Friday, March 27, 2009

Sekilas Tentang Kekuatan Tentera Laut Diraja Malaysia (TLDM)


Meko-100 TLDM

Awal terbentuknya Tentera Laut Diraja Malaysia (TLDM) adalah satuan kecil para sukarelawan yang direkrut pemerintah kolonial Inggris untuk melakukan patroli keamanan di perairan sekitar Semenanjung Malaya.

Sempat beberapa kali berganti nama, keberadaan TLDM kini patut di-perhitungkan karena ia telah menjelma sebagai satu kekuatan bahari militer yang maju. Bermodalkan belasan kapal perang berteknologi nan canggih, negara kesultanan kaya kelapa sawit ini ikut mengendalikan lalu lintas kapal di Selat Malaka dan sebagian Selat Singapura yang merupakan salah satu jalur niaga bahari cukup penting.

Wilayah operasi TLDM kini tak hanya di sekitar Semenanjung Malaya, namun telah merambah ke kawasan utara Pulau Kalimantan di mana negeri jiran ini memiliki banyak ‘kepentingan nasional’.

Sama halnya dengan program pengadaan Korvet Nasional TNI-AL yang mengadopsi korvet Sigma, Malaysia pun melakukan hal yang sama dengan mengadopsi Meko-100 buatan Jerman. Bergabungnya beberapa kapal perang tipe Meko-100 buatan Jerman ini yang juga telah mampu dibangun digalangan kapal dalam negeri membuat TLDM selangkah lebih maju dalam pengembangan kapal perangnya.

Belum lagi kekuatan kapal selam kelas Scorpene asal DCNS-Perancis, membuat TLDM semakin berniat mendominasi dinamika kehidupan perairan di sekitar Selat Malaka dan Laut China Selatan.


Awak kapal selam Scorpene TLDM

Perlahan namun pasti, kemampuan operasional TLDM kabarnya juga telah meningkat pesat. Dari semula hanya mampu berkiprah di perairan dangkal (brown water navy), kini jadi kekuatan laut yang bisa malang melintang di samudera (blue ocean navy).

Kekuatan saat ini dan masa depan

Pada dekade 1980-an, TLDM membeli empat korvet kelas Laksamana buatan Italia. Semula keempat kapal itu milik Irak, tapi batal dikirim karena negara itu diembargo senjata. Tak lama berselang, menyusul bergabung dua frigat kelas Lekiu.

Disainnya mengacu kepada frigat kelas Yarrow F2000 yang berbobot mati 2.300 ton dan dipersenjatai rudal permukaan ke permukaan Exocet MM40 II, rudal anti pesawat tempur yang dilun-curkan secara vertikal (VLS) Sea Wolf plus helikopter Super Lynx. Sebagai pelengkap, TLDM juga mengadopsi dua kapal frigat kelas Kasturi buatan Jerman.

Saat masa pakainya hampir habis, seluruh kapal perang ini dan sepasang kapal penyapu ranjau kelas Mahameru diremajakan lewat Program Perpan-jangan Masa Pakai (Service Life Extension Program – SLEP). Divisi bahari pabrikan senjata terkemuka Perancis, Thales, ditunjuk selaku pelaksananya. Usai diremajakan, seluruh kapal perang ini masih dapat berdinas hingga 10 tahun ke depan.

Untuk menyangga kemampuan operasinya, TLDM menambah jumlah armada frigat kelas Lekiu sebanyak dua kapal. Pada keduanya dipasang teknologi perang bahari terkini yang ada di kapal perusak kelas T45.


Scorpene TLDM

Selain itu, TLDM tetap mengagendakan pembelian satu kapal selam Diesel electrik kelas Scorpene (sebagai pelengkap kapal selam sekelas KD Tunku Abdul Rahman yang telah lebih dulu tiba), plus 27 kapal patroli generasi baru (New Generation Patrol Vessel – NGPV) kelas Kedah serta beberapa pesawat patroli bahari. Dua di antara ke 27 NGPV kelas Kedah telah dite-rima TLDM pada pertengahan 2006 (KD Kedah dan KD Pahang).

