUTARINDONESIA.COM

TNI AL Gelar Operasi SAR Pencarian Korban Imigran Gelap

BANYUWANGI - Salah satu kapal perang dalam jajaran Koarmatim, KRO Oswald Siahaan-354, melintas di bawah pesawat Casa NC 212 milik Skuadron Udara 600 Wing Udara-1 Puspenerbal, saat pencarian korban kapal bermuatan imigran gelap dari Timur Tengah di Samudra Indonesia wilayah Banyuwangi, Kamis (22/12). TNI AL dalam hal ini Koarmatim mengerahkan lima kapal perang (KRI Oswald Siahaan, KRI Multatuli, KRI Panrong, KRI Weling dan KRI Untung Suropati) dan dua pesawat udara (Casa NC212 dan heli Bolkow BO-105), untuk mendukung pencarian dan evakuasi ratusan korban kapal tenggelam. FOTO ANTARA/Eric Ireng/ss/nz/11


Thursday, December 22, 2011

Pusat Desain & Pengembangan Jet Tempur KF-X/IF-X Diresmikan



BANDUNG - Sekretaris Jenderal Kementerian Pertahanan Marsdya TNI Eris Herryanto, meresmikan kantor Design Centre Program Pengembangan Pesawat Tempur KF-X/IF-X, Kamis (22/12) di Gedung Pusat Teknologi PT. Dirgantara Indonesia, Bandung.

Peresmian ditandai dengan penandatangan prasasti oleh Sekjen Kemhan yang didampingi Dirjen Potensi Pertahanan Kemhan Pos M. Hutabarat, Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kemhan Edi S Siradj dan Direktur PT.Dirgantara Indonesia Budi Santoso.

Design Centre ini dibangun sebagai tempat back up dan mirroring system dalam pembangunan teknologi pesawat KF-X/IF-X. Program pengembangan pesawat tempur KF-X/IF-X merupakan program kerjasama antara Pemerintah Indonesia dengan Pemerintah Korea.

Program yang berada dibawah koordinasi Kementerian Pertahanan ini melibatkan TNI AU, PT.Dirgantara Indonesia, Perguruan Tinggi, Kementerian Riset dan Teknologi dan BPPT. Pesawat KF-X/IF-X adalah pesawat tempur multi-role generasi 4.5 dan rencananya bakal siap produksi pada 2020.

Sekjen Kemhan dalam sambutannya mengatakan, Design Center ini dibangun selain sebagai backup kegiatan para Enginer Indonesia yang tergabung dalam Tim Enginering di CRDC Korea, juga digunakan untuk memberikan pengalaman kepada pada insinyur-insinyur muda Indonesia untuk dapat terlibat kemudian memahami dan juga sebagai penerus di kemudian hari.

Design Center ini dibangun dengan inventasi yang tidak sedikit, oleh karena itu diharapkan ini menjadi tempat bagi Tim KF-X/IF-X dalam mengintegrasikan kemampuan dan engineringnya baik yang ada di CRDC Korea maupun di PT. Dirgantara Indonesia, guna mendapatkan hasil yang maksimal terhadap design pesawat tempur KF-X/IF-X yang akan dibuat.

Sekjen Kemhan mengungkapkan telah mendapat laporan bahwa Insinyur-Insinyur Indonesia tidak juga kalah dengan insinyur dari Korea. Insinyur Indonesia yang terlibat dalam pekerjaan technology development di CRDC Korea bahkan dalam beberapa sub keahlian mereka memimpin.

Oleh karena itu, pada kesempatan tersebut Sekjen Kemhan menyampaikan rasa bangsa saya dan terimkasih kepada insinyur yang dikirim mudah mudahan kedepan bisa memberikan motivasi kepada kita semua didalam menjalankan program.



Sekjen kembali menegaskan bahwa program pengembangan pesawat tempur KF-X/IF-X ini merupakan program nasional dan menjadi program kebanggaan bangsa Indonesia. Kesuksesan program ini akan menjadi kesuksesan bersama, memang sebagai ujung tombang adalah PT. Dirgantara Indonesia, namun peran dari semua pihak juga sangat diperlukan baik itu dari Kementerian Ristek, BPPT, ITB atau Universitas lain yang mendukung.

