Thursday, September 29, 2011

KSAU Resmikan Penggunaan Simulator Heli Superpuma


Kepala Staf Angkatan Udara Marsekal TNI Imam Sufaat dan Komandan Wing 4 Pangkalan Udara Atang Sendjaya Kolonel Pnb Eding Sungkana menjajal simulator hellikopter Super Puma NAS 332 di Kompleks Pangkalan Udara Atang Sendjaya, Bogor, Kamis (29/9). FOTO ANTARA/DispenAU-Eko ES/HO/ed/pd/11.

BOGOR - TNI AU resmi memiliki simulator helikopter SuperPuma NAS 332 untuk mendukung keterampilan dan kemampuan para penerbang helikopter matra udara.

Peresmian dilakukan di Wing 4 Pangkalan Udara Atang Sendjaya oleh KSAU Marsekal TNI Imam Sufaat di Bogor, Kamis (29/9).

Pembangunan simulator helikopter Super Puma itu dilakukan oleh empat pihak yakni PT Dirgantara Indonesia (perakitan, desain, instrumen avionik), DSL, Inggris (pengerjaan sistem komputer avionik, visual sistem), Belanda ("motion system") dan Amerika Serikat (radar).

Imam mengatakan, setelah lima tahun pembangunan simulator tersebut sangat bermanfaat untuk membina kemampuan dan keterampilan para penerbang helikopter. "Sangat efektif dan efisien termasuk untuk mengantisipasi situasi 'emergency'," katanya.

Ia mengatakan, penerbang yang sudah lama tidak terbang juga bisa menggunakan simulator untuk menempa kembali kemampuannya. Begitu juga, katanya, untuk penerbang baru, bisa menabung jam terbang sebelum menggunakan pesawat atau helikopter yang sesungguhnya.

"Simulator NAS-332 Super Puma ini merupakan yang pertama dimiliki TNI AU," kata Imam. Ia mengatakan, keberadaan Simulator NAS-332 Super Puma merupakan salah satu terobosan strategis dalam meningkatkan keahlian personel TNI AU khususnya helikopter.

Usai meresmikan simulator, Kasau didampingi Danlanud Marsekal Pertama TNI Tabri Santoso, pilot Danwing 4 Kolonel Pnb Eding menjajal simulator tersebut selama 20 menit.

Sumber : REPUBLIKA.CO.ID

Wednesday, September 28, 2011

Latma Elang Malindo 2011 : Operasi Pembebasan Sandera

KUBU RAYA - Sejumlah anggota Tim Aksus Detasemen Bravo (Den Bravo) 90 Pasukan Khas (Paskhas) TNI AU dan Counter Terrorist Unit (CTU) Pasukan Khas Udara (Paskau) Tentara Udara Diraja Malaysia (TUDM) melakukan parameter tempur penyergapan saat Simulasi Operasi Pembebasan Sandera di Lanud Supadio, Kabupaten Kubu Raya, Kalbar, Selasa (27/9). Simulasi yang diikuti sejumlah anggota Tim Aksus Den Bravo 90 Paskhas TNI AU dan CTU TUDM tersebut, merupakan puncak kegiatan dari Latihan Bersama (Latma) Elang Malindo ke-24. FOTO ANTARA/Jessica Wuysang/ss/AMA/11



Tuesday, September 27, 2011

Kemandirian Dalam Pemenuhan Alutsista Tetap Diperlukan

JAKARTA - Sekretaris Jenderal Kementerian Pertahanan Marsdya TNI Eris Herryanto, mengatakan, dalam pemenuhan Alutsista perlu ada kemandirian industri pertahanan dalam negeri.

"Yang kita bahas dalam rapat koordinasi adalah ke depan kita berupaya mandiri dalam pemenuhan alutsista," kata Eris usai Rakor Penentu Kebijakan, Pengguna dan Produsen Bidang Alutsista ke XIV dan Bidang Non-Alutsista, di Kantor Kementerian Pertahanan (Kemhan), Senin (26/9).

Menurut dia, dalam rakor itu juga telah disampaikan oleh pengguna, agar kemandirian jangan mengurangi kualitas alutsista. Safety-nya tetap dipertahankan, tapi juga jangan mahal sekali. Misalkan biaya Research and Development dibebankan ke penjual," ujarnya.

Program akuisisi alutsista dari luar negeri perlu dibarengi dengan upaya pemberdayaan industri pertahanan dalam negeri (offset). Program offset telah dituangkan dalam Rencana Pengadaan Alutsista TNI Program Pengadaan LN TA 2011-2014.

Ia menyebutkan, banyak negara yang menginginkan untuk pengadaan alutsista, namun dalam rakor itu diputuskan agar membuat 'working group', negara mana yang akan diajak kerja sama kaitannya dengan alutsista yang dimiliki.

Dalam rapat tersebut dibahas tentang pengadaan alutsista seperti kapal selam, 1.000 roket R-Han, rudal dan lainnya.

Kapal Selam

Eris mengatakan pengadaan kapal selam ini akan berpengaruh pada kemampuan industri pertahanan dalam negeri.

Saat ini Kemhan melalui Badan Sarana Pertahanan sedang mengaji negara mana yang akan digandeng untuk pengadaan kapal selam.

"Dalam dua bulan ini badan ranahan harus sudah memutuskan negara mana," ujar Eris..

Badan Ranahan pula yang nantinya memutuskan proses pengadaannya. Bukan soal dari negara mana saja, tapi juga meminta spek dari pengguna yakni Angkatan Laut. Saat ini, kata Eris, masih dalam fase akan memutuskan perusahaan mana yang akan digandeng.

Setelah itu, baru membahas berapa kapal selam yang akan diproduksi. PT PAL sendiri sebagai produsen pengadaan dari dalam negeri masih belum bisa menjamin komitmen. Namun, pemerintah berharap ada teknologi yang bisa diserap Indonesia.

Selain kapal selam, ada sejumlah alutsista yang harus sudah tercantum dalam daftar pengadaan alutsista pada 2014, baik dalam percepatan 'Minimum Essential Force' (MEF) dan pinjaman dalam negeri.

