Tuesday, March 31, 2009

Uji Coba Landing Craft Mechanic (LCM) AD-59

PONTIANAK - Kabekangdam VI/Tanjungpura, Kolonel Cba. M.Erick Sitanggang (tengah), berada di ruang kemudi, saat uji coba Landing Craft Mechanic (LCM) AD-59, di perairan Sungai Kapuas, Pontianak, Kalbar, Selasa (31/3). Keberadaan LCM AD-59 tersebut, berfungsi mendukung tugas pokok Korem 121/Alambhana Wanawai, sebagai kapal pengangkut logistik dan personel ke daerah pesisir di perbatasan Indonesia-Malaysia, untuk mendukung Operasi Sea Trial, diantaranya Tanjung Datuk dan Kabupaten Ketapang. FOTO ANTARA/Jessica Wuysang/ss/mes/09



Sukhoi Terbaru Uji Air Refueling



MAKASSAR - Dua Pesawat Tempur Sukhoi-30 terbaru Skadron Udara 11 Wing 5 Lanud Sultan Hasanuddin, selama dua hari (23-24/3), melaksanakan uji coba air Refueling (pengisian bahan bakar diudara) dari pesawat tanker KC-130 dari Skadron Udara 32 Lanud Abdulrachman Saleh Malang dengan Pilot Komandan Skadron 32 Letkol Pnb Yani Ajat.

Sebelum melakukan uji coba Air Refueling, hari pertama dilaksanakan uji kering Air Dinamis di Base Ops. Lanud Sultan Hasanuddin yang berlangsung selama kurang lebih tiga jam berjalan lancar, disaksikan langsung Komandan Lanud Sultan Hasanuddin Marsekal Pertama TNI IB.Putu Dunia, Komandan Wing 5 Kolonel Pnb Arif Mustofa, Tim dari Mabesau, Dsilitbangau dan dari Koharmatau , Tim teknisi pesawat Sukhoi dari Rusia, serta beberapa perjabat dari Koopsau II dan Lanud Sultan Hasanuddin lainnya.

Usai uji Air Dinamis Air Refueling didarat , dilanjutkan uji air refueling dengan menggunakan pesawat Hercules KC-130 yang dilengkapi dengan selang dan paradrogue assy serta satu buah tangki yang berkapasitas 15.000 liter bahan bakar tersebut tepat pukul 13.15 Wita take off dari landasan Sultan Hasanuddin terbang dengan ketinggian 10.000 feet di atas wilayah udara makassar, disusul dua pesawat Sukhoi take pukul 13.55 dan 13 .56 Wita yang langsung melaksanakan air dinamais air refueling yang berlangsung kurang lebih dua jam.

Dihari kedua uji coba air dinamis air refueling pesawat tempur Sukhoi dimulai pukul 10.20 sampai dengan pukul 12.24 Wita, dilaksanakan sebanyak empat sortie dengan menggunakan pesawat tempur Sukhoi TS-3005 dan TS-3003 yang diawaki oleh Komandan Skadron Udara 11 Letkol Pnb W . Iko Putra, Mayor Pnb Toni dan Mayor Pnb Yosta Riza serta dua Penerbang dari Rusia Sergey dan Roman.

Sumber : DISPENAU

Monday, March 30, 2009

Transportasi Udara Batam-Natuna Terganggu Perjanjian Militer


View Larger Map

BATAM - Transportasi udara Batam-Natuna terganggu perjanjian militer antara Indonesia dengan Singapura yang membolehkan negara jiran itu menggunakan perairan Kepulauan Riau sebagai daerah latihan perang.

"Pesawat kita jadi harus memutar arah, karena tidak bisa lewat daerah itu," kata Pimpinan Kelompok Teknisi Pemanduan Lalu Lintas Udara Bandara Hang Nadim Indah Irwansyah di Batam, Senin (30/3).

Keluhan itu ia sampaikan kepada Menteri Perhubungan Jusman Syafii Djamal saat berkunjung ke menara kontrol Bandara Hang Nadim.

Menurut Indah, akibat pemutaran jalur terbang, maka jarak tempuh pesawat menjadi dua kali lipat semestinya. Biaya bahan bakar pun menjadi dua kali lipat.

Indah mengatakan, jika memaksa melewati daerah itu, maka tentara Singapura akan menembak pesawat. "Memang begitu, karena sudah diperingatkan," kata dia.

Menurut Indah, pemutaran wilayah rute di daerah sendiri tidak masuk akal. "Masak kita tidak boleh lewat daerah negara kita sendiri," kata dia.

Sementara itu, Menteri Perhubungan Jusman Syafii Djamal mengatakan penerbangan Indonesia harus menghormati perjanjian yang sudah disepakati Indonesia dan Singapura.

"Memang tidak bisa dilewati. Itu wilayah militer. Memang jalurnya harus memutar," kata dia.

Ia mengatakan tidak bisa merevisi perjanjian itu karena dibuat instansi lain (Departemen Pertahanan).

Sumber : ANTARA

Berita terkait lainnya :
Batam Lepas Ketergantuangan ATC Singapura 2010

Skadron Udara I Gelar Latihan Alap Alpha 2009



PONTIANAK - Jumat (27/3) pekan lalu digelar Latihan Alap Alpha 2009, latihan yang digelar satu tahun sekali ini, merupakan latihan puncak satuan Skadron Udara 1 Lanud Supadio. Pada latihan ini mencakup seluruh materi yang telah dilatihkan oleh Skadron Udara 1. "Bertujuan agar seluruh penerbang Skadron Udara 1 dapat mengaktualisasikan dan mengukur kemampuannya sehingga mencapai penerbang yang handal,” jelas Komandan Lanud Supadio Kolonel Pnb Yadi Indrayadi.

