Monday, November 19, 2007

ASEAN : Gurkha Amankan Singapura



Sebenarnya tak ada yang perlu dikhawatirkan soal keamanan jika Anda sedang berada di Singapura. Sekeliling pantai Singapura sudah diamanakan. Bahkan, Singapura pun tak memercayai pengamanan yang sudah dilakukan negara lain bagi penumpang pesawat terbang.

Di Jakarta, misalnya, setiap penumpang tujuan Singapura dan ke negara lain sudah diperiksa secara ketat dua kali dengan pendeteksi logam. Nah, di Changi pemeriksaan juga dilakukan lagi setelah penumpang keluar dari pesawat dengan pendeteksi logam. Pemeriksaan ini bahkan dilakukan sebelum penumpang diperiksa di bagian imigrasi. Ini tidak terjadi sebelumnya. Berhubung dengan perannya sebagai tuan rumah pertemuan puncak ASEAN pekan ini, pemeriksaan dilakukan secara ketat.

Ini belum cukup. Khusus bagi penghuni Hotel Shangri-La, lokasi pertemuan, para tamu harus selalu melewati pendeteksi logam setiap kali keluar masuk. Hotel lain tidak melakukan pemeriksaan. Namun, di sekitar kompleks Shangri-La di Jalan Orange Grove, Pasukan Gurkha dengan seragam biru tua sudah siaga dengan tugas-tugasnya.

Terang saja mereka cuma berdiri semata, sambil sesekali melirik orang yang melintas. Tentu yang dilirik pun tidak banyak. Jalan Orange Grove itu sepi, bukan jalan umum, seperti Jalan Cendana di Jakarta.

Sejak 2002

Sejak serangan 11 September 2001, yang sebelum kejadian sudah diingatkan intelijen Perancis, Singapura menggunakan warga Nepal untuk mengamankan lokasi-lokasi yang dianggap paling sensitif. Selain Singapura, Kerajaan Inggris dan Brunai Darussalam adalah pihak yang juga menggunakan pasukan Gurkha.

Pasukan Gurkha diyakini merupakan salah satu pejuang yang paling ditakuti di dunia. Singapura yang merasa terancam dengan militan terpaksa mengamankan diri dengan Gurkha, yang berasal dari Nepal, ketimbang aparatnya sendiri.

Keberadaan Gurkha di Singapura makin mencolok, setelah serangan 11 September, walau Singapura sudah menggunakan pasukan Gurkha dalam 50 tahun terakhir.

Pada dekade 1950-an dan 1960-an, adalah Gurkha yang berperan meredam kerusuhan sosial, pemogokan, dan protes serikat buruh di Singapura. Gurkha mampu menjalankan tugasnya dengan baik.

Malah Gurkha menggantikan peran polisi Singapura untuk mengamankan lokasi yang paling sensitif, termasuk kompleks petrokimia di Jurong, Singapura barat, Bandara Changi, Kedutaan Besar AS, dan lainnya.

Menurut Bruce M Niven, komandan Gurkha di Singapura pada tahun 2002, pasukan Gurkha lebih pas karena ia tidak berpihak kepada siapa pun yang berdiam di Singapura. Hanya segelintir warga Nepal di Singapura, selebihnya etnis non-Nepal.

Selain itu sekitar 2.500 polisi, tentara, dan lainnya dikerahkan. Direktur Kepolisian Singapura Wong Hong Kuan mengatakan, pengamanan memang ditingkatkan. Mobil BMW pengangkut tamu VIP tidak akan menggunakan bendera negara masing-masing agar tidak mudah menjadi sasaran serangan, sebagaimana diberitakan di The Straits Times. Meski demikian, secara umum pemeriksaan keamanan tak mengganggu kenyamanan. (MON)

Sumber : KOMPAS

British Snipers get a New Rifle

British Snipers operating with the Army, Royal Marines and RAF Regiment are to get a new rifle offering better performance at extended range.

MoD is buying 580 new AW series rifles with 0.300winmag barrels and daylight telescopic sights from Accuracy International Ltd, under a £4 million contract. Baroness Taylor, Minister for Defence Equipment and Support indicated that the acquisition is part of a broader Sniper System Improvement (SSI) program designed to improve UK snipers' firepower, precision and stealth.

The new rifle fires a larger calibre bullet than the existing British sniper rifle. The type selected by the British uses a 27" barrel firing 0.338lapua (8.59mm ) ammunition to a range of 1,200 yards (1.1 km). the rifle is loaded with a five round magazine. The rifle weighs 15 pounds (6.8 kg) and has an overall length of 50 inch (1.30 m').

The acquisition program will also address advanced, all-weather day and night sights and spotter scopes. The new weapon is expected to be fully operational by spring 2008

Large rifle picture

Will Russia Create The World's Second Largest Surface Navy?

MOSCOW. (RIA Novosti political commentator Andrei Kislyakov) - The year 2007 can safely be described as Russia's year of combat aviation.

Both in July at Le Bourget in France and in August at Zhukovsky outside Moscow, thousands of spectators held their breath as they watched stunts performed by MiG and Su planes equipped with vectored-thrust engines.

It was a sight to be proud of. The planes featured were all land-based, although it is aircraft carrier aviation that makes up the effective core of the present-day air forces around the world.

Russia has planes that can be used on carriers. For example, the MiG, or rather the MiG-29 KUB (the acronym stands for aircraft carrier combat training). But they are exported to India under a contract to equip their future aircraft carriers.

Russia cannot be said to be blind to the role of aircraft carriers or the navy in modern warfare. In today's unpredictable world, even the mere appearance of a formidable ship featuring three service components sailing off a trouble spot is capable of producing a sobering effect on a potential aggressor.

It was therefore not surprising that in the middle of the year Admiral Vladimir Masorin, commander-in-chief of the Russian Navy, announced plans to reform the country's naval forces and build a blue-water navy with the world's second largest fleet of aircraft carriers.

Or rather, in the next 20 years, Russia aims to create six aircraft carrier strike groups, giving it the world's second largest surface navy after the United States.

Continue reading...

Presiden Minta TNI Harus Siap Perang



BELITUNG TIMUR--MEDIA: Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengatakan, TNI harus siap untuk perang. Dengan kesiapan tersebut, justru bisa menyelesaikan masalah tanpa perang.

Hal tersebut ia katakan kepada wartawan usai menyaksikan latihan perang TNI-AU bertajuk Fire Power Demo 2007 yang digelar di Air Weapon Range (AWR) TNI-AU Buding, Kabupaten Belitung Timur, Bangka Belitung, Sabtu (17/11).

"Teruslah berlatih, sehingga kita siap perang. Namun, banyak cara-cara yang bisa dilakukan untuk menyelesaikan masalah tanpa harus perang. Perang adalah cara terakhir. Saya yakin, dengan mengutamakan pendekatan perdamaian semua hal bisa diselesaikan," jelasnya.

Fire Power Demo 2007, menurut Presiden, menunjukkan keterampilan tempur TNI-AU. "Serbuan lintas udara dan pembebasan sandera adalah keterampilan dasar yang harus dimiliki setiap kesatuan tempur. Teruslah berlatih, sambil kita memperbaharui, memodernisasi, sesuai kemampuan keuangan negara," ujar Presiden.

Melihat latihan perang yang didemokan TNI-AU, SBY percaya TNI memiliki keterampilan dan profesionalisme untuk mempertahankan kedaulatan negara. "Tahun 2008 kita bisa menyaksikan keterampilan yang lebih besar dalam latihan gabungan TNI. Ini bisa menenangkan rakyat bahwa tentaranya siap mempertahankan negaranya," katanya.

Selain Presiden, hadir dalam acara tersebut antara lain, Menteri Pertahanan Juwono Sudarsono, Panglima TNI Marsekal Djoko Suyanto, Mensekab Sudi Silalahi, Kapolri Jenderal Sutanto, KSAU Marsekal Herman Prayitno, KSAD Jenderal Djoko Santoso, KSAL Laksamana Madya Sumardjono, Ketua Komisi I DPR Theo Sambuaga, dan Wakil Ketua Komisi I Yusron Ihza Mahendra. (HR/OL-1)

Sumber : MIOL

TNI AU Tambah Tiga Radar di Timur

Pangkalpinang (ANTARA News) - TNI AU akan menambah tiga radar lagi di wilayah Indonesia bagian timur yaitu Merauke, Timika dan Saumlaki, guna meningkatkan kemampuan mengantisipasi penyusupan pesawat asing.

