Monday, June 29, 2009

Malaysia Tawarkan Solusi Damai

YOGYAKARTA – Pemerintah Malaysia menawarkan solusi damai kepada Pemerintah Indonesia untuk menyelesaikan perselisihan di Blok Ambalat. Keinginan tersebut disampaikan Menteri Pertahanan (Menhan) Malaysia Datuk Seri Ahmad Zahid bin Hamidi saat menemui Raja Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat Sri Sultan Hamengku Buwono (HB) X di Yogyakarta Minggu (28/6).

Menhan Malaysia mengatakan, Indonesia adalah saudara yang memiliki hubungan yang sangat erat dengan Malaysia. Kedekatan itu, menurut dia, akan mempermudah penyelesaian berbagai masalah yang terjadi antara kedua negara. Dia mengilustrasikan, apa pun perseteruan yang terjadi,kedua negara memiliki kultur dan sejarah yang sama. “Darah lebih pekat daripada air.

Jika kita memiliki hubungan darah yang erat,apa pun masalahnya akan selesai,” tandas Ahmad Zahid. Karena itu, untuk menyelesaikan masalah ini,Ahmad Zahid rencananya akan kembali menemui Menhan Indonesia Juwono Sudarsono hari ini. Dalam pertemuan dengan Juwono itu, Ahmad Zahid mengatakan salah satunya membicarakan soal pertahanan kedua pihak di kawasan Ambalat.

Dia berharap,dalam pembicaraan ini ada kesepahaman di bidang pertahanan masing-masing guna meredam situasi yang makin hari makin panas.“Saya akan berbicara dengan Menhan RI di Jakarta, Senin (29/6).

Sumber : SEPUTARINDONESIA.COM

Pembangunan Kavaleri Tank TNI di TTU Dilanjutkan



KUPANG - Rencana pembangunan Batalyon Infanteri (Yonif) Kompi Kavaleri (Kikav) Tank di Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU) Nusa Tenggara Timur (NTT) tetap dilanjutkan oleh TNI, walaupun ada aksi penolakan dari pemerintah daerah dan masyarakat di kabupaten tersebut.

"Penolakan tersebut bukan merupakan bagian tugas dari otonomi daerah (Otda) karena setiap jengkal tanah dipertahankan secara sentralistik atau negara yang akan mempertahankan tanah ini," kata Pangdam IX Udayana, Mayjen TNI Hotmangaraja Pandjaitan, di Kupang, Senin (29/6).

Dia mengatakan, upaya menyiapkan kekuatan pasukan TNI itu adalah untuk mencegah berbagai kemungkinan yang tidak diinginkan. Karena itu, pada 10 tahun mendatang akan dibangun Kikav Tank di kabupaten tersebut, jika pembangunan dalam waktu dekat ini mendapat reaksi dari sejumlah elemen masyarakat.

Pembangunan dan pembentukan satuan TNI ini, lanjut dia, sangat diperlukan di wilayah yang dinilai strategis dan cocok untuk mobilisasi tank karena wilayah datarannya cukup luas. Namun tujuan utamanya adalah upaya menangkal ancaman dan gangguan dari luar mengingat daerah tersebut berbatasan langsung dengan Timor Leste.

"Jadi, tujuan dibentuknya satuan baru tersebut merupakan program dari pemerintah pusat di bidang Hankam untuk kepentingan bangsa dan negara, bukan semata-mata untuk kepentingan TNI," katanya.

Selain itu, lanjutnya, pembentukan satuan baru TNI dan pembangunan kavaleri tank di NTT memberikan kontribusi positif bagi pengembangan ekonomi daerah, sehingga kesejahtraan masyarakat meningkat.

"Dengan pertahanan yang kuat, maka tidak ada negara lain yang mengklaim wilayah Indonesia menjadi wilayah mereka," katanya.

Sumber : MEDIAINDONESIA.COM

Foto NC-212 Saat Mendeteksi Konvoi Kapal US Navy di Perairan Natuna

Pada hari Rabu 24 Juni 2009 NC-212 TNI AL no.U-621 yang berada di bawah Wing Udara II mendeteksi konvoi kapal Induk US Navy di perairan Natuna yang terdiri dari 1 Kapal induk USS Ronald Reagan CVN 76, satu kapal suplai dan dua kapal frigate sedang malaksanakan RAS, satu kapal suplai dan satu kapal frigate siap melaksanakan manuver RAS, serta satu kapal suplai dengan kecepatan tinggi.

Pesawat diterbangkan oleh Kapten Laut (P) Ahmad Samsuri dan Letda Laut (P) Rama Ariyadi berhasil mendokumentasikan unsur-unsur laut US Navy tersebut. Namun pada saat mendekat U-621 diescort oleh satu buah helikopter jenis Sea Hawk milik US Navy.

Sumber : PUSPENERBAL





Friday, June 26, 2009

Perbatasan Indonesia-Malaysia Aman, Patok Ditambah

SAMARINDA - Masalah perairan Ambalat dan perbatasan Indonesia -Malaysia aman, terutama sejak perundingan kedua negara. Patok perbatasan diusulkan ditambah agar mudah pengontrolan.

Menurut Panglima Komando Daerah Militer VI/Tanjungpura, Mayor Jendral Tono Suratman kondisi perairan ambalat kondusif. Kapal perang kedua negara tak lagi saling kejar di perairan ambang batas laut.

"Sudah kondusif, kapal perang Malaysia tak lagi terlihat melanggar," katanya, Jum'at (26/6).

Selain di perairan, jelas Tono, kondisi perbatasan di darat juga dalam kondisi aman. Meskipun demikian, Tono mengusulkan penambahan patok perbatasan untuk memudahkan pengawasan dan bisa melibatkan masyarakat setempat.

"Tapi ini kan harus ada kesepakatan antara kedua negara," ujarnya.

Di Sebatik, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Timur, jarak setiap patok mencapai 2 kilometer. Jarak sepanjang ini sangat menyulitkan karena harus mengerahkan banyak personil untuk menjaga.

"Kalau tetap seperti ini, ya penjagaan tentara akan terus juga disiagakan di sepanjang perbatasan," katanya.

Sumber : TEMPOINTERAKTIF.COM

Indonesia Fleet Review 2009



JAKARTA - Sebanyak 24 unit kapal perang milik Angkatan Laut (AL) asing direncanakan akan mengisi "Indonesia Fleet Review" (IFR), atau parade kapal perang asing di Bitung, Manado, pada 17-19 Agustus 2009.

Kepala Staf Armada Barat, Laksamana Bambang Suwanto, pada malam resepsi peringatan Hari Angkatan Bela Diri Jepang, di Jakarta, Kamis (25/6), mengatakan parade bersama itu merupakan implementasi bagian dari hubungan persahabatan antar militer khususnya angkatan laut.

"Sesama angkatan laut, kami menjalin prinsip-prinsip persaudaraan di laut, dan parade yang sama juga diikuti Indonesia ke China dan Korea, baru-baru ini," katanya.

Bambang Suwanto mengatakan, 24 kapal perang AL itu antara lain berasal dari Amerika Serikat, Cina, Pakistan, AL negara-negara ASEAN, Eropa, Prancis, Inggris, Jepang dan Rusia.

Selain 24 kapal perang asing, juga dihadirkan 10 kapal perang TNI-AL, akan ada minimal 150 kapal layar dan yacht dari 26 negara yang meramaikan perairan Kawanua itu.

"Kehadiran 24 kapal perang asing menunjukkan bahwa negara lain menghormati keberadaan Indonesia. Apalagi memang hubungan angkatan laut antarnegara di dunia sangat erat," katanya.

Pelaksanaan IFR ini, katanya lagi, juga sekaligus menunjukkan keberadaan Indonesia sebagai negara maritim terbesar dengan potensi kelautannya yang sangat luar biasa.

Sumber : ANTARA

Thursday, June 25, 2009

Russia may export up to 40 diesel submarines by 2015


Project-677/ Lada-class, diesel submarine

ST. PETERSBURG - Russia could sell up to 40 fourth-generation diesel-electric submarines to foreign customers by 2015, state-run arms exporter Rosoboronexport said on Wednesday (24/6).

"Russia's export potential in this market sector is very high thanks to Project 636 and Amur-1650 class submarines equipped with the Club-S integrated missile systems," Rosoboronexport said in a press release.

The Project 636 Kilo-class submarine is thought to be one of the most silent submarine classes in the world. It has been specifically designed for anti-shipping and anti-submarine operations in relatively shallow waters.

Russia has built Kilo-class submarines for India, China and Iran.

The Project-677, or Lada-class, diesel submarine, whose export version is known as the Amur 1650, features a new anti-sonar coating for its hull, an extended cruising range, and advanced anti-ship and anti-submarine weaponry.

Both submarines are equipped with highly-acclaimed Club-S integrated missile systems.

The Club-S submarine cruise missile family includes the 3M-54E1 anti-ship missile and the 3M-14E land-attack versions, with a flight range of 275km (about 170 miles). The missile can be launched from standard torpedo tubes from a depth of 35 to 40 meters (130 feet).

Overall, naval equipment constitutes about 10% of the total portfolio of orders of Rosoboronexport, which is estimated at about $30 billion.

"By 2010, the share of naval equipment in Russia's arms exports will reach 15%, and by 2011 it will total 20%," said Oleg Azizov, head of Rosoboronexport's delegation at the International Naval Show-2009 in St. Petersburg.

India, China, Algeria, Vietnam and Indonesia remain key buyers of Russia's naval armaments.

India and China have purchased submarines, frigates and destroyers. Vietnam has ordered Svetlyak-class fast attack boats and frigates, while Indonesia will receive corvettes built in Russia in cooperation with Spanish firms.

Source : RIA NOVOSTI

Kapal Perang AS Terobos Perairan Natuna


View Larger Map

NATUNA - Monitor Satuan Radar 212 TNI-AU di Batam menunjukkan sinyal mencurigakan pada Selasa (23/6) sore lalu. Terindikasi ada enam kapal perang asing memasuki kawasan alur laut Kepulauan Indonesia (ALKI). Lokasi tepatnya di antara perairan Pulau Laut dan Pulau Subi Natuna.

Hasil pelacakan lebih jauh, keenam kapal perang itu milik AL Amerika Serikat. TNI-AU pun langsung berkoordinasi dengan TNI-AL Ranai.

Laporan tersebut ditindaklanjuti dengan menerbankan pesawat cassa TNI-AL untuk mengintai keenam kapal perang AS tersebut. Hasilnya, keenam kapal dengan persenjataan lengkap dan sebar otomatis itu memang berjalan beriringan di perairan Indonesia.

Tanpa melakukan tindakan apa pun, pesawat pengintai TNI-AL terus memantau pergerakan iring-iringan kapal perang AS itu. Setelah tiga jam mengintai, tanpa disadari sebuah helikopter puma AS mendekati pesawat pengintai tersebut.

Sempat terjadi perdebatan. Namun, tidak berlangsung lama karena perlahan-lahan iring-iringan kapal perang AS itu menjauh dari perairan Indonesia.

Dari hasil pengintaian tersebut diperoleh data bahwa iring-iringan kapal perang AS terdiri atas kapal induk USS Ronald Reagen, dua kapal destroyer, dua kapal frigate, satu tanker minyak. Kapal induk USS Ronald Reagan itu mengangkut puluhan pesawat tempur.

Danlanal Ranai Kolonel Laut (P) Deddy Suparli membenarkan adanya iring-iringan kapal perang AS yang melintas di wilayah perairan Indonesia itu. ''Jelas terlihat kapal tersebut berbendera AS dan memasuki perairan Indonesia tanpa tujuan yang jelas,'' katanya.

Tidak hanya bercerita, Deddy menunjukkan foto iring-iringan kapal tersebut. Setelah insiden itu, TNI-AL dibantu TNI-AU terus mengawasi dan mengintai sekitar perairan Natuna.

Sumber : JAWAPOS

Supervision Work for PT PAL Shipyard in Indonesia

From the end of December, 2008, Mastek has taken in charge of Supervision work for PT PAL Shipyard in Indonesia. Indonesia Navy ordered 2 vessels of Landing Platform Dock (LPD) to PT PAL shipyard in Indonesia.

PT PAL requested for shipyard construction management and supervision to Daewoo International. So Mastek cooperated with Daewoo Internationl and took in charge of the Supervision work for this Project.

The scope of work is as follows.
1) Shipbuidling Process Supervision and Confirmation
2) Quality Control and Production Control
3) Man Hour Management
4) Design Modification Review
5) Outfitting Construction and Installtion Inspection
6) Construction Confirmation & Supervision based on Technical Specification and Approved Drawings
7) Other required issues
8) Technical Instruction for Productivity Improvement

Sumber : MASTEKHI








Wednesday, June 24, 2009

Mengenal Teknologi Digital Video Recorder (DVR) Pada Pesawat Tempur



Digital Video Recorder (DVR) adalah sebuah piranti elektronik modifikasi dari VCR (Video Cassette Recorder) yang berfungsi sebagai alat perekam segala kejadian/gambar yang dilihat oleh pilot pesawat tempur jenis Hawk 100/200 dan F5, juga alat perekam suara percakapan di ruang cockpit.