"Semua daftar pengadaan itu sebagian perlu direalisasikan dengan beberapa produsen luar negeri. Ada beberapa yang sudah menandatangani nota kesepakatan. Kita tinggal menentukan agar transfer teknologi berjalan lancar," kata Eris.

Program Pengadaan Alutsista

Adapun alutsista yang saat ini masuk daftar pengadaan adalah Peluru Kendali C-705 untuk digunakan dalam kapal-kapal patroli Kawal Cepat Rudal (KCR). TNI Angkatan Laut dipastikan tertarik. Pihak Kemhan juga sudah mengupayakan kerjasama dengan Sastind, perusahaan alutsista asal China, untuk melakukan alih teknologi. Peluru kendali ini memiliki jangkauan antara 110-120 kilometer.

Selanjutnya, program pengadaan seribu roket R-Han 122 untuk TNI Angkatan Darat dan Marinir TNI Angkatan Laut yang ditargetkan terpenuhi pada 2014. Kemhan meminta ada komitmen dari industri pertahanan dalam negeri untuk bisa menyelesaikan tepat waktu.

Ada juga program pengadaan main batle tank yang bisa memberdayakan industri pertahanan dalam negeri. Lalu ada realisasi program kendaraan taktis (rantis) 3/4 ton, 2,5 ton, dan 5 ton yang semuanya dibuat di dalam negeri. Disiapkan juga pengadaan Meriam 105 milimeter Howitzer dan program peningkatan kemampuan industri pertahanan untuk memproduksi munisi kaliber besar.

"Kita perlu konsisten menggunakan pinjaman dalam negeri dan rupiah murni untuk produksi alutsista dan nonalutsista," katanya.

Rakor ini merupakan pertemuan tiga bulanan dari tiga pilar pembina industri pertahanan untuk mendukung kebutuhan sarana pertahanan, yakni pemerintah (Kemhan) sebagai penentu kebijakan, TNI sebagai pengguna dan industri sebagai produsen bidang alutsista dan non alutsista.

Dalam Rakor ini, selain pejabat Kemhan, hadir juga pejabat dari perwakilan kementerian terkait, seperti Kementerian Keuangan, Kementerian BUMN, Kementerian Perindustrian, Kementerian Ristek, dan Bappenas. Diharapkan kehadiran perwakilan mereka dapat memberikan respon dan masukan terkait kebijakan program pembinaan, pemberdayaan dan perkuatan industri pertahanan.

Sumber : DEPHAN.GO.ID

Monday, September 26, 2011

Sekjen Kemhan : "Jangan Sampai Gagal Beli Kapal Selam..!!"

JAKARTA - Walau diakui sudah terlambat sampai tiga tahun, namun Kementerian Pertahanan sangat tidak ingin gagal membeli armada kapal selam untuk memperkuat jajaran kapal perang TNI-AL. Kini, tahapan pengadaan kapal-kapal perang itu sudah di tingkat Tim Evaluasi Pengadaan.

"Pengadaan kapal selam sudah telat dua hingga tiga tahun," kata Sekretaris Jenderal Kementerian Pertahanan, Eris dalam Rapat Koordinasi Penentu Kebijakan, Pengguna dan Produsen Bidang Alutsista ke XIV dan Bidang Non-Alutsista, di Kantor Kementerian Pertahanan, Jakarta, Senin (26/9).

Dia katakan, selain sudah ke tingkat TEP(Tim Evaluasi Pengadaan), Kemhan juga sudah melakukan penjaringan ke produsen kapal selam untuk melakukan kerja sama.

"Sudah kita jaring ke beberapa produsen. Jangan sampai program ini lewat begitu saja," katanya.


Dirjen Potensi Pertahanan Pos Hutabarat (kiri) dan Sekjen Kementerian Pertahanan Mardya TNI Eris Herryanto (kanan) saat memimpin Rapat Koordinasi Penentu Kebijakan, Pengguna dan Produsen Bidang Alutsista XIV dan Non Alutsista IV di Jakarta, Senin (26/9).

Tak hanya mengenai pengadaan kapal selam, rapat itu juga membahas realisasi program kerja sama pengembangan rudal C-705 dengan China yang telah dipilih TNI-AL sebagai senjata strategis yang akan dipasang di kapal Kawal Cepat Rudal (KCR).

"Letter of Intent" (LOI) tentang program transfer teknologi rudal C-705 telah ditandatangani di Kementerian Pertahanan oleh Dirjen Pothan Kemhan dan Sastind China pada 22 Maret 2011.

Program akuisisi alutsista dari luar negeri perlu dibarengi dengan upaya pemberdayaan industri pertahanan dalam negeri (offset). Program offset telah dituangkan dalam Rencana Pengadaan Alutsista TNI Program Pengadaan Luar Negeri tahun anggaran 2011-2014.

Sumber : ANTARA

Sunday, September 25, 2011

Polemik Hibah F-16 Amerika

JAKARTA - Kesepahaman antara DPR dan pemerintah dalam pengadaan F-16 masih terus mencari titik temu dari segi teknologi dan pembiayaan. Komisi I DPR, sebagai mitra pemerintah dalam bidang pertahanan dan keamanan nasional, memberikan beberapa persyaratan dan skema pembiayaan. Seperti apa? Berikut saya paparkan polemik sekitar ini.

DPR dan pemerintah telah sepakat bahwa pengadaan F-16 penting bagi TNI untuk meningkatkan performa dan kewibawaan TNI di lingkungan regional. Tertuang dalam rencana pembelian di tahun 2011, telah disepakati alokasi dana untuk pembelian 6 unit F16 baru untuk block 52+, senilai lebih kurang us$ 430juta. Alokasi pembelian armament (senjata) dipersiapkan secara terpisah.

Dalam perkembangannya timbul opsi lain. Hasil komunikasi antara TNI AU dan pemerintah Amerika, secara Goverment to Goverment, pemerintah Amerika menawarkan program hibah F-16 kepada pihak Indonesia. Program hibah ini disampaikan juga oleh Presiden Barrack Obama dalam kunjungan singkatnya ke Indonesia pada 9 November 2010 yang lalu. Hibah F-16 ini telah mendapat persetujuan dari Kongres Amerika, dengan komposisi sbb : maksimal 28 unit F-16 block 25, 2 unit F-16 block 15, dan 28 engine utk F-16 block 25, dengan kondisi “as is where is” (seperti itu, di lokasi itu) alias apa adanya untuk pesawat F-16 yang diparkir di Arizona.