Sekjen Kemhan lebih lanjut menegaskan, kemampuan dalam pembuatan pesawat tempur mempunyai nilai yang sangat strategis, karena tidak banyak negara yang mampu membuat pesawat tempur dan pesawat tempur ini masih akan terus digunakan oleh negara-negara didalam membangun kekuatan pertahanannya.

Mungkin pada awal-awal sekarang ini dirasa masih terasa berat untuk mengikuti kegiatan di dalam pengembangan pesawat KF-X/IF-X, namun kalau melihat kedepan mungkin ini akan menjadi solusi Indonesia dalam memperkuat pertahanan. Karena kalau pertahanan kita kuat salah satunya dibackup dengan kemampuan pesawat tempur maka diplomasi dan perekonomian Indonesia bisa berjalan akan baik.

“Ini pemikiran saya mengapa sangat strategis kita harus berhasil didalam meningkatkan kemampuan kita membuat pesawat tempur kedepan, dibuatnya Design Center untuk membackup agar secepatnya kita mendapatkan alih teknologi dari negara yang sudah lebih maju dari kita. Sehingga kedepan kita bisa mandiri didalam mendukung kebutuhan pertahanan khususnya pesawat tempur”, tambah Sekjen Kemhan

Mengakhiri sambutannya Sekjen kembali menekankan kembali kepada Tim KF-X/IF-X untuk memaksimalkan keberadaan Design Center ini dalam mendukung Tim Enginering Indonesia di CRDC Korea dan sekaligus Tim Enginering di Indonesia yang sudah mulai dirintis pembentukannya.

Sumber : DMC

TNI AL Persiapkan Calon Awak Kapal Selam Baru

JAKARTA - Markas Besar TNI AL tengah mempersiapkan sejumlah personel untuk mengawaki tiga kapal selam baru yang baru saja ditandatangani kontraknya.

"Kemungkinan kebutuhannya sekitar 150 personel yang akan kami persiapkan dan kirim untuk belajar mengawakinya di Korea Selatan secara bertahap," kata Kepala Dinas Penerangan TNI AL Laksamana Pertama Untung Suropati di Jakarta, Rabu (21/12).

Ia menambahkan secara umum kemampuan personel kapal selam TNI AL tidak perlu diragukan. "Secara umum, personel kami sudah menguasai seluk beluk kapal selam yang diawakinya dan tidak ada keraguan untuk itu," kata Untung.

Kontrak pengadaan tiga kapal selam baru untuk TNI AL telah ditandatangani antara Kementerian Pertahanan Republik dengan perusahaan galangan kapal asal Korea Selatan, Daewoo Shipbuilding Marine Enginering (DSME).

Kontrak tersebut ditandatangani pihak Kemhan RI diwakili oleh Kepala Badan Sarana Pertahanan Kemhan RI Mayjen TNI Ediwan Prabowo, sedangkan pihak DSME diwakili oleh President & CEO DSME Sang-Tae Nam, Selasa (20/12) malam.

Sebelumnya, Wakil Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin mengatakan dalam kontrak itu ada ketentuan mengenai mekanisme alih teknologi mulai dari awal hingga akhir pengadaan selesai seluruhnya.

"Artinya dari awal pembelian proses alih teknologi itu sudah berjalan, yakni dengan mengirimkan sejumlah teknisi yang masa kerjanya masih panjang untuk melihat langsung proses pembuatan kapal selam itu," ujar Wamenhan.

"Pengadaan sumber daya manusia yang akan dikirim ini menjadi tantangan tersendiri bagi Indonesia, khususnya PT PAL. Dan jumlahnya relatif besar minimal 50 orang," ujar Sjafrie.

Pada pengadaan tahap kedua, para teknisi yang telah dikirimkan tersebut diharapkan mulai terlibat dalam hal-hal teknis menyangkut pembuatan kapal selam.

"Nah disini mulai ada interaksi fisik langsung para teknisi kita dalam proses pembuatan kapal selam. Jadi, peran negara produsen sudah sekitar 50 persen diambil oleh para teknisi kita," tutur dia.

Sjafrie menambahkan selama proses pembuatan dua kapal selam itu selain menyiapkan dan mengirimkan para teknisi juga sudah dibangun pula galangannya. "Sehingga semua ini berjalan paralel," katanya.

Selanjutnya, ujar Sjafrie, pada pembuatan kapal selam ketiga sudah dapat dilakukan di Indonesia dan seluruhnya dilakukan oleh tenaga-tenaga Indonesia.

"Itu kebijakan dasar, strategi besar dalam mekanisme pengadaan alat utama sistem senjata yang ditetapkan Indonesia baik untuk pengadaan alat utama sisitem senjata berteknologi tinggi seperti kapal selam, maupun berteknologi sedang," kata Wamenhan.

Sumber : ANTARA.CO.ID

Wednesday, December 21, 2011

Kapal Cepat Rudal Trimaran Buatan Lundin Industry

BANYUWANGI - Wakil Menteri Pertahanan RI Sjafrie Sjamsoeddin beberapa waktu lalu meninjau pembuatan kapal cepat rudal (KCR) Trimaran di PT Lundin Industry Invest di Banyuwangi, Jawa Timur. Kapal senilai Rp 250 miliar ini memiliki panjang 63 meter dan lebar 15 meter.

KCR Trimaran ini diawaki oleh 31 orang dan mampu membawa satu tim pasukan khusus didalamnya. PT Lundin berdiri di Banyuwangi sejak tahun 2004 dan telah memproduksi banyak kapal militer terutama kapal-kapal cepat. Foto : AUDREY





PTDI Optimis Setelah Disuntik 1 Trilyun Rupiah


Perjalanan penyehatan PTDI dari tahun 2007

BANDUNG - Sempat "sakit" selama beberapa tahun terakhir, PT Dirgantara Indonesia (DI) optimistis akan bangkit kembali pada 2012. Berbekal suntikan penyertaan modal sekitar Rp 1 triliun dari pemerintah RI, PTDI bakal menyasar kawasan Asia-Pasifik untuk jadi pasar potensial produk industrinya.

Asisten Direktur Utama Bidang Sistem Jaminan Mutu PT DI, Sonny Saleh Ibrahim mengatakan, penyertaan modal yang mulai dikucurkan tahun depan tersebut merupakan bagian dari total rencana suntikan dana segar senilai Rp 2,4 triliun dari pemerintah. Dana tersebut akan digunakan untuk modal kerja serta investasi.

Bentuk alokasi anggaran di antaranya berupa perbaikan dan peningkatan peralatan produksi. "Sebagian mesin sudah berumur tua, dengan rentang usia mesin antara 10 tahun sampai 20 tahun," ujar Sonny ketika ditemui di PT DI Bandung, Selasa (20/12).

Dia meyakini, peningkatan kapasitas dalam bentuk peremajaan peralatan diperlukan agar bisa bersaing dengan produsen dari negara lain. Neraca yang lebih sehat juga akan memudahkan suntikan finansial dari perbankan dalam mengerjakan pesanan. Selama ini, kesulitan anggaran ditutup sementara oleh negara yang sudah menjadi pelanggan PT DI, seperti Korea dan Turki. Diharapkan, predikat supplier terbaik dunia untuk jenis pesawat Airbus yang sempat diperoleh pada 2009 dapat kembali diraih.

Tahun depan, Sonny menuturkan, PT DI akan menyelesaikan sejumlah pesanan pesawat, baik dari pemerintah Indonesia maupun pesanan dari luar negeri. Dikatakannya, pesawat yang akan digarap tahun depan di antaranya helikopter Bell serta Super Puma, dan sejumlah pesawat CN 235 dan CN 295. Untuk pesanan luar negeri, selain menyelesaikan pesanan kontrak dengan Korea dan Turki, PT DI juga menjajaki tender dengan Malaysia.

Sumber : PIKIRAN RAKYAT ONLINE

Kontrak Penandatanganan Pengadaan Kapal Selam

JAKARTA - Kementerian Pertahanan Republik Indonesia telah menandatangani kontrak pengadaan tiga unit kapal selam dengan perusahaan galangan kapal asal Korea Selatan, Daewoo Shipbuilding Marine Enginering (DSME). Kontrak tersebut ditandatangani kedua belah pihak yang dalam hal ini pihak Kemhan RI diwakili oleh Kepala Badan Sarana Pertahanan Kemhan RI Mayjen TNI Ediwan Prabowo, sedangkan pihak DSME diwakili oleh President & CEO DSME Sang-Tae Nam, Selasa Malam (20/12) di kantor Kemhan RI, Jakarta. Foto : DMC



Tuesday, December 20, 2011

Kapal Trimaran TNI AL Selesai Lima Bulan Mendatang

BANYUWANGI - Indonesia segera memiliki satu kapal perang canggih berpeluru kendali "Trimaran" yang merupakan produk dalam negeri.

"Kapal ini terbuat dari serat karbon, dengan kecepatan 35 knot dan dipersenjatai peluru kendali yang memiliki jarak tembak 120 kilometer," kata Wakil Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin usai meninjau industri kapal dalam negeri PT Lundin Industry Invest di Banyuwangi, Jawa Timur, Selasa (20/12).

Ia mengatakan, dalam lima bulan mendatang kapal perang canggih yang merupakan prototipe itu langsung bisa dioperasionalkan memperkuat jajaran armada tempur TNI Angkatan Laut.

"TNI Angkatan Laut memesan empat unit kapal, dan dalam lima bulan mendatang sudah jadi satu kapal perang `Trimaran`, sedangkan tiga unit lainnya akan segera dibangun secara bertahap hingga 2014," kata Sjafrie menambahkan.

Satu unit kapal "Trimaran" dihargai sekitar Rp114 miliar yang diambil dari APBN 2011.

"Jika proyek pengadaan ini berhasil maka ini merupakan sejarah bagi Indonesia karena telah berhasil membuat kapal perang dengan komposit serat karbon, dan ini akan dipatenkan dan diekspor ke luar negeri," kata Sjafrie.


Gambar rekayasa 3D kapal Trimaran buatan Lundin

Direktur PT Lundin Industry Invest, John Lundin, mengatakan pihaknya telah melakukan ujicoba terhadap kapal dengan panjang sekitar 62,52meter tersebut.

"Ini merupakan kapal `Trimaran` pertama yang dibuat dari serat karbon. Amerika pernah membuat kapal sejenis dengan panjang 120 meter namun dari bahan alumunium atau baja.

Komposit serat karbon juga telah digunakan untuk pembuatan pesawat airbus Boeing-777 dan mobil formula 1. Ketahanannya 20 kali lebih kuat dibandingkan baja.

Kapal cepat berpeluru kendali itu memiliki panjang keseluruhan 62,53 meter, panjang "water line", 50,77 meter panjang "water draft" 1,17 meter, bobot mati 53,1 GT, kecepatan maksimum 30 knot, kecepatan jelajah 16 knot, dengan mesin utama 4X marine engines MAN nominal 1.800 PK.

Sumber : ANTARA.CO.ID

Mekanisme Alih Teknologi Kapal Selam Korea Masih Dibahas

BANDUNG - Indonesia dan Korea Selatan masih membahas mekanisme alih teknologi dalam pengadaan tiga kapal selam baru untuk TNI Angkatan Laut.

"Proses pengadaan kapal selam kini telah selesai pada tahap penentuan produsen dan kontrak," kata Wakil Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin dalam kunjungan kerja ke PT Pindad dan PT Dirgantara Indonesia, di Bandung, Selasa.

Wakil Menhan Sjafrie menambahkan dalam kontrak itu ada ketentuan mengenai mekanisme alih teknologi mulai dari awal hingga akhir pengadaan selesai seluruhnya.

"Artinya dari awal pembelian proses alih teknologi itu sudah berjalan, yakni dengan mengirimkan sejumlah teknisi yang masa kerjanya masih panjang untuk melihat langsung proses pembuatan kapal selam itu," ujar Wamenhan.

"Pengadaan sumber daya manusia yang akan dikirim ini menjadi tantangan tersendiri bagi Indonesia, khususnya PT PAL. Dan jumlahnya relatif besar minimal 50 orang," ujar Sjafrie.

Pada pengadaan tahap kedua, para teknisi yang telah dikirimkan tersebut diharapkan mulai terlibat dalam hal-hal teknis menyangkut pembuatan kapal selam.

"Nah, disini mulai ada interaksi fisik langsung para teknisi kita dalam proses pembuatan kapal selam. Jadi, peran negara produsen sudah sekitar 50 persen diambil oleh para teknisi kita," tutur dia.

Sjafrie menambahkan selama proses pembuatan dua kapal selam itu selain menyiapkan dan mengirimkan para teknisi juga sudah dibangun pula galangannya.

"Sehingga semua ini berjalan paralel," katanya.

Selanjutnya, ujar Sjafrie, pada pembuatan kapal selam ketiga sudah dapat dilakukan di Indonesia dan seluruhnya dilakukan oleh tenaga-tenaga Indonesia.

"Itu kebijakan dasar, strategi besar dalam mekanisme pengadaan alat utama sistem senjata yang ditetapkan Indonesia baik untuk pengadaan alat utama sistem senjata berteknologi tinggi seperti kapal selam, maupun berteknologi sedang," kata Wamenhan.

Sumber : ANTARA.CO.ID

Dephan Siapkan Opsi Lain Jika Belanda Menolak

BANDUNG - Indonesia tidak khawatir jika Belanda menolak menjual 100 unit Main Battle Tank-nya. "Kami tidak khawatir, kami masih memiliki opsi lain untuk membeli alutsista yang memiliki spesifikasi teknik dan operasional sama," kata Wakil Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin di sela-sela kunjungannya ke PT Pindad di Bandung, Jawa Barat, Selasa (20/12).

Tank yang akan dibeli dari AD Belanda tersebut sebelumnya tidak pernah dipakai dalam misi perang sesungguhnya. Hanya dipakai sekali dua kali untuk berlatih di hutan Eropa Barat. Rencananya mereka akan melepas 150 Tank Leopard 2A6 yang mayoritas dibuat pada 2003, ujar Sjafrie.

Sjafrie mengungkapkan hingga kini belum ada penolakan resmi dari parlemen Belanda terkait pembelian tank tersebut. Parlemen Belanda disinyalir menolak rencana pembelian itu dikaitkan dengan isu pelanggaran hak asasi manusia. "Namun, jika pun mereka menolak. Kami tidak khawatir. Kami ada uang untuk membeli, bukan hibah kok dan kami sudah memiliki alternatif jika memang ada penolakan," kata Sjafrie.


Prototype tank ringan buatan Pindad (Foto : Audrey)

Ia menambahkan alternatif dapat dilakukan melalui pembelian ke Asia atau Afrika. Terkait kemungkinan penolakan tersebut Kepala Staf Angkatan Darat Jenderal TNI Pramono Edhie Wibowo telah menerima utusan Pemerintah Belanda.

"Rencananya, utusan tersebut juga akan melakukan pembicaraan dengan Kementerian Pertahanan RI. Dalam pertemuan itu, akan kami jelaskan maksud dan tujuan pembelian main battle tank tersebut," ujar Sjafrie.

Namun ia yakin pembelian tank Leopard bakal tidak ada masalah, dan tahun depan pihaknya menargetkan pembelian 100 Tank Leopard seharga Rp 14 triliun tersebut tuntas. Sjafrie menjelaskan pembelian tank merupakan bagian modernisasi alutsista TNI periode 2011-2015 untuk mencapai kekuatan pokok minimum (essential minimum forces) dengan total anggaran Rp150 triliun.

Sumber : METROTVNEWS.COM

Kenaikan Anggaran TNI Signifikan

JAKARTA - Meskipun dengan keterbatasan peralatan utama yang dimiliki, TNI tetap dapat mengaktualisasikan jatidirinya melalui kinerja yang dilaksanakan secara ikhlas demi kepentingan bangsa dan negara. Sebagai konsekuensinya, pemerintah memberikan kenaikan anggaran yang cukup signifikan bagi kepentingan TNI di masa depan.

Demikian amanat Panglima TNI Laksamana TNI Agus Suhartono, S.E. yang dibacakan Koorsahli Panglima TNI Mayjen TNI Hotma Marbun (selaku Irup) pada upacara bendera tujuh belasan di Lapangan Upacara Mabes TNI Cilangkap, Jakarta, Senin (19/12).

Lebih lanjut Panglima TNI mengatakan, kenaikan anggaran tersebut dimaksudkan untuk mewujudkan kekuatan pokok minimum (MEF), yang difokuskan pada modernisasi alutsista serta peningkatan kesejahteraan prajurit dan PNS beserta keluarganya.

Untuk itu, mencermati pelaksanaan tugas selama satu tahun, khususnya sebulan terakhir ini, TNI patut berbangga karena telah dapat menyelesaikan beberapa tugas dengan baik, terutama dalam operasi militer selain perang, TNI telah berbuat maksimal untuk membantu penanganan korban bencana alam di berbagai tempat.

Selain itu tegas Panglima TNI, TNI juga sukses melaksanakan tugas pengamanan para kepala negara dalam pelaksanaan Konferensi Asean dan Asean plus di Bali pada bulan lalu, serta ikut menyukseskan penyelenggaraan kejuaraan olah raga SEA Games 2011.

Sumber : POSKOTA.CO.ID

Helikopter Kawal Bolcow-105 di Ujicoba

PASURUAN - Seorang air crew bersiap mengoperasikan senjata MAG-58M kaliber 7,62mm dalam pesawat heli jenis Bolcow-105 Escort milik Skuadron Udara 400 Wing Udara-1 Puspenerbal, saat uji coba penembakan di Puslatpur TNI AL Grati Pasuruan, Senin (19/12). Helikopter Bolcow-105 Escort merupakan helikopter kawal yang dirakit oleh PT Dirgantara Indonesia (PT DI), untuk keperluan pelaksanaan operasi pendaratan pasukan pendarat dalam operasi Amfibi dan Pasukan Pemukul Reaksi Cepat (PPRC). . FOTO ANTARA/Eric Ireng/ed/nz/11




Monday, December 19, 2011

Rekayasa Engineering Pada Tank AMX-13 TNI AD

SEMARANG - Sejumlah prajurit TNI melakukan perbaikan kendaraan tempur tank jenis tank ringan AMX-13, di Markas Batalyon Kavaleri-2/Tank, di Ambarawa, Jateng, Senin (19/12). Untuk melakukan perbaikan dan penggantian komponen tank buatan Prancis ini terkadang para teknisi melakukan rekayasa engineering dengan membuat sendiri komponen yang sudah rusak karena ketidak tersediannya suku cadang. Tank AMX-13 yang digunakan TNI AD dibuat pada tahun 1958 hingga 1960. Rekotomo/Koz/nz/11.

Presiden RI Resmikan Pusat Misi Pemeliharaan Perdamaian

BOGOR - Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (tengah) didampingi Wakil Menteri Pertahanan Syafrie Syamsudin (kiri) dan Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro (kanan) meninjau lokasi Pusat Misi Pemeliharaan Perdamaian (PMPP) saat meresmikan Fasilitas Pendidikan Latihan PMPP di Desa Sukahati, Citeureup, Bogor, Jabar, Senin (19/12).

Disela-sela acara ditampilkan pula atraksi dari pasukan perdamaian berupa aksi sebuah helikopter yang memuntahkan bahan peledak untuk menghalau para perusuh saat demonstrasi.

PMPP yang beriri di atas tanah seluas 240 hektare tersebut merupakan salah satu fasilitas pendidikan misi perdamaian dan keamanan terbesar di Asia Tenggara digunakan untuk latihan bagi prajurit TNI yang akan bertugas menjadi pasukan perdamaian PBB. FOTO ANTARA/Jafkhairi/Koz/nz/11.