DVR didesain full compatible dengan VCR, Plug and Play, tanpa perlu modifikasi apapun di ruang cockpit pesawat Hawk 100/200 dan F5, juga tanpa perlu hardware player dan hardware demultiplexer, lebih handal dan lebih ekonomis.


DVR Device

Sistem ini dibuat untuk memenuhi kebutuhan modifikasi VCR dari pesawat tempur jenis Hawk 100/200 dan F5 sebagai fasilitas rekaman video dan suara percakapan di ruang cockpit. DVR memiliki ketahanan yang lebih handal dari VCR, lebih ekonomis dan lebih terjamin layanan purna jualnya.

DVR memiliki kemampuan sebagai berikut:

1. Merekam video dan audio di ruang cockpit dalam format digital
2. Men-display-kan hasil rekaman video/ audio
3. Menampilkan warning sebelum terbang jika media perekam hampir penuh (kurang dari 1 jam)
4. Tahan terhadap getaran, guncangan dan pengaruh kenaikan G (grafitasi bumi), tanpa sistem mekanis sebagai media penyimpan data
5. Full compatible dengan VCR, Plug and Play, tanpa perlu modifikasi apapun di ruang kokpit pesawat Hawk 100/200 dan F5.
6. Full computerized, hasil rekaman video berformat digital, mudah diputar dan dicopy dengan software aplikasi berbasis windows
7. Media penyimpanan menggunakan piranti elektronik dengan kapasitas lebih besar dari VCR


Bagan DVR

8. Hemat energi, daya yang dikonsumsi lebih kecil dari VCR, full elektronik, tanpa ada sistem mekanis
9. Hasil rekaman video dapat diputar cukup dengan software aplikasi berbasis komputer tanpa perlu hardware player dan hardware demultiplexer

DVR telah diimplementasikan di pesawat Hawk 100 milik TNI AU di Pangkalan Pontianak dan Pekanbaru.

Sistem ini akan dikembangkan lebih lanjut, tidak hanya diaplikasikan untuk pesawat Hawk 100 /200 dan F5, tetapi dapat juga diaplikasikan pada beberapa model pesawat lainnya. Sistem ini juga dikembangkan untuk pelayanan terhadap pasar dalam dan luar negeri.

Sumber : INFOGLOBAL

Seluruh Pesawat TNI AU Akan di Pasang DVR


Komandan Lanud Iswahjudi Marsekal Pertama TNI Bambang Samoedro, S.Sos dengan Letkol Lek Eddy S dan Direktur PT. ITS, Adi Sasongko, ST.

MAGETAN - Menindaklanjuti berbagai musibah pesawat TNI AU dan sulitnya penyelidikan untuk mengetahui penyebab terjadinya kecelakaan pesawat terbang, Dinas Penelitian dan Pengembangan TNI AU (Dislitbangau) telah mengadakan kerjasama dengan PT. Infoglobal Teknologi Semesta (PT. ITS) untuk memasang alat perekam digital di setiap pesawat TNI AU baik Pesawat Tempur, Transport, maupun helikopter.

Hal ini dimaksudkan agar setiap proses penerbangan yang dilakukan dapat terekam secara utuh, sehingga bila terjadi trouble sekecil apapun lebih memudahkan untuk penyelidikan lebih lanjut.

Letkol Lek Eddy S, Staf Dinas Komunikasi dan Elektronika TNI AU (Diskomlekau) menyampaikan bahwa Pesawat Tempur TNI AU yang akan dipasang alat perekam tersebut adalah Pesawat F-16/Fighting Falcon dan F-5/Tiger yang bermarkas di Lanud Iswahjudi Magetan serta Pesawat Shukoi bermarkas di Lanud Hasanuddin Makasar, Rabu (24/6).

Untuk Lanud Iswahjudi alat perekam yang berupa Digital Video Recorder (VCR) pernah diujicobakan di pesawat F-5/Tiger di Skadron Udara 14 dan berfungsi sebagaimana mestinya.

Selama ini pesawat tempur F-5 E/F dalam melaksanakan misi perekamam selama penerbangan, masih menggunakan Video Cassete Recorder (VCR). Dikarenakan peralatan tersebut saat ini sudah tidak dapat bekerja sebagaimana mestinya karena statusnya sudah abselette, maka Dislitbangau telah berusaha melaksanakan penelitian pengaplikasian Digital Video Recorder (DVR).

Menurut ketua tim dari Dislitbangau, Kolonel Lek Teguh P.S. S.E, DVR merupakan peralatan pengganti VCR yang dapat melaksanakan perekaman baik audio maupun video selama penerbangan. Karena DVR tersebut terdiri dari Hardisk Solid State SATA berkapasitas 64 GigaByte yang dapat merekam kegiatan penerbangan selama 11 jam.

Dengan menggunakan peralatan tersebut akan lebih memudahkan bagi penerbang, sehingga efektifitas dan efisiensi perekaman proses penerbangan dapat dicapai oleh pesawat tempur secara optimal.

Sumber : DISPENAU

Depkeu Kesulitan Inventarisasi Aset Dephan dan TNI

JAKARTA - Departemen Keuangan mengaku kesulitan melakukan inventarisasi dan penilaian terhadap satuan kerja di Departemen Pertahanan dan TNI. Padahal berbagai upaya mulai dari mengirim surat edaran hingga rapat antar Menteri sudah dilakukan.

"Usaha yang kita lakukan adalah telah melakukan rapat koordinasi dengan Dephan dan TNI, penerbitan surat edaran tentang penertiban barang milik negara di Dephan dan TNI, kemudian rapat di tingkat departemen antara Menteri Keuangan, Menteri Pertahanan dan Panglima ABRI," tutur Dirjen Kekayaan Negara Hadiyanto dalam Rapat Dengar Pendapat dengan Komisi XI DPR di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Rabu (24/6).

Sebelumnya Ketua BPK Anwar Nasution mengatakan, pemerintah harus melakukan pemisahan inventarisasi antara aset efektif dengan aset rongsokan ataupun yang memiliki teknologi perbankan pada Departemen Pertahanan dan TNI.

Menurut Anwar, penguasaan aset Departemen Pertahanan dan TNI dalam neraca tercatat sekitar Rp 163 triliun atau 24% dari total aset tetap pemerintah.

Sekitar Rp 47 triliun atau 29 dari aset tetap Dephan dan TNI itu berupa peralatan dan mesin berupa alutsista (Alat Utama Sistem Persenjataan).

"Untuk mengetahui kesiapan tempur TNI, kondisi aset tersebut perlu diketahui mana yang masih efektif digunakan dan mana yang sudah menjadi barang rongsokan ataupun yang teknologinya sudah jauh ketinggalan," kata Anwar.

Ketidakcermatan dalam melaporkan kondisi alutsista ini akan mengakibatkan DPR, pemerintah, dan pengguna laporan keuangan dapat tersesat (missleading) dalam mengambil keputusan atas aset tetap Dephan dan TNI.

"Dengan dapat diatasinya kelemahan tersebut di atas, diharapkan kecelakaan-kecelakaan yang terjadi dalam pengoperasian peralatan dan mesin di lingkungan Dephan dan TNI dapat dihindari yang pada gilirannya dapat meningkatkan kemampuan Dephan dan TNI dalam menjaga kedaulatan NKRI," papar Anwar.

Sumber : DETIK.COM

Tuesday, June 23, 2009

TNI AL Ganti Pesawat Nomad dengan CN-235


CN-295 dengan kemampuan ASW

SIDOARJO - Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut (TNI AL) secara bertahap akan mengganti pesawat jenis Nomad ke pesawat jenis CN-235, untuk mendukung sistem armada terpadu dalam rangka menjaga seluruh perairan nasional Indonesia.

Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL), Laksamana TNI Tedjo Edhy Purdijatno, S.H., ditemui usai upacara HUT Penerbangan TNI AL ke-53 di lapangan udara angkatan laut (Lanudal) Juanda, Selasa (23/6), mengatakan, secara bertahap akan mengganti pesawat jenis Nomad ke jenis CN-235.

"Secara bertahap seluruh pesawat jenis Nomad tersebut akan diganti dengan jenis CN-235 yang diproduksi oleh PT Dirgantara Indonesia (DI)," katanya.

Dalam waktu dekat ini, akan ada tiga pesawat jenis CN-235 yang dipesan dari PT DI.

Rencana pembelian ini diharapkan menjadi tonggak penambahan sekaligus peremajaan alat utama sistem senjata (alutsista) di Pusat Penerbangan TNI AL (Puspenerbal).

Pesawat jenis CN-235 ini dilengkapi dengan patroli maritim, radar, dan sarana lain pendukung pelaksanaan tugas termasuk pendeteksi kapal selam (ASW).

Saat ini, TNI AL menerapkan standar baru operasional alutsista yang ada. Ia menegaskan, hanya ada dua kriteria operasional alutsista TNI AL, yakni siap dan tidak siap operasional.

Ia mengatakan, TNI AL sudah membuat perencanaan matang dengan prioritas alutsista, guna mendorong operasi sistem senjata armada terpadu untuk menjaga perairan nasional.

Dengan standar penilaian tersebut, TNI AL akan melakukan evaluasi kesiapan alutsista. Untuk alutsista yang dinyatakan siap operasional akan diberikan anggaran pemeliharaan didukung teknisi berpengalaman, agar bisa berfungsi maksimal.

Sedangkan untuk alustista yang tidak siap operasional, tidak akan dipakai dan secara bertahap akan dihapus dari inventarisasi negara, katanya menegaskan.

Sumber : ANTARA

CASPIR, Ranpur Angkut Personel Gultor Kopassus




Tongkrongan dan desainnya rada seram, desain body pun cenderung bersudut tegak dengan lambung berbentuk huruf V. Inilah Caspir, kendaraan angkut pasukan penanggulangan teror (Gultor) satuan anti teror Kopassus.

Inilah salah satu kendaraan angkut pasukan milik Kopassus yang khusus didatangkan untuk memberikan perlindungan maksimum hantaman ranjau. Konstruksi kendaraan ini dibuat agar mampu menahan kekuatan ledakan bom/ ranjau setara 14 Kg TNT dibagian samping, dan 21 Kg dibagian bawah (lambung).

Untuk mendukung mobilitasnya, kendaraan ini menggunakan axle yang sama seperti Unimog. Konstruksinya berupa single reduction hypoid drive axle dengan diff lock AL 3/2,5 yang sudah teruji kehandalannya merambah medan berat off-road.

Untuk engine powernya, kendaraan ini menggunakan Diesel 6 silinder 4 valve type OM352A buatan Mercedes-Benz yang juga sama persis seperti yang digunakan Unimog. Guna menambah performa engine juga dilengkapi dengan turbo charger.

Caspir pertama kali dikembangkan oleh Afrika Selatan saat pecah perang saudara, kendaraan ini dibuat guna mencegah personelnya terkena hantaman ranjau yang banyak tersebar di wilayah konflik bersenjata.

Hingga saat ini sudah ada 2000 unit Casspire yang operasional dibeberapa negara, termasuk Indonesia.



Ruang kabin dirancang untuk mampu mengangkut 12 personel bersenjata lengkap. Selain mampu menahan ledakan ranjau, kendaraan ini juga mampu menahan hantaman peluru kaliber 5,56mm dan 7,62.

Untuk mempermudah mobilitas personil keluar masuk kendaraan, pintu dioperasikan secara pneumatic (bantuan tenaga angin). Selain itu persenjataan yang mampu diangkutnya juga sangat fleksibel, jenisnya mampu disesuaikan dengan keinginan penggunanya.

Saat ini hanya TNI AD dari satuan khusus anti teror Kopassus yang menggunakan kendaraan anti ranjau buatan Afrika Selatan ini, diharapkan kedepannya bakal ada tambahan untuk satuan-satuan TNI lainnya. ©alutsista

HUT Penerbal ke-53

SURABAYA - Sejumlah kadet Akademi TNI AL (AAL) unjuk kebolehan beratraksi di atas instrumen musik marching band Gita Jala Taruna, saat Gladi Bersih HUT Penerbangan TNI AL ke-53 di Apron Lanudal Juanda Surabaya, Senin (22/6). Pada peringatan HUT Penerbangan TNI AL kali ini, tidak ada atraksi udara seperti tahun sebelumnya. FOTO ANTARA/Eric Ireng/ED/ama/09



Foto HUT Penerbal di Apron Hanggar Lanudal Juanda, Selasa (23/6).

Monday, June 22, 2009

Paradigma Peperangan & Perdamaian di Millenium ke Tiga (III)



Oleh : Edi S Saepudin., SP.

Kembali ke dasar pemikiran Tsun Tzu, “Kenalilah dirimu tapi lebih kenali dan dekati musuhmu”, semua falsapah dan langkah strategi memenangkan perang inilah, yang nampaknya diterapkan China dalam meraih kemenangan.