Di Arizona, terdapat sebuah padang luas, tempat dimana Amerika memarkir pesawat-pesawat tempur, baik yang masih digunakan maupun yang tidak digunakan lagi oleh militer Amerika. Padang Arizona memiliki kelembaban yang rendah, sehingga pesawat yang diparkir di sana tidak mengalami korosi/kerusakan akibat humiditas. Kongres Amerika telah memberikan izin 28 unit F-16 untuk Indonesia, sementara Indonesia hanya butuh 24, jadi sudah terdapat titik terang. F-16 yang dimaksud kondisi nya terpakai 4000jam sd 6000jam, sehingga harus dilakukan program Falcon Star agar dapat digunakan hingga 8000jam terbang. Menurut KSAU, rata-rata pesawat akan digunakan 10-20jam/bulan, sehingga pesawat bekas tersebut dapat digunakan selama 12 – 15 tahun.

Karena “as is where is”, berarti delegasi Indonesia harus berangkat ke Arizona akan memilih 24 unit pesawat yang terbaik dari ratusan F-16 yang terdapat di sana.

Baca selanjutnya...

Komisi I DPR Setujui Pembelian F-16 Block 52

JAKARTA – Komisi I Bidang Pertahanan DPR RI menyetujui pembelian 6 unit pesawat tempur baru jenis F-16 Block 52 senilai Rp3,8 triliun. Wakil Ketua Komisi I, Tubagus Hasanuddin, menyatakan bahwa pesawat tempur RI perlu direvitalisasi.

“Meski kita memiliki beberapa skuadron pesawat tempur, tapi pesawat tempur kita memang sudah tua. Harus ada penggantinya. Pesawat kan harus mengikuti perkembangan zaman,” kata Hasanuddin dalam perbincangan dengan VIVAnews.com, Minggu (25/9).

Menurutnya, beberapa jenis pesawat tempur RI sudah harus diperbarui, seperti F-5E Tiger dan Hawk 100/200. Untuk itu, ujar Hasanuddin, DPR dan pemerintah sudah sepakat untuk menganggarkan sejumlah dana.

“Anggaran sudah disiapkan. Kami sudah memprogram pembelian F-16 Block 52. Pesawat sekelas itu sudah cukup canggih,” tutur politisi PDIP itu. Sebelumnya, anggota Komisi I Tjahjo Kumolo menjelaskan, F-16 Block 52 dipilih karena kemampuannya yang memadai. “Kehadirannya memiliki efek getar dan daya tangkal yang cukup,” kata Tjahjo.

Namun, terang Hasanuddin, RI belum langsung memutuskan untuk mendatangkan F-16 Block 52, karena mendadak ada tawaran lain dari Amerika Serikat. “AS tiba-tiba menawarkan hibah pesawat F-16 grounded. Jadi pemerintah dan DPR masih membahas, apakah tetap akan membeli pesawat tempur baru, atau menerima tawaran hibah dari AS itu,” papar Hasanuddin.

Ia sendiri menilai, pembelian pesawat tempur baru lebih banyak manfaat dan keuntungannya bagi RI. Pasalnya, pesawat baru memiliki daya tahan lebih lama ketimbang pesawat grounded. “Pesawat baru bisa 30 tahun umurnya. Tapi pesawat grounded cuma 12 tahun,” kata Hasanuddin.

“Lagipula, pesawat hibah yang ditawarkan AS itu secara terbuka justru disimpan dan ditongkrongkan AS begitu saja seperti rongsokan di Gurun Arizona. Apa kita mau yang seperti itu?” ujar Hasanuddin. Lebih lanjut, ia menyatakan, biaya upgrade pesawat grounded bisa lebih mahal daripada membeli pesawat baru.

Hasanuddin menjelaskan, bila Indonesia menerima tawaran hibah dari AS, maka Indonesia akan mendapatkan 24 unit pesawat grounded. Sementara bila membeli yang baru, Indonesia hanya akan memperoleh 6 pesawat baru. “Tapi pesawat hibah yang mesti diupgrade ini lebih rendah kemampuannya dari Block 52 yang sudah canggih,” kata dia.

Sumber : VIVANEWS.COM

Friday, September 23, 2011

Komisi I Setujui Pengajuan APBN Untuk Anggaran Pertahanan

JAKARTA – Rapat kerja yang dilaksanakan Kementerian Pertahanan RI dengan Anggota Komisi I DPR yang membahas alokasi APBN-P Tahun Anggaran 2011 akhirnya di setujui dan disahkan oleh seluruh fraksi yang ada di Komisi I DPR.

Pengesahan ini merupakan hasil akhir rapat kerja Kemhan dan Komisi I DPR, rapat kerja tersebut dilaksanakan Kamis (23/9) di Gedung DPR, Jakarta.

Dalam penjelasannya Wakil Ketua Komisi I DPR, TB Hasanudin mengatakan alokasi APBN untuk anggaran pertahanan 2011 menjadi sebesar Rp.2,050 T yang dialokasikan untuk memenuhi kebutuhan Minimum Esential Force (MEF) dan Non MEF.

Percepatan MEF dialokasikan pada anggaran pembiayaan BUMN Industri Pertahanan sebesar Rp. 1.28 trilyun, dan dapat tambahan lagi sebesar Rp.30 Milyar untuk PT. LEN sehingga totalnya adalah Rp. 1.31 Trilyun, sedangkan untuk non BUMNIP sebesar Rp. 717 Milyar.

Dana tersebut salah satunya digunakan untuk pengadaan suku cadang Pesawat Hercules dan pembelian amunisi untuk Tank Scorpion. Sementara untuk kegiatan Non MEF digunakan untuk alat kesehatan rumah sakit TNI dan peralatan di kapal RS, KRI dr. Soeharso sebesar 50 M sesuai program dan rencana awal.

Sumber : DEPHAN.GO.ID

Kopaska & Navy SEALs Gelar Latihan Pengamanan VVIP

SURABAYA - Komando Pasukan Katak (Kopaska) TNI AL dan "US Navy SEAls" menggelar Latihan Bersama Flash Iron 11-02 JCET berupa Gladi Pengamanan VIP atau "personnel security detail" (PSD).