Adapun jenis latihan yang dilaksanakan pada latihan ini adalah MOT (Mission Oriented Trainning). Pada latihan ini Skadud 1 mengerahkan 4 pesawat yang terdiri dari 2 pesawat Hawk 100 (double seat) dan 2 pesawat Hawk 200 (single seat) dan melibatkan 5 orang penerbang. Berperan sebagai striker adalah Kapten Pnb Sidik Setiyono, Lettu Pnb M. Syaifuddin (Backseet), dan Lettu Pnb M. Amry Taufanny. Sedangkan sebagai eskort adalah Kapten Pnb Supriyanto dan sebagai CAP/DCA adalah Kapten Pnb Humaidi Syarif Romas,” tambah Komandan Skadron Udara 1 Letkol Pnb Nurtantio Affan.

Sumber : DISPENAU

Friday, March 27, 2009

Sekilas Tentang Kekuatan Tentera Laut Diraja Malaysia (TLDM)


Meko-100 TLDM

Awal terbentuknya Tentera Laut Diraja Malaysia (TLDM) adalah satuan kecil para sukarelawan yang direkrut pemerintah kolonial Inggris untuk melakukan patroli keamanan di perairan sekitar Semenanjung Malaya.

Sempat beberapa kali berganti nama, keberadaan TLDM kini patut di-perhitungkan karena ia telah menjelma sebagai satu kekuatan bahari militer yang maju. Bermodalkan belasan kapal perang berteknologi nan canggih, negara kesultanan kaya kelapa sawit ini ikut mengendalikan lalu lintas kapal di Selat Malaka dan sebagian Selat Singapura yang merupakan salah satu jalur niaga bahari cukup penting.

Wilayah operasi TLDM kini tak hanya di sekitar Semenanjung Malaya, namun telah merambah ke kawasan utara Pulau Kalimantan di mana negeri jiran ini memiliki banyak ‘kepentingan nasional’.

Sama halnya dengan program pengadaan Korvet Nasional TNI-AL yang mengadopsi korvet Sigma, Malaysia pun melakukan hal yang sama dengan mengadopsi Meko-100 buatan Jerman. Bergabungnya beberapa kapal perang tipe Meko-100 buatan Jerman ini yang juga telah mampu dibangun digalangan kapal dalam negeri membuat TLDM selangkah lebih maju dalam pengembangan kapal perangnya.

Belum lagi kekuatan kapal selam kelas Scorpene asal DCNS-Perancis, membuat TLDM semakin berniat mendominasi dinamika kehidupan perairan di sekitar Selat Malaka dan Laut China Selatan.


Awak kapal selam Scorpene TLDM

Perlahan namun pasti, kemampuan operasional TLDM kabarnya juga telah meningkat pesat. Dari semula hanya mampu berkiprah di perairan dangkal (brown water navy), kini jadi kekuatan laut yang bisa malang melintang di samudera (blue ocean navy).

Kekuatan saat ini dan masa depan

Pada dekade 1980-an, TLDM membeli empat korvet kelas Laksamana buatan Italia. Semula keempat kapal itu milik Irak, tapi batal dikirim karena negara itu diembargo senjata. Tak lama berselang, menyusul bergabung dua frigat kelas Lekiu.

Disainnya mengacu kepada frigat kelas Yarrow F2000 yang berbobot mati 2.300 ton dan dipersenjatai rudal permukaan ke permukaan Exocet MM40 II, rudal anti pesawat tempur yang dilun-curkan secara vertikal (VLS) Sea Wolf plus helikopter Super Lynx. Sebagai pelengkap, TLDM juga mengadopsi dua kapal frigat kelas Kasturi buatan Jerman.

Saat masa pakainya hampir habis, seluruh kapal perang ini dan sepasang kapal penyapu ranjau kelas Mahameru diremajakan lewat Program Perpan-jangan Masa Pakai (Service Life Extension Program – SLEP). Divisi bahari pabrikan senjata terkemuka Perancis, Thales, ditunjuk selaku pelaksananya. Usai diremajakan, seluruh kapal perang ini masih dapat berdinas hingga 10 tahun ke depan.

Untuk menyangga kemampuan operasinya, TLDM menambah jumlah armada frigat kelas Lekiu sebanyak dua kapal. Pada keduanya dipasang teknologi perang bahari terkini yang ada di kapal perusak kelas T45.


Scorpene TLDM

Selain itu, TLDM tetap mengagendakan pembelian satu kapal selam Diesel electrik kelas Scorpene (sebagai pelengkap kapal selam sekelas KD Tunku Abdul Rahman yang telah lebih dulu tiba), plus 27 kapal patroli generasi baru (New Generation Patrol Vessel – NGPV) kelas Kedah serta beberapa pesawat patroli bahari. Dua di antara ke 27 NGPV kelas Kedah telah dite-rima TLDM pada pertengahan 2006 (KD Kedah dan KD Pahang).

Sementara dua kapal sekelas lainnya, KD Perak dan KD Treng-ganu, diharapkan dapat diterima TLDM akhir 2009. Tentera Laut Diraja Malaysia berharap pada 2020 mereka telah memiliki enam kapal untuk tiap jenis kapal kombatan yang sekarang ada di gudang senjatanya.

