Saturday, April 30, 2011

Mabes TNI AU Tandatangani Letter of Credit Pembelian 16 Super Tucano

MALANG - Sebanyak 16 pesawat tempur jenis Super Tucano EMB-314 buatan Brasil rencananya tiba pada 2012 untuk melengkapi alutista TNI-AU. Hal itu dikatakan Kepala Staf Angkatan Udara (KSAU) Marsekal Imam Syufaat, saat kunjungan kerja ke Pangkalan TNI Angkatan Udara Abdurachman Saleh, Kabupaten Malang, Jawa Timur, Jumat (29/4).

Kepastian datangnya pesawat diketahui setelah pihak Markas Besar TNI AU melakukan tanda tangan Letter of Credit untuk pembelian total 16 unit pesawat. "Penanda tanganan LoC itu, termasuk masa pelatihan bagi mekanik dan penerbang kita," katanya.

Ia menjelaskan, kedatangan pesawat Super Tucano akan dilakukan secara bertahap dimulai awal 2012. "Nilai kontrak pembeliannya sekitar 260 juta dolar AS dan saat ini tugas kita adalah mempersiapkan sarana dan prasarana, termasuk fasilitas bangunan seperti shelter, hanggar dan ruangan kantor," katanya.


KSAU, Marsekal Imam Syufaat, saat kunjungan kerja ke Pangkalan TNI Angkatan Udara Abdurachman Saleh

Pesawat itu memiliki kemampuan yang paling unggul dibandingkan dengan pesawat sejenis lainnya. "Amerika saja memilih Super Tucano untuk memperkuat kekuatan udaranya, namun saat ini masih terkendala kebijakan politik negara tersebut," katanya.

Pemesanan pesawat ini dilakukan untuk mengganti pesawat jenis OV-10F Bronco yang pernah dimiliki Indonesia sebelum dinyatakan grounded pada tahun 2007.

"Rencananya, pesawat Super Tucano akan digunakan misi operasi taktis dalam membantu pasukan di darat, sebab pesawat ini memiliki keunggulan close air support udara ke darat dari jarak dekat," katanya.

Sumber : MEDIAINDONESIA.COM

Korpaskhas Mendapat NVG Baru dari Jerman

BANDUNG – Guna menunjang kelancaran tugas yang Korpaskhas-AU, di Gedung Simulator QW-3 Wing III Paskhas, para prajurit Korpaskhas yang berjumlah sekitar 30 orang yang berasal dari seluruh satuan, Jumat (29/4) selama satu hari, mendapat pelatihan penggunaan peralatan teropong malam baru jenis Paulson DNVG PM-1 di Lanud Sulaiman, Bandung.

Night vision google (NVG) produksi jerman ini baru pertama kali digunakan oleh satuan khusus TNI termasuk Korpaskhas, dan nantinya NVG PM-1 akan dioperasikan keseluruh satuan Paskhas termasuk Satuan Khusus Detasemen Bravo-90 (Denbravo Paskhas).



Prajurit Paskhas saat briefing dan hasil gambar dari DNVG yang diambil dr Youtube.

Menurut Asisten Logistik Korpaskhas Kolonel Tek Wahyu Laksito, alat NVG PM-1 ini selain lebih praktis dan efisien juga memiliki keunggulan dalam penggunaan maupun perawatannya. Salah satunya memiliki daya jangkau sekitar 150 meter dan hanya menggunakan satu batere lithium berdaya tahan lama serta perolehan gambar yang lebih jernih dan terang.

Berbeda dengan alat yang digunakan sebelumnya dimana hasil perolehan gambar berwarna kuning kehijau-hijauan, sedangkan alat ini memiliki hasil penglihatan Hitam Putih dengan hasil gambar tajam dan jernih.