Keterangan pers Dispen Koarmatim di Surabaya, Jumat (23/9) menyebutkan, materi latihan di Pangkalan Udara Angkatan Laut (Lanudal) Juanda Surabaya itu meliputi dua tahap. Kedua tahap yang dimaksud yaitu pengamanan VVIP saat hendak masuk sebuah gedung dan praktik pengawalan saat keluar-masuk kendaraan.

Dalam simulasi latihan tersebut tim Kopaska dan Navy Seal diskenariokan sedang melakukan pengawalan VIP melalui jalur darat. Iring-iringan kemudian dihadang oleh sekelompok orang bersenjata. Kendaraan VIP mengalami kerusakan parah sehingga tim pengawal terpaksa harus mengevakuasi pejabat penting tersebut ke kendaraan lain.

Kemudian tim mengevakuasi pejabat dan melakukan upaya penyelamatan dan counter serangan lawan.Usai misi penyelamatan selesai pejabat di kawal menuju tempat pertemuan yang digambarkan berupa tempat konferensi dimana Tim kembali dihadang pendemo dan kerumunan massa yang di khawatirkan ada ancaman dari penembak jitu (Sniper) yang setiap saat beraksi dari tempat-tempat tersembunyi.

Drama penyelamatan diakhiri dengan baku tembak antara tim Kopaska dan Navy Seal dengan para pengacau di Bandara Juanda lama. Latihan pengamanan ini juga jadi bagian dari kemampuan tempur Urban Warfare, Markmanship, sniping dan Personel Security Detail (PSD).

Sumber : ANTARA

Latihan Bersama Elang Malindo 2011

KUBU RAYA - Danlanud Supadio, Kolonel Penerbang Kustono (kiri), didampingi Ketua Staf Operasi Marka I Division Udara Tentara Udara Diraja Malaysia (TUDM), Brigjen Abdul Muthalib bin Abdul Wahab memeriksa pasukan saat upacara pembukaan Latihan Bersama Elang Malaysia Indonesia (Malindo) ke-24 di Lanud Supadio, Kabupaten Kubu Raya, Kalbar, Rabu (21/9). Latma Elang Malindo yang diikuti anggota TNI AU dan TUDM tersebut, bertujuan untuk meningkatkan kemampuan dalam melaksanakan operasi bersama dan merupakan rangkaian dari kerjasama dua negara yang telah terjalin selama ini.

Saat berlangsungnya upacara seorang Tentara Udara Diraja Malaysia (TUDM) jatuh pingsan dan digotong pasukan TNI ke klinik yang ada di Lanud. Tidak diketahui penyebab yang mengakibatkan anggota TUDM itu jatuh pingsan dan kemudian membentur aspal.FOTO ANTARA/Jessica Wuysang/ss/pd/11




Gelar Kesiapan Pasukan Brigade Pasmar-1

SURABAYA - Sejumlah prajurit Marinir dari Pasmar-1, melakukan parameter tempur di sekitar material tempur, dalam Gelar Kesiapan Pasukan Brigade Pendarat dan Material Tempur Pasmar-1 di Bhumi Marinir Karangpilang Surabaya, Kamis (22/9). Gelar kesiapan yang juga dikunjungi Kepala Staf Umum (Kasum) TNI, Letjen TNI J Suryo Prabowo tersebut, bertujuan untuk mengukur kesiapan Brigade Pendarat dan material tempur Pasmar-1 dalam menjaga keutuhan NKRI. FOTO ANTARA/Eric Ireng/Koz/mes/11.




Friday, September 16, 2011

Korsel Akan Kembangkan Industri Perkapalan di Indonesia

JAKARTA – Kepala Staf Angkatan Udara (Kasau) Marsekal TNI Imam Sufaat, S.IP. menerima kunjungan kehormatan Duta Besar Korea, H.E. Young Sun Kim dalam rangka kunjungan perkenalan, di Mabesau Cilangkap, Kamis (15/9).

Kasau pada kesempatan tersebut menyampaikan ucapan selamat atas jabatan sebagai Duta Besar Korea di Indonesia. Selanjutnya Kasau mengharapkan kerjasama yang sudah dirintis sekarang ini dapat berjalan baik diwaktu yang akan datang, khususnya pada Program KF-X yang merupakan pesawat tempur untuk generasi yang akan datang.

Duta Besar Korea menyampaikan bahwa industri pertahanan Korea akan mengembangkan kerjasama dalam industri pembangunan perkapalan sehingga nantinya kerjasama tersebut akan saling menguntungkan bagi kedua negara.

Pada kesempatan itu Kasau Marsekal TNI Imam Sufaat S.IP didampingi Aspam Kasau Marsda TNI Gunpanadi, Asops Kasau Marsda TNI Agus Munandar, Aslog Kasau Marsma TNI Mulyono, Waasrena Kasau Marsma TNI M. Syafii dan Kadispenau Marsma TNI Azman Yunus. Sedang Duta Besar Korea, H.E. Young Sun Kim didamping Athan Moon Dae Cheol.

Sumber : POSKOTA.CO.ID

Komisi 1 Pertanyakan Dana Pembelian Pesawat Tanpa Awak

JAKARTA - Politikus Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan yang juga Wakil Ketua Komisi I DPR Tubagus Hasanuddin menyatakan Kementerian Pertahanan telah melakukan pelanggaran Undang-Undang No. 27 Tahun 2009 tentang MPR, DPR, DPD, dan DPRD.

Hal tersebut menurut Hasanuddin, terungkap dalam Repat Kerja Komisi I dengan Kemhan dan Mabes TNI pada Rabu (14/9). Hasanuddin menjelaskkan bahwa Kemenhan telah menggunakan APBN-P 2011 tanpa berkonsultasi dengan DPR.

Menurut Hasanuddin, pada awal Juli 2011 Kemenhan mendapatkan dana APBN-P sebesar Rp2,485 triliun. "Jadi pada tanggal 21 Juli kita melakukan rapat maraton dengan Kemenhan mengenai penggunaan dana tersebut," katanya.

