Tuesday, November 13, 2007

Paskhas Kembangkan Pola Gelar Strong Point Concept & Bare Base Concept

PEN KORPASKHAS (13/11) - Korpaskhas senantiasa mengembangkan pola penggelaran pasukan perpaduan antara Strong Point Concept yaitu menempati titik-titik kuat pertahanan dan Bare Base Concept yaitu gelar pasukan dengan menyelaraskan dengan penggelaran Alutsista udara yang sewaktu-waktu mampu digerakkan ke seluruh nusantara berikut sarana pendukungnya.

Demikian Komandan Korpaskhas Marsma TNI Putu Sulatra dalam sambutannya pada Apel Gabungan Korpaskhas wilayah Bandung, Senin (12/11) di lapangan apel Mako Korpaskhas Lanud Sulaiman Bandung. Apel gabungan juga dilaksanakan di jajaran Wing 1 Pakhas Jakarta dan Wing II Paskhas Malang serta di satuan jajaran Paskhas seluruh Indonesia.

Pola penggelaran, lanjut Dankor dikaitkan dengan banyaknya wilayah atau obyek vital TNI AU maupun nasional yang harus dijaga dan dipertahankan.

Dibagian lain amanatnya Marsma TNI Putu Sulatra mengutarakan bahwa kebijakan dan strategi pembangunan Korpaskhas selalu menyesuaikan dengan perkembangan lingkungan strategis, hakekat ancaman dan tuntutan kebutuhan organisasi. Pelaksanaan pembangunan akan dilakukan secara bertahap sesuai dengan keuangan negara. Dalam waktu dekat periode pertama hingga tahun 2009 kata Dankor, pembangunan kekuatan Korpaskhas difokuskan kepada pemantapan 3 Wing Paskhas, pembentukan Skadron 467 Paskhas, pembangunan markas dan perumahan Detasemen Bravo di Rumpin serta kebutuhan persenjataan dan kendaraan tempur.



“Rencananya kita akan diberikan senjata ter-integrated pengganti senjata Penangkis Serangan Udara (PSU) jenis senjata Sky shield caliber 35 mm ahead oerlicon produk dari Swiss,” ujar Dankor.

Sementara itu menyikapi kegiatan yang telah dilaksanakan selama tahun 2007, Dankorpaskhas mengatakan cukup bangga dan gembira dengan pelaksanaan program kerja yang telah dilaksanakan. Loyalitas, disiplin dan kinerja yang tinggi harus selalu dipertahanakan dan bahkan ditingkatkan. Kebanggaan Dankor juga diungkapkan saat menyikapi pelaksanaan HUT ke-60 Korpaskhas yang dilaksanakan beberapa waktu yang lalu berjalan dengan sukses, aman dan lancar serta dihadiri oleh sesepuh cikal bakal Korpaskhas yaitu Peltu Pur Emannuel Nohan yang merupakan salah satu dari 13 orang pelaku sejarah penerjunan pertama di kota Waringin Kalimantan Barat.

Sumber : Dispen AU

India to Buy 80 Mi-17-1V Helicopters

In October 2006, the Indo-Asian News Service reported that the Indian Air Force will buy 80 medium lift multi-role Mi-17 1V helicopters from Russia. India's Chief of Air Staff Marshal S.P. Tyagi reportedly told the news agency that the contractual detail would be finalized within a few months, that Russia will start delivering the helicopters in 2007, and that deliveries would finish within a year. MosNews estimates the deal's value at approximately $662 million, with the exact value depending on ancillary equipment like avionics.

The deal is the result of a dance over time involving both Sikorsky and India's HAL, and the Mi-17 1V incorporates a few changes to the well-known Mi-17 already in service with India. Of course, "a couple of months" in Indian procurement time turns out to be over a year, but there are reports that a firm deal is now ready for signing…

Continue reading…

CN-235MPA (Maritime Patrol Aircraft)



PT. Dirgantara Indonesia pertamakali membuat pesawat patroli maritim CN-235 MPA awalnya atas pesanan Dephan-RI (Departemen Pertahanan Republik Indonesia) yang diperuntukan kepentingan patroli laut dan surveilence bagi TNI-AL dan TNI-AU.

Sampai dengan saat ini TNI AL mempunyai 12-16 unit (1 skadron) pesawat intai maritim, dengan varian NC-212MPA dan CN-235MPA.