Sumber : POSKOTA.CO.ID

Friday, April 29, 2011

KRI Oswald Siahaan-354 Reload Rudal Yakhont

SURABAYA - Kapal Perang KRI Oswald Siahaan-354 (KRI-OWA) melakukan loading dan unloading rudal Yakhont di Dermaga PT.PAL Indonesia Jum’at (29/4). Pengisian Rudal kedalam peluncurnya ini melibatkan personel KRI-OWA dan Dinas Materiil Senjata Dan Elektronika (Dissenlekal) Mabesal serta teknisi serta peralatan pendukung dari PT.PAL. FOTO: DISPENARMATIM




"Indonesian Observer Team" Terus Dipersiapkan



YOGYAKARTA - "Indonesian Observer Team" atau semacam pasukan perdamaian yang akan diberangkatkan untuk menengahi konflik perbatasan antara Kamboja dan Thailand masih terus digodok.

"Keberadaan tim tersebut harus benar-benar jelas, termasuk berapa titik, jumlah personel dan tingkat tanggung jawab yang harus diemban," kata Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro usai membuka ASEAN Defence Senior Officials Meeting (ADSOM) Plus di Yogyakarta, Jumat (29/4).

Konflik antara Kamboja dan Thailand tersebut terjadi di daerah perbatasan. Pascapecahnya konflik pertama, Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengarahkan agar konflik tersebut diselesaikan dalam keluarga besar ASEAN.

Indonesia sebagai ketua ASEAN telah melakukan pertemuan di Bogor, Jawa Barat untuk membahas pedoman penanganan, salah satunya mengirimkan pasukan perdamaian ke wilayah perbatasan.

Namun demikian, lanjut Purnomo, pengiriman pasukan perdamaian tersebut tidak dapat dilakukan apabila kedua belah pihak yang berseteru tidak menerima kehadiran pasukan perdamaian yang disebut "Indonesian Observer Team".

"Jika kedua negara yang berkonflik menolak, maka tim tidak bisa berada di sana," lanjutnya.

Purnomo menambahkan, konflik perbatasan antara Kamboja dan Thailand kini semakin melebar ke arah timur dengan jarak sekitar150 kilometer (km).

"Pelebaran konflik ini juga menjadi pembahasan dalam pedoman yang diajukan Indonesia. Apakah ke wilayah pelebaran konflik tersebut perlu ada pasukan. Jika perlu, maka jumlahnya harus ditambah," katanya.

Pertemuan antara panglima pasukan kedua negara, lanjut Purnomo juga menjadi salah satu langkah positif dalam upaya perdamaian antara kedua negara.

"Kami akan menunggu. Jika kedua negara menyepakati pedoman yang sudah dibuat, maka Indonesian Observer Team akan langsung berangkat," katanya.

Kerjasama Pertahanan RI-Kamboja

Ditempat yang sama Sekretaris Jenderal Kementerian Pertahanan Republik Indonesia (Sekjen Kemhan) Marsdya TNI Eris Herryanto, S.IP, MA, Rabu (27/4) lalu juga menerima Ketua Delegasi ADSOM dari Kamboja Lt. Gen Nem Sowath dalam Bilateral meeting kedua negara.

Dalam pertemuan tersebut, kedua delegasi membicarakan beberapa hal terkait dengan peningkatan kerjasama pertahanan antara kedua negara, secara khusus yaitu mengenai perkembangan pembuatan MoU kerjasama pertahanan kedua negara.

Ketua Delegasi Kamboja menyampaikan, bahwa draf dari MoU kerjasama pertahanan Indonesia-Kamboja yang dikirimkan Kementerian Pertahanan Republik Indonesia telah diterima Kementerian Pertahanan Kamboja. Konsep draf MoU yang diajukan oleh Indonesia tidak banyak perubahan, sehingga Kamboja berharap MoU tersebut dapat segera ditandatangi oleh Menhan kedua negara pada saat ADMM pada Mei 2011 mendatang.

Ketua Delegasi Kamboja menyampaikan harapannya bahwa melalui MoU tersebut diharapkan nantinya akan dapat lebih meningkatkan hubungan bilateral kedua negara khususnya hubungan kerjasama di bidang pertahanan.

