Wednesday, January 26, 2011

KSAL: Rudal Yakhont Sudah Dipasang Di 16 KRI

Uji Tembak Februari 2011

JAKARTA - TNI Angkatan Laut akan menguji sejumlah persenjataan strategisnya. Seperti peluru kendali untuk memastikan kesiapan alat utama sistem persenjataan dan personel matra laut dalam mengantisipasi berbagai ancaman sesuai perkembangan lingkungan strategis yang terjadi.

"Uji persenjataan itu dimaksudkan untuk meningkatkan manajemen pemeliharaan, perawatan, perbaikan yang efektif guna mencapai kesiapsiagaan yang optimal," kata Kepala Staf TNI Angkatan Laut (Kasal) Laksamana TNI Soeparno di sela-sela rapat Pimpinan TNI Angkatan Laut (KSAL) 2011 di Jakarta, Selasa (25/1).

Ia menambahkan, salah satu persenjataan strategis yang akan diuji adalah peluru kendali Yakhont buatan Rusia. Beberapa kehandalan Yakhont yang tidak dimiliki rudal antipermukaan TNI-AL sebelumnya adalah Yakhont mempunyai kecepatan maksimum hingga 2,5 Mach. Ditambah lagi Yakhont punya jangkauan tembak sangat jauh, tak tanggung-tanggung 300 kilometer.

"Dua kemampuan tadi yang hingga kini belum dimiliki jajaran rudal antikapal TNI-AL. Yakhont dapat ditembakan dari Surabaya ke sasaran di Yogyakarta," ungkap Kasal.

Seperti diketahui TNI-AL mempunyai rudal Exocet MM30/40, Harpoon dan C802. Tapi di balik itu, Yakhont mempunyai bobot dan dimensi yang terbilang bongsor di kelasnya. Harga satu unit Yakhont ditaksir sekitar 1,2 juta dolar AS.


TNI AL saat menguji coba rudal C-802

Saat ini 16 KRI sudah dipasang rudal Yakhont yaitu enam pada kapal jenis fregat dan 10 di kapal perang Korvet. Masing-masing Fregat dipasang delapan unit Yakhont, sedangkan Korvet sebanyak empat unit. Pemasangan dilakukan sepenuhnya oleh PT PAL Surabaya.

KSAL menambahkan, sasaran tembak dari uji coba sejumlah persenjataan strategis itu adalah kapal perang yang tidak lagi digunakan. Uji coba akan dilaksanakan di Samudra Indonesia pada Februari.

Kapal Selam Belum Diputuskan

Pada kesempatan yang sama, KSAL mengatakan, pihaknya masih menunggu keputusan Kementerian Pertahanan terkait pengadaan dua kapal selam baru yang telah direncanakan sejak lama.

"Kita telah menyampaikan spesifikasi teknik dan spesifikasi operasional kapal selam yang kami butuhkan. Sekarang prosesnya masih di Kementerian Pertahanan. Di sana akan dibahas lagi di Tim Evaluasi Pengadaan yang akan menentukan kapal selam jenis apa yang akan dibeli dan digunakan TNI Angkatan Laut. Apapun yang diberikan kami terima," kata Soeparno.

Pengadaan dua unit kapal selam itu dibiayai fasilitas Kredit Ekspor (KE) senilai 700 juta dolar Amerika Serikat, yang diperoleh dari fasilitas pinjaman luar negeri di Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tahun 2004-2009.

"Kami sudah tentukan spesifikasi teknisnya, serta kemampuan dan efek penggentar yang lebih dari yang dimiliki negara tetangga," kata KSAL.

Pada tender pertama, dari empat negara produsen kapal selam yang mengajukan tawaran produk mereka, seperti Jerman, Prancis, Korea Selatan, dan Rusia, TNI Angkatan Laut telah menetapkan dua negara produsen sesuai kebutuhan yaitu Korea Selatan dan Rusia.

Rencananya, dari dua pilihan itu akan diuji kembali, mana spesifikasi kapal selam yang sesuai dengan kebutuhan TNI Angkatan Laut oleh Kementerian Pertahanan.

Sumber : METROTVNEWS.COM

9 comments:

Anonymous said...

Saya tidak yakin kalau 16 KRI dipasangi Yakhont.Mungkin informasi yang sebenarnya sudah 16 unit Yakhont dipasangi di KRI.

Aris Dharmawan said...

6 Fregat - pasti kelas Van Speijk (KRI Achmad Yani)
10 Corvette - 4 Sigma, 3 Fatahilah, lha yang 3 lagi yang mana ya? apa dipasang juga di KRI Hajar Dewantara? trus, 2 lagi kemana?

Anonymous said...

coba di tembakan dari pelabuhan batam bisa nyampe ke Kapal2 angk laut Malaysia gak? kalo bisa keren tuh, jadi gak usah jauh2 kalo mau nyegat kapal yang mau masuk

Ahmad Yani said...
This comment has been removed by the author.
cepek deh said...

ya mending pake Tomahawk kkan katanya cm 1 jt USD perbijinya, lebih cepat lebih akuran udah kebukti di irak ma libya,.....ngapain pake nyahok speed nya cm 2,5 mac harga 1,2 Jt Usd,....
hmmm....... korup lg deh cape deeeeh

Anonymous said...

weks ingat2 embargo bro dari USA... jangan asal2 sekarang aja F16 masih di embargo suku cadang dan persenjataan. Kongress AS masih memberlakukan embargo untuk senjata2 mematikan ke Indonesia. jadi gak mungkin memesan tomahawk. T-50 korea aja gak bisa di beli karna embargo, soalnya tech dan mesinnya dari USA.

Anton Bahrul Alam said...

@ Anonymous: seperti dikatakan di artikel, 1 fregat dipasang 8 rudal Yakhont, 1 korvet dipasang 4, berarti mustahil total cuma ada 16 rudal yang dipasang. Kl gt cuma dapat 1 fregat dan 2 korvet dong yang dipasangi Yakhont.
@ cepek deh: bung, Tomahawk itu rudal jelajah subsonic alias kecepatannya dibawah 1 mach. Jadi tidak betul dia lebih cepat dari Yakhont. Kedua, Yakhont itu masuk kategori rudal anti kapal, sedangkan Tomahawk itu cruise missile jadi fungsi asasinya beda. Ketiga, ngimpi kali yee US Congress bakal ngizinin kita beli Tomahawk :D

Anonymous said...

Biarin tetangga hanya bisa mengira-ngira berapa yakhont yang kita punya... jangan malah kita yang ngebuka infonya..... :)

Hanif sakala said...

Biarkan amerika mengembargo qt tpi suatu saat BATAN akan memproduksi rudal yg lbh dahsyat dri tomhwk,
Tdk ad yg tdk mungkin klo ad usha!