Rincian penggunaa dana tersebut adalah Rp2 triliun untuk alutsista dengan rincian Rp1,3 triliun alutsista dari dalam negeri serta Rp700 miliar untuk alutsista luar negeri dan perusahaan swasta, dan Rp485 miliar untuk keperluan nonalutsista.

Hasanudiin menjelaskan, setelah diajukan ke Kementerian Keuangan, Kemenhan mendapat tambahan dana Rp50 miliar, sehingga jumlahnya menjadi Rp2,535 miliar. "Tapi di raker ternyata realisasi anggarannya hanya Rp2,050 miliar," Jelas Hasanuddin.

Ketika ditanyakan keDirektorat Jenderal Perencanaan Pertahanan tentang sisa dana sebesar Rp485 miliar, ternyata tidak dapat memberikan penjelasan yang memuaskan. "Mereka bilang untuk membeli barang," ujar Hasanuddin.

Kuat dugaan dana inilah yang bakal digunakan untuk pembelian pesawat intai tanpa awak kepada pihak ke-tiga yang sebelumnya tidak pernah dilaporakan kepada Komisi 1 penggunaannya.

Sumber : MEDIAINDONESIA.COM

Jet Tempur Russia MiG-31 Foxhound

Dikembangkan dari jet tempur sergap MiG-25 Foxbat, Foxhound jadi ancaman nyata bagi pesawat mata-mata dan AWACS yang kala itu mampu terbang lebih tinggi dengan kecepatan diatas mach 2. Meski selama pengaktifannya Foxhound belum pernah bertemu langsung dengan SR-71 Blackbird, pesawat ini diproyeksi mampu mengejar laju pesawat intai AS tersebut hingga kecepatan mach 3. Bahkan varian "D" pesawat ini kapabel untuk menghancurkan sasaran satelit diketinggian lebih dari 25 Km.

Thursday, September 15, 2011

Jet Tempur MRCA Malaysia : Eurofighter Typhoon (I)

Program pengadaan pesawat MRCA (Multi-Role Combat Aircraft) RMAF Malaysia tengah memasuki tahap tender akhir, salah satu kandidat pesawat penggantinya adalah Eurofighter Typhoon. Jet tempur hasil kolaborasi empat negara Eropa ini (Inggris, Jerman, Italia dan Spanyol) jika terpilih nanti, bakal diproyeksikan menggantikan jet tempur Rusia MiG-29N yang sudah dioperasikan hampir 20 tahun.

Kedepan, admin akan menampilkan beberapa video terbaik dari empat kandidat pesawat MRCA Malaysia (Eurofighter Typhoon, Rafale, Grippen dan Super Hornet) sebagai gambaran untuk anda pembaca setia BLOG ALUTSISTA tentang bagaimana profil dari pesawat-pesawat tersebut. Berikut video dokumenter seputar pembuatan awal hingga akhir jet tempur modern "Eurofighter Typhoon".





Menhan RI : Tidak Ada Lagi Kesepakatan DCA!


Wilayah latihan perang (MTA) yang diminta Singapura ke Indonesia dalam kesepakatan DCA

JAKARTA - Menteri Pertahanan (Menhan), Purnomo Yusgiantoro, menegaskan bahwa tidak ada lagi pembahasan kesepakatan kerja sama pertahanan (Defence Cooperation Agreement/DCA) antara RI dengan Singapura yang ditandatangani kedua pemerintahan pada 2007.

Hal ini diungkap sesaat sebelum menerima kunjungan kehormatan Wakil Perdana Menteri (PM) Singapura, Theo Chee Hean, di Jakarta, Rabu (14/9). Purnomo menuturkan, setiap kerja sama pertahanan yang dilakukan dengan sejumlah pihak harus ada kesepakatan pelaksanaannya (implementing arrangement).

"Ini kita belum menyepakati apa-apa. Jadi, tidak ada lagi kerja sama kesepakatan pertahanan itu," katanya.

Perundingan DCA (Defence Cooperation Agreement) antara Indonesia dan Singapura sebelunya pernah berlangsung sejak Juli 2005 selama tujuh kali putaran. Putaran terakhir dilaksanakan pada 5 - 6 Desember 2006 dengan menyepakati 13 pasal, dan empat pasal lainnya belum tercapai kesepakatan salah satunya ekstradisi koruptor.

DCA pernah ditandatangani pada 27 April 2007 oleh Menhan kedua negara disaksikan Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono dan Perdana Menteri (PM) Singapura Lee Hsien Loong.

Dalam perjalanannya, kedua negara tidak dapat melaksanakan kesepakatan kerja sama itu secara mulus karena menuai kontroversi di masing-masing pihak, terutama menyangkut Implementing Arrangement (IA) dan Military Training Area (MTA) di Area Bravo yang berada di Kepulauan Natuna.

Dalam pertemuan bilateral di Kantor Kementerian Pertahanan RI, wakil pemerintahan kedua negara sepakat tidak membahas DCA. Para pihak hanya berbincang tentang perkembangan kerja sama yang telah dijalin kedua negara selama ini, khususnya dalam bidang pertahanan.

Bahkan, Chee Hean mengaku kagum dengan pembangunan kekuatan pertahanan Indonesia dalam industri pertahanan, baik yang dilakukan secara mandiri maupun yang bekerjasama dengan sejumlah negara.

Sumber : ANTARA

Kopassus dan SOCOM Gelar Latihan Bersama

KEPULAUAN SERIBU - Sejumlah pasukan Kopasus dan pasukan Khusus SOCOM Australia bersiap menuju pulau Kotok Kecil untuk persiapan latihan bersama Kopasus dan SOCOM Australia di Pulau Kotok Kecil, Kepulauan Seribu, Jakarta Utara, Kamis (15/9). Latihan bersama tersebut merupakan wahana tukar pengetahuan antarkedua delegasi dan bertujuan untuk meningkatkan kemampuan dan keterampilan prajurit dalam bidang teknik dan taktik pertempuran. FOTO ANTARA/M Agung Rajasa/Koz/mes/11.



Wednesday, September 14, 2011

Indonesia Mantapkan Aliansi Dengan Tiga Negara Maju Eropa

JAKARTA - Sekarang masanya aliansi dengan negara maju dalam bidang apa saja. Indonesia juga akan menempuh aliansi industri pertahanan itu dengan tiga negara Eropa anggota NATO, yakni Spanyol, Jerman, dan Perancis.