"Kalau sekarang di bagian timur baru ada satu radar, sedangkan di Sumatera sudah memiliki 17 unit radar. Kebutuhan radar di Indonesia idealnya sebanyak 30 unit," ujar Kepala Staf TNI-AU, Marsekal TNI Herman Prayitno, disela latihan tempur "Power Fire Demo" di Air Weapon Range Desa Buding Belitung, Sabtu.

Ia menyatakan, meski masih kekurangan radar, pemantauan terhadap wilayah Indonesia akan terus dioptimalkan.

Untuk pesawat tempur yang dimiliki Indonesia jumlahnya kini mencapai 180-an unit, terdiri dari Sukhoi, F16, F5, Hawk, MK 53, hawk yang baru 100/200, Pesawat Baling-Baling, Fokker 28, Hercules, Fokker 27, CN 235, Kassa dan Helikopter Super Puma.

Rencananya ke depan akan dilakukan penggantian pesawat, seperti pesawat tempur F5 akan diganti pesawat F16, Hawk MK 53 dan FS.

Selanjutnya akan dilakukan penambahan enam buah helikopter untuk melaksanakan tugas penerjunan, logistik dan pengisian bahan bakar di udara.(*)

Sumber : ANTARA

Saturday, November 17, 2007

TNI AU :Mencari Pengganti Si "Kuda Liar"



Oleh : B Josie Susilo Hardianto

Meskipun ada banyak pilihan, nyatanya tidak mudah mencari pengganti pesawat tempur taktis milik TNI Angkatan Udara, OV-10 Bronco, yang makin uzur usianya.


Lebih dari 30 tahun masa pengabdian pesawat tempur yang bertugas pada jajaran Skuadron 21 itu diisi dengan sejarah mengagumkan. Sebagai pesawat yang mampu mengemban berbagai misi, OV-10 telah membuktikan keandalannya dalam berbagai operasi tempur di Indonesia, seperti Operasi Seroja tahun 1976 hingga operasi militer di Aceh tahun 2003.

Didatangkan pertama kali pada Oktober 1976, pesawat buatan Rockwell International Amerika Serikat ini awalnya menempati Skuadron Udara 3 Wing Operasi 002, sarang para pesawat tempur taktis. Sejak awal dipilih, OV-10 Bronco memang diarahkan sebagai salah satu pendukung kemampuan tempur udara taktis menggantikan tugas pesawat tempur yang sebelumnya telah dimiliki oleh TNI Angkatan Udara, P-51 Mustang (Perjalanan TNI Angkatan Udara dan Pengembangannya Para Awal Dasawarsa 80-an, Mabes TNI AU, Dinas Penerangan, 1982).

Sebagai bagian dari perwujudan pembangunan kekuatan kembali TNI Angkatan Udara dalam Rencana Strategis I, OV-10 Bronco merupakan bentuk nyata dari pembentukan unit tempur kecil yang efektif. Pembentukan itu merupakan salah satu dari lima pokok kebijakan pimpinan TNI Angkatan Udara kala itu.

Renstra I

Dalam uraian pembentukan unit tempur kecil itu disebutkan, sesuai kemampuan negara dan tingkat ancaman yang dihadapi, rencana pembangunan TNI Angkatan Udara dalam dasawarsa 70-an didasarkan pada penentuan prioritas berdasarkan opportunity cost, yaitu mengarahkan pembangunan kekuatannya pada kemampuan angkutan udara dan kemampuan tempur terbatas.

Lebih jauh, untuk menghadapi kemungkinan ancaman yang ada diperlukan kemampuan tempur udara taktis dan strategis secara terbatas, kemampuan intai dan pemotretan udara serta patroli udara.

Tidak salah bila OV-10 menjadi pilihan. Pesawat yang terbang pertama kali pada 16 Juli 1965 itu memang dirancang sebagai pesawat yang berkemampuan mengemban misi beragam mulai dari pesawat tempur, pengintai, patroli, hingga evakuasi.

Digunakan pertama kali oleh Angkatan Udara dan Korps Marinir Amerika, keampuhan itu telah teruji di medan perang Vietnam. Meskipun memiliki kapabilitas dengan dengan misi utama Counter Insurgency (COIN), pesawat itu pun mampu memainkan peran sebagai pesawat yang mampu menggelar perang psikologis dengan cara menyebar pamflet dari udara.

Pesawat yang didorong dua mesin turboprop T76-G-412 itu mampu terbang dengan kecepatan hingga 452 kilometer per jam dalam radius 376 kilometer dan mampu lepas landas dari landasan perintis di dalam hutan. Dalam situs Wikipedia disebutkan, OV-10 yang digunakan oleh delapan negara, termasuk Indonesia itu, merupakan pesawat tempur yang memiliki performa seperti helikopter serbu berat sekaligus pesawat tempur andal.

Ia memiliki kecepatan melebihi helikopter tetapi lebih lambat daripada jet tempur. Kelebihan itu menyebabkan sebagai pesawat tempur ringan bersayap tetap OV-10 mampu bermanuver jauh lebih baik dibandingkan dengan helikopter dan jet pada kecepatan rendah. "Handling-nya bagus," ungkap mantan penerbang uji TNI Angkatan Udara Marsekal Muda (Purn) F Djoko Poerwoko.

Selain itu, OV-10 yang mampu membawa aneka persenjataan seperti roket, bom, dan senapan mesin ringan kaliber 7.62 milimeter (senapan otomatis OV-10 Bronco milik TNI Angkatan Udara diganti dengan senapan mesin berat Browning kaliber 12.7 milimeter) juga memiliki kemampuan membawa enam penerjun, evakuasi medis dan pada masa damai pesawat itu dapat difungsikan untuk survei geologi, pemetaan udara, penyemprotan, serta patroli.

Panglima Komando Pertahanan Udara Nasional Marsekal Muda Gandjar Wiranegara mengemukakan, kelincahan dan kapabilitas OV-10 yang tangguh di berbagai misi itulah yang menyebabkannya dijuluki si kuda liar.

"Kita dapat segera berbalik arah dalam kecepatan rendah ketika melihat gerilyawan muncul dari hutan yang ada di belakang pesawat," kata dia.

Untuk Indonesia, dengan kondisi geografis dan ancaman yang ada kemampuan itu sangat cocok. Oleh karena itu, ketika usia OV-10 makin menua dan harus segera pensiun tidak mudah untuk menemukan penggantinya.

Pilihan pengganti

Di tengah keterbatasan dana yang dimiliki, ada beberapa pesawat yang dilirik sebagai pilihan, yaitu EMB-314 Super Tucano buatan Embraer Brasil, KO-1 dari Korea Aerospace Industries, Su-25 dari Rusia serta L-159 ALCA keluaran Aero Vodochody Czech. Dua pesawat pertama, yaitu Super Tucano dan KO-1, merupakan pesawat tempur ringan berbaling-baling, sedangkan dua lainnya, L-159 dan Su-25, merupakan pesawat tempur ringan bermesin jet.



Meskipun demikian, keempat pesawat itu mengusung berbagai piranti canggih khas pesawat tempur modern. Super Tucano dan KO-1, misalnya, selain dilengkapi dengan head up display (HUD), kinerja pilot juga dibantu dengan sistem kontrol hands on throttle and stick (HOTAS). Selain itu, menurut Gandjar Wiranegara, meskipun menggunakan mesin turboprop, Super Tucano tidak ribut. "Kabinnya senyap hingga kita seolah ada dalam pesawat jet," tuturnya.

Gandjar yang sempat merasakan terbang dengan Super Tucano mengemukakan, seperti OV-10 Bronco, pesawat bermesin PT6A-68A buatan Pratt and Whitney Kanada itu mampu bermanuver lincah pada kecepatan rendah. Sasaran di darat dapat terlihat jelas dari kokpit pesawat hingga seolah tampak berhadapan. Pesawat itu pun mampu mengemban misi terbang malam karena dilengkapi dengan kacamata pengindra malam generasi ketiga serta dimungkinkan dilengkapi dengan forward looking infrared (FLIR) yang tampilannya dapat dilihat pada color multifunction displays (CMFD).