Sementara dua kapal sekelas lainnya, KD Perak dan KD Treng-ganu, diharapkan dapat diterima TLDM akhir 2009. Tentera Laut Diraja Malaysia berharap pada 2020 mereka telah memiliki enam kapal untuk tiap jenis kapal kombatan yang sekarang ada di gudang senjatanya.

Dalam rangka memenuhi kebu-tuhan akan pesawat terbang yang mampu mengemban misi patroli bahari jarak jauh, TLDM mengan-dalkan empat pesawat patroli bahari Beechcraft B200 T milik Tentera Udara Diraja Malaysia. Akibat keterbatasan anggaran, hingga kini belum terdengar kabar bahwa TLDM akan memiliki pesawat patroli baharinya sendiri.

Empat kapal kombatan TLDM yang kinerjanya dianggap sudah tidak lagi memenuhi nilai baku operasional dihibahkan kepada Badan Pengawas Bahari Malaysia (MMEA). Masing-masing dua kapal patroli lepas pantai kelas Musytari (KD Musytari (160) dan KD Marikh (161)) serta dua kapal patroli kelas Keris (KD Lembing (P40) dan KD Sri Melaka (P3147)). ©alutsista, dikutip dari Majalah Cakrawala

3 comments:

muhammad said...

sayang sekali, terlalu banyak kesilapan teknikal di dalam artikel ini, lebih2 lg ia dikeluarkan oleh sebuah majalah. Ia menunjukkan ketidaktelitian dalam melakukan kajian, yang tidak seharusnya berlaku

Kapal kelas Laksamana diperolehi bukan pada tahun 80-an, sebaliknya kontrak pertama pembelian adalah pada tahun 1996 - 2 kapal pertama dimodifikasi mengikut kehendak TLDM serta di refurbished oleh Fincantieri (disusuli dgn 2 kapal berikutnya).

Berhubung SLEP, hanya MCMV serta korvet kelas Kasturi yang terlibat. Penggantian sensors (antaranya pemasangan TSM 2022 Mk III sonar) serta ECA Olister (UUV) adalah antara naiktaraf buat ke empat2 kapal MCMV kelas Mahamiru (Lerici). Manakala bg 2 kapal kelas Kasturi, penggantian MM38 kpd MM40 Exocet, penggantian sensors/EW serta sonar baru telah dilaksanakan.

muhammad said...

Saudara,
Dgn perasaan ikhlas, izinkan saya utk memperbetulkan beberapa fakta salah seperti tertera di dalam artikel yang telah saudara lampirkan.

Kapal kelas Laksamana dibeli pada tahun 1995, melibatkan 2 kapal pertama F134 dan F135, disusuli dgn pembelian seterusnya pada 1997 (F136,F137). Kerja2 refurbishment (ia 'tersadai' di Itali agak lama kerana embargo ke atas Iraq) serta modification ke atas kapal2 dilakukan berdasarkan kriteria yg ditetapkan oleh TLDM.

Program SLEP buat masa ini hanya melibatkan 2 korvet dari kelas Kasturi FS1500 serta 4 MCMV Mahamiru (Lerici). Antara pembaharuan ke atas MCMV adalah penggantian sensors -eg sonar TSM 2022 Mk III among others- yang lebih baik serta penggantian PAP 104 kpd ECA Olister UUV terkini. Utk kapal2 Kasturi, ia melibatkan peningkatan radar, FCS dan sonar serta penggantian rudal MM38 (4unit onboard) kepada MM40 Blk II (8unit per ship).

Tentang penambahan 2 kapal "Improved Lekiu" dibawah Project Brave, spesifikasi kapal telah dipersetujui. Namun MASIH belum ada sebarang kontrak pembelian memandangkan keadaan ekonomi yang tidak mengizinkan pada masa kini menyebabkan program ini ditangguhkan seketika.

Gambar submariners TLDM diambil sewaktu menjalani simulator training yg dikelolakan oleh pihak NAVFCO dan ISDEFE (spain). Latihan seterusnya melibatkan latihan amali di atas KS Ouessant, sblm fasa terakhir latihan dilaksanakan di atas KD T.A.Rahman.

Yudha said...

sepertinya ada yang aneh dengan penampakan kapal perang itu...
terlihat seperti tipuan... ;D