Ketiga negara itu bukan negara kemarin sore dalam rancang bangun persenjataan; mereka sudah ratusan tahun mengembangkan basis teknologi persenjataan masing-masing. Tidak ada istilah short cut.

Spanyol ternama soal persenjataan ringan dan pesawat terbang transport, Jerman soal persenjataan infantri, meriam, dan teknologi metalurgi dan material.

Mandiri adalah motto ringkas Perancis dalam pertahanan negaranya. Simak performansi senapan 5,56 milimeter F1 FAMAS, seri-seri Mirage dan Rafale, hingga kapal induk serang kelas Mistral dan Ouragan. Ingat MM-40 Blok 3 Exocet? Itu buatan Perancis dan kita beli juga seri awalnya karena jauh lebih murah.

Wakil Menteri Pertahanan, Sjafrie Sjamsoeddin, di Jakarta, sesaat sebelum memulai kunjungannya ke Eropa, Senin (12/9), mengatakan kerja sama Indonesia secara bilateral dengan masing-masing ketiga negara itu telah lama terjalin.

"Namun, Indonesia ingin memantapkan kembali bentuk kerja sama itu kearah produksi dan pemasaran bersama sehingga dapat mendukung kemandirian industri pertahanan nasional," katanya.

Produksi Bersama C-295


Contohnya jelas, PT Dirgantara Indonesia telah menjalin kerja sama dengan CASA Spanyol yang kini bernama European Aeronatic Defense and Space Company (EADS), sebuah perusahaan dirgantara besar Eropa. Yang paling jelas adalah pembuatan NC-212 Aviocar (kini C-212 seri 400) dan CN-235.

Kini hal itu akan dikembangkan dalam pembuatan pesawat transportasi ringan C-295, yang dikembangkan dari basis CN-235 itu. Dengan sejumlah perkuatan struktur, mesin, dan sistem pendaratannya, maka C-295 bisa diubah menjadi pesawat peringatan dini dan dipasangi radome laiknya EC-3 Sentry atau Hawkeye.


Wamenhan akan jajaki kemungkinan produksi bersama C-295 dan C-295AEW

"C-295 ini memiliki kapabilitas dan kapasitas melebihi CN-235. Nah... kita ingin jajaki kemungkinan produksi bersama, pemasaran bersama dan investasi bersama antara Indonesia dengan Spanyol, Jerman, Prancis yang terlibat dalam EADS," katanya.

Sjafrie mengemukakan pada kesepakatan awal PT DI memperoleh porsi 40 persen untuk kandungan setempat komponen pesawat tersebut. Artinya, kualitas buatan Indonesia itu diakui dunia namun pemerintah agaknya tidak mau memfokuskan pembangunan industri strategis yang berperan vital itu. Dengan begitu, para insinyur andal Indonesia tidak harus berkelana ke mana-mana sampai-sampai yang mengambil manfaat keahlian mereka adalah negara pesaing belaka.

Sumber : ANTARA

Panglima TDM Kunjungi KASAD

JAKARTA – Panglima Tentara Darat Malaysia (TDM) Jenderal Datuk Hj Zulkifli Bin Hj Zainal Abidin melaksanakan kunjungan kehormatan kepada Kepala Staf Angkatan Darat (Kasad), Jenderal TNI Pramono Edhie Wibowo, di Markas Besar Angkatan Darat (Mabesad), Jakarta, Senin (12/9).

Kunjungan ini merupakan kunjungan silaturahmi dan perkenalan Jenderal Datuk Hj Zulkifli Bin Hj Zainal Abidin sebagai Pejabat baru Panglima Tentera Darat Malaysia sekaligus untuk mempererat hubungan kerjasama yang sudah terjalin selama ini.


Kerjasama Pertahanan RI - Serbia

JAKARTA - Menteri Pertahanan RI Purnomo Yusgiantoro (kiri) didampingi Menhan Serbia Dragan Sutanovac (tengah) memaparkan kerjasama bidang pertahanan antara RI-Serbia, Jakarta, Selasa (13/9). Kerjasama tersebut meliputi bidang pertahanan meliputi kebijakan strategi, logistik, pendidikan dan pelatihan, serta Industri Pertahanan. FOTO ANTARA/Yudhi Mahatma/Koz/nz/11.



Latihan Bersama Flash Iron 11-02

SURABAYA - Sejumlah anggota pasukan elit US Navy Seals usai melakukan pendaratan ketika melakukan latihan terjun tempur free fall bersama Satuan Komando Pasukan Katak (Sat Kopaska) TNI AL, di Lanudal Juanda Surabaya, Selasa (13/9). Latihan terjun tempur tersebut merupakan bagian dari Latihan Bersama (Latma) bersandikan Flash Iron 11-02 JCET antara Sat Kopaska TNI AL dan US Navy Seals. FOTO ANTARA/M Risyal Hidayat/Koz/nz/11.




Saturday, September 10, 2011

Indonesia Mantapkan Kerjasama Pertahanan Dengan Tiga Negara Eropa

JAKARTA - Indonesia akan memantapkan kerja sama pertahanan dengan tiga negara Eropa, yakni Jerman, Prancis, dan Spanyol, kata Wakil Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin.

Selama ini Indonesia telah memiliki kerja sama pertahanan dengan tiga negara itu, meski masih berjalan parsial, katanya kepada ANTARA News di Jakarta, Sabtu (10/9).

Oleh karena itu, Indonesia dan tiga negara tersebut akan mengakselerasi kesepakatan kerja sama pertahanan agar menjadi payung hukum politik bagi keempat negara dalam kerangka kerja sama pertahanan termasuk di dalamnya kerja sama industri pertahanan.

"Indonesia dan Jerman serta Indonesia dengan Spanyol, rancangan kesepakatan kerja sama pertahanannya sudah pada tahap pematangan untuk menjadi nota kesepahaman yang akan ditandatangani menteri pertahanan masing-masing negara," ujarnya.

Rancangan kesepakatan kerja sama antara Indonesia dengan Prancis, menurut dia, masih dalam tahap konsep awal dan akan didalami terus.

Ia mengatakan dengan nota kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU), maka kerja sama antara Indonesia dengan masing-masing negara Eropa itu dapat meningkatkan dan memperluas kerja sama yang sudah berjalan selama ini yang masih parsial.

Dalam kaitan itulah, Wamenhan akan melakukan kunjungan kerja ke Berlin dan Stuttgard (Jerman), Madrid (Spanyol), kemudian Paris dan Marseille (Prancis) selama sepekan mulai 11 September 2011.

"Yang jelas, kerja sama yang dijalin tersebut harus didasarkan saling menghormati, menghargai, dan menguntungkan kepentingan nasional," kata Sjafrie.

Selain memantapkan payung hukum politik kerja sama pertahanan, ia mengemukakan, akan dibahas pula pengembangan kerja sama indsutri pertahanan antara Indonesia dengan tiga negara itu.

"Kerja sama industri pertahanan yang telah berjalan antara Badan Usaha Milik Negara Industri Pertahanan Indonesia dan tiga negara itu akan kami mantapkan pula, agar dapat mendukung kemandirian industri pertahanan nasional sekaligus memacu pertumbuhan ekonomi nasional," demikian Sjafrie Sjamsoeddin.

Sumber : ANTARA

Kerjasama Pertahanan RI - Korea Selatan

JAKARTA - Menteri Pertahanan RI Purnomo Yusgiantoro (kiri) bersama Menhan Korea Selatan General (ret.) Kim Kwan-Jin (kanan) menyaksikan penandatangan kerjasama pertahanan RI-Korea Selatan oleh Ditjen Potkan Pos Hutabarat (kedua kiri) dan Ditjen Force Policy Bereu Lee Young Dae (kedua kanan).

Kedua Menhan juga saling bertukar replika pesawat terbang jenis CN 235 dan T-50 usai penandatanganan kerjasama pertahanan RI-Korea Selatan di Kantor Kementerian Pertahanan, Jakarta, Jumat (9/9). Kementerian RI dan Korea Selatan akan mengadakan kerjasama "joint production" antar kedua negara untuk memproduksi pesawat tempur jenis KF-X/IF-X. FOTO ANTARA/Yudhi Mahatma/ss/pd/11



Wamenhan Tinjau Retrofit Tank AMX-13 Di Pindad

BANDUNG - Wakil Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin, Jum’at (9/9) berkunjung ke PT. Pindad (Persero) untuk melihat secara langsung kemajuan retrofit Tank AMX-13. Dalam peninjauannya Wamenhan berharap PT. Pindad melihat kontrak retrofit ini sebagai bagian dari grand strategi menuju kemandirian industri pertahanan, khususnya dalam pembuatan tank.

“Retrofit tank ini perlu dilihat dari suatu kerangka yang makro sebagai bagian grand strategi dalam rangka menuju kemandirian industri pertahanan, oleh karena itu tidak menutup kemungkinan ini adalah bagian dari pembuatan tank oleh indonesia” ungkap Wamenhan dalam arahannya.

Lebih lanjut Wamenhan menekankan kepada seluruh jajaran PT. Pindad mulai jajaran direksi sampai pada jajaran operasional teknis untuk mampu menjawab tantangan dan tuntutan ini maka akan terjadi suatu trust building yang tinggi. Oleh karena itu, trust building quality dan trush building prosuksi hendaknya menjadi cacatan utama.


Wamenhan saat mendengar penjelasan Dirut PT. Pindad tentang proses retrofit tank AMX-13 TNI AD

Dalam peninjauannya, Wamenhan juga didampingi sejumlah Tim Asistensi Komite Kebijakan Industri Pertahanan (KKIP). Rombongan Wamenhan diterima oleh Direktur Utama PT. Pindad (Persero) Adik Avianto Soedarsono.

Sementara itu, menanggapi penekanan dan arahan dari Wamenhan, Dirut PT. Pindad mengatakan akan berusaha menggunakan segala sumber daya yang ada untuk melaksanakan dengan sebaik-baiknya dan semaksimal mungkin proyek retrofit tank AMX-13 ini.

Sumber : DMC

Indonesia-Korsel sepakat Kembangkan Ranpur Bersama

JAKARTA - Pemerintah Indonesia dan Korea Selatan sepakat mengembangkan panser dan tank bersama. Kesepakatan itu tertuang dalam nota kesepahaman antara PT Pindad dengan Busan Ltd. terkait rencana kerja sama itu di Jakarta, Jumat (9/9).

Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro mengatakan PT Pindad dan Busan akan bersama-sama memproduksi panser Anoa Tarantula. "Indonesia akan membuat 11 unit panser Tarantula dan Korea Selatan 11 unit," katanya.

Dirut PT Pindad Adik Avianto Soedarsono ketika dikonfirmasi ANTARA mengatakan, Anoa Tarantula teknologinya diserap dari Doosan DST. Panser itu akan dipersenjatai kanon 90 mm buatan Belgia.

Dia mengemukakan kontrak kerja sama pengadaan kendaraan tempur tersebut sudah dilakukan pada 2009 sebanyak 22 unit. Sebelas unit "built-up" akan tiba dari Doosan DST, sedangkan sisanya 11 unit dikerjakan oleh Pindad. Tak hanya itu, PT Pindad akan mengembangkan tank ringan mulai 2014, untuk memenuhi kebutuhan pertahanan TNI Angkatan Darat.

Adik mengemukakan rencana tersebut merupakan upaya untuk menjawab kebutuhan panser dan tank TNI AD yang saat ini 90 persen diisi oleh produk asing. Dia mengemukakan tank ringan itu akan merujuk pada model produk mancanegara saat ini, seperti produk K-21 buatan Doosan DST Korea Selatan dan ACV-300 dari Turki. Tank ringan ini memiliki bobot 15 ton hingga 25 ton dengan penggerak roda rantai.


Infantry Fighting Vehicle K-21

Selain panser dan tank ditandatangani pula pengembangan bersama nota kesepahaman dengan Daewoo International Corporation untuk kerja sama pengembangan kapal cepat rudal (KCR-70).

Selain panser dan KCR-70 kedua negara juga telah melakukan pengadaan bersama empat unit kapal "Landing Platform Dock" (LPD), pesawat jet tempur KFX/1FX dan kapal selam.

Indonesia dan Korsel mengukuhkan kerja sama pertahanan kedua negara ditandai dengan penandatangana nota kesepahaman oleh Dirjen Potensi Pertahanan Kementerian Pertahanan Pos M Hutabarat dan Direktur Biro Kebijakan Kekuatan Korsel Lee Yung Dae.

Penandatanganan nota kesepahaman itu disaksikan Menteri Pertahanan RI Purnomo Yusgiantoro dan Menteri Pertahanan Korea Selatan Kim Kwan-jin.

Dengan nota kerja sama, itu kedua negara sepekat untuk memperluas dan meningkatkan kerja sama selain industri pertahanan seperti pelatihan, pendidikan dan pertukaran perwira.

Terkait kerja sama industri pertahanan kedua negara untuk saling bertukar informasi teknologi pertahanan, produksi bersama disertai alih teknologi dan pemasaran produk bersama.

Sumber : ANTARA

Friday, September 09, 2011

Indonesia-Korsel kukuhkan kerja sama pertahanan

JAKARTA - Pemerintah Indonesia dan Korea Selatan sepakat mengukuhkan kerja sama pertahanan kedua negara. Pengukuhan kerja sama pertahanan kedua negara itu tertuang dalam nota kesepahaman yang ditandatangani Dirjen Potensi Pertahanan Pos Hutabarat dan Direktur Biro Kebijakan Kekuatan Korsel Lee Yong Dae di Jakarta, Jumat (9/9).

Penandatanganan nota kesepahaman itu disaksikan Menteri Pertahanan RI Purnomo Yusgiantoro dan Menteri Pertahanan Korea Selatan Kim Kwan-jin.

"Selain industri pertahanan yang selama ini sudah berjalan maka dengan nota kesepahaman itu kerja sama yang ada dapat ditingkatkan dan diperluas seperti http://www.blogger.com/img/blank.gifpendidikan, dan pertukaran perwira," kata juru bicara Kementerian Pertahanan Hartind Asrin.

Terkait kerja sama industri pertahanan, kedua negara sepakat untuk diadakan produksi bersama disertai alih teknologi seperti dalam pembuatan kapal jenis "Landing Platform Dock" (LPD) dan kapal selam antara PT PAL dan perusahaan kapal Daewoo Shipbuilding.

Kedua negara juga telah menjajaki kerja sama industri dirgantara seperti pembuatan pesawat tempur KFX/IF-X.

Tak hanya itu, kedua negara juga menjajaki pembelian pesawat jet tempur latih T-50 oleh Indonesia yang disertai pengadaan CN-235 oleh Korsel.

RI-Korsel sepakat meningkatkan dan memperluas kerja sama pertahanan termasuk kerja sama industri pertahanan, dilanjutkan seremoni wajib saling bertukar cinderamata. Yusgiantoro menyerahkan model berskala CN-235 kepada koleganya itu dilanjutkan Kim yang memberi model skala serupa T-50 Golden Eagle kepada mitra Indonesia-nya.

Dengan senyum mengembang, Yusgiantoro menyatakan "Ini pesawat T-50 yang akan kita beli. Dan ini sangat bertenaga," Ucapan itu langsung disambut hangat Kim yang menunjuk model CN-235, "Pesawat ini juga bisa terbang tinggi..."

Sumber : ANTARA

Pemerintah Alokasikan Rp 150 Triliun untuk Alutsista


Menko Perekonomian Hatta Rajasa (kanan) berbincang dengan Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro (kiri) sebelum mengikuti sidang kabinet terbatas bidang politik, hukum dan keamanan di Kantor Kepresidenan, Jakarta, Kamis (8/9). FOTO ANTARA/Widodo S. Jusuf/Koz/Spt/11.

JAKARTA - Pemerintah sudah menganggarkan dananya hingga Rp150 triliun untuk pengadaan dan pemeliharaan alutsista TNI. Masalah ini, kata Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro jadi bahasan Rapat Kabinet terbatas yang dipimpin Presiden Susilo Bambang Yudhoyono Kamis (8/9) siang.

Dalam rapat itu, menurut Menteri Purnomo, dipaparkan juga rincian rencana strategis dan prioritas keperluan di TNI AD, AL, dan AU. Setidaknya ada dua komponen anggaran, pertama anggaran dalam bentuk rupiah, yang yang akan dibelanjakan sebagai belanja modal dan belanja barang. Namun siang tadi, rapat terbatas lebih memfokuskan soal pembelanjaan alutsista dalam komponen dolar.

"Prioritas diutamakan pada alutsista yang akan datang sebelum Kabinet berakhir masa baktinya (tahun 2014). Berdasarkan rincian kebutuhan totalnya sekitar US$ 6,5 miliar." ujarnya Menhan dalam konferensi persnya.

Selain itu, juga dipaparkan soal komponen alutsista yang dibuat di dalam negeri, luar negeri maupun joint production. "Apakah itu dari luar negeri mengggunakan offset (membeli sebagian alat di luar negeri, dan sebagian lagi dibuat di dalam negeri)," ujarnya.


Dia mencontohkan pembelian alutsista dari luar negeri karena dalam negeri belum bisa membuatnya. "Misalnya dengan Korea, kita membeli lightfighter T-50 dan itu kita minta," ujarnya.

Pemerintah juga memproritaskan untuk membeli alat-alat yang diproduksi di dalam negeri. Alat-alat yang diprioritaskan seperti kapal selam, KCR (kapal cepat rudal) dan lain-lain. "Misal KCR sudah bisa dibuat di Indonesia oleh PT PALINDO, dan telah diberikan perangkat canggih termasuk rudal. Untuk AU lebih banyak pada pengadaan helikopter," ujarnya.

Menteri Keuangan Agus Martowardojo mengatakan pemerintah telah menganggarkan Rp 100 triliun untuk anggaran alutsista periode tahun 2010 hingga 2014. Dan saat ini sedang dikaji untuk menambah lagi sebesar Rp 50 triliun. "Tapi itu masih kajian. Jangan salah quote lho ya, Rp 100 triliun, dan sedang dikaji bisa untuk menambah Rp 50 triliun selama 4 tahun dari 2011 sampai 2014," kata dia.

Sumber : TEMPOINTERAKTIF.COM