Dalam rangka memenuhi kebu-tuhan akan pesawat terbang yang mampu mengemban misi patroli bahari jarak jauh, TLDM mengan-dalkan empat pesawat patroli bahari Beechcraft B200 T milik Tentera Udara Diraja Malaysia. Akibat keterbatasan anggaran, hingga kini belum terdengar kabar bahwa TLDM akan memiliki pesawat patroli baharinya sendiri.

Empat kapal kombatan TLDM yang kinerjanya dianggap sudah tidak lagi memenuhi nilai baku operasional dihibahkan kepada Badan Pengawas Bahari Malaysia (MMEA). Masing-masing dua kapal patroli lepas pantai kelas Musytari (KD Musytari (160) dan KD Marikh (161)) serta dua kapal patroli kelas Keris (KD Lembing (P40) dan KD Sri Melaka (P3147)). ©alutsista, dikutip dari Majalah Cakrawala

130 Marinir ke Ambalat



Komandan Brigif-1 Marinir, Kolonel Marinir K. Situmorang, di Surabaya, Kamis (26/3), melepas 130 prajurit dari Pasmar-1 yang bertugas ke Ambalat.

Pada pelepasan dengan menggunakan KRI Teluk Penyu-513 itu, Komandan Brigif-1 mengingatkan pasukan tersebut nantinya akan berada di bawah kendali operasi Gugus Tempur Laut (Guspurla) Koarmatim.

"Bagi prajurit Korps Marinir, tugas adalah suatu kepercayaan, sekaligus amanah, sehingga harus dilaksanakan dengan sungguh-sungguh dan penuh rasa tanggung jawab oleh seluruh anggota satgas," katanya.

Seperti satgas sebelumnya, katanya, seluruh personel Satgas Ambalat akan ditempatkan di Pulau Sebatik yang berbatasan langsung dengan Malaysia.


View Larger Map
Pulau Sebatik, pulau yang dimiliki oleh 2 negara: Malaysia dan Indonesia

"Dengan posisi seperti itu, maka sewaktu-waktu mereka bisa digerakkan dengan lebih cepat ke lokasi pengamanan," katanya.

Sebelum dilepas, satgas tersebut sempat ditinjau oleh Komandan Guspurla Koarmatim, Laksma TNI R. M. Harahap di atas KRI Teluk Penyu-513 yang berada di Dermaga Madura, Ujung, Surabaya.

Penyerahan anggota satgas tersebut nantinya akan dilakukan oleh Letkol Marinir Firman Johan ke Guspurla di Nunukan Kalimantan Timur. Pasukan tersebut selanjutnya akan melaksanakan tugas selama kurang lebih enam bulan.

Ke 130 personel Marinir yang ditugaskan itu terdiri dari 106 personel dari Brigif-1, 13 personel dari Resimen Bantuan Tempur (Menbanpur)-1, tujuh personel Intai Amfibi (Taifib), dan empat orang dari Detasemen Markas Pasmar-1.

Pasukan yang dipimpin oleh Kapten Marinir Budi Santosa itu akan menjaga wilayah perbatasan RI itu agar tidak lepas ke negara asing.

Sumber : JURNAS

Tuesday, March 24, 2009

HUT Pasukan Marinir-1

SURABAYA - Sejumlah anggota Resimen Bantuan Tempur (Menbanpur) Marinir menembakkan meriam Howitzer sebanyak delapankali, sementara dua anggota Resimen Bantuan Tempur (Menbanpur) Marinir melakukan manuver tempur dengan sespan militer (kendaraan tempur roda dua dengan dudukan samping) dilengkapi senjata api laras panjang di Bumi Marinir Karangpilang Surabaya, Selasa (24/3). Manuver tempur tersebut dalam rangka HUT Pasmar-1 ke-8. FOTO ANTARA/Eric Ireng/hp/09


Destroyer Rusia dijadwalkan Berkunjung ke Jakarta

VLADIVOSTOK - Gugus tugas dari satuan Armada Pasifik Rusia tengah melakukan perjalanan dari Vladivostok ke Teluk Aden bulan ini untuk ambil bagian dalam operasi anti-pembajakan, demikian ungkap juru bicara armada Pasifik Senin (23/3).

Rencananya kapal perusak 'Admiral Panteleyev', beserta kapal-kapal pendukungnya bertugas menggantikan gugus tugas sebelumnya guna pengamanan dari pembajak Somalia sejak awal Januari lalu. Armada Rusia ini dipimpin oleh Admiral Vinogradov.

Admiral Panteleyev merupakan kapal Destroyer kelas Udaloy bersenjata rudal anti-kapal permukaan, meriam 30 mm dan 100 mm serta diperkuat heli anti-kapal selam Ka-27 Helix.



Destroyer Admiral Vinogradov-572

Kapal yang digantikan Destroyer Admiral Vinogradov dan kapal tanker Boris Butoma sebelumnya bertugas di sekitar Horn-Afrika dan dijadwalkan kembali ke pangkalan AL-Rusia di Vladivostok awal April nanti.

Destroyer Rusia ini juga dijadwalkan akan melakukan kunjungan resminya ke Jakarta pada 24-28 Maret, dalam rangka perjalanannya kembali ke Vladivostok. Mereka juga akan mengunjungi Zhanjiang-China.

Ada sekitar 20 kapal perang dari belasan negara yang terlibat dalam operasi anti-pembajakan di Somalia. Menurut PBB, pembajak Somalia melakukan setidaknya 120 kali serangan ke kapal-kapal yang melewati telu Aden pada 2008, dan berhasil mengumpulkan uang tebusan sekitar US$ 150 juta.

Sumber : RIA NOVOSTI

Sukhoi Akan Terbang Solo Aerobatik

JAKARTA - Satu unit pesawat tempur Sukhoi TNI AU akan melakukan terbang solo aerobatik pada peringatan HUT ke-63 TNI AU pada 15 April 2009 di Jakarta.

"Karena pada hari jadi TNI AU pada 9 April bertepatan dengan Pemilu Legislatif, maka diundur pada 15 April dan pada saat peringatan kita akan tampilkan solo aerobatik Sukhoi terbaru," kata Kepala Dinas Penerangan TNI AU, Marsekal Pertama FH Bambang Soelistyo, di Jakarta, Senin (23/3).

Dijelaskannya, pada peringatan HUT ke-63 TNI AU akan dihadirkan dua dari tiga pesawat jet tempur Sukhoi yang baru tiba pada akhir 2008 dan awal 2009 lalu.


2 dari 3 Sukhoi terbaru TNI AU akan tampil di HUT TNI-AU di Jakarta

Satu unit akan melakukan solo aerobatik dan satu unit akan berada di "static line" sebagai bagian dari "static show". "Keduanya akan diterbangkan langsung dari Makassar, sehari sebelum peringatan dilaksanakan," tutur Bambang.

Pada pertengahan tahun 2009 nanti, hingga tahun 2010 TNI AU dijadwalkan akan mendapat tambahan tiga Sukhoi SU-27SKM. Sehingga secara keseluruhan TNI AU memiliki sepuluh unit pesawat jet tempur Flanker.

Sumber : JURNAS

Monday, March 23, 2009

Terjun Tempur Pasukan Taifib-1

SURABAYA - Sejumlah angota pasukan khusus Intai Amfibi-1 (Taifib-1) Marinir, melakukan latihan terjun tempur freefall dari pesawat Casa Skuadron Udara 600 Wing Udara-1 Puspenerbal di atas Bumi Marinir Karangpilang Surabaya, Senin (23/3). Latihan tersebut dalam rangka gladi bersih HUT Pasmar-1 ke-8 yang akan digelar di Bumi Marinir Karangpilang Surabaya pada 24 Maret 2009. FOTO ANTARA/Eric Ireng/mes/09.



Pangkalan Utama TNI AL II-Tanjung Priok akan dipindahkan


Lantamal II Tanjung Priok-Jakarta

Pelindo II Tengah Menyiapkan Lahan Pengganti

JAKARTA - Kepala Staf Angkatan Laut (Kasal) Laksamana TNI Tedjo Edhy Purdijatno mengatakan, PT Pelindo harus menyiapkan lahan pengganti bagi kantor dan pangkalan militer sebelum dipindahkan dari Pelabuhan Tanjung Priok.

"Saya tahu mereka akan mengembangkan kawasan ini untuk bisnis, dan karenanya mereka harus mencarikan lahan pengganti yang sesuai dengan kepentingan militer," ujarnya, di Jakarta, Jumat (20/3).

Ditemui usai menghadiri upacara pelepasan KRI Diponegoro-365 ke Lebanon, ia mengemukakan, hingga saat ini pihak Pelindo belum mengomunikasikan rencana pemindahan kantor dan pangkalan militer dari Pelabuhan Tanjung Priok.

"Ya jelas lahan tersebut tidak sekedar pantai. Tetapi juga harus dapat disandari kapal-kapal perang bertonase besar. Kalau sekadar pantai untuk apa. Yang jelas lahan itu harus sesuai dengan peruntukannya sebagai pangkalan militer," kata Tedjo menegaskan.

TNI Angkatan Laut juga memiliki Fasilitas Pemeliharaan dan Perbaikan (Fasharkan) di Pulau Pondok Dayung serta Komando Lintas Laut Militer (Kolinlamil).

TNI Angkatan Darat juga memiliki Batalyon Angkutan Air. Dari Kepolisian ada Satuan Kepolisian Air dan Udara serta Diklat Polairud di Pulau Pondok Dayung.

Saat ini PT Pelindo II Cabang Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, terus melakukan pembongkaran dan penggusuran kantor dan gudang di sekitarnya. Dengan alasan penataan area pelabuhan, BUMN ini dalam waktu dekat juga akan menggusur lima pangkalan militer milik TNI AL dan 10 perusahaan galangan kapal serta merelokasinya ke luar pelabuhan.

Menurut PT Pelindo II, penataan area pelabuhan sesuai amanat UU Nomor 17 Tahun 2008 tentang Pelayaran sehingga semua aktivitas yang tidak terkait dengan bisnis kepelabuhanan harus direlokasi ke luar pelabuhan.

Sumber : ANTARA

Kontrak Pengadaan Kapal Selam dan Kapal Perusak Ditargetkan Juni 2009


Kapal perusak kawal rudal 105m

JAKARTA - TNI AL akan menyerahkan spesifikasi teknis dan persyaratan operasional kapal perusak kawal rudal ke Departemen Pertahanan (Dephan), akhir bulan Maret ini. Pasalnya, Dephan menargetkan penandatanganan kontrak pengadaan satu kapal selam dan kapal perusak dilakukan Juni 2009. "Setelah diserahkan, akan diproses tim evaluasi pengadaan," kata Kepala Staf TNI AL (KSAL) Laksamana Tedjo Edhy Purdijatno di Jakarta, Jumat (20/3) pekan lalu.

Langkah ini sebagai tindak lanjut percepatan penyerapan sisa anggaran pertahanan dari Kredit Ekspor periode 2004-2009 yang mencapai U$1,2 miliar dolar atau sekitar Rp.14 triliun.

Tedjo mengatakan, saat ini tinggal tiga negara produsen yang dinyatakan memenuhi syarat mengikuti tender pengadaan, yakni Italia, Belanda, dan Rusia. Selain harga, transfer teknologi menjadi faktor penentu. Pembangunan di PT PAL, Surabaya tidak bisa ditawar-tawar. "Kalau tidak ada alih teknologi, kapan Indonesia mandiri," katanya.

Matra laut menyiapkan spesifikasi kapal perusak. Sedangkan kapal selam dipegang langsung Dephan. Direktur Jenderal Sarana Pertahanan, Dephan, Marsekal Muda Eris Herryanto mengatakan, telah ada dua produsen kapal selam yang telah melakukan presentasi, yaitu galangan kapal dari Jerman dan Korea Selatan. Keduanya telah menyatakan siap melakukan alih teknologi. "Mereka sama-sama menjamin kapal selam keempat bisa dibangun di Indonesia," kata dia.

Eris menjelaskan, pembangunan kapal selam memakan waktu tujuh tahun. Karena itu, ketika ada dana, sudah sepantasnya kontrak langsung disepakati.

Saat ini TNI AL punya 13 kapal Perusak Kawal Rudal (PKR). Enam kapal fregat kelas Van Speijk dengan rudal Harpoonnya, empat kapal kelas Fatahillah dengan Exocett MM-38, serta tiga korvet Sigma yang gres datang dari Belanda. Untuk kapal selam, TNI AL memiliki dua, yakni KRI Cakra dan Nanggala.


HDW-Jerman menawarkan alih teknologi kapal selam kelas 214

Kepala Dinas Penerangan TNI AL Laksamana Pertama Iskandar Sitompul menjelaskan, meski hanya memesan satu kapal selam dan perusak, efek tangkal yang dihasilkan cukup besar. "Karena keduanya kapal berkategori tempur," kata dia.

Dia mengakui, anggaran pertahanan ideal tidak akan dicapai dalam waktu dekat. Pihaknya hanya meminta pembangunan kekuatan minimal untuk mengamankan perairan Indonesia yang sedemikian luas. "Kapal yang terbatas, disiasati dengan data intelijen yang kuat dan akurat," kata dia.

Sumber : JURNAS

Friday, March 20, 2009

Pelepasan Satgas Maritim TNI Konga-28

JAKARTA - Panglima TNI Jenderal TNI, Djoko Santoso, meninjau KRI Diponegoro-365 di Dermaga Kolinlamil, Jakarta, Jumat (20/3). KRI Diponegoro yang dilengkapi dengan Helikopter NBO-105 bernomor registrasi NV-414, diberangkatkan sebagai Satgas Maritim TNI Konga XXVIII, yang akan bergabung dangan pasukan PBB, untuk tugas penjaga perdamaian di Lebanon. FOTO ANTARA/ Ujagn Zaelani/nz/09


Panglima TNI Lepas KRI Diponegoro ke Lebanon



JAKARTA - Panglima TNI Jenderal TNI Djoko Santoso melepas keberangkatan KRI Diponegoro-365 sebagai Satgas Maritim TNI Kontigen Garuda (Konga) XXVIII-A untuk bergabung dalam Satgas Maritim Pasukan Pemelihara Perdamaian PBB di Lebanon Selatan (Maritime Task Force/MTF-UNIFIL), Jumat (20/3).

Upacara pemberangkatan KRI Diponegoro-365 sebagai dilaksanakan dalam upacara militer di Markas Komando Lintas Laut Militer (Kolinlamil) di Jakarta.

KRI Dipononegoro-365 akan singgah di beberapa pelabuhan di beberapa negara seperti Cochin (India)-Salalah (Oman)-Port Said (Mesir)-Beirut (Lebanon) dengan keseluruhan jarak tempuh mencapai 6.555 mil laut.

Di Lebanon, KRI Diponegoro akan bergabung dalam Satuan Tugas Maritim (Maritime Task Force/MTF) UNIFIL dibawah Comander Task Force (CTF 448) dimana beberapa negara telah mengirimkan kapal perangnya seperti Prancis, Turki, Yunani, Italia, Belgia, Spanyol, dan Jerman.

Persyaratan MTF UNIFIL

Persyaratan minimal untuk kapal perang yang akan bergabung dalam MTF UNIFIL antara lain, mampu mengoperasikan/mengendalikan heli, mampu melaksanakan SAR, mampu melaksanakan RAS (Pengisian BBM di laut), memiliki fasilitas kesehatan kelas satu, dan memiliki "combat management system" secara "real-time".

Selain itu mampu melaksanakan "self protection", memiliki kemampuan mengidentifikasi kawan/lawan (IFF) memiliki berbagai jenis persenjataan serta mampu memberikan bantuan kepada Angkatan Laut Lebanon. KRI Diponegoro-365 juga dilengkapi helikopter NBO-105 No.reg: NV-414.

Satgas Maritim TNI Konga XXVIII dikomandani oleh Kolonel Laut (P) Aan Kurnia dan Komandan KRI Diponegoro-365 adalah Letkol Laut (P) Arsyad Abdullah.

Panglima TNI Jenderal TNI Djoko Santoso mengatakan, ini merupakan kali pertama TNI khususnya TNI AL mengirimkan satgas maritimnya dalam misi perdamaian PBB.

Rencananya, KRI Diponegoro akan melaksanakan tugasnya selama enam bulan hingga Oktober 2009 dan jika dianggap berhasil akan dilanjutkan misinya dengan kapal kedua.

Sumber : ANTARA

Sekilas Info Tentang NBO-105 NV-414 :

Menjelang penugasannya helikopter TNI AL NBO-105 dengan nomor lambung NV-414, 13 Januari lalu telah dilakukan pemasangan perangkat radio VHF/UHF AN ARC 182 dan IFF (Indentification Friend and Foe).

Sarana komunikasi ini nantinya digunakan Penerbang untuk berkomunikasi dengan KRI DPN-365 maupun Airbase di daerah penugasan kelak.




Menhan Tolak Hibah Pesawat Mirage Qatar Airforce


Qatar Emiri Airforce, Mirage 2000-5

JAKARTA - Indonesia menolak hibah satu skuadron pesawat tempur Mirage dari Qatar. Menurut Menteri Pertahanan Juwono Sudarsono, tawaran itu ditolak karena minimnya anggaran yang tersedia untuk perawatan. "Hibahnya sih oke, tapi pemeliharaannya itu mahal," kata Juwono di kantornya, Departemen Pertahanan Jakarta, Kamis (19/3).

Tawaran hibah ini datang enam bulan yang lalu, disampaikan secara lisan oleh Duta Besar RI di Qatar, Rozy Munir. Menurut Juwono, sebenarnya syarat pelaksanaan hibah ini sangat ringan, yaitu cukup Menteri Pertahanan Indonesia mengirim surat kepada Menteri Pertahanan Qatar.

Juwono mengatakan, dilihat sepintas saja sudah bisa dipastikan bahwa hibah pesawat buatan Prancis tahun 2000 ini akan membutuhkan banyak biaya perawatan. Padahal pagu anggaran Departemen Pertahanan dan TNI tak memungkinkan untuk itu. Apalagi fokus pemeliharaan saat ini ditujukan pada pesawat angkut, seperti Hercules. Selain itu, kata Juwono, hibah itu bukan berarti tak ada biaya sama sekali. "Tetap ada. Misalnya, biaya perantara," ujarnya.


Mirage F-1 Qatar, kuat dugaan pesawat jenis ini yang akan dihibahkan

Bagi Departemen Pertahanan, penolakan itu juga karena pertimbangan lain. Menurut Juwono, ada dua beban yang akan muncul jika hibah diterima, yaitu soal dana dan beban pada sistem alat pukul udara. Dari segi sistem, hibah ini akan menambah beban pada anggaran serta mengganggu perencanaan yang telah ada. Saat ini TNI Angkatan Udara memiliki pesawat tempur F-5 dan F-16 buatan Amerika Serikat dan Sukhoi buatan Rusia.

Dalam sistem pemukul udara, Juwono melanjutkan, yang dipentingkan adalah varietas teknologi untuk daya tangkal. Dari segi jumlah, pesawat yang kita miliki memang tidak mencukupi. "Karena itu, kita beli Sukhoi, walaupun mahal," ujarnya. Dengan begitu, sistem penangkalan kita masih setara dengan Singapura kalau tahun depan negara itu membeli 24 pesawat F-15.

Menurut Juwono, awalnya Angkatan Udara tertarik kepada tawaran hibah ini. Namun, dia telah menjelaskan soal pagu anggaran yang tak memungkinkan, serta kekhawatiran tersedianya suku cadang. "Kita harus tahu betul apakah pabrik pembuatnya akan bertahan terus untuk buat atau tidak. Jangan-jangan malah punah," ujarnya.

Sumber : KORAN TEMPO

Thursday, March 19, 2009

Panglima TNI Mengukuhkan 2 Kapal Perang TNI AL


KRI Sultan Iskandar Muda-367 (Foto:karbol@mp.net)

ACEH - Panglima TNI Jenderal TNI Djoko Santoso mengukuhkan KRI Sultan Iskandar Muda-367, sebagai Kapal Perang Republik Indonesia (KRI). Pengukuhan kapal jenis Korvet Kelas Sigma itu ditandai dengan penekanan tombol oleh Panglima TNI Jenderal TNI Djoko Santoso, Kamis (19/3), di Pelabuhan Malahayati, Banda Aceh.

Selain KRI Sultan Iskandar Muda-367, Panglima TNI juga mengukuhkan KRI Alkura-830 yang merupakan kapal Patroli Cepat (PC) 40 produksi Fasilitas Pemeliharaan dan Perbaikan (Fasharkan) Mentigi dan Manokwari Tahun Anggaran 2007.

Penggunaan nama Iskandar Muda merupakan penghormatan terhadap pahlawan nasional, dimana menurut catatan sejarah Sultan Iskandar Muda pernah mencapai masa keemasan dan kejayaan. Pada masa itu (1607-1636) Kerajaan dan Raja Sultan Iskandar Muda merupakan salah satu kerajaan Aceh yang sangat gemilang.


KRI Tarihu-829 (PC-40) sekelas dengan KRI Alkura-830

Sedangkan Alkura merupakan salah satu jenis ular paling berbisa penghuni pulau Ternate tepatnya di Pulau Hiri. Ular Alkura memiliki kecepatan bergerak, kepekaan penginderaan tinggi dan racun yang sangat mematikan.

Dalam amanatnya Panglima TNI mengatakan, peresmian dua kapal perang ini merupakan bagian integral dari pembangunan kekuatan TNI secara bertahap, untuk memenuhi kekuatan minimal postur TNI AL, sehingga pelaksanaan tugas pokok TNI AL dapat dilaksanakan secara optimal.

Penambahan kekuatan kapal Perang TNI AL lanjut Panglima TNI adalah merupakan komitmen dan konsistensi pemerintah dan negara dalam membangun pertahanan negara yang kuat dan disegani. Termasuk di dalamnya mewujudkan kekuatan TNI sebagai alat dan komponen utama pertahanan negara, yang profesional, handal, modern, berwawasan kebangsaan serta mencintai dan dicintai rakyat.

Sumber : DISPENAL

Berita terkait lainnya :
Idealnya Indonesia Miliki 52 Korvet

Simulasi Pengamanan Anti Teror

MERAK - Satu regu Pasukan Katak berusaha melumpuhkan kawanan bajak laut yang menguasai kapal roro Jatra III dalam simulasi pengamanan anti teror di Selat Sunda, Kamis (19/3). Acara itu digelar dalam rangka peresmian Pusat Koordinasi Pengendalian dan Pengamanan Laut (Puskordal) di Pelabuhan Merak, Banten oleh Kepala Staf Armabar Laksamana Pertama B Suwarto. FOTO ANTARA/Asep Fathulrahman/ss/mes/09

PTDI Serahkan Helikopter NBO-105 ke TNI AD



BANDUNG - PT Dirgantara Indonesia (PTDI) menyerahkan satu unit helikopter NBO-105 CBS kepada TNI Angkatan Darat, Kamis (19/3).

Penyerahan helikopter tersebut dilakukan oleh Direktur Utama PTDI Budi Santoso kepada Asisten Logistik KSAD Mayjen TNI Hari Krisnomo SIP di Gedung GPM PTDI Jalan Padjadjaran Kota Bandung.

"Hari ini kami menyerahkan helikopter NBO-105CBS ke-122 yang merupakan pesawat NBO-105 terakhir dari perjanjian lisensi PTDI dengan MBB (Messerschmitt-Bölkow-Blohm)," kata Direktur Utama PTDI Budi Santoso.

NBO-105CBS merupakan heli versi utility transport, dengan body lebih panjang 10 inches. Umumnya heli varian ini digunakan untuk layanan emergency medical.
BO-105CBS ditenagai mesin Allison 250-C28C untuk menambah kemampuan maximum take-off weight.

Menurut Budi, helikopter yang diserahkan siang itu merupakan helikopter NBO-105 yang ke-25 yang dimiliki TNI-AD.

Penyerahan helikopter kepada TNI AD itu merupakan realisasi dari kontrak pengadaan satu unit helikopter NBO-105 CBS yang ditandatangani pada 13 Desember 2007 antara Mabes TNI Angkatan Darat yang diwakili Pusat Penerbang Angkatan Darat (Puspenerbad) dan PTDI.

Sumber : ANTARA

Kohanudnas Minta Kewenangan Penindakan Black Flight


TNI AU F-5E Tiger II

JAKARTA - Komando Pertahanan Udara Nasional (Kohanudnas) meminta kewenangan penindakan pelanggaran wilayah udara nasional oleh pesawat asing. Kohanudnas berharap dapat memegang kendali pengerahan pesawat-pesawat tempur sergap seperti Sukhoi, F-16, maupun F-5 Tiger, jika dideteksi ada penerbangan gelap (Black Flight).

"(Usulan ini) sedang dibicarakan TNI AU. Tunggu saja keputusannya seperti apa," kata Panglima Kohanudnas Marsda Dradjad Rahardjo usai pengarahan Panglima TNI di markas Kohanudnas, Jakarta, Rabu (18/3).

Mekanisme prosedur yang saat ini berjalan adalah ketika radar menangkap pelanggaran udara, Kohanudnas melaporkan ke Markas Besar TNI. Kemudian baru dilimpahkan ke TNI AU untuk diambil tindakan penyergapan.

"Proses alih komando pengendaliannya terlalu lama," kata dia. Dia yakin, jika jajarannya memiliki kewenangan menggerakan pesawat tempur, responsnya akan lebih cepat jika ada pelanggaran wilayah udara dari negara lain. "Respons yang cepat akan mengurangi pelanggaran," kata dia.

Dia mengibaratkan, radar sebagai mata negara. Sedangkan pesawat tempur dan rudal menjadi tangan dan kaki untuk memukul mundur musuh. Dari data Kementerian Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Polhukam), sepanjang 2008 tercatat 28 kali pelanggaran wilayah udara. Dradjad mengungkapkan, mayoritas pelanggaran terjadi di wilayah Tarakan, Kalimantan Timur yang berbatasan dengan Malaysia.

Penambahan Radar

Panglima TNI Jenderal Djoko Sansoto mengatakan, TNI tengah membicarakan langkah pendeteksian pelanggaran udara secara dini dan akurat. Terhadap pelanggaran yang terjadi, militer telah melaporkan pada kementerian Polhukam. Dilanjutkan ke Departemen Luar Negeri yang langsung mengirim nota protes diplomatik.


Rencana gelar radar militer TNI AU

Djoko mengakui, radar yang dimiliki masih minim, khususnya di wilayah timur. Masih banyak wilayah udara yang tidak terpantau radar (blank spot). Akibatnya, benda asing yang terbang, bisa luput dari penjejakan radar. "Beberapa tahun ke depan TNI akan menambah radar di Indonesia timur," katanya.

Rencananya, radar buatan Thales, Prancis akan dipasang di Merauke tahun depan. Satu tahun berikutnya pemasangan giliran wilayah Saumlaki. Terakhir, radar dipasang di Timika, Papua pada 2012.

Sumber : JURNAS

Singapura Siap Lanjutkan Perjanjian Pertahanan



SINGAPURA - Pemerintah Singapura menyatakan kesiapan melanjutkan pembahasan Perjanjian Pertahanan (Defence Cooperation Agreement/DCA) dengan Indonesia. Juru Bicara Kedutaan Besar Singapura di Indonesia Rajpal Singh mengatakan, kebuntuan pembahasan DCA dengan Indonesia disebabkan tidak ada kesepahaman terutama menyangkut perubahan substansi aturan pelaksana (Implementing Arrangement) di daerah latihan.

"Singapura siap melanjutkan bahasan paket DCA dan Perjanjian Ekstradisi yang telah disepakati jika Indonesia bersedia," kata Singh seperti dikutip Antara. Sebelumnya Menteri Pertahanan (Menhan) Juwono Sudarsono mengungkapkan, Singapura menghentikan pembahasan DCA. Otomatis, Ekstradisi yang menjadi satu paket juga belum berlaku.

Sumber : ANTARA

Wednesday, March 18, 2009

Artileri Medan FH-88/2000




FH-2000 (Field Howitzer 2000) adalah meriam Howitzer berkaliber 155mm/52 yang dapat ditarik/gandeng menggunakan kendaraan angkut berat, meriam ini dikembangkan oleh Singapore Technologies (ST) untuk kebutuhan AD Singapura.

Jarak tembak maksimum meriam ini mencapai 42 kilometer menggunakan amunisi khusus, uji coba lapangan pertama dilakukan di New Zealand. Pengoperasian meriam diawaki oleh 8 personel dan menggunakan mesin Diesel berdaya 75 hp untuk menggerakkan meriam secara mandiri (self propelled) dengan kecepatan 10 Km/jam tanpa perlu ditarik kendaraan pengangkut.

Pengembangan

FH-2000 merupakan pengembangan dari sistem meriam FH-88 yang pertama kali diproduksi pada tahun 1983 dengan menggunakan komponen yang sama. Pengembangan FH-2000 dimulai tahun 1990, dengan prototipe pertamanya diproduksi pada tahun 1991. Prototipe awal kemudian dikembangkan lebih lanjut lagi dan di tes kembali pada bulan Desember 1993.

Pada awalnya sejumlah meriam FH-88 banyak yang menggunakan kaliber laras 52mm dan 39mm, seiring dengan perkembangannya kaliber laras 52mm dirasa cocok diaplikasi ke meriam generasi terbarunya (FH-2000).

Desain

Saat Howitzer digunakan platform pendukung penembakan menggunakan struktur tripod mekanis. Beban tembakan di transmit ke permukaan tanah melalui tripod ini, isolasi silinder hidrolik dari platform ini cukup handal untuk digunakan.

FH2000 juga dapat mengaplikasi serangkaian sistem pengamatan optik ke elektro-optik. Sistem pengamatan ini bisa dihubungkan kedalam kontrol penembakan di komputeri.

Di bagian belakang meriam menggunakan mekanisme semi-otomatis, bagian ini terbuka secara otomatis selama counter recoil digunakan. Kontrol elektronik dan hidrolik power mendorong ceklikan ram proyektil masuk ke ruang barel dengan konsistensi tinggi.



Pengguna

Pada tahun 1995, 18 meriam howitzer digunakan oleh Batalion Artileri 23 Singapore Army. Satu Batalion terdiri dari 3 battery artileri yang diperkuat oleh masing-masing 6 meriam.

Meriam ini pernah ditawarkan untuk di ekspor kebeberapa negara, dan TNI mengakuisisinya sebanyak 6 meriam Howitzer FH-2000. Saat ini meriam-artileri tersebut ditempatkan di Resimen II Artileri Medan (Armed)/ Sthira Yudha.

Selain itu, ST juga membantu Turki dalam perancangan dan manufaktur dari meriam towed howitzer sistem buatan dalam negerinya sendiri (155mm/52calibre) bernama "PANTHER". Artileri ini dibangun dengan mengambil dasar FH-2000 yang telah ditingkatkan, salah satunya penggunaan Diesel Auxiliary Power Unit (APU) berkekuatan160 hp (aslinya 75 hp), sehingga mampu memberikan kecepatan self-propelled 18km/jam. ©alutsista

Tuesday, March 17, 2009

Hawk Latihan Air Refueling di Lanud Iswahjudi

MADIUN - Pesawat-pesawat tempur Hawk-109 dan 209 dari Skadon Udara 12 Lanud Pekanbaru, Riau sukses melaksanakan latihan Air Refueling (Pengisian bahan bakar di udara) menggunakan pesawat tanker KC-130 Hecules, dari Skadron Udara 32 Lanud Abdulrachman Saleh Malang, Selasa (17/3) di Lanud Iswahjudi, Magetan-Jawa Timur.

Sumber : DISPENAU