“Adalah sebuah fakta, bahwa jiwa agresor dan penjarah dari satu bangsa atau ras, tak akan pernah lekang oleh jaman, dalam tatanan aturan internasional yang mengikat semua negara didunia saat ini. Salah satu langkah cerdas yang harus diambil untuk memenangkan peperangan yang mereka lancarkan adalah masuk kedalam perangkat yang mereka ciptakan, dan kemudian mengatur strategi tindak balas dengan menggunakan perangkat yang mereka ciptakan sendiri."

Demikian kira-kira apa yang ada dibenak para pemimpin dan ahli strategi China, sehingga mereka bisa menghindarkan diri dari serangan dan leading diberbagai sektor kini. Sehingga pola serangan tanpa mengirimkan prajurit oleh agresor pada kasus Thian Anmen 1989, dapat mereka patahkan, dan pola serangan melalui Bursa Vallas (Bursa Efek) pada 1998 juga dapat mereka patahkan.

Yang lebih brilian adalah bagaimana China mampu menempatkan dirinya dalam posisi menyerang dalam perangkat yang diciptakan musuh-musuh tersembunyi ini. Sehingga siapapun yang mencoba menyerang China melalui jalur Vallas kini, bukan hanya akan dicari dan jadikan target negeri tirai bambu ini, tapi oleh “orang lain” sebuah negara super power!!.

Hanya dibutuhkan sebuah proses dalam bentuk berkas-berkas dokumen pengalihan rekening, “orang lain ini” akan langsung kebakaran jenggot, karena perekonomian negeri “orang lain ini” taruhannya.

Masa damai adalah masa yang terbaik bagi sebuah bangsa dalam mengenal dirinya, pengenalan terhadap segenap potensi dan sumberdaya yang dimiliki, serta penyusunan strategi bagi pendayagunaannya.

Kita adalah bangsa maritim, kita adalah bangsa agraris, sehingga segala kemajuan ilmu dan teknologi seyogyanya diarahkan dan difokuskan untuk membangun segala bentuk industri yang menyokong kedua pilar bangsa ini.

Demikian juga dengan perencanaan pembangunan pertahanan negara, negara ini adalah negara kepulauan, dengan luas laut yang jauh lebih besar dari daratan. Bayangkan berapa besar potensi lautan yang dicuri, dan berapa potensi daratan yang dicuri dengan menggunakan lautan sebagai jalurnya, semua karena tidak terawasi, bayangkan jika jumlah yang dicuri itu masuk kas negara, seberapa banyak hal bisa kita perbuat dengan-nya.

Sekali lagi, kewaspadaan pada masa damai jauh harus lebih tinggi dibanding jika situasi terburuk terjadi, karena situasi terburuk akan bisa dIantisipasi, selama kewaspadaan dimasa damai tak pernah bisa ditembus.

Kita pernah punya Bapak Soekarno, yang mampu memerankan hal ini dengan sangat cemerlang pada suatu masa dulu, belajarlah dari apa yang beliau tinggalkan saat merebut Irian Barat, atau belajarlah dari Bpk. Soeharto, saat masa Orde Baru, bagaimana dunia segan pada Bangsa ini, tanpa harus unjuk otot.

Jangan sampai sejarah hanya menjadi ingatan yang dicatat semata, bukankah mereka yang tidak memiliki ingatan dan menolak relevansi masa lalunya, baik perorangan, lembaga atau bahkan sebuah bangsa, adalah mereka yang sakit mental. – JAYALAH NEGERIKU -

Bandung, 21 April 2009

Foto : Latihan Bersama Garuda Shield-09

Originally posted by rubenladen@kaskus.us





KRI Slamet Riyadi Dikirim ke Ambalat


BALIKPAPAN - TNI AL menambah kekuatan untuk menjaga perbatasan Indonesia-Malaysia di Blok Ambalat. Senin (22/6), TNI AL bakal mengirimkan KRI Slamet Riyadi-352 yang kini bersandar di Pelabuhan Semayang, Balikpapan, Kalimantan Timur, guna menggantikan KRI Makassar-590.

KRI Slamet Riyadi merupakan kapal perang kelas Perusak Kawal Rudal Kelas Ahmad Yani milik TNI AL, kapal ini merupakan kapal fregat bekas pakai AL Belanda (HMNLS Van Galen F802). Kapal ini telah ditingkatkan kemampuannya pada 1977-1980, termasuk diantaranya pemasangan sistem pertahanan udara, Mistral dan anti permukaan, Harpoon. Selain itu juga dilengkapi dengan torpedo Mk-46.

Kapal itu akan bergabung dengan sejumlah KRI serta kapal kepolisian air dan udara yang sedang berpatroli di Ambalat.

Pengiriman kapal untuk menjamin keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia jelang perundingan sengketa perbatasan Indonesia-Malaysia Juli nanti. Kapal dipimpin Komandan KRI Slamet Riyadi, Letnan Kolonel Laut Taat Siswo Sunarto.

Sumber : METROTVNEWS

Siasat Memperpanjang Usia Alutsista Tua



Hanya seperempat pesawat TNI yang bisa digunakan. Suku cadang kelas dua pun jadilah.

Helikopter itu terbang membubung, lalu mulai berputar mengelilingi landasan. Suara mesinnya menderu-deru, ditingkahi bunyi baling-baling memotong angin. Mendadak, suara mesin senyap. Dalam hitungan detik, hidung heli menukik turun. Tak lama, sebuah dentuman besar menandai terempasnya helikopter Puma 3306 TNI Angkatan Udara, di Landasan Udara Atang Sendjaja, Bogor, Jumat dua pekan lalu. ”Apinya baru padam setelah 15 menit,” kata Salman, 60 tahun, petani di Bojong yang melihat langsung peristiwa na-has itu.

Kecelakaan itu menambah deretan panjang pesawat, helikopter, dan peralatan tempur Tentara Nasional Indonesia yang rusak saat digunakan dalam latihan militer. Tak sampai seminggu sebelumnya, sebuah helikopter Bolkow BO-105 TNI Angkatan Darat juga jatuh di Pagelaran, Cianjur, Jawa Barat. ”Saat itu cuaca berkabut dan hujan deras,” kata Kepala Dinas Penerangan TNI-AD, Brigadir Jenderal TNI Christian Zebua.

Prihatin atas serentetan peristiwa kelam itu, Istana lantas bertindak. Awal Juni lalu, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono membentuk tim audit peralatan militer TNI. Tim yang terdiri atas para inspektur jenderal di Departemen Pertahanan dan angkatan-angkatan TNI ini akan mengevaluasi manajemen perawatan peralatan dan pengelolaan anggaran militer. ”Audit diharapkan selesai akhir Juli,” kata Menteri Pertahanan Juwono Sudarsono.

Teknisi Berkualitas

LIMA pesawat Hercules C-130 diparkir berjajar di hanggar Skuadron 32, Landasan Udara Abdulrachman Saleh, Malang, Jawa Timur, Rabu pekan lalu. Pesawat angkut andalan TNI ini baru saja melalui proses perawatan berkala. ”Sebelum dan sesudah terbang pun, pesawat menjalani pemeriksaan reguler,” kata kepala penerangan di landasan udara itu, Mayor Wahyudi.

Landasan Udara Abdulrachman Saleh kini ditempati lima pesawat Hercules dan dua pesawat Cassa C 212. Enam pesawat Cassa lainnya serta sejumlah pesawat OV-10 Bronco sudah tidak laik terbang. Semua pesawat di sana hanya bisa digunakan untuk operasi dan latihan militer, serta penanganan bencana alam.

Pesawat yang masih laik terbang menjalani perawatan berkala di skuadron teknik khusus yang ada di pangkalan itu. Jika ada pesawat yang membutuhkan perbaikan berskala menengah sampai besar, penanganan teknis diserahkan ke unit depo pemeliharaan, yang lokasinya sekitar 1 kilometer dari skuadron. Depo ini ada di bawah Komando Pemeliharaan Material TNI Angkatan Udara.


Sebagian besar teknisi di Koharmatau mendapatkan lisensi pendidikan luar negeri

Depo ini memiliki beberapa unit khusus. Ada yang menangani mesin pesawat Cassa, Hercules, dan Hawk saja. Ada unit yang hanya merawat aspek kelistrikan dan alat penerbangan. Dan ada bagian yang fokus merawat rangka dan bodi pesawat. Semua teknisi diseleksi ketat. ”Mereka punya lisensi, dan dilatih secara berkelanjutan dan berjenjang,” kata Wahyudi. Tak hanya itu, para staf perawatan alat militer ini juga disumpah untuk serius mengerjakan tugasnya.

Kondisi di Landasan Udara TNI-AU Atang Sendjaja, Bogor, Jawa Barat tak jauh beda. Landasan ini memiliki skuadron teknik khusus yang menangani perawatan peralatan militer. Skuadron itu dibentuk pada September 1966 dan bertanggung jawab atas perawatan belasan helikopter Super Puma yang bermarkas di Atang Sendjaja.

Sebagian besar staf perawatannya mendapat pendidikan khusus di luar negeri. Ada yang lulusan kursus Royal Australian Air Force di Fairbairn Base, Australia, untuk pemeliharaan helikopter jenis Bell-204B. Ada yang belajar ke Helly Orient Pty., sebuah unit perawatan dan pemeliharaan heli dan pesawat di Singapura.

Pendidikan mutakhir juga didapat para staf dan teknisi dari Aerospatiale, perusahaan pembuat helikopter di Paris, Prancis. Pelatihan ini adalah paket dari pembelian sejumlah pesawat terbang dan helikopter—termasuk helikopter tipe SA-330J/L Puma—yang diproduksi negara itu, pada akhir 1970-an. ”Jadi, dari segi kualitas teknisi, tidak ada masalah,” kata Wahyudi.

Suku Cadang Asli Tapi Palsu

Meski sekilas ”aman-terkendali”, sumber Tempo di TNI punya cerita lain. Dia menegaskan bahwa pengadaan suku cadang pesawat di Landasan Udara Abdulrachman Saleh kerap bermasalah. Pemicunya adalah kenaikan harga suku cadang asli pesawat. ”Akhirnya, kita pesan suku cadang asli-palsu buatan Cina,” katanya. Hampir semua komponen pesawat, kata dia, punya versi tiruan yang harganya lebih murah.

Di Bogor, masalah serupa muncul pada awal 2000-an, ketika pabrik Aerospatiale berhenti memproduksi suku cadang dan mesin Puma SA-330. Otomatis, kerusakan sedikit saja bisa membuat heli TNI-AU di sana parkir selamanya. Para teknisi Atang Sendjaja pun terpaksa pijat kening mencari solusi yang realistis.

Pada 2003, proses ”kawin silang” antar-helikopter di Atang Sendjaja pun dimulai. Tiga mesin heli yang sudah tua dan tidak diproduksi lagi diganti dengan mesin baru dari helikopter Super Puma AS-332. Tak hanya ganti mesin, ”kawin silang” ini memodifikasi sistem penerbangan, alat bantu navigasi, sampai memperbarui persenjataan. Saat Tempo berniat melihat langsung fasilitas perawatan pesawat dan helikopter di sana, kepala penerangan lapangan udara itu, Mayor Sus M.I. Adam, melarang. ”Harus ada izin dari Markas Besar TNI,” katanya.


Cockpit C-130 Hercules. Dari 23 unit hanya 10 pesawat hercules yang laik terbang.

Komandan Pemeliharaan Material TNI Angkatan Udara Marsekal Muda Sumaryo H.W. mengakui dibutuhkan sedikitnya Rp 1,6 triliun untuk perbaikan semua pesawat Hercules TNI. Jumlah itu bagai langit dan bumi jika dibandingkan dengan ketersediaan dana perawatan Hercules saat ini yang hanya Rp 100 miliar. Akibatnya, dari total jumlah Hercules TNI saat ini sebanyak 23 unit, hanya 10 pesawat yang laik terbang. ”Sisa yang 10 ini pun tidak 100 persen laik,” katanya, akhir Mei lalu. Idealnya, menurut Sumaryo, biaya perawatan satu pesawat Hercules dianggarkan Rp 80 miliar.

Namun, bantahan datang dari Markas Besar. ”Masalah kecelakaan ini tidak ada kaitannya dengan anggaran,” sergah juru bicara Markas Besar TNI Marsekal Muda Sagom Tamboen. Anggaran besar, kata dia, bukan jaminan tak ada kecelakaan. Panglima TNI Jenderal Djoko Santoso juga menolak tuduhan ada penyimpangan dalam pengadaan dan penggantian suku cadang peralatan TNI. ”Saat melakukan pemeliharaan, sebelum penggantian atau pengadaan suku cadang, selalu ada tim komisi untuk mengecek kesesuaian suku cadang,” kata Djoko, pekan lalu.

Anggaran TNI saat ini hanya Rp 33 triliun, dari pengajuan semula sebesar Rp 127 triliun. Sebanyak 70 persen dari dana itu digunakan untuk membayar gaji prajurit dan staf, dan baru sisanya untuk pembelian dan perawatan peralatan militer. Pengadaan peralatan baru jelas butuh biaya besar, sehingga dana untuk perawatan pun makin kecil. ”Beli satu pesawat Sukhoi saja sudah berapa duit itu?” kata Sagom Tamboen. Dengan anggaran yang tersedia sekarang, Sagom memperkirakan hanya seperempat pesawat dan helikopter TNI yang laik terbang.

Untuk menyiasati kondisi itu, pesawat yang ada diterbangkan bergiliran. ”Kami buat prioritas,” kata Sagom. Ini penting agar pesawat yang terlalu lama diparkir di hanggar tak berubah jadi besi tua. ”Jika tidak diterbangkan, bisa rusak semua,” katanya.

Sumber : MAJALAH TEMPO

TNI AL dan RAN Latihan Bersama


HMAS Manoora (L-52)

SURABAYA - TNI Angkatan Laut (AL) dan Angkatan Laut Australia (RAN) melakukan latihan bersama di perairan wilayah Indonesia, 16-22 Juni.

Latihan yang diberi sandi "New Horizon Exercise-09" itu dibuka beberapa saat setelah kapal perang Australia HMAS Manoora (L-52) bersandar di Dermaga Jamrud Utara, Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya, Selasa (16/6) lalu.

Kepala Dinas Penerangan Komando Armada RI Kawasan Timur (Koarmatim) Letkol Laut Toni Syaiful mengatakan latihan bersama antarpasukan AL kedua negara bertetangga itu berlangsung pada 16-22 Juni 2009.

Upacara pembukaan latihan itu dilakukan di Kapal perang Republik Indonesia (KRI) Surabaya-591 yang dipimpin Komandan Gugus Tempur Koarmatim Laksamana Pertama TNI RM Harahap.

Dari pihak AL Australia dipimpin Komandan HMAS Manoora (L-52), Letkol Stepen Dryden, dan didampingi beberapa perwira staf yang sejak pagi sudah berada di Dermaga Jamrud Utara.

Menurut Toni, HMAS Manoora (L-52) merupakan kapal perang jenis Landing Platform Amphibious Ship yang panjangnya 159,2 meter, lebar 21,2 meter, dan berbobot 8.534 ton.

"Kapal ini berada di Surabaya untuk melakukan latihan fase pertama di pangkalan yang meliputi communications, enginneering, cargo handling, medical, damage control, boarding VBSS, dan hello operation procedures," katanya.

Selanjutnya HMAS Manoora akan bertolak dari Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya menuju Laut Jawa untuk melakukan latihan fase kedua, yakni manuver di lapangan sebagai penerapan latihan yang telah dilaksanakan di pangkalan sebelumnya.

Pada manuver lapangan ini, menurut Toni, TNI AL dari jajaran Koarmatim mengerahkan kapal dari jenis yang sama dengan kapal perang Australia jenis "Landing Platform Dock", yakni KRI Surabaya-591.

Sementara itu, Komandan Satgas "New Horizon Exercise-09", Kolonel Laut (P) Budi Djatmiko menambahkan latihan bersama itu bertujuan untuk mempererat hubungan dan kerja sama yang saling menguntungkan antara TNI AL dan AL Australia.

Sekaligus melatih prosedur koordinasi dan kemampuan berorganisasi secara harmonis, memupuk persahabatan, dan meningkatkan profesionalisme masing-masing prajurit.

Sumber : ANTARA

Friday, June 19, 2009

Paradigma Peperangan & Perdamaian di Millenium ke Tiga (II)

Oleh : Edi S Saepudin., SP.

Tercatat Napoleon Bonaparte (Abad 19), selama kampanye peperangannya di Eropa, yang mengadopsi strategi Tsun Tzu, ia kombinasikan dengan kecemerlangan dirinya, jurnal dan grand strateginya dituliskan oleh dua orang jendralnya, pertama Henri Jomini (1779 – 1869) seorang jendral berkebangsaan Swiss, dan kedua Karl von Clausewitz (1780 – 1831) berkebangsaan Jerman.

Jendral Jepang yang mengadopsi strategi Tsun Tzu adalah Yamashita, disepanjang kampanyenya di asia tenggara, terutama saat menggulung semenanjung Malaysia, Singapura, dan Hindia Belanda dengan menggembor-gemborkan propaganda “Asia Timur Raya”.

Pergeseran orientasi peperangan terjadi saat ahli-ahli strategi dinegara-negara maju mengadopsi pemikiran Jomini dan Von Clausewitz, dan mengejawantahkannya dalam bentuk penggalian sumberdaya inovasi dan teknologi, untuk kepentingan kemajuan dan pengembangan strategi dan peralatan persenjataan. Puncak dari segala pengembangan persenjataan berdasarkan konsep Karl von Clausewitz adalah senjata nuklir (bom atom).

Segera setelah itu, muncul kesadaran baru, bahwa eksplorasi “perlunya penggunaan kekerasan tanpa batas untuk memperoleh kemenangan perang”, seperti apa yang menjadi inti pemikiran Karl von Clausewitz telah mencapai puncaknya, dan bahwa dengan senjata yang tercipta itu, bahkan bukan hanya kemenangan perang yang dapat diraih, tapi sekaligus penghancuran peradaban manusia.

Kepemilikan senjata nuklir oleh pihak musuh dalam tanda kutip, adalah sebuah deterent tak terkira dalam kapasitasnya sebagai alat tindak balas, dan bahwa penggunaan nuklir secara masif dalam sebuah peperangan, akan mempertaruhkan dunia dan seisinya..

Orientasi perang pada masa kekinian telah benar-benar berubah, metamorfosa strategi peperangan telah mengalami perubahan bentuk menjadi bentuk-bentuk halus, bentuk-bentuk yang tercipta, lebih mengutamakan kecerdasan dengan dukungan teknologi yang semakin canggih.

Konsep ”kekuatan moral dan intelektual bersifat menentukan dalam memenangkan perang” dan “Strategi yang baik adalah, strategi yang dapat membawa kemenangan perang tanpa banyak penggunaan kekerasan dan pertumpahan darah”, serta “yang penting adalah penentuan dan pelaksanaan tindakan-tindakan sebelum perang yang sebenarnya”, telah diadopsi dan dikembangkan menjadi bentuk-bentuk strategi halus, dalam bentuk tipu muslihat dan misi-misi dis-informasi canggih serta kasat mata.

Sebuah pertunjukan akan keberhasilan dan efek dari pelaksanaan strategi Tsun Tzu, di awal millenium ketiga ini, dipertontonkan para pemikir strategi Amerika Serikat. Mereka mampu membuktikan kepiawaian mereka dalam mengadopsi strategi Tsun Tzu saat menginvasi Irak.

Bagaimana perang Opini yang dilancarkan dan misi-misi dis-informasi mereka, telah berhasil menipu dan meluluhkan hati rakyat Irak, sehingga ketika mereka masuk Baghdad, mereka dielu-elukan sebagai “tentara pembebas, sebagai pahlawan”, sebuah kejadian tragis dan ironis bagi kesejarahan bangsa besar dan tua sekelas Bangsa Irak.


Tentara AS di Iraq

Pada dua dekade terakhir abad 20, semua ekonom telah mengatakan dan sepakat, bahwa milenium ketiga akan menjadi milik wilayah asia pasifik. Sekali lagi “kepentingan” menjadi sentral ide dan bahasan, fakta akan munculnya negara industri baru memunculkan asumsi-asumsi. Betapapun hal tersebut adalah sebuah proses alamiah dari pertumbuhan sebuah peradaban manusia, perkembangan positif ini telah dipandang sebagai resiko, akan munculnya saingan/rival baru dalam percaturan perekonomian dunia.

Upaya menjegal dan menghambat kemunculan negara-negara industri baru ini, telah disusun dengan begitu brilian, sehingga bukan hanya mampu menjatuhkan mereka, tetapi sekaligus mampu menggelontorkan keuntungan tak terkira bagi negara-negara maju.

Hanya ketika mereka mengguncang negara maju sekelas Jepang, mereka segera menyadari, bahwa kekuatan ekonomi negeri itu, memiliki pasukan tersendiri, yang suka atau tidak, mereka harus mengakui, bahwa mereka merasa gentar untuk berhadap-hadapan secara langsung.

Gelombang terbesar serangan yang dilakukan pada dekade terakhir abad itu, menjadi gelombang pasang kalau tidak bisa dikatakan tsunami, bagi negara-negara dibelahan pasifik, mulai dari asia tenggara hingga asia timur.

Berapa kerugian Jepang akibat gelombang serangan itu, 1.4 triliun dolar raib, padahal itu hanya dari bank centralnya saja, dan tanyakan pada diri kita, berapa negara ini mengalami kerugian?. Peperangan dalam konteks kekinian telah menjadi peperangan non-kombatan, karena apa yang mejadi persengketaan adalah “kepentingan”.

“Sebuah bentuk peperangan baru yang bisa dilakukan sambil duduk dibelakang meja, tanpa satu prajuritpun dikirim kemedan laga, yang baru diketahui, dilihat dan dirasakan ketika sebuah negara telah jatuh. Sebuah bentuk perang baru, yang harus menjadi tantangan bagi para pemikir strategi Bangsa ini untuk segera diantisipasi dan dilawan”.

Bentuk-bentuk pembangkangan seperti yang dilakukan Korea Utara, Iran dan Venezuela, harus menjadi contoh negatif, bentuk-bentuk demikian mengandung resiko dan pertaruhan yang teramat besar. Hanya karena Korea Utara telah memiliki nuklir saja, sehingga negara ini dikeluarkan dari agenda sebelum Irak, dan hanya karena militansi rakyatnya saja, kenapa hingga saat ini Iran belum masuk jadwal dalam agenda, sedangkan kenapa Venezuela belum masuk jadwal, lebih dikarenakan ada beberapa pijakan yang telah mereka tanam dianak benua sana, sehingga tak perlu terlalu dipedulikan dan dianggap.


Rudal permukaan Korea Utara

Apa yang dilakukan Mesir, Malaysia, dan yang paling menonjol adalah China, India dan Fakistan adalah sebuah contoh kecerdasan para pemikir strategi bangsa-bangsa itu, dalam memenangkan peperangan yang sebenarnya pada khazanah kekinian.

Contoh kemenangan paling cemerlang ditunjukan oleh negara tirai bambu, dan sungguh tidaklah aneh, karena strategi yang digunakan agresor akarnya tumbuh dinegeri ini. Tidak perlu malu kita datangi negeri ini, dan belajarlah dari mereka, bukankah seperti yang dikatakan BJ. Habibie dalam sebuah tayangan televisi, merekapun tidak malu untuk bertanya dan belajar pada kita pada suatu masa dulu.

Mencermati langkah yang diambil China, kita melihat sebuah keluwesan dan ketegasan dalam berdiplomatik.

Bangsa ini berani dengan tegas menunjukkan integritasnya sebagai negara besar, sebagai negara merdeka dalam arti sebenarnya, ada saatnya mereka mengikuti dan pada saat lain mereka menolak, bahkan dalam hal yang ekstrim mereka berani menyatakan perang terhadap sebuah kebijakan dan aturan internasional yang dipaksakan.

Mereka berani berdiri menunjukan jati dirinya, pada satu saat mereka adalah teman atau bahkan sahabat, tapi pada saat lain, mereka dengan tegas menunjukkan sikap sebagai musuh, “luwes, licin dan Brilian”. Haramkah hal ini, tentu tidak dalam kacamata politik negara dalam khazanah internasional, “kepentingan” kuncinya.

Apa yang kita lihat sekarang, negeri ini (China) leading dalam berbagai sektor, secara ekonomi mereka bukan hanya dianggap harus diperhitungkan, malah sudah dianggap ancaman, secara militer negeri ini dianggap mengkhawatirkan kalau tidak bisa dikatakan mulai menakutkan.

Bersambung...

Indonesia Siap Melaksanakan Perundingan Ambalat. Malaysia?!?

JAKARTA - Departemen Luar Negeri (Deplu) Republik Indonesia menetapkan pekan kedua bulan Juli sebagai waktu pelaksanaan perundingan mengenai batas wilayah laut dengan Malaysia.

"Juru runding Indonesia sudah menyatakan kesiapannya untuk melaksanakan perundingan sekitar tanggal 13 hingga 14 Juli 2009, dengan Malaysia sebagai tuan rumah," kata juru bicara Deplu Teuku Faizasyah, di Jakarta, Jumat (19/6).

Saat ini, kata dia, pemerintah Indonesia masih menunggu kesanggupan Malaysia yang mendapat giliran menjadi tuan rumah perundingan.

"Hingga saat ini, Deplu belum menerima konfirmasi kesanggupan Malaysia untuk melaksanakan perundingan," katanya.

Salah satu penyebab Malaysia belum siap dengan perundingan ini, ia memperkirakan, belum terbentuknya tim negosiasi negeri jiran itu.

Pemerintah Indonesia, kata dia, akan terus mendesak Malaysia agar tetap melaksanakan perundingan pada waktu yang telah ditetapkan.

Ia mengatakan, juru runding Indonesia siap berangkat pada waktu yang ditentukan untuk membahasa masalah perbatasan laut.

Ia menjelaskan, perundingan itu tidak hanya akan membahas mengenai masalah Ambalat, namun juga batas laut lainnya, seperti Selat Malaka.

Sumber : ANTARA