Kemampuan yang tidak kalah jauh juga dimiliki oleh KO-1 buatan Korea. Tentang pesawat itu penerbang dan teknisi Angkatan Udara tentu telah memiliki banyak pengalaman karena pesawat tersebut merupakan pengembangan dari pesawat KT-1 Wong Bee yang saat ini telah digunakan sebagai pesawat latih bagi karbol TNI Angkatan Udara.

Jika Indonesia dalam pemilihan pesawat pengganti masih berorientasi pada fungsi antigerilyawan, maka Super Tucano merupakan pilihan yang tepat. Selain itu, seperti layaknya pesawat tempur taktis dengan bermesin turboprop, Super Tucano mudah terbang dan mendarat pada landasan pacu pendek serta lapangan terbang perintis. Dibandingkan dengan pesawat jet, tentu saja proses penyiapannya pun jauh lebih cepat dan mudah.

Tidak hanya itu, dengan berbagai piranti canggih yang diusungnya serta kemampuan tempur yang dimilikinya, Super Tucano, tutur Gandjar, dapat difungsikan sebagai pesawat transisi bagi penerbang tempur sebelum terbang dengan pesawat bermesin jet.

Namun, jika orientasi pertahanan udara Indonesia nantinya lebih membutuhkan dukungan pesawat penyergap, tentu saja Super Tucano harus disisihkan dan pesawat tempur ringan seperti L-159 atau Su-25 menjadi pilihan. Gandjar mengemukakan, terkait hal itu, pemerintahlah yang memiliki wewenang menentukan.

Penentuan

TNI Angkatan Udara hanya memberi catatan dan masukan dan pilihan akhir tergantung dari pemerintah. Dihubungi terpisah, pengamat penerbangan nasional, Dudi Sudibyo, mengemukakan, pemerintah memang menjadi penentu akhir apa yang hendak dipilih menggantikan OV-10. Namun, pilihan itu sebaiknya sungguh-sungguh memerhatikan kebutuhan dan konsep yang memang telah dirancang.



Ia mengingatkan, agar berbagai faktor x, seperti penggunaan rekanan dalam pengadaan sistem senjata, diminimalkan. Alasannya, dapat saja hanya karena kepentingan keuntungan segelintir orang proses penguatan pertahanan dan pemilihan terhadap senjata yang tepat dapat bergeser bahkan diabaikan. "Dulu hal ini sering terjadi," ungkapnya.

Untuk itu, ia berpendapat, berbagai hal substansial, seperti pesawat apa yang sesungguhnya dibutuhkan, apakah untuk latih, latih mula atau lanjut atau misi khusus, harusnya ditetapkan dengan jelas sesuai dengan design pertahanan dan orientasi jangka panjang TNI Angkatan Udara.

Selain itu, ia juga mengungkapkan, setelah dibeli, dukungan suku cadang dan perawatan haruslah memadai. Gandjar Wiranegara mengemukakan, banyaknya negara pengguna dan keterusberlangsungan sebuah pabrikan juga menjadi salah satu hal yang patut dicermati. Hal itu penting agar pesawat-pesawat yang telah dibeli tetap terjamin keandalan dan kelaikannya.

OV-10 Bronco telah menunjukkan kinerjanya yang andal. Hari-hari ini, si kuda liar yang makin uzur itu menanti pengganti yang tak kalah andal. Meski dililit persoalan minimnya dana, tentu saja pemerintah tidak boleh berlama-lama membuat keputusan karena para penerbang yang dulu mengawaki OV-10 membutuhkan tunggangan baru untuk terus menjaga performa mereka. Selain itu, Indonesia pun membutuhkan penjaga-penjaga udara yang andal setelah ditinggal oleh sang kuda liar, OV-10 Bronco.

Sumber : KOMPAS

Helikopter Superpuma TNI AU Jatuh



Kecelakaan helikopter Superpuma bernomor register H 3212 itu terjadi saat melakukan uji coba terbang untuk mengecek sistem kontrol elektronik pemasok bahan bakar ke mesin.

Komandan Pangkalan Udara TNI AU Jayapura Kolonel (Pnb) Dedy Permadi di Sentani menjelaskan, helikopter buatan Perancis yang telah beroperasi 20 tahun lebih itu jatuh saat hoover (mengambang di udara). "Tiba-tiba autopilot helikopter menyala. Akibatnya, kontrol kemudi heli tidak berfungsi sehingga heli miring ke kiri. Setelah miring, jatuh," kata Dedy. (ONI/BOY/ROW)

Sistem Hidrolik Rusak

Helikopter Super Puma SA 332 mendarat keras di Pangkalan Udara TNI AU Sentani, Papua. Sistem hidrolik helikopter itu rusak.

"Bukan jatuh, itu hard landing dari ketinggian 10 kaki atau 3 meter," ujar Kepala Dinas Penerangan TNI AU Marsekal Pertama Daryatmo kepada detikcom, Jumat (16/11/2007).

Saat itu, lanjut Daryatmo, helikopter itu akan take off sekitar pukul 12.00 WIT. Seperti lazimnya heli yang akan take off, heli itu mengambil posisi diam di udara. Namun, menyadari sistem hidroliknya rusak, heli itu tak jadi take off.

"Sistem hidrolik itu seperti power steering kalau di mobil. Kalau rusak maka nyetirnya akan berat. Karena itu mendarat hard landing," ujar dia.

Heli yang baru didatangkan 3 tahun yang lalu itu, lanjutnya, masih mengalami pemeriksaan karena mengalami kerusakan ringan. 4 Orang awak heli yang antara lain Mayor Penerbang Yuniar dan Kapten Sony tidak mengalami luka serius.

Sumber : Kompas, detikcom

Pemerintah Segera Revisi PP 2/2006

JAKARTA--MEDIA: Pemerintah akan segera merevisi Peraturan Pemerintah Nomor 2 tahun 2006 tentang tata cara pengadaan pinjaman dan/atau penerimaan hibah serta penerusan pinjaman dan/atau hibah luar negeri.

Revisi tersebut ditujukan sebagai payung hukum agar perbankan nasional sudai menalangi anggaran produksi alutsista sesuai kebutuhan TNI, oleh industri pertahanan strategis nasional.

Saat mendampingi Menhan Juwono Sudarsono berbicara di hadapan wartawan di Jakarta, Jumat (16/11), Sekjen Dephan Letjen Syaffrie Syamsuddin mengatakan keputusan merevisi PP 2/2006 itu keluar setelah pertemuan Wapres dengan jajaran departemen terkait di Jakarta, Kamis (16/11).

Dalam pertemuan itu, kata dia, Pemerintah akan lebih memfokuskan pada bagaimana anggaran dari perbankan nasional bisa mendukung kebutuhan alutsista TNI.

"Akan dilakukan suatu revisi peraturan untuk memenuhi kepentingan yang sekarang. PP nomor 2 tahun 2006 belum memenuhi kebutuhan yang diinginkan. PP itu sedang direvisi oleh Depkeu," ujar Syaffrie.

Syaffrie meyakinkan Pemerintah memang harus segera merevisi PP nomor 2. Sebab bila tidak, target Rencana strategis TNI di bidang pertahanan negara tidak akan tercapai untuk lima tahun hingga 2009.

Dia melanjutkan dana dari perbankan dalam negeri nantinya akan berbentuk pinjaman yang akan digunakan untuk pengadaan alutsista. Selama ini, ujarnya, pengadaan alutsista TNI selalu menggunakan kredit luar negeri yang dikeluarkan oleh bank asing di luar negeri. (Mjs/OL-06)

Sumber : MIOL

Kekuatan Udara Indonesia Mendesak Ditingkatkan



BELITUNG--MEDIA: Besarnya ancaman asing yang bisa mengganggu keutuhan kedaulatan negara mengharuskan kekuatan udara yang dimiliki TNI AU harus ditingkatkan. Salah satu ancaman tersebut karena masih belum selesainya sengketa beberapa wilayah Indonesia yang diklaim negara tetangga sebagai bagian wilayahnya.

Demikian disampaikan Kepala Penerangan (Kapen) Komando Operasi TNI Angkatan Udara (Koopsau) I Letnan Kolonel (Letkol) Sus M Agus Suhadi dalam siaran persnya yang diterima, Jumat (16/11).

"Konflik Spratly (Paracel), Blok Ambalat dan beberapa sengketa lainnya belum selesai. Suatu saat, ini bisa memicu konflik antarnegara," katanya.

Agus juga mengingatkan, luasnya wilayah Indonesia dengan kandungan kekayaan alam yang besar akan menarik minat negara asing menguasai Indonesia.

"Mereka akan memanfaatkan isu HAM, demokrasi, lingkungan hidup dan terorisme untuk mencapai kepentingannya," tambah dia.

Hal itu belum termasuk peningkatan eskalasi di alur laut kepulauan Indonesia (ALKI). "Masih banyak negara-negara maju belum meratifikasi ALKI dan bahkan terkesan mengabaikan kedaulatan suatu negara," ungkapnya.

ALKI, menurut Agus, merupakan jalur-jalur panjang yang membelah wilayah kedaulatan NKRI. "Untuk itu diperlukan tindakan yang cepat dalam mengatasi pelanggaran-pelanggaran yang terjadi. Dan, itu hanya bisa dilakukan, jika kita memiliki kekuatan udara yang handal dan memadai," tegasnya.

Meski kekuatan udara Indonesia masih terbatas, ulasnya, TNI AU berupaya memanfaatkannya dengan maksimal. "Untuk itulah, diadakan 'Fire Power Demo 2007' yang dilangsungkan di AWR (Air Weapon Range) Buding, Kabupaten Belitung Timur, Provinsi Bangka Belitung, pada Sabtu (17/11) ini," tuturnya. (HR/OL-06)

Presiden Saksikan Gelar Kemampuan Tempur TNI AU di Belitung



Tanjung Pandan (ANTARA News) - Tentara Nasional Indonesia Angkatan Udara (TNI- AU) menggelar seluruh kemampuan unsur-unsur tempurnya, di area Air Weapon Range (AWR) Buding, Tanjung Pandan, Belitung Timur, Sabtu.

Gelar kemampuan dengan sandi "Fire Power Demo 2007" itu disaksikan langsung Presiden Susilo Bambang Yudhoyono didampingi Menhan Juwono Sudarsono, Kapolri Jenderal Sutanto, Panglima TNI Marsekal Djoko Suyanto beserta tiga kepala staf angkatan.

Presiden dan rombongan tiba di lokasi AWR Tanjung Pandan sekitar pukul 09.30 WIB dan langsung menuju podium utama untuk menyaksikan unjuk kemampuan TNI- AU tersebut.

Ribuan warga masyarakat Belitung dan sekitarnya terlihat antusias menyaksikan atraksi tersebut dari pinggir lapangan.

Unjuk kemampuan yang menampilkan babakan operasi udara itu, diawali terbang lintas (fly pass) pesawat Boeing intai taktis di ketinggian 1.000 kaki untuk melaksanakan misi pengintaian.

Selang beberapa waktu kemudian, satu pesawat Fokker-27 yang dipiloti Mayor Pnb Elistar Silaen tiba di daerah sasaran untuk melakukan penerjunan tim pengendali tempur.

Setelah tim pengendali tempur berhasil diterjunkan, kegiatan dilanjutkan dengan aksi pemboman oleh tiga pesawat F-5 Tiger dengan menjatuhkan bom MK-82, dengan air cover dua pesawat Hawk 109/209.

10 menit kemudian, pesawat-pesawat Hawk melakukan pengemboman dengan MK-82 dilanjutkan rocketing menggunakan FFAR 2,75 oleh pesawat sejenis dan dituntaskan melalui aksi pemboman oleh dua pesawat tempur F-16 Fighting Falcon.

Usai berbagai aksi bombing dan rocketing oleh sejumlah pesawat-tempur TNI-AU, demo dilanjutkan dengan penerjunan satuan tempur (satpur) dua SSKB Pasukan Khas (Paskhas) TNI AU oleh pesawat C-130 H/B dari atas ketinggian 1.500 kaki.

Penerjunan pengendalian pangkalan (dallan) oleh satu pesawat CN-235 dan bekal ulang mengggunakan CDS satu pesawat C-130B.

Belum selesai sampai di situ, unjuk kemampuan dilanjutkan dengan aksi bantuan tembakan udara oleh dua pesawat Hawk 109/209 dengan menggunakan amno rocket FFAR 2,75, sekaligus ditampilkan aksi pengisian bahan bakar dua pesawat Hawk 109/209 pada ketinggian 1.000 kaki oleh pesawat KC-130B.

Seluruh rangkaian atraksi operasi udara itu, ditutup dengan pelaksanaan SAR tempur oleh dua heli SA-330/NAS-332.

Sebelumnya, di Bandara HAS Hannajoeddin, Tanjung Pandan, Panglima Komando Operasi Angkatan Udara I Marsekal Muda Eri Biatmoko menyampaikan paparan kepada Presiden Yudhoyono mengenai atraksi yang ditampilkan dalam demo kemampuan tempur TNI AU tersebut.

Atraksi yang berlangsung selama sekitar 45 menit tersebut melibatkan sebanyak 16 pesawat tempur seperti F-5, F-16 dan Hawk 109/209, 13 pesawat angkut seperti Hercules, CN-235, Fokker 27, pesawat intai taktis, serta tujuh helikopter jenis Puma dan Super Puma. (*)

Sumber : ANTARA

Berita terkait lainnya :
Pangkoops AU I Tinjau Kesiapan “Fire Power Demo 2007”

Sukhoi tidak Dilibatkan dalam Latihan Perang TNI-AU

BELITUNG TIMUR--MEDIA: Empat pesawat Sukhoi buatan Rusia yang dimiliki Indonesia tidak dilibatkan dalam 'Fire Demo Power 2007' yang digelar di Belitung Timur, Bangka Belitung. Selain kendala teknis karena belum lengkap senjatanya, pesawat lain dinilai sudah cukup.

Kepala Dinas Penerangan TNI-AU Marsekal Pertama Daryatmo mengatakan itu di Belitung Timur, menjelang digelarnya latihan pada Sabtu (17/11). "Lebih baik kita tunggu lengkap satu skuadron, baru kita libatkan dalam latihan," katanya.

Ia mengharapkan Sukhoi nanti bisa dilibatkan dalam latihan gabungan TNI pada 2008. "Kita menunggu penambahan Sukhoi lagi untuk memperkuat pertahanan kita," ujarnya.

Dalam latihan kali ini, TNI-AU melibatkan 16 pesawat tempur yang terdiri atas empat F-16, empat F-5, dan delapan pesawat Hawk 109/209.

Selain itu, juga dilibatkan 13 pesawat angkut dan tujuh helikopter. Pesawat angkut yang diikutkan,yakni empat C-130H, tiga C-130B, serta masing-masing satu pesawat F-27 TS, CN-235, B-737 Intai, KC-130B, B-737 VIP dan VVIP.

Sementara helikopter, satu SA-330, satu NAS-332, tiga Helly VVIP dan dua Helly Standby SAR. (HR/OL-1)

Friday, November 16, 2007

Alutsista Lokal Terganjal Aturan



JAKARTA(SINDO) – Wakil Presiden (Wapres) Jusuf Kalla meminta Departemen Keuangan (Depkeu) membuka ruang bagi pendanaan industri alutsista dalam negeri.

Selama ini,pengadaan alat utama sistem persenjataan (alutsista) dari dalam negeri justru terganjal belum adanya aturan tentang pinjaman perbankan lokal. Panglima TNI Marsekal TNI Djoko Suyanto mengungkapkan, Badan Usaha Milik Negara Industri Strategis (BUMNIS) sebagai mitra kerja TNI dalam pengadaan alutsista, kesulitan mendapatkan pasokan dana dari perbankan lokal.

”Jadi, sementara ini hambatannya belum ada aturan bagaimana skema peminjaman lunak dari perbankan kita kepada industri kita,” ungkap Djoko seusai rapat terbatas mengenai alutsista di Kantor Wapres,Jakarta,kemarin. Dengan kondisi ini,menurut Panglima,Wakil Presiden (Wapres) Jusuf Kalla sudah menginstruksikan Departemen Keuangan (Depkeu) untuk me-review peraturan-peraturan atau kebijakan terkait skema pinjaman lunak kepada industri alutsista dalam negeri. Rapat yang dipimpin Wapres Jusuf Kalla selama satu jam itu membahas percepatan pengelolaan BUMNIS, seperti PT Pindad, PT PAL, PT DI, dan PT LEN dalam pemenuhan kebutuhan alutsista TNI.

Menurut Panglima, kendala utama BUMNIS tersebut adalah pada masalah cash flow dalam memenuhi pesanan TNI. ”Mereka tidak memiliki suatu capital atau modal yang cukup besar seperti pabrik-pabrik di luar negeri, dimana pembayaran bisa dilakukan dibelakang setelah produksi selesai. Rumus kita bukan seperti itu,” ungkap Djoko. BUMNIS, lanjut Panglima, harus dijamin oleh suatu sistem penganggaran yang berkelanjutan. Namun, sistem anggaran di Indonesia belum mendukung untuk melakukan hal itu. ”Sistem anggaran kita, meskipun disusun dalam lima tahun, tapi pemenuhannya secara tahunan, sehingga menjadi kecil,”jelasnya.

Pada akhirnya, lanjut Djoko, muncul ide untuk menggunakan pinjaman dalam negeri karena perbankan Indonesia dinilai memiliki banyak uang yang belum dimanfaatkan. Perbankan ini nantinya,ujar dia,akan memberikan jaminan cash flowkepada BUMNIS.Jika dukungan anggaran yang dijamin perbankan dipenuhi, maka pihaknya tidak perlu menunggu Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). ”Tidak usah tunggu APBN dulu, dikasih baru kerja, tapi cash flow-nya jalan terus,” imbuhnya. Menurut Panglima, dalam rapat sebelumnya, pihak perbankan sudah menyatakan siap memberikan pinjaman lunak.

Selengkapnya>>

Berita terkait lainnya :
Wapres Minta Perbankan Nasional Dukung Industri Strategis Alutsista

Thursday, November 15, 2007

TNI AL Ajukan Pembelian 20 Unit Tank Amfibi




SURABAYA--MEDIA: TNI Angkatan Laut mengajukan ke pemerintah untuk peremajaan senjata Korps Marinir, yakni sebanyak 20 tank amfibi melalui fasilitas kredit ekspor.

Pengajuan sudah kita ajukan ke Departemen Pertahanan, ada 20 tank amfibi yang kita ajukan, sekarang masih dibahas di tingkat Dephan," kata Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL) Laksamana Madya TNI Soemardjono kepada wartawan usai menjadi Inspektur Upacara pada HUT ke 62 Korps Marinir di Mako Marinir Karang Pilang Surabaya, Kamis.

Selama ini tank amfibi milik Marinir masih bisa difungsikan, namun pihaknya perlu menambah lagi untuk menambah kekuatan, apalagi kini organisasi marinir juga terus berkembang.

Meski telah mengajukan, TNI AL belum tahu berapa jumlah yang disetujui oleh Pemerintah, karenanya pihaknya belum memastikan di negara mana tambahan tank itu akan dibeli.

"Setelah disetujui baru kita tentukan spefisikasi tank diseusaikan dengan kondisi. Baru kemudian kita tentukan kita beli dari negara mana tank tersebut," katanya.

Negara-negara yang memiliki spesifikasi seperti yang diajukan dipastikan akan melamar ke Indonesia. "Tapi, sekali lagi sangat tergantung kebutuhan dan anggaran," ujarnya.

Meski belum disetujui, KSAL meminta agar prajurit Marinir memanfaatkan peralatan yang sekarang masih bisa dipergunakan untuk operasional dan latihan.

"Peralatan yang masih bisa dipergunakan tetap dipakai sambil menunggu pengadaan peralatan yang baru. Jangan sampai yang lama ditinggalkan teryata yang baru belum ada, nanti malah timpang," ujarnya.

Ia menegaskan, untuk meningkatkan profesionalisme prajurit Marinir juga sangat ditentukan kelengkapan peralatan yang ada. Profesional tanpa peralatan tidak ada artinya. (FL/OL-1)

Sumber : MIOL

Rusia Dapat Balas Serangan AS dengan Rudal di Belarus



Moskow (ANTARA News) - Rusia dapat membalas satu sistem pertahanan anti-peluru kendali (rudal) Amerika Serikat (AS) yang telah direncanakan akan dipasang di Eropa tengah dengan menggelar rudal-rudal di Belarus sekutunya, kata seorang jenderal senior Rusia, Rabu.

"Kenapa tidak memberikan kondisi-kondisi yang pantas dan posisi yang cocok pada Belarus?," kata Jenderal Vladimir Zaritsky, kepala pasukan rudal dan artileri Rusia, yang dikutip kantor-kantor berita Rusia.

"Setiap aksi harus dihadapi dengan kontra aksi termasuk dengan unsur-unsur anti rudal di Republik Ceko dan Polandia," katanya.

Belarus, sekutu dekat Rusia yang berbatasan dengan Polandia, Rabu siang mengatakan bahwa pihaknya membeli sistem rudal konvensional Rusia Iskander-E tahun 2020, yang dirancang untuk menghancurkan pertahanan-pertahanan udara, tetapi memiliki jangkauan tembak hanya 280 km.

Satu versi rudal itu yang telah diperbarui, Iskander-M, dapat memiliki jangkauan tembak 500km .

Rudal itu sekarang dilarang sesuai ketentuan-ketentuan perjanjian INF era Perang Dingin yang melarang rudal-rudal dengan jangkauan tembak 500=5.500km.

Akan tetapi Presiden Rusia Vladimir Putin bulan lalu memperingatkan bahwa Rusia bisa keluar dari perjanjian itu jika Washington tetap melanjutkan rencana perisai anti rudalnya.

Zaritsky mengatakan Iskander bisa segera diterapkan bagi jangkauan tembak yang lebih jauh: "Jika keputusan politik diambil untuk meninggalkan perjanjian (INF), kami akan meningkatkan kemampuan-kemampuan militer itu termasuk jangkauan tembaknya."

Washington mengatakan pihaknya memerlukan perisai rudal itu di Polandia dan Republik Ceko untuk mempertahankan diri dari kemungkinan ancaman-ancaman dari Iran, dan menegaskan bahwa sistem yang terbatas itu tidak dapat mengancam senjata nuklir Rusia yang sangat banyak.

Akan tetapi, pihak Moskow menyebut rencana itu sebagai ancaman terhadap alat penangkis nuklirnya. (*)

Sumber : ANTARA

Russia, India to discuss fifth-generation fighter on Nov. 15

MOSCOW, November 14 (RIA Novosti) - A Russian delegation including Sukhoi plane maker CEO Mikhail Pogosyan will hold talks on Thursday with Deputy Indian Defense Minister Kanwar Singh on jointly developing a fifth-generation fighter.

The sides agreed in October to jointly develop and produce a multifunctional fighter, in one of the largest military cooperation programs between Russia and India.

Sukhoi said that at Thursday's talks, the sides will consider project issues discussed on November 12-14 by expert working groups, relating to timeframes and financing.

The project will be implemented by Sukhoi, which is part of Russia's United Aircraft Corporation (UAC), and India's Hindustan Aeronautics Limited.

The UAC was established earlier this year to consolidate Russia's aircraft industry, and incorporates many of the country's best-known aircraft manufacturers, including Mikoyan, Ilyushin, Irkut, Tupolev, and Yakovlev.

In October, Moscow and New Delhi signed a $1.6 billion contract for the supply of 40 Su-30 fighter assembly sets to India by 2010 as an addition to a contract on licensed production of 140 Su-30MKIs in India, which was signed in December 2000.

Source: RIA Novosti

Dephan Berhasil Ujicoba Rompi Tahan Peluru





Jakarta (ANTARA News) - Badan Penelitian dan Pengembangan Departemen Pertahanan (Balitbang Dephan) berhasil melakukan ujicoba rompi tahan peluru level IV dan level IIIA.

Ujicoba dilaksanakan di lapangan uji tembak Dinas Litbang Angkatan Darat Batujajar Bandung, Rabu, yang disaksikan Kepala Litbang Dephan Prof Lilik Hendrajaya.

Rompi tahan peluru tersebut merupakan hasil pengembangan bersama antara Pusat Penelitian dan Pengembangan Iptek Pertahanan Balitbang Dephan dengan Balai Besar Keramik Bandung dalam pembuatan pelat tahan peluru serta bekerja sama dengan CV Fajar Indah untuk pembuatan baju rompi tahan peluru level IIIA.

Dalam uji coba penembakan rompi level IV, dipergunakan jenis senjata SS-V1 dengan peluru 4TJ dan M16 dengan peluru 5TJ dengan jarak 25 meter.

Sedangkan uji coba penembakan rompi tahan peluru level IIIA digunakan pistol jenis FN dengan jarak 5 meter dan 6 Meter.

Uji coba juga dilakukan dalam kondisi basah yang telah memenuhi persyaratan taktis yaitu tahan terhadap tembakan senapan laras panjang kaliber 5,56 milimeter serta tahan tusukan dan bacokan.

"Dengan keberhasilan uji coba rompi tahan peluru tersebut, diharapkan TNI dapat mengurangi ketergantungan dalam hal pengadaan barang sejenis dari negara luar dan mampu mendorong pertumbuhan produksi strategis," kata Kepala Litbang Dephan Prof Lilik Hendrajaya.

Ia mengatakan penelitian dan pembuatan rompi tahan peluru ini bertujuan pula memenuhi tuntutan kebutuhan pertahanan dalam menghadapi era globalisasi yakni meningkatkan fasilitas penunjang perlengkapan TNI.

Selain itu, penelitian dalam pembuatan rompi tahan peluru ini, juga dimaksudkan untuk membuat prototipe rompi tahan peluru level IV yang memenuhi syarat-syarat tipe dan standar ergonomis TNI untuk kepentingan pertahanan negara.

Harga masing-masing rompi tersebut yaitu 350 dolar Amerika untuk rompi level IIIA dan 510 dolar Amerika untuk rompi level IV, sedangkan untuk platnya dijual dengan harga 160 dolar Amerika.(*0)

Sumber : ANTARA

Wednesday, November 14, 2007

Kasal Diganti Karena Desakan Singapura?

Oleh : Sabam Siagian

Pelantikan Laksamana Madya Sumardjono sebagai Kepala Staf Angkatan Laut (Kasal) yang baru, Rabu (8/11), oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono telah menyibukkan pasaran gosip politik di Ibukota.

"Apa latar belakang penggantian Kasal lebih cepat dari normalnya?" tanya seorang diplomat Eropa dalam resepsi Kedutaan Besar Kamboja, Jumat malam. Jawaban standar saya berikan: "Laksamana Slamet Soebijanto akan memasuki masa pensiun, jadi normal saja kalau dia diganti". Si diplomat yang agaknya sudah mempelajari kasus penggantian Kasal ini segera membalas: "Tapi, dia baru bertugas dua tahun sembilan bulan. Apakah ada desakan Singapura di balik penggantian ini?"

Sudah merupakan dalil operasional supaya menghindarkan suatu perdebatan dalam suatu resepsi diplomatik. Apa gunanya menghardik diplomat tersebut dengan pernyataan sok nasionalistik bahwa jangan kira RI dapat ditekan begitu saja, dan seterusnya.

Memang beredar info bahwa kemacetan Perjanjian Kerja Sama Pertahanan RI - Singapura yang sudah ditandatangani di Bali, April lalu, disebabkan pihak TNI AL tidak diikutsertakan sepenuhnya dalam negoisasi konsep perjanjian tersebut. Ketika peraturan pelaksanaannya mengalokasikan sebagai tempat latihan suatu lokasi lepas pantai Pulau Natuna (Laut Cina Selatan, tapi masih merupakan wilayah perairan RI) dengan sebutan kode "Bravo", menurut cerita, TNI AL menolaknya, khususnya Laksamana Slamet. Karena itu dia dicopot sebelum waktunya, demikianlah logika yang diramu oleh para produsen gosip politik di Ibukota.

Terserah pihak Departemen Pertahanan atau Markas Besar TNI untuk membantahnya. Panglima TNI Marsekal Djoko Suyanto juga menyatakan, "penggantian Kasal adalah sesuatu yang harus terjadi sesuai dengan proses regenerasi".

Soal penggantian Kasal ini sampai dikaitkan dengan kunjungan kerja Menteri Luar Negeri Singapura George Yeo ke Jakarta selama tiga hari. Ia diterima Presiden Susilo Bambang Yudhoyono Kamis lalu dan keduanya tampak senyum lebar menghadapi para wartawan setelah pertemuan mereka selesai.

Seorang pengamat berpendapat secara pribadi bahwa agaknya tidak begitu bijak Menlu George Yeo datang ketika situasi sedang serba peka, karena penggantian Kasal baru saja berlangsung.

Selenngkapnya>>

Penyebab Tergelincirnya Hawk di Pekanbaru masih Misteri

PEKANBARU--MEDIA: Penyebab tergelincirnya pesawat tempur Hawk 109/209 di ujung landasan Bandara Sultan Syarif Kasim II Pekanbaru, dua pekan lalu hingga kini masih misteri. Padahal tim Penyelidikan Penyebab Kecelakaan Pesawat Udara (PPKPU) sudah selesai menyelidiki penyebab tergelincirnya Hawk pada Selasa, (6/11).

Kepala Penerangan dan Perpusatkaan (Kapentak) Pangkalan TNI AU (Lanud) Pekanbaru Mayor Dede N kepada Media Indonesia, Rabu, (14/11) mengaku hingga kini pihaknya belum mengetahui hasil penyelidikan tim PPKPU Markas Besar TNI tentang penyebab tergelincirnya pesawat itu.

“Ya, kami memang belum diberi kabar tentang hasil penyelidikan tersebut. Nanti kalau sudah ada hasilya akan kami beritahukan kepada publik,” kata Dede.

Menurut Dede hasil penyelidikan 19 orang tim PPKPU masih dibahas di Mabes TNI AU Jakarta. Dan belum diketahui hasilnya mekipun sudah sepekan selesai bekerja.

Tim PPKPU yang diketuai Kolonel Penerbangan Yadi Indrayadi, Komandan Wing Pendidikan Lanud Adi Sucipto Yogyakarta melakukan penyelikan selama lima hari sejak Jum’at (2/11) hingga Selasa, (6/11). Penyelidilan itu sendiri dilakukan terhadap material pesawat tempur dan media atau cuaca pada saat peristiwa terjadi.

Rencana awal, selain tim PPKPU, teknisi dari pabrik pesawat Hawk BAE Inggris juga akan turun ke Lanud ke Pekanbaru menyelidiki penyebab tergelincirnya Hawk.

Tapi, menurut Dede, akhir pekan lalu teknisi BAE berada di Lanud Pekanbaru hanya untuk mengikuti Hawk Review Meeting. Dan tidak melakukan penyelidikan langsung terhadap pesawat.

“Sepertinya penyebab tergelincirnya Hawk tidak terlalu sulit untuk dipecahkan oleh tim PPKPU. Sehingga tidak perlu keterlibatan langsung pengecakan badan pesawat oleh teknisi BAE. Kemungkinan besar mereka hanya menganalisa dari laporan PPKPU soal penyebab tergelincirnya Hawak. Jadi tidak perlu menyelidiki langsung,” jelasnya.

Pesawat Hawk 109/209 bernomor seri TT 0203 milik Lanud Pekanbaru itu ringsek akibat gagal take off di landasan pacu Bandara Sultan SSK II Pekanbaru, Selasa, (30/10) sekitar pukul 08.49 WIB. Tidak ada korban jiwa pada kejadian itu. Pilot pesawat Hawk Kapten Penerbang Hermawan Muhammad Kisha selamat. (BG/BY/OL-1)

Sumber : MIOL

Konga XXIII-A Rabu Dinihari Tiba di Tanah Air

Jakarta (ANTARA News) - Setelah menjalankan tugas sebagai anggota penjaga perdamaian Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) di Lebanon, tepat pukul 03.03 WIB gelombang pertama pemulangan Kontingen Garuda XXIII-A mendarat di Panglakan Udara Halim Perdanakusuma, Jakarta, Rabu.

Dengan menggunakan pesawat perusahaan penerbangan Orient Thai, gelombang pertama ini yang berjumlah 284 prajurit di bawah pimpinan Wadan Satgas Letkol Inf Fadillah tiba kembali di tanah air.

Di antara 284 personel tersebut terdapat putra Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Letnan Satu TNI-AD Agus Harimurti. Sementara para anggota keluarga terus berteriak kegirangan sambil melambai-lambaikan tangan mereka.

Setibanya di Halim Perdanakusuma dilakukan upacara penyambutan dengan Inspektur Upacara Pangdam Jaya, Mayjen TNI Liliek AS selaku Komandan Garnisun.

"Selamat datang di tanah air. Selamat atas tugas-tugas di Lebanon. Keluarga sudah menunggu," kata Mayjen TNI Liliek AS.

Usai upacara penyambutan, para anggota kontingen langsung berbaur dengan para keluarga masing-masing. Peluk cium dan tawa riang sontak terdengar.

Sementara Anisa Pohan, isteri Agus Harimurti, memberikan karangan bunga sambil memeluk sang suami tercinta. Terlihat air mata menetes.

Menurut Jubir Kntingen Garuda XXIII-A , Letkol Irawadi, pemulangan kontingen akan dilakukan dalam tiga gelombang.

"Ini kedatangan gelombang pertama, untuk gelombang kedua dan ketiga rencananya pada tanggal 27 dan 29 Nopember 2007," kata Irawadi. (*)

Sumber : ANTARA

'Biaya perang AS melonjak'

Perang Amerika Serikat di Irak dan Afghanistan menghabiskan hampir dari dua kali lipat jumlah yang semula diduga, menurut laporan yang akan dikeluarkan Kongres.

Partai Demokrat mengatakan perang menghabiskan $1,5 triliun - hampir dua kali lipat dari dana yang diminta yaitu $804 miliar - karena "ongkos terselubung", kata koran Washington Post.

Dan beberapa angka yang dikutip dalam laporan itu dinyatakan spekulatif oleh para pakar pendanaan, kata Washington Post.

Yang termasuk menjadi indikator kenaikan dana pengeluarkan untuk konflik itu adalah kenaikan harga minyak dan pembayaran bagi veteran perang.

Laporan ini diperkirakan akan diajukan kepada Kongres pada Selasa malam.

Selengkapnya>>

Tuesday, November 13, 2007

Paskhas Kembangkan Pola Gelar Strong Point Concept & Bare Base Concept

PEN KORPASKHAS (13/11) - Korpaskhas senantiasa mengembangkan pola penggelaran pasukan perpaduan antara Strong Point Concept yaitu menempati titik-titik kuat pertahanan dan Bare Base Concept yaitu gelar pasukan dengan menyelaraskan dengan penggelaran Alutsista udara yang sewaktu-waktu mampu digerakkan ke seluruh nusantara berikut sarana pendukungnya.

Demikian Komandan Korpaskhas Marsma TNI Putu Sulatra dalam sambutannya pada Apel Gabungan Korpaskhas wilayah Bandung, Senin (12/11) di lapangan apel Mako Korpaskhas Lanud Sulaiman Bandung. Apel gabungan juga dilaksanakan di jajaran Wing 1 Pakhas Jakarta dan Wing II Paskhas Malang serta di satuan jajaran Paskhas seluruh Indonesia.

Pola penggelaran, lanjut Dankor dikaitkan dengan banyaknya wilayah atau obyek vital TNI AU maupun nasional yang harus dijaga dan dipertahankan.

Dibagian lain amanatnya Marsma TNI Putu Sulatra mengutarakan bahwa kebijakan dan strategi pembangunan Korpaskhas selalu menyesuaikan dengan perkembangan lingkungan strategis, hakekat ancaman dan tuntutan kebutuhan organisasi. Pelaksanaan pembangunan akan dilakukan secara bertahap sesuai dengan keuangan negara. Dalam waktu dekat periode pertama hingga tahun 2009 kata Dankor, pembangunan kekuatan Korpaskhas difokuskan kepada pemantapan 3 Wing Paskhas, pembentukan Skadron 467 Paskhas, pembangunan markas dan perumahan Detasemen Bravo di Rumpin serta kebutuhan persenjataan dan kendaraan tempur.



“Rencananya kita akan diberikan senjata ter-integrated pengganti senjata Penangkis Serangan Udara (PSU) jenis senjata Sky shield caliber 35 mm ahead oerlicon produk dari Swiss,” ujar Dankor.

Sementara itu menyikapi kegiatan yang telah dilaksanakan selama tahun 2007, Dankorpaskhas mengatakan cukup bangga dan gembira dengan pelaksanaan program kerja yang telah dilaksanakan. Loyalitas, disiplin dan kinerja yang tinggi harus selalu dipertahanakan dan bahkan ditingkatkan. Kebanggaan Dankor juga diungkapkan saat menyikapi pelaksanaan HUT ke-60 Korpaskhas yang dilaksanakan beberapa waktu yang lalu berjalan dengan sukses, aman dan lancar serta dihadiri oleh sesepuh cikal bakal Korpaskhas yaitu Peltu Pur Emannuel Nohan yang merupakan salah satu dari 13 orang pelaku sejarah penerjunan pertama di kota Waringin Kalimantan Barat.

Sumber : Dispen AU

India to Buy 80 Mi-17-1V Helicopters

In October 2006, the Indo-Asian News Service reported that the Indian Air Force will buy 80 medium lift multi-role Mi-17 1V helicopters from Russia. India's Chief of Air Staff Marshal S.P. Tyagi reportedly told the news agency that the contractual detail would be finalized within a few months, that Russia will start delivering the helicopters in 2007, and that deliveries would finish within a year. MosNews estimates the deal's value at approximately $662 million, with the exact value depending on ancillary equipment like avionics.

The deal is the result of a dance over time involving both Sikorsky and India's HAL, and the Mi-17 1V incorporates a few changes to the well-known Mi-17 already in service with India. Of course, "a couple of months" in Indian procurement time turns out to be over a year, but there are reports that a firm deal is now ready for signing…

Continue reading…

CN-235MPA (Maritime Patrol Aircraft)



PT. Dirgantara Indonesia pertamakali membuat pesawat patroli maritim CN-235 MPA awalnya atas pesanan Dephan-RI (Departemen Pertahanan Republik Indonesia) yang diperuntukan kepentingan patroli laut dan surveilence bagi TNI-AL dan TNI-AU.

Sampai dengan saat ini TNI AL mempunyai 12-16 unit (1 skadron) pesawat intai maritim, dengan varian NC-212MPA dan CN-235MPA.

Pada bulan Mei 2000, THALES dan IPTN menandatangani Memorandum Of Agreement untuk memasok Airborne Systems AMASCOS (Airborne Maritime Situation Control System) untuk tiga unit CN-235 TNI-AU. AMASCOS termasuk Ocean Master search radar buatan Thales dan EADS Deutschland, RWR Elettronica ALR 733, Chlio thermal imager dari Thales Optronique, Gemini navigation computer dari Thales (dahulu Sextant) Avionics dan AN/ASQ-508 Magnetic Anomaly Detection (MAD) system dari CAE.

Pada bagian bawah setiap sayap pesawat terdapat tiga hardpoint yang dapat mengakomodasi rudal anti-kapal jenis Harpoon. MPA untuk Indonesia dilengkapi dengan perangkat untuk persenjataan lain berupa dua Torpedo Mark 46 atau rudal M-39 Exocet.




MESIN. Dua mesin turboprop CT&-9C3 dari General Electric masing-masing menghasilkan tenaga 1,305kW (dengan tenaga cadangan otomatis menghasilkan 1,394kW). Baling-baling Hamilton Sundstrand 14RF-21 dengan diameter 3,35m. Propeller dari bahan glass fibre dengan metal spar dan urethane foam core.

SPESIFIKASI:
Panjang pesawat: 21,4 meter
Tinggi: 8,18 meter
Bentang sayap: 25,81 meter
Bentang sayap ekor: 11 meter
Luas lantai kabin: 22,8 meter persegi
Volume kabin: 43,2 meter kubik
Lebar kabin: 2,7 meter
Panjang Kabin: 9,65 meter
Tinggi kabin: 1,88 meter
Bobot maksimum tinggal landas: 15.400 kg
Kapasitas bahan bakar: 5.264 liter
Kecepatan jelajah maksimum: 455 km/jam
Endurance: lebih dari 8 jam

Kendaraan Taktis Baru Paskhas AU

Foto-foto kendaraan taktis (Rantis) baru Paskhas TNI AU yang dibuat oleh PT. Dirgantara Indonesia.

Rantis ini diberi nama DMTV (Dirgantara Military Tactical Vehicle) ditenagai mesin Ford 3000cc. Rantis ini memuat 4 personel, 1 juru kemudi, 2 gunner dan 1 personel pendukung.




Anggaran Minim, TNI Tidak Perbanyak Personel

Padang, Kompas - Anggaran pertahanan Indonesia yang masih minim membuat Departemen Pertahanan mengeluarkan kebijakan untuk tidak menambah jumlah personel tentara, melainkan meningkatkan kualitas personel dan menambah peralatan.

Hal itu terungkap dalam seminar "Doktrin Pertahanan Negara dan Produk-produk Strategis", Senin (12/11) di Markas Komando Resor Militer 032 Padang, Sumatera Barat. Direktur Kebijakan dan Strategi Pertahanan Departemen Pertahanan Brigadir Jenderal Budiman mengatakan, kebijakan pertahanan yang ditetapkan Departemen Pertahanan tidak menambah jumlah personel.

"Anggaran yang tersedia tidak cukup untuk memperbesar TNI. Anggaran itu dipakai untuk membuat sejumlah spesialisasi tentara yang ada dan melengkapi peralatan yang ada," kata Budiman.

Kepala Subdit Kebijakan Pelaksana Departemen Pertahanan Kolonel Cpl Yan Pieter menambahkan, anggaran pertahanan yang dialokasikan sekitar 0,9 persen saja dari Produk Domestik Bruto (PDB) atau sekitar 3,5 miliar dollar Amerika Serikat (AS). Sebagai perbandingan, Malaysia mengalokasikan 3,08 miliar dollar AS atau 2,2 persen dari total PDB yang mencapai 143 miliar dollar AS.

Dengan anggaran pertahanan yang minim, Pieter menambahkan, Departemen Pertahanan membuat pertahanan berlapis yang menempatkan kekuatan militer pada lapis terakhir setelah dilakukan upaya perundingan.

Budiman menambahkan, untuk menambah jumlah personel tentara, Departemen Pertahanan menggodok sebuah program pelatihan bagi masyarakat sipil untuk dijadikan komponen cadangan. "Komponen cadangan ini dididik selama lima tahun dengan waktu sekitar dua hari dalam satu minggu, ditambah saat bulan libur," kata Budiman. (ART)

Sumber : KOMPAS

Proyek Kapal Selam Dipangkas



SURABAYA - Hari pertama menjabat KSAL, Laksamana Madya TNI Sumardjono langsung mengeluarkan kebijakan yang berbeda dengan pendahulunya. Sumardjono memangkas program pembelian kapal selam yang digagas oleh Laksamana Slamet Soebijanto, pejabat sebelumnya.

Sumardjono mengungkapkan hal itu kepada wartawan setelah sertijab (serah terima jabatan) di Markas Komando Armatim di Surabaya kemarin. "Kita ingin punya alutsista (alat utama sistem persenjataan) banyak. Tapi disesuaikan dengan kemampuan pemerintah," kata lulusan AAL 1974 itu.

Secara terang-terangan, dia menjelaskan salah satu proyek yang dikepras adalah program pembelian kapal selam kelas Kilo dari Rusia. Pembatalan rencana yang dirancang oleh Slamet Soebijanto itu, katanya, dilakukan semata-mata karena terbatasnya anggaran negara.

"Sekarang kita punya dua. Untuk anggaran 2008, kita hanya bisa menambah satu. Membeli alutsista itu bukan seperti membeli pisang goreng," ujar Sumardjono, mantan Irjen Departemen Pertahanan.

Saat ini, TNI memang mempunyai dua kapal selam, yakni KRI Cakra dan KRI Nenggala. Keduanya buatan Jerman Timur tahun 1970-an. Kabarnya, kondisi Nenggala perlu diperbaiki.

Slamet yang diwawancarai di tempat yang sama mengungkapkan, semasa kepemimpinannya telah ada program mendatangkan enam kapal selam. Program itu sudah diajukan ke Dephan. Menurut dia, TNI-AL mutlak membutuhkan enam kapal selam. "Kita itu sudah banyak disepelekan dengan minimnya alutsista. Apakah kita akan terus seperti ini?" tegas pria kelahiran 4 Juni 1951 itu.

Slamet membantah anggapan bahwa negara mempunyai keterbatasan anggaran untuk merealisasikan rencana tersebut. Negara, lanjutnya, mempunyai kemampuan untuk merealisasikan program tersebut. "Anggarannya ada. Saya tahu itu," ujar bapak lima anak tersebut.

Mantan Wagub Lemhanas itu menjelaskan, kapal selam merupakan alat penangkal yang paling kuat pada setiap negara. "Kalau punya, kita akan ditakuti karena kapal selam itu sulit dideteksi kekuatan lawan," kata pemilik tanda jasa Kartika Eka Paksi tersebut.

Sebagai bandingannya, Malaysia pada 24 Oktober 2007 mendatangkan sebuah kapal selam baru jenis Scorpion dari Prancis. Malaysia juga sudah memesan satu lagi yang akan mereka terima pada 2009. Singapura sudah memiliki empat kapal selam buatan Swedia.

Tak hanya soal kapal selam, rencana Slamet yang akan memperluas pangkalan di pulau terluar juga dievaluasi oleh KSAL baru. Menurut Sumardjono, rencana itu akan dikaji ulang dan akan disesuaikan dengan anggaran negara. "Kami akan lanjutkan. Tapi, kami akan menyesuaikan dengan tahap renstra pemerintah lima tahunan yang sudah ada," ujarnya.

Tapi, menurut Slamet yang kini masuk "kotak" menjadi pati Mabes TNI-AL itu, pembangunan pangkalan sangat dibutuhkan. Fungsinya menangkal bahaya musuh yang biasa seliweran di perairan Indonesia. "Jadi, lebih baik dicegat di perbatasan. Jangan menunggu masuk ke ke dalam perairan," ujarnya.

Pentingnya penambahan alat-alat persenjataan juga disinggung Slamet. TNI-AL, lanjutnya, masih membutuhkan banyak peralatan mutakhir. "Kita masih butuh sensor, radar, dalam jumlah yang cukup banyak," ujarnya. "Terpenting juga masalah kesejahteraan anggota," tambahnya.



Apa kegiatan Slamet setelah lengser? "Saya ingin di rumah saja," katanya. Kalaupun ada kegiatan yang hendak dilakukan, Slamet ingin menulis buku tentang maritim. "Saya ingin menggugah pikiran masyarakat Indonesia. Kita ini masyarakat maritim, tapi orientasinya justru pada kontinental," ungkap suami Sonya Henny Soejud itu

Apakah program pergantian dirinya sebagai KSAL karena program kapal selam ditolak Dephan dan Mabes TNI? Slamet menepis hal tersebut.

Panglima TNI Marsekal Djoko Suyanto juga membantah pergantian itu dilatari persoalan beda pendapat dengan Slamet Soebijanto. "Pergantian KSAL kali ini hanyalah penyegaran organisasi," kata Djoko yang menjadi inspektur upacara kemarin.

Pergantian Slamet sangat mendadak. Mabes TNI mengumumkan sehari sebelum pelantikan pada 7 November 2007. Sumardjono sebagai KSAL baru diberi tahu Panglima Djoko Suyanto pada 6 November 2007, malam hari. Malamnya diberi tahu, paginya dilantik SBY.

Sejumlah sumber Jawa Pos di Mabes TNI saat itu mengungkapkan pergantian itu DILAKUKAN karena sejumlah program Slamet tidak cocok dengan Mabes TNI dan Dephan. Yakni persoalan pembelian alutsista dan rencana reorganisasi TNI-AL yang akan dibagi tiga armada dan pendirian pangkalan di pulau terluar.

Sumber : Jawa Pos