Monday, June 22, 2009

Siasat Memperpanjang Usia Alutsista Tua



Hanya seperempat pesawat TNI yang bisa digunakan. Suku cadang kelas dua pun jadilah.

Helikopter itu terbang membubung, lalu mulai berputar mengelilingi landasan. Suara mesinnya menderu-deru, ditingkahi bunyi baling-baling memotong angin. Mendadak, suara mesin senyap. Dalam hitungan detik, hidung heli menukik turun. Tak lama, sebuah dentuman besar menandai terempasnya helikopter Puma 3306 TNI Angkatan Udara, di Landasan Udara Atang Sendjaja, Bogor, Jumat dua pekan lalu. ”Apinya baru padam setelah 15 menit,” kata Salman, 60 tahun, petani di Bojong yang melihat langsung peristiwa na-has itu.

Kecelakaan itu menambah deretan panjang pesawat, helikopter, dan peralatan tempur Tentara Nasional Indonesia yang rusak saat digunakan dalam latihan militer. Tak sampai seminggu sebelumnya, sebuah helikopter Bolkow BO-105 TNI Angkatan Darat juga jatuh di Pagelaran, Cianjur, Jawa Barat. ”Saat itu cuaca berkabut dan hujan deras,” kata Kepala Dinas Penerangan TNI-AD, Brigadir Jenderal TNI Christian Zebua.

Prihatin atas serentetan peristiwa kelam itu, Istana lantas bertindak. Awal Juni lalu, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono membentuk tim audit peralatan militer TNI. Tim yang terdiri atas para inspektur jenderal di Departemen Pertahanan dan angkatan-angkatan TNI ini akan mengevaluasi manajemen perawatan peralatan dan pengelolaan anggaran militer. ”Audit diharapkan selesai akhir Juli,” kata Menteri Pertahanan Juwono Sudarsono.

Teknisi Berkualitas

LIMA pesawat Hercules C-130 diparkir berjajar di hanggar Skuadron 32, Landasan Udara Abdulrachman Saleh, Malang, Jawa Timur, Rabu pekan lalu. Pesawat angkut andalan TNI ini baru saja melalui proses perawatan berkala. ”Sebelum dan sesudah terbang pun, pesawat menjalani pemeriksaan reguler,” kata kepala penerangan di landasan udara itu, Mayor Wahyudi.

Landasan Udara Abdulrachman Saleh kini ditempati lima pesawat Hercules dan dua pesawat Cassa C 212. Enam pesawat Cassa lainnya serta sejumlah pesawat OV-10 Bronco sudah tidak laik terbang. Semua pesawat di sana hanya bisa digunakan untuk operasi dan latihan militer, serta penanganan bencana alam.

Pesawat yang masih laik terbang menjalani perawatan berkala di skuadron teknik khusus yang ada di pangkalan itu. Jika ada pesawat yang membutuhkan perbaikan berskala menengah sampai besar, penanganan teknis diserahkan ke unit depo pemeliharaan, yang lokasinya sekitar 1 kilometer dari skuadron. Depo ini ada di bawah Komando Pemeliharaan Material TNI Angkatan Udara.


Sebagian besar teknisi di Koharmatau mendapatkan lisensi pendidikan luar negeri

Depo ini memiliki beberapa unit khusus. Ada yang menangani mesin pesawat Cassa, Hercules, dan Hawk saja. Ada unit yang hanya merawat aspek kelistrikan dan alat penerbangan. Dan ada bagian yang fokus merawat rangka dan bodi pesawat. Semua teknisi diseleksi ketat. ”Mereka punya lisensi, dan dilatih secara berkelanjutan dan berjenjang,” kata Wahyudi. Tak hanya itu, para staf perawatan alat militer ini juga disumpah untuk serius mengerjakan tugasnya.

Kondisi di Landasan Udara TNI-AU Atang Sendjaja, Bogor, Jawa Barat tak jauh beda. Landasan ini memiliki skuadron teknik khusus yang menangani perawatan peralatan militer. Skuadron itu dibentuk pada September 1966 dan bertanggung jawab atas perawatan belasan helikopter Super Puma yang bermarkas di Atang Sendjaja.

Sebagian besar staf perawatannya mendapat pendidikan khusus di luar negeri. Ada yang lulusan kursus Royal Australian Air Force di Fairbairn Base, Australia, untuk pemeliharaan helikopter jenis Bell-204B. Ada yang belajar ke Helly Orient Pty., sebuah unit perawatan dan pemeliharaan heli dan pesawat di Singapura.

Pendidikan mutakhir juga didapat para staf dan teknisi dari Aerospatiale, perusahaan pembuat helikopter di Paris, Prancis. Pelatihan ini adalah paket dari pembelian sejumlah pesawat terbang dan helikopter—termasuk helikopter tipe SA-330J/L Puma—yang diproduksi negara itu, pada akhir 1970-an. ”Jadi, dari segi kualitas teknisi, tidak ada masalah,” kata Wahyudi.

Suku Cadang Asli Tapi Palsu

Meski sekilas ”aman-terkendali”, sumber Tempo di TNI punya cerita lain. Dia menegaskan bahwa pengadaan suku cadang pesawat di Landasan Udara Abdulrachman Saleh kerap bermasalah. Pemicunya adalah kenaikan harga suku cadang asli pesawat. ”Akhirnya, kita pesan suku cadang asli-palsu buatan Cina,” katanya. Hampir semua komponen pesawat, kata dia, punya versi tiruan yang harganya lebih murah.

Di Bogor, masalah serupa muncul pada awal 2000-an, ketika pabrik Aerospatiale berhenti memproduksi suku cadang dan mesin Puma SA-330. Otomatis, kerusakan sedikit saja bisa membuat heli TNI-AU di sana parkir selamanya. Para teknisi Atang Sendjaja pun terpaksa pijat kening mencari solusi yang realistis.

Pada 2003, proses ”kawin silang” antar-helikopter di Atang Sendjaja pun dimulai. Tiga mesin heli yang sudah tua dan tidak diproduksi lagi diganti dengan mesin baru dari helikopter Super Puma AS-332. Tak hanya ganti mesin, ”kawin silang” ini memodifikasi sistem penerbangan, alat bantu navigasi, sampai memperbarui persenjataan. Saat Tempo berniat melihat langsung fasilitas perawatan pesawat dan helikopter di sana, kepala penerangan lapangan udara itu, Mayor Sus M.I. Adam, melarang. ”Harus ada izin dari Markas Besar TNI,” katanya.


Cockpit C-130 Hercules. Dari 23 unit hanya 10 pesawat hercules yang laik terbang.

Komandan Pemeliharaan Material TNI Angkatan Udara Marsekal Muda Sumaryo H.W. mengakui dibutuhkan sedikitnya Rp 1,6 triliun untuk perbaikan semua pesawat Hercules TNI. Jumlah itu bagai langit dan bumi jika dibandingkan dengan ketersediaan dana perawatan Hercules saat ini yang hanya Rp 100 miliar. Akibatnya, dari total jumlah Hercules TNI saat ini sebanyak 23 unit, hanya 10 pesawat yang laik terbang. ”Sisa yang 10 ini pun tidak 100 persen laik,” katanya, akhir Mei lalu. Idealnya, menurut Sumaryo, biaya perawatan satu pesawat Hercules dianggarkan Rp 80 miliar.

Namun, bantahan datang dari Markas Besar. ”Masalah kecelakaan ini tidak ada kaitannya dengan anggaran,” sergah juru bicara Markas Besar TNI Marsekal Muda Sagom Tamboen. Anggaran besar, kata dia, bukan jaminan tak ada kecelakaan. Panglima TNI Jenderal Djoko Santoso juga menolak tuduhan ada penyimpangan dalam pengadaan dan penggantian suku cadang peralatan TNI. ”Saat melakukan pemeliharaan, sebelum penggantian atau pengadaan suku cadang, selalu ada tim komisi untuk mengecek kesesuaian suku cadang,” kata Djoko, pekan lalu.

Anggaran TNI saat ini hanya Rp 33 triliun, dari pengajuan semula sebesar Rp 127 triliun. Sebanyak 70 persen dari dana itu digunakan untuk membayar gaji prajurit dan staf, dan baru sisanya untuk pembelian dan perawatan peralatan militer. Pengadaan peralatan baru jelas butuh biaya besar, sehingga dana untuk perawatan pun makin kecil. ”Beli satu pesawat Sukhoi saja sudah berapa duit itu?” kata Sagom Tamboen. Dengan anggaran yang tersedia sekarang, Sagom memperkirakan hanya seperempat pesawat dan helikopter TNI yang laik terbang.

Untuk menyiasati kondisi itu, pesawat yang ada diterbangkan bergiliran. ”Kami buat prioritas,” kata Sagom. Ini penting agar pesawat yang terlalu lama diparkir di hanggar tak berubah jadi besi tua. ”Jika tidak diterbangkan, bisa rusak semua,” katanya.

Sumber : MAJALAH TEMPO

No comments: