Wednesday, April 16, 2008

Inilah Pengganti Bronco



Angkatan udara akhirnya memilih pesawat buatan Brasil, Super Tucano, sebagai pengganti OV-10 Bronco.

MALANG - Berakhir sudah usia armada pesawat tempur latih OV-10 Bronco di Indonesia. Nasibnya benar-benar berujung di ladang tebu pada Juli tahun lalu. Setelah tiga kecelakaan maut dan dua kali proses pembekuan operasi, TNI Angkatan Udara akhirnya benar-benar menetapkan penggantinya, yakni pesawat tempur EMB-314 Super Tucano.

Kepastian itu disampaikan Marsekal Pertama TNI Irawan Supomo, Komandan Pangkalan Udara Abdulrachman Saleh. Malang, pekan lalu. "Setelah dilakukan serangkaian uji kinerja terhadap beberapa calon pengganti Bronco, sepertinya kami lebih cocok dengan Super Tucano," katanya.

Irawan menuturkan ada lima jenis pesawat yang dilirik TNI Angkatan Udara sebagai pengganti Bronco. Kelima jenis pesawat itu
adalah KO-1 dari Korea, K-8 Karakorum produksi bersarna Cina dan Pakistan, EMB-314 Super Tucano buatan Brasil, T-6B Texan II (Amerika Serikat) dan Pilatus PC-9 buatan Swiss. "Hanya 2 yang diajukan ke Departemen Pertahanan yaitu Tucano dan KO-1," katanya.



Butuh waktu agak lama bagi TNI Angkatan Udara untuk memilih karena cukup sulit mencari pengganti Bronco yang punya karakter khas dan boleh dibilang melegenda. OV-10 adalah pesawat berbaling-baling yang didesain khusus untuk 'aktivitas observasi dan serang darat, terutama misi COIN (COunter INsurgency).

Pesawat dengan struktur ekor khas mirip gawang itu dikenal dengan bobotnya yang ringan dan punya tingkat manuver tinggi. Turunannya yg masih digunakan hingga kini oleh AS adalah A-10 Thunderbolt.

Indonesia mulai menggunakan pesawat ini sejak 1976, dan terbukti efektif saat diterjunkan dalam operasi militer di Timor-Timor, Aceh dan Kalimantan Barat.

Sulit melupakannya, tapi 9 pilot yang ada di Lanud Abdulrachman Saleh tentu tak boleh dibiarkan menganggur terlalu lama. Pesawat pengganti harus segera ditentukan dan Skuadron Udara 21 Tempur Taktis Wing 2 harus segera diaktifkan kembali.

Menurut Kepala Divisi Operasional Pangkalan Kol. Ismet Saleh, ke-9 pilot Bronco itu sementara dialihkan menjadi pilot pesawat lain, seperti C-130 atau menjadi instruktur penerbang.

Sumber : KORAN TEMPO

5 comments:

webmaster said...

itu selain tangki cadangan ada cantelan buat bom juga ya? btw kok masih mau sih pake pesawat baling2

redaksi said...

Hayo, kalo mau ngutip tulisan, jangan lupa cantumin sumbernya donk. Tulisan ini kan copy-paste artikel Koran Tempo.

redaksi said...

Tulisan ini copy paste dari artikel di Koran Tempo. Hayo, disebutin sumbernya donk

dsofandi said...

Thanks ats warningnya bro... ada beberapa yg saya copy dan cut dr artikel aslinya.

jack said...

wah. . . indonesia msh aja impor pesawat.pdhl da bsa bkin ndri. . . f-16 tuh bongkar truz pelajari. impor mulu.