Wednesday, December 17, 2008

Pasukan Kontingen Garuda Terlibat Operasi Militer di Kongo



JAKARTA - Pasukan Kontingen Garuda yang dikirim untuk menjaga perdamaian di wilayah Kongo tidak pernah diizinkan untuk ikut menumpas separatis. Fungsinya hanya untuk menjaga agar tidak terjadi bentrokan lebih lanjut antara tentara pemerintah dan separatis tanpa memaksakan agar terjadi perdamaian.

"Namanya peacekeeping, tugasnya adalah untuk memelihara perdamaian bukan menumpas separatisme. Jadi, salah jika tentara kita turut terlibat aktif dalam menumpas separatis," kata Wakil Kepala Pusat Penerangan TNI Brigjen Bibit Santoso kepada Media Indonesia di Jakarta, Rabu (17/12).

Hal ini disampaikan menanggapi adanya anggota TNI yang tergabung dalam Pasukan Perdamaian PBB di Kongo (Monuc), terlibat dalam operasi Search and Arrest bersama tiga negara lain untuk menumpas sisa-sisa pemberontak Uganda Lord's Resistance Army (LRA) di Uganda, Sudan, dan Kongo.

Dalam pertemuan singkat pemimpin misi PBB di Kongo Jenderal Babacar Gaye dengan Komandan Operasi Gabungan Negara Uganda, Sudan, dan Kongo Brigadir Jenderal Patrick Kankirinho, di Kongo Rabu, disepakati Monuc harus ikut membantu sepenuhnya operasi itu termasuk dukungan logistik serta evakuasi gabungan jika diperlukan.

"Untuk itu, Kontingen Indonesia sebagai pasukan PBB yang bertugas di Dungu diminta untuk menyiagakan personilnya, khususnya FMT (Forward Medical Team) guna mengantisipasi korban akibat operasi gabungan tersebut," kata Perwira Penerangan Konga XX-F/MONUC, Kapten Inf Leo Sugandi, dalam surat elektroniknya untuk ANTARA.

Dalam operasi ini target sang pemimpin LRA (Joseph Kony) berhasil melarikan diri. Jenderal Kankiriho menambahkan, akibat serangan terhadap kamp LRA tersebut diperkirakan korban jiwa dipihak milisi lebih dari 100 orang dan kamp utama pasukan pemberontak berhasil dihancurkan.

Operasi dilaksanakan dengan mengerahkan sejumlah pasukan darat dari tiga negara dibantu dengan tujuh helikopter serbu jenis MI-24.

Namun demikian Brigjen TNI Bibit Santoso mengaku belum mengetahui perihal operasi militer tersebut. Tapi, ia kembali menegaskan tugas pasukan Konga ke daerah konflik hanya untuk menjaga perdamaian. Dengan demikian, kurang tepat jika tentara menggunakan senjata untuk tujuan penumpasan.

Sementara itu, pengamat militer Ikrar Nusa Bakti menyatakan harus dibedakan antara pasukan perdamaian dan pasukan peace and forcement, seperti yang pernah dilakukan Amerika Serikat. Ia menegaskan jika TNI yang dikirim ke sana bukan untuk memaksa perdamaian tapi untuk menjaga perdamaian. Ataupun juga berdamai tanpa paksaan.

Copyright @lusista. Dikutip dari beberapa sumber berita.

No comments: