Saturday, December 27, 2008

Eksploitasi Hasil Alam Indonesia untuk kemandirian Alutsista



Indonesia dikenal semenjak dahulu sebagai sebuah kawasan yang begitu kaya akan hasil alam. Mulai dari hasil hutan, pertanian , tambang hingga laut yang begitu kaya dan indah. Adalah sesuatu yang sangat wajar bila bangsa ini memanfaatkan potensi alamnya untuk kemajuan.

Bukan hanya untuk dinikmati sebagai obyek pariwisata, tetapi juga dimanfaatkan untuk teknologi alutsista. Salah satunya adalah penggunaan aspal buton sebagai bahan propelan roket. Pengembangan ini di dukung penuh dan dibiayai oleh TNI-AL dengan melibatkan pihak swasta PT DATAREKA dan lembaga penelitian milik UGM.

Sejarah pengembangannya

Sejarah dari pengembangan roket aspal buton ini sebenarnya sudah dimulai jauh jauh hari semenjak kepemimpinan Bapak Sondakh di TNI AL. Tetapi pada saat itu salah satu pejabat TNI AL yang menyaksikan demonstrasi dari rudal aspal buton ini kecewa dengan pengembangan roket ini dan meghentikan pendanaannya .

Karena dalam membuat ujicoba para peneliti memang hanya membuat propelannya saja , sedangkan sistem sistem yang lain tetap di beli dari pasaran , contohnya sistem kendali dan sistem penuntun.

Rupanya bapak pejabat TNI AL ini tidak sadar bahwa roket / rudal terdiri dari berbagai sistem dan menganggap ketika peneliti siap untuk membuat roket , maka roket akan dibuat secara mandiri dari A sampai Z nya sehingga tidak ada lagi yang perlu dibeli dari pihak luar.

Menurut penulis hal ini adalah suatu anggapan yang tidak bijaksana , mengingat beberapa komponen roket tidak perlu dibikin sendiri untuk mencapai kemandirian dalam teknologi roket/ rudal.

Cukup teknologi paling sensitifnya saja yang dikuasai , sedangkan teknologi yang tidak sensitif , semacam electric motor atau batterey cukup dibeli dari luar , kecuali batere dan dinamo sudah dianggap sebagai teknologi sensitif dan tidak bisa diperoleh di pasar bebas.

Propelan Aspal Buton

Menurut sumber dari UGM yaitu bapak Hananto yang ditemui penulis pada event Indodefence 2008, saat ini Dislitbang TNI AL bekerjasama degan PT DATAREKA dan Fakultas Teknik Kimia UGM mengembangkan bahan pendorong roket dengan salah satu unsurnya adalah aspal dari pulau Buton.



Aspal dari pulau Buton ini tidaklah bisa disamakan dengan aspal yang biasa kita lihat sehari hari. Aspal pulau buton mempunyai sifat penetrasi nol dan tidak bisa digunakan langsung sebagai pengganti aspal biasa

Aspal buton bila dicampurkan ke aspal biasa akan menghasilkan aspal berkualitas tinggi. Aspal jenis ini hanya ditemukan dan ditambang di Amerika, Trinidad dan di pulau buton saja. Khusus untuk pulau buton cadangannya mencapai puluhan juta ton. Setelah mengembangkan semenjak 2007 , saat ini Penelitian sudah dalam tahap penelitian untuk mengganti propelan roket exocet dan strella.

Pada tahun 2008 , pihak UGM sudah menerima sampel dari propelan Exocet dan strella , walaupun dalam beberapa parameter pengujian propelan berbahan aspal buton lebih bagus, tapi saat ini belum bisa diperoleh campuran yang paling pas sehingga bisa menggantikan propelan lama dari exocet/strella.

Salah satu masalah yang mengemuka adalah tekanan yang masih terlalu besar, selongsong roket strella hanya mampu menahan tekanan sampai 300 bar sedangkan roket UGM masih bertekanan diatas itu sehingga ada kemungkinan selongsong roket akan pecah. Semoga kedepan Pihak peneliti mampu menjinakan keganasan propelannya dan propelan exocet dan strella mampu digantikan.

Pengambangan mesiu alternatif

Aspal pulau buton dan minyak nabati saat ini juga telah dikembangkan menjadi bahan peledak oleh anak bangsa. Pada tahun 2007 Pihak PT PINDAD telah bersinergi dengan UGM mengenai adanya kemungkinan pembuatan mesiu dari bahan bahan nabati lokal.

Walaupun penelitian awal fokus pada pembuatan propelan roket , tapi PINDAD sebagai produsen peluru utama di Indonesia , mengharapkan bentuk yang lain dari mesiu , yaitu sebagai pengganti bubuk mesiu peluru.

Seperti kita ketahui saat ini mesiu peluru PINDAD masih diperoleh dengan mengimpor dari luar negeri, dan semakin lama mengimpor bahan sejenis ini semakin sulit dan sulit saja. Atas dasar inilah PT PINDAD mendukung pengembangan mesiu dari bahan bahan nabati yang dengan mudah disediakan oleh alam Indonesia.



Penelitian ini bisa dibilang sudah mencapai tingkat kesuksesan yang cukup tinggi , saat ini para peneliti sedang mencari cara metode produksi yang tepat sehingga mesiu yang dihasilkan bisa dengan tepat menggantikan posisi mesiu impor. Kemungkinan dalam waktu tidak lama lagi peluru buatan PT PINDAD akan terbentuk murni dari unsur-unsur lokal.

Penutup

Seperti kita tahu bahan peledak adalah salah satu unsur penting dalam alat pertahanan dan keamanan, sehingga nilainya sangat strategis. Bila Indonesia mampu mandiri dalam menciptakan bahan peledak mulai dari bahan mentahnya, maka kemandirian Indonesia dalam membuat persenjataan akan meningkat drastis.

Dalam kesempatan ini juga penulis mengharapkan agar di masa depan lebih banyak lagi lembaga-lembaga di Indonesia , mencontoh kebijakan yang diambil oleh TNI AL.

TNI AL telah mengambil inisiatif untuk memberi dukungan bagi penelitian dan riset kepada pihak pihak yang mempunyai potensi memajukan ilmu dan teknologi di Indonesia. Dukungan semacam inilah yang akan menentukan nasib Indonesia 10-20 tahun dari sekarang. Apakah menjadi negara produsen atau hanya negara konsumen.

Penulis : Bkusmono (Desember 2008)

2 comments:

Cengkunek said...

saya pikir tadi apa kok exploitasi hasil alam bisa kembangin senjata militer
rupanya aspal bisa bikin mesiu
yg minyak nabati tu getah pohon jarak ya pak?

Anonymous said...

Kalau sudah berhasil coba buat rudal penagkis kelas atas biar pesawat tempur asing takut nimbrung tanpa ijin di teritarial kita sekian makasih

dari(anak bangsa pecinta tanah air)