Menanggapi hal tersebut Sekjen Kemhan RI mengatakan, bahwa MoU kerjasama pertahanan Indonesia-Kamboja ini sesungguhnya merupakan payung hukum dari kerjasama di bidang pertahanan yang selama ini dilaksanakan oleh kedua negara.

Kerjasama pertahanan kedua negara telah terjalin lama dan berlangsung dengan baik. Kerjasama pertahanan tersebut meliputi kerjasama di bidang pendidikan, latihan, dan saling kunjung mengungjungi antar pejabat pertahanan dari kedua negara.

Sekjen Kemhan lebih lanjut menyamapaikan, Indonesia melalui Kementerian Pertahanan akan segera menindaklajuti masukan-masukan dari Kamboja mengenai draf dari MoU tersebut, sehingga MoU tersebut dapat segera ditandatangani oleh Menhan dari kedua negara sebagaimana yang diharapkan oleh kedua negara.

Sumber : ANTARA/ DMC

Latihan Paspampres Dalam Rangka Pra-Tugas KTT ASEAN SUMMIT 2011

JAKARTA - Sejumlah personel Paspampres turun dari heli dalam latihan penanggulangan pengamanan VVIP dalam rangka pra-tugas KTT ASEAN SUMMIT di Jakarta Convention Center, Jakarta, Rabu (28/4). Dalam latihan ini ditampilkan pula simulasi tim Jihandak Paspampres dalam mengevakuasi bahan peledak. Latihan tersebut bertujuan untuk memelihara dan meningkatkan kemampuan Satgas Pam VVIP dalam melaksanakan pengamanan VVIP dalam rangka kesiapan pengamanan para kepala Negara dan Kepala Pemerintahan peserta KTT ASEAN ke 18 Tahun 2011. FOTO ANTARA/Fanny Octavianus/Spt/11.






Thursday, April 28, 2011

Lintas Medan Brigif-1 Marinir

SURABAYA - Sejumlah prajurit Korps Marinir dari Brigif-1 Marinir, mengikuti lintas medan (linmed), di wilayah Karangpilang Surabaya, Kamis (28/4). Linmed sejauh 20 Km yang diikuti sebanyak 750 prajurit Korps Marinir di jajaran Brigif-1 Marinir tersebut, dalam rangka Latihan Perorangan Dasar Brigif-1 Marinir. FOTO ANTARA/Eric Ireng/ss/mes/11



Ausindo Corpat II-2011

AMBON - Seorang personil Angkatan Laut Australia berjaga diatas kapal perang HMAS Ararat yang bersandar di Dermaga Lantamal Halong, Ambon, Maluku, Rabu (27/4). Patroli bersama TNI-AL & RAN ini di tutup Commander Northern Command Air Commodore Kenneth Noel Watson. Angkatan Laut Australia mengerahkan Kapal perang HMAS Ararat dan dua pesawat patroli tipe P3C Orion untuk melakukan patroli bersama dua kapal perang milik TNI-AL yakni KRI Sultan Nuku-873, KRI Sura-802 dan satu pesawat Cassa U-622 dengan sandi Australia-Indonesia Coordinat Patrol (Ausindo Corpat) II 2011 yang berakhir 27 April. FOTO ANTARA/Jimmy Ayal/Koz/hp/11.


Teknologi Hankam : INDRA dan ISRA Sang Pengintai

JAKARTA - Indonesia mestinya memiliki sistem pemantauan radar yang menjangkau seluruh wilayah mengingat sebagian besar berupa laut. Namun, sarana pengintai kapal penyusup itu hanya ada beberapa sehingga kita sering kecolongan. Membangun kemandirian dalam penyediaan fasilitas strategis itu dimulai Indonesia dengan menciptakan Indera dan Isra.

Wilayah Nusantara membujur sepanjang 6.000 kilometer lebih di antara Samudra Hindia dan Samudra Pasifik. Luasnya 5,18 juta km persegi dan 60 persen berupa laut. Sebagai negara maritim terluas di dunia, Indonesia tentu memerlukan radar pengawas pesisir dan kapal patroli dilengkapi radar navigasi dan penjejak.

Data dari Direktorat Jenderal Perhubungan menyebutkan, hanya ada 11 sistem vessel traffic service (VTS). Bila melihat lokasi VTS, sebagian besar berada di kawasan barat Indonesia, sedangkan kawasan tengah dan timur belum termonitor. Untuk menutup daerah kosong itu, Kementerian Perhubungan akan menambah 47 radar VTS dalam beberapa tahun mendatang.

Penambahan itu belum mencukupi. Idealnya, menurut Hari Purwanto, Staf Ahli Menteri Riset dan Teknologi bidang Pertahanan dan Keamanan (Hankam), diperlukan ratusan radar pantai untuk tujuan hankam.

Kurangnya sarana pemantau membuat Indonesia rawan dari praktik ilegal, seperti pencurian ikan, penyelundupan, dan pelanggaran batas wilayah perairan oleh kapal asing.

Ruang udara kita juga rawan pelanggaran oleh pesawat asing, baik sipil maupun militer. ”Setengah ruang udara di atas Indonesia belum terpantau radar,” kata Timbul Siahaan, Staf Ahli Menteri Pertahanan bidang Teknologi dan Industri.

”Perlu upaya sungguh-sungguh mengatasi dan mandiri dalam penguasaan teknologi radar hingga penerapan,” kata Hari.

Prioritas

Sebagai teknologi yang berbasis pada teknologi telekomunikasi dan elektronika, radio detection and ranging (radar) telah lama digunakan sebagai pendeteksi dan pengukuran jarak suatu obyek dengan menggunakan gelombang elektromagnet, khususnya gelombang radio.

Antena pemancar radar akan memancarkan gelombang radio, lalu pantulannya pada suatu obyek ditangkap antena penerima radar. Dengan demikian, jarak obyek dapat diketahui.

Teknologi radar terus dikembangkan kapasitas jangkauan dan aplikasinya. Semula untuk keperluan militer, kemudian masuk ke sektor sipil, yaitu memantau lalu lintas kapal dan penerbangan. Selain itu, juga untuk mengamati kondisi cuaca dan pemetaan.

Penelitian dan pengembangan hingga penerapan teknologi radar di Indonesia ditetapkan sebagai program prioritas bidang industri hankam. Hal ini diungkapkan Menteri Riset dan Teknologi Suharna Surapranata dalam Seminar Radar Nasional V 2011 yang diadakan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) di Jakarta, pekan lalu.

Untuk itu akan dibentuk konsorsium yang menghimpun semua pihak, termasuk berkontribusi dalam pembiayaan. Kementerian Riset dan Teknologi tahun lalu mengalokasikan anggaran Rp 20 miliar, di antaranya penelitian dan pengembangan radar yang dilakukan LIPI.

Isra dan Indera

Tahun lalu LIPI menghasilkan prototipe radar Isra (Indonesian Surveilance Radar) yang terpasang di Anyer, Banten, untuk memantau lalu lintas kapal di Selat Sunda. Prototipe yang dibuat PT Inti itu merupakan karya bersama LIPI dengan ITB dan International Research Centre for Telecomunication and Radar, Technological University Delft, Belanda.

Selain itu, ada radar untuk navigasi kapal yang dibuat oleh swasta nasional, yaitu RCS (Radar & Communication System) Solusi 247. Radar yang disebut Indera (Indonesian Radar) ini diuji coba, Kamis (21/4), oleh TNI AL di dua KRI.



Menurut Andaya Lestari, Kepala Divisi RCS, dibandingkan radar maritim yang umumnya menggunakan teknologi pulsa berdaya hingga 15 kilowatt, Indera menggunakan sistem FMCW (frequency modulation-continuos wave) berkapasitas 2 watt. Karena itu, keberadaan kapal sulit terdeteksi sehingga menunjang operasi pengintaian.

