Friday, August 22, 2008

TNI AL Pastikan 3 Pesawat Baru dari PTDI


Cassa 212-400

Surabaya, – TNI AL berencana menggandeng PT Dirgantara Indonesia (PTDI) untuk membuat tiga pesawat jenis Cassa, yaitu CN 235 dua buah dan satu pesawat Cassa 212 seri 400, sebagai langkah untuk menambah kekuatan udaranya.

“Karena perusahaan dari dalam negeri menyatakan mampu membuat, maka kita batalkan rencana mendatangkan pesawat dari Rusia,” kata Kepala Staf Angkatan Laut (Kasal) Laksdya TNI Tedjo Edhi Purdijatno SH, usai upacara serah terima jabatan (Sertijab), di Lapangan Kobangdikal Bumimoro Surabaya, Kamis (21/8).

Pembuatan tiga pesawat ini diharapkan selesai dalam kurun waktu 1-2 tahun, sehingga kekuatan patroli maritim TNI AL dapat semakin terpadu dan solid.

Menurut Kasal, kondisi Indonesia yang merupakan negara kepulauan, membuat kebutuhan Alat Utama Sistem Senjata (Alutsista) TNI AL cukup tinggi. Oleh karena itu pengadaan alutsista baru, atau peremajaan perlu dilakukan agar kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) tetap terjaga.

”Dari latihan gabungan beberapa waktu lalu, kami bisa menyediakan 70% kekuatan persenjataan TNI AL, mudah-mudahan tahun depan kita bisa siap 100%,” katanya.

Selain itu, untuk meningkatkan kualitas alutsista, saat ini TNI AL sedang melakukan pendataan untuk mengambil langkah apakah persenjataan yang ada bisa diperbaiki atau harus menambah alutsista baru.

”Kita akan uji semua alutsista yang ada, jika masih memungkinkan dilakukan peremajaan, ya dilakukan. Namun jika tidak bisa maka akan coba untuk mengajukan pengadaan alutsista baru,” ujarnya.

Meski kebutuhan alutsista baru cukup tinggi, namun Kasal tidak berani menambah karena ini menyangkut anggaran. ”Pengadaan alutsista membutuhkan biaya besar, jadi tidak mungkin membuat alutsista baru dalam jumlah banyak,” katanya.

Untuk menyiasati agar biaya pembuatan alutsista tidak membengkak, saat ini TNI AL terus mencoba teknologi pembuatan yang ada di Indonesia.

”Teknologi yang dimiliki beberapa perusahaan lokal cukup mumpuni untuk membuat sistem persenjataan sendiri, tetapi mungkin sekarang masih terbatas pada pembuatan kapal dan pesawat terbang,” tuturnya.

Ia berharap, ke depan Indonesia dapat mandiri dalam memenuhi kebutuhan pesenjataan tanpa tergantung pihak luar atau negara asing.

2 comments:

Darojatun said...

bagus, AL maen di Udara. :) biar nggak disenggol kapal Negara Tetangga. :) kalo di laut disenggol nggak bisa bekutik, cuma bisa ketotolan karena AL dari fiber, kapal mereka dari besi. :) itu pesawatnya nanti nggak dari fiber kan pak? :)

Ksatrio Mbojo Ireng said...

kepiawaian PTDI, semoga senantiasa didukung oleh pemerintah dengan revitalisasi dan kapabilitasnya.. sudah saatnya 5 industri strategis ini bisa dikelola secara permanen dan profesional... sehingga TNI nggak cuman hanya jadi pelanggan-nya saja.