Bila uji coba berhasil, radar itu dapat diproduksi untuk memenuhi kebutuhan hankam dalam negeri. Paling tidak 60 kapal perang di Indonesia dapat dilengkapi dengan Indera.

Menurut Ketua Asosiasi Radar Indonesia Mashuri yang juga Kepala Bidang Telekomunikasi Pusat Penelitian Elektronika dan Telekomunikasi LIPI, radar yang umum digunakan di Indonesia adalah radar yang menggunakan sinyal pulsa seperti sinyal digital. Sistem radar pulsa menggunakan satu antena untuk memancarkan dan menerima sinyal secara bergantian.

Selain itu, dikembangkan pula radar gelombang kontinu (continuous wave/CW). Radar ini menggunakan dua antena untuk radar pemancar dan penerima. Ada pula radar Doppler untuk menjejak atau melacak kecepatan pergerakan obyek.

Program Radar Nasional tahap pertama akan berlangsung hingga tahun 2014 untuk menghasilkan satu prototipe generasi baru, antara lain model PSR (Primary Surveillance Radar) untuk mendeteksi dini sasaran, prototipe material, dan komponen peralatan radar. Teknologi radar terus dikembangkan, antara lain untuk membuat radar senjata (radar penjejak optoelektronika) serta pemantauan lalu lintas laut dan udara.

Sumber : KOMPAS

Monday, April 25, 2011

Latihan Pertahanan Udara di Lanud Sultan Iskandar Muda

BLANGBINTANG - Pesawat tempur jenis HAWK 100/200 diperiksa para teknisi mesin sebelum melakukan latihan pertahanan udara dan tampak juga pesawat yang mendarat usai latihan pertahanan udara di angkasa Lanud Sultan Iskandar Muda, Blang Bintang, Kabupaten Aceh Besar, Provinsi Aceh, Senin (25/4). TNI AU mengerahkan empat pesawat tempur jenis HAWK 100/200 dalam latihan tempur dan sekaligus patroli udara di wilayah pantai barat dan timur provinsi Aceh. FOTO ANTARA/Ampelsa/ss/ama/11



Menhan Resmikan Kapal Patroli Cepat Rudal, KRI Clurit

BATAM - Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro meresmikan Kapal Cepat Rudal (KCR) KRI Clurit yang memiliki panjang 40 meter, buatan putera-puteri Indonesia yang akan menambah armada mengamankan perairan Indonesia bagian barat.

"Dengan ini saya resmikan KRI Celurit," kata Menteri dalam upacara persemian KRI Clurit di Pelabuhan Kargo Batu Ampar Batam, Senin (25/4).

Menhan mengatakan KRI Clurit jenis kapal patroli cepat ber-rudal yang dirancang dan dibangun anak bangsa yang bekerja di PT Palindo Marine, Batam. Peluncuran KRI Clurit, kata dia, merupakan jawaban atas rasa tanggungjawab menjaga laut NKRI yang memiliki kekayaan sumber daya alam yang tinggi.

Apalagi, kata dia, selain memiliki kandungan SDA yang tinggi banyak alur perairan NKRI menjadi alur perdagangan internasional. "Ini sebagai mile stone menuju kemandirian indusri pertahanan," kata Menteri.

Ia mengatakan produksi alutsista tidak akan berhenti pada KCR. Pemerintah akan terus melengkapi persenjataan TNI dengan beberapa kapal perang jenis lain. "Selanjutnya, kita akan buat kapal perusak dan kapal selam" ujarnya.



KRI Clurit-641

TNI AL, kata Menhan membutuhkan kapal yang kuat dan cepat agar mampu hadir dan mengamankan perairan di laut Indonesia yang luas. Dikesempatan yang sama Panglima TNI Laksamana TNI Agus Suhartono mengatakan TNI AL saat ini baru memesan dua KCR-40, dan berencana memesan 20 kapal lagi dengan varian berbeda.

KCR-40 akan beroperasi di wilayah Indonesia bagian barat, disesuaikan dengan kondisi geografis yang dikelilingi pulau-pulau dan selat. Kapal pertama yang diproduksi PT Palindo Marine ini dinamakan KRI Clurit, karena seluruh kapal patroli cepat TNI AL mengambil filosofi senjata tradisional nusantara.

Sumber : ANTARA

Sunday, April 24, 2011

Kapal Perang Thailand Sandar di Pelabuhan Benoa, Bali

DENPASAR - Beberapa kadet Angkatan Laut Thailand merapatkan dua kapal perangnya yaitu HTMS Taksin (kanan) dan HTMS Saiburi (kiri) di Pelabuhan Benoa, Bali, Jumat (22/4). Kedua kapal perang itu membawa 260 personel Angkatan Laut Thailand dan 250 siswa dari "Royal Thailand Naval Academy" untuk lebih mempererat hubungan kerjasama Thailand-Indonesia. FOTO ANTARA/Nyoman Budhiana/ss/mes/11.



Peran Perbekalan dan Uji tembak Meriam

LAUT JAWA - KRI Sultan Hasanudin-366 mendekati KRI Oswald Siahaan-354 untuk latihan Peran Perbekalan, di Laut Jawa, Jumat (22/4). Peran Perbekalan yang dilakukan antar kapal perang tersebut, dalam rangka latihan tempur laut Operasi Jala Perkasa. FOTO ANTARA/Eric Ireng/Koz/pras/11.





Thursday, April 21, 2011

Enam Senjata Strategis TNI AL Sukses di Ujicoba

BENGKULU - TNI Angkatan Laut sukses melakukan uji coba enam senjata strategis di Samudera Hindia atau sebelah barat Selat Sunda, Rabu (20/4).

Kepala Pusat Penerangan (Kapuspen) Mabes TNI, Laksamana Muda Iskandar Sitompul, mengatakan, uji coba beberapa senjata strategis itu merupakan upaya TNI menjaga kedaulatan dan tegaknya NKRI. "TNI AL sebagai salah satu pertahanan negara dituntut berperan aktif dalam menjaga dan mempertahankan kedaulatan negara," katanya.

Enam senjata strategis tersebut diantaranya : rudal Yakhont, Exocet MM-40, Torpedo SUT, Mistral, Seacat dan RBU 6000. Rudal Yakhont ditembakkan dari Fregat Van Speijk class KRI Oswald Siahaan-354 sukses ditembak menuju sasaran yang berjarak 250Km yakni eks kapal perang KRI Teluk Bayur-502. Rudal Yakhont yang ditembakkan merupakan salah satu dari empat rudal yang dibawa KRI Oswald Siahaan-354.

Sedangkan, rudal Exocet MM-40 dan rudal penangkis serangan udara Mistral ditembakkan dari Korvet Sigma class KRI Hassanuddin-366 dan torpedo SUT ditembakkan dari kapal selam kelas 209 KRI Cakra-402. Untuk rudal anti pesawat Seacat ditembakkan dari KRI Karel Satsuit Tubun-358 dan KRI Oswald Siahaan-354. Roket anti-sub-mortar RBU 6000 ditembakkan dari Korvet Parchim class KRI Cut Nyak Dien-375.

"Kapal yang menjadi sasaran telah berhasil dihancurkan dan tenggelam," ungkap Kapuspen. Diungkapkan alasan dibelinya rudal Yakhont dari Rusia, karena berdasarkan kajian rudal Yakhont ini memenuhi standar geografi di Indonesia. "Beberapa rudal sudah kita beli," katanya yang enggan menyebutkan jumlah rudal yang dibeli.



Suasana di Pusat Informasi Tempur, sesaat sebelum dan sesudah peluncuran rudal dan luapan kegembiraan awak kapal saat rudal Yakhont berhasil mengenai sasaran di Samudra Hindia.

Komandan Gugus Tugas Senjata Strategis TNI AL, Laksamana Pertama TNI Sulaeman Banjarnahor, mengatakan, dalam uji tembak tersebut rudal Yakhont hanya membutuhkan waktu sekitar enam menit mencapai sasaran. Sulaeman mengatakan, TNI AL melibatkan sekitar 19 kapal perang dan empat unit helikopter untuk melakukan uji coba itu.

Menurut dia, rudal Yakhont sebenarnya sudah dimiliki sejak tahun 2007, namun TNI AL baru bisa melakukan uji coba kali ini karena untuk mengintegrasikan sistem kapal dengan rudal membutuhkan waktu yang lama.

Rombongan VIP Batal Menyaksikan

Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro, Menko Polhukam Djoko Suyanto, Panglima TNI Laksamana TNI Agus Suhartono dan tiga kepala staf angkatan serta sejumlah anggota DPR dari Komisi I batal menyaksikan uji coba enam senjata strategis di Samudera Hindia atau sebelah barat Selat Sunda.

Rencananya rombongan VIP yang di angkut menggunakan dua helikopter ini bakal mendarat di Helipad KRI Surabaya-591 yang telah disiapkan sejak Rabu pagi, namun hingga pukul 10.40 WIB yang bersamaan dengan proses peluncuran rudal rombongan VIP tak kunjung datang.

Kepala Pusat Penerangan (Kapuspen) Mabes TNI Laksamana Muda TNI, Iskandar Sitompul, membenarkan ketidakhadiran para petinggi TNI tersebut. "Kedatangan pejabat dan petinggi TNI sudah direncanakan dengan baik, helikopter yang membawanya dari Jakarta sebenarnya sudah setengah perjalanan menuju Samudera Hindia, namun karena cuaca buruk rombongan akhirnya kembali lagi ke Jakarta," katanya. Rombongan VIP tersebut terbang dari Bandara Halim Perdanakusuma.

Sumber : ANTARA

TNI AL Sukses Memodifikasi Rudal SAM Seacat

SELAT SUNDA - Sebuah Rudal anti pesawat (SAM) Seacat yang sudah dimodifikasi milik TNI AL, ditembakkan dari buritan KRI Oswald Siahaan-354 (KRI OWA-354), saat berlayar di Selat Sunda, Selasa (19/4). Rudal seacat adalah jenis rudal anti pesawat jarak pendek buatan Inggris. Di Inggris pembuatan rudal ini dimaksudkan untuk mengganti meriam anti pesawat Bofors 40mm, dan seacat menjadi rudal SAM pertama yang dioperasikan dikapal sebagai point-defence missile system. Rudal Seacat memiliki spesifikasi kecepatan tembak 228,60 m per detik, panjang 154,8 Cm dan jarak tembak maksimum 5 Km tersebut, dalam rangka Operasi Jala Perkasa.FOTO ANTARA/Eric Ireng/spt/hm/11

Formasi Tempur Laut Korvet Kelas Parchim TNI AL

JAKARTA - KRI Imam Bonjol menembakkkan roket anti kapal selam jenis RBU 6000, Rabu (20/4). Latihan formasi tempur laut tersebut bertujuan meningkatkan profesionalisme dan kesiapan operasional Alutsista serta mengetahui kehandalan, tingkat akurasi perkenaan sasaran dan daya hancur. FOTO ANTARA/Yudhi Mahatma/spt/11



Uji Tembak Rudal Yakhont Sukses dilaksanakan

BANTEN - Foto-foto uji tembak rudal Yakhont dari KRI Oswald Siahaan-354 dan rudal-rudal lainnya di perairan Samudra Hindia, Rabu (20/4). Rudal Yakhont buatan Rusia ini menembak sasaran eks-KRI Teluk Bayur-502 dengan jarak 135 mil laut (250km) di Perairan Samudera Hindia, sebelah barat Sumatera. Yakhont mempunyai jangkauan tembak 300 km dengan kecepatan terbang 2,5 mach, daya ledak 300 kg , ketinggian terbang 14000 meter serta dilengkapi dengan peralatan pendorong supersonic ramjet. FOTO ANTARA/Prasetyo Utomo/spt/11