Pada bulan Mei 2000, THALES dan IPTN menandatangani Memorandum Of Agreement untuk memasok Airborne Systems AMASCOS (Airborne Maritime Situation Control System) untuk tiga unit CN-235 TNI-AU. AMASCOS termasuk Ocean Master search radar buatan Thales dan EADS Deutschland, RWR Elettronica ALR 733, Chlio thermal imager dari Thales Optronique, Gemini navigation computer dari Thales (dahulu Sextant) Avionics dan AN/ASQ-508 Magnetic Anomaly Detection (MAD) system dari CAE.

Pada bagian bawah setiap sayap pesawat terdapat tiga hardpoint yang dapat mengakomodasi rudal anti-kapal jenis Harpoon. MPA untuk Indonesia dilengkapi dengan perangkat untuk persenjataan lain berupa dua Torpedo Mark 46 atau rudal M-39 Exocet.




MESIN. Dua mesin turboprop CT&-9C3 dari General Electric masing-masing menghasilkan tenaga 1,305kW (dengan tenaga cadangan otomatis menghasilkan 1,394kW). Baling-baling Hamilton Sundstrand 14RF-21 dengan diameter 3,35m. Propeller dari bahan glass fibre dengan metal spar dan urethane foam core.

SPESIFIKASI:
Panjang pesawat: 21,4 meter
Tinggi: 8,18 meter
Bentang sayap: 25,81 meter
Bentang sayap ekor: 11 meter
Luas lantai kabin: 22,8 meter persegi
Volume kabin: 43,2 meter kubik
Lebar kabin: 2,7 meter
Panjang Kabin: 9,65 meter
Tinggi kabin: 1,88 meter
Bobot maksimum tinggal landas: 15.400 kg
Kapasitas bahan bakar: 5.264 liter
Kecepatan jelajah maksimum: 455 km/jam
Endurance: lebih dari 8 jam

Kendaraan Taktis Baru Paskhas AU

Foto-foto kendaraan taktis (Rantis) baru Paskhas TNI AU yang dibuat oleh PT. Dirgantara Indonesia.

Rantis ini diberi nama DMTV (Dirgantara Military Tactical Vehicle) ditenagai mesin Ford 3000cc. Rantis ini memuat 4 personel, 1 juru kemudi, 2 gunner dan 1 personel pendukung.




Anggaran Minim, TNI Tidak Perbanyak Personel

Padang, Kompas - Anggaran pertahanan Indonesia yang masih minim membuat Departemen Pertahanan mengeluarkan kebijakan untuk tidak menambah jumlah personel tentara, melainkan meningkatkan kualitas personel dan menambah peralatan.

Hal itu terungkap dalam seminar "Doktrin Pertahanan Negara dan Produk-produk Strategis", Senin (12/11) di Markas Komando Resor Militer 032 Padang, Sumatera Barat. Direktur Kebijakan dan Strategi Pertahanan Departemen Pertahanan Brigadir Jenderal Budiman mengatakan, kebijakan pertahanan yang ditetapkan Departemen Pertahanan tidak menambah jumlah personel.

"Anggaran yang tersedia tidak cukup untuk memperbesar TNI. Anggaran itu dipakai untuk membuat sejumlah spesialisasi tentara yang ada dan melengkapi peralatan yang ada," kata Budiman.

Kepala Subdit Kebijakan Pelaksana Departemen Pertahanan Kolonel Cpl Yan Pieter menambahkan, anggaran pertahanan yang dialokasikan sekitar 0,9 persen saja dari Produk Domestik Bruto (PDB) atau sekitar 3,5 miliar dollar Amerika Serikat (AS). Sebagai perbandingan, Malaysia mengalokasikan 3,08 miliar dollar AS atau 2,2 persen dari total PDB yang mencapai 143 miliar dollar AS.

Dengan anggaran pertahanan yang minim, Pieter menambahkan, Departemen Pertahanan membuat pertahanan berlapis yang menempatkan kekuatan militer pada lapis terakhir setelah dilakukan upaya perundingan.

Budiman menambahkan, untuk menambah jumlah personel tentara, Departemen Pertahanan menggodok sebuah program pelatihan bagi masyarakat sipil untuk dijadikan komponen cadangan. "Komponen cadangan ini dididik selama lima tahun dengan waktu sekitar dua hari dalam satu minggu, ditambah saat bulan libur," kata Budiman. (ART)

Sumber : KOMPAS

Proyek Kapal Selam Dipangkas



SURABAYA - Hari pertama menjabat KSAL, Laksamana Madya TNI Sumardjono langsung mengeluarkan kebijakan yang berbeda dengan pendahulunya. Sumardjono memangkas program pembelian kapal selam yang digagas oleh Laksamana Slamet Soebijanto, pejabat sebelumnya.

Sumardjono mengungkapkan hal itu kepada wartawan setelah sertijab (serah terima jabatan) di Markas Komando Armatim di Surabaya kemarin. "Kita ingin punya alutsista (alat utama sistem persenjataan) banyak. Tapi disesuaikan dengan kemampuan pemerintah," kata lulusan AAL 1974 itu.

Secara terang-terangan, dia menjelaskan salah satu proyek yang dikepras adalah program pembelian kapal selam kelas Kilo dari Rusia. Pembatalan rencana yang dirancang oleh Slamet Soebijanto itu, katanya, dilakukan semata-mata karena terbatasnya anggaran negara.

"Sekarang kita punya dua. Untuk anggaran 2008, kita hanya bisa menambah satu. Membeli alutsista itu bukan seperti membeli pisang goreng," ujar Sumardjono, mantan Irjen Departemen Pertahanan.

Saat ini, TNI memang mempunyai dua kapal selam, yakni KRI Cakra dan KRI Nenggala. Keduanya buatan Jerman Timur tahun 1970-an. Kabarnya, kondisi Nenggala perlu diperbaiki.

Slamet yang diwawancarai di tempat yang sama mengungkapkan, semasa kepemimpinannya telah ada program mendatangkan enam kapal selam. Program itu sudah diajukan ke Dephan. Menurut dia, TNI-AL mutlak membutuhkan enam kapal selam. "Kita itu sudah banyak disepelekan dengan minimnya alutsista. Apakah kita akan terus seperti ini?" tegas pria kelahiran 4 Juni 1951 itu.

Slamet membantah anggapan bahwa negara mempunyai keterbatasan anggaran untuk merealisasikan rencana tersebut. Negara, lanjutnya, mempunyai kemampuan untuk merealisasikan program tersebut. "Anggarannya ada. Saya tahu itu," ujar bapak lima anak tersebut.

Mantan Wagub Lemhanas itu menjelaskan, kapal selam merupakan alat penangkal yang paling kuat pada setiap negara. "Kalau punya, kita akan ditakuti karena kapal selam itu sulit dideteksi kekuatan lawan," kata pemilik tanda jasa Kartika Eka Paksi tersebut.

Sebagai bandingannya, Malaysia pada 24 Oktober 2007 mendatangkan sebuah kapal selam baru jenis Scorpion dari Prancis. Malaysia juga sudah memesan satu lagi yang akan mereka terima pada 2009. Singapura sudah memiliki empat kapal selam buatan Swedia.

Tak hanya soal kapal selam, rencana Slamet yang akan memperluas pangkalan di pulau terluar juga dievaluasi oleh KSAL baru. Menurut Sumardjono, rencana itu akan dikaji ulang dan akan disesuaikan dengan anggaran negara. "Kami akan lanjutkan. Tapi, kami akan menyesuaikan dengan tahap renstra pemerintah lima tahunan yang sudah ada," ujarnya.

Tapi, menurut Slamet yang kini masuk "kotak" menjadi pati Mabes TNI-AL itu, pembangunan pangkalan sangat dibutuhkan. Fungsinya menangkal bahaya musuh yang biasa seliweran di perairan Indonesia. "Jadi, lebih baik dicegat di perbatasan. Jangan menunggu masuk ke ke dalam perairan," ujarnya.

Pentingnya penambahan alat-alat persenjataan juga disinggung Slamet. TNI-AL, lanjutnya, masih membutuhkan banyak peralatan mutakhir. "Kita masih butuh sensor, radar, dalam jumlah yang cukup banyak," ujarnya. "Terpenting juga masalah kesejahteraan anggota," tambahnya.



Apa kegiatan Slamet setelah lengser? "Saya ingin di rumah saja," katanya. Kalaupun ada kegiatan yang hendak dilakukan, Slamet ingin menulis buku tentang maritim. "Saya ingin menggugah pikiran masyarakat Indonesia. Kita ini masyarakat maritim, tapi orientasinya justru pada kontinental," ungkap suami Sonya Henny Soejud itu

Apakah program pergantian dirinya sebagai KSAL karena program kapal selam ditolak Dephan dan Mabes TNI? Slamet menepis hal tersebut.

Panglima TNI Marsekal Djoko Suyanto juga membantah pergantian itu dilatari persoalan beda pendapat dengan Slamet Soebijanto. "Pergantian KSAL kali ini hanyalah penyegaran organisasi," kata Djoko yang menjadi inspektur upacara kemarin.

Pergantian Slamet sangat mendadak. Mabes TNI mengumumkan sehari sebelum pelantikan pada 7 November 2007. Sumardjono sebagai KSAL baru diberi tahu Panglima Djoko Suyanto pada 6 November 2007, malam hari. Malamnya diberi tahu, paginya dilantik SBY.

Sejumlah sumber Jawa Pos di Mabes TNI saat itu mengungkapkan pergantian itu DILAKUKAN karena sejumlah program Slamet tidak cocok dengan Mabes TNI dan Dephan. Yakni persoalan pembelian alutsista dan rencana reorganisasi TNI-AL yang akan dibagi tiga armada dan pendirian pangkalan di pulau terluar.

Sumber : Jawa Pos

Monday, November 12, 2007

Pengembangan Armada TNI AL tidak Ditangguhkan


Panglima TNI Marsekal Djoko Suyanto (tengah), melakukan salam komando dengan Laksamana Slamet Soebijanto (kiri) dan KSAL yang baru, Laksdya Sumardjono, usai serah terima jabatan KSAL di Dermaga Madura, Koarmatim, Surabaya, Senin.

SURABAYA--MEDIA: Panglima TNI Marsekal Djoko Suyanto membantah anggapan bahwa rencana pengembangan armada TNI AL dari yang saat ini ada dua menjadi tiga dengan pusat di Koarmatim Surabaya ditangguhkan.

"Bukan ditangguhkan, tapi disesuaikan dengan prioritas-prioritas yang ada. Kalau ditangguhkan itu berarti waktunya tidak tahu sampai kapan, sedangkan prioritas ada tahapannya," katanya kepada wartawan seusai serah terima jabatan KSAL dari Laksamana Slamet Soebijanto kepada Laksdya Sumardjono di di dermaga Madura, Ujung, Markas Komando Armada RI Kawasan Timur (Koarmatim).

TNI AL merencanakan program pengembangan armada dari yang ada, yakni Koarmatim dan Koarmabar menjadi tiga dengan menambah armada bagian tengah. Ketiga armada itu pusat komandonya akan berada di Koarmatim.

Panglima TNI memuji rencana pengembangan armada TNI AL itu sebagai program yang sangat bagus, namun untuk mewujudkannya tetap membutuhkan waktu.

"Itu program bagus, tapi kan tidak bisa diwujudkan dalam satu dua hari, satu dua tahun karena keterbatasan-keterbatasan," katanya.

Menurut dia, program yang bagus di TNI harus tetap mengacu pada prioritas. Adalah tugas kepala staf masing-masing angkatan untuk menentukan prioritas mana yang lebih didahulukan untuk kemajuan TNI.

"Kecuali kalau rakyat dan pemerintah Indonesua memberikan kebutuhan TNI itu seperti yang diminta oleh TNI. Kalau yang diminta TNI X kemudian diberi X, itu mungkin bisa terlaksana. Kondisi itu belum terjadi kok," katanya.

Menurut mantan Kasau itu, fokus anggaran di pemerintah saat ini adalah pendidikan dan kesehatan, termasuk pengadaan lapangan pekerjaaan.

"Untuk TNI secukupnya dulu, yang penting kemampuannya tidak lalu berkurang," katanya.

Sementara itu menanggapi pergantian KSAL, Panglima TNI menyatakan, bahwa bukan hanya KSAL yang diganti, melainkan juga pejabat TNI di level lainnya karena secara pasti akan dilakukan regenerasi sesuai waktunya.

"Jabatan di TNI itu tidak akan selamanya. Pak Slamet Soebijanto sudah sekitar 2,5 tahun menjabat dan pasti yang lain juga akan menyusul sesuai dengan masanya," katanya.

Ia menegaskan bahwa pergantian KSAL merupakan hal yang biasa. Pembinaan organisasi lewat regenerasi sangat strategis dalam rangka kesinambungan organisasi.

"Karena itu alih tugas menjadi suatu hal yang tidak terelakkan demi terjaganya proses pembinaan TNI, khususnya di lingkungan TNI AL," katanya.

Menurut dia, walaupun pucuk pimpinan TNI maupun angkatan senantiasa berganti, akan tetapi kesinambungan kebijakan tugas, peran, fungsi serta kinerja organisasi harus tetap dipertahankan sesuai dengan perkembangan.

"Kesinambungan proses ini harus dijaga agar arah dan langkah pembinaan organisasi tetap fokus menuju sasaran yang telah disepakati dengan mempertimbangkan prioritas dan dinamikan di lapangan," katanya. (Ant/OL-06)

Sumber : MIOL

Menhan RI Terima Kunjungan Menteri Industri Dan Perdagangan Republik Ceko

Jakarta, DMC - Menteri Pertahanan RI Juwono Sudarsono, Senin (12/11) menerima kunjungan kehormatan Menteri Industri dan Perdagangan Republik Ceko, Martin Riman di kantor Dephan RI, Jakarta.

Kunjungan Martin Riman kepada Menhan merupakan bagian dari rangkaian kunjungannya selama di Indonesia dalam rangka menandatangani kerjasama perdagangan dengan Menteri Luar Negeri RI. Dalam kunjungannya tersebut, Martin Riman menyampaikan kepada Menhan RI tentang prospek hubungan kerjasama militer kedua negara diantaranya adalah menawarkan kerjasama pengadaan alutsista untuk TNI.

Selama di Indonesia Menteri Industri dan Perdagangan Republik Ceko, Martin Riman juga melakukan kunjungan kepada Menteri Perdagangan, Menteri Perindustrian dan Panglima TNI.

Saat menerima tamunya Menhan RI didampingi Dirjen Strahan Dephan Mayjen TNI Dadi Susanto, Dirjen Ranahan Dephan Marsda TNI Eris Heryanto, S.IP, MA, Staf Khusus Menhan Bidang Ekonomi Adnan Gantho, Ses Ditjen Renhan Dephan Brigjen TNI Mulya Santana dan Karo Humas Setjen Dephan Brigjen TNI Edy Butar Butar, S.IP. (IK/HDY)

Sumber : DMC

Banyak Kepentingan Dalam Pengadaan Alutsista, Kata Joko Suyanto

Surabaya (ANTARA News) - Panglima TNI, Marsekal TNI Djoko Suyanto mengakui adanya berbagai kepentingan dari beberapa pihak dalam proses pengadaan alat utama sistem senjata (alutsista) di lingkungan TNI.

"Banyak kepentingan orang yang ingin memasarkan produknya. Kepentingan itu tidak hanya dari dalam negeri, tapi kan dari luar negeri, yaitu pabrik juga berkepentingan memasarkan produknya," katanya kepada wartawan di Surabaya, Senin.

Pangliam TNI berada di Surabaya memimpin upacara serah terima jabatan Kasal dari Laksamana TNI Slamet Soebijanto kepada Laksdya TNI Sumardjono di Dermaga Madura, Ujung, Markas Komando Armada RI Kawasan Timur (Koarmatim).

Menurut Panglima TNI, pihaknya tidak akan terpengaruh dengan berbagai kepetingan, kecuali tetap berpatokan pada kebutuhan untuk pengembangan kelengkapan TNI.

"Kepentingan kami adalah, teknis alatnya itu seperti ini dengan jarak jangkau sekian. Kebutuhan teknis itu yang harus diperhatikan, bukan keperluan dari pihak lain," kata mantan Kasau kelahiran Madiun, Jatim, itu.

Ia juga menegaskan bahwa untuk pengadaan alutsista, Indonesia menganut keseimbangan atau tidak berfokus kepada satu negara tertentu.

"Kita punya pengalaman yang tidak bagus di masa lalu karena fokus pada satu negara. Kalau ada masalah dengan negara tersebut, maka kita terpengaruh dalam penyiapan alutsista. Karena itu kita beralih ke banyak negara," katanya.

Dikatakannya, banyaknya negara yang dipilih untuk menyesuaikan dengan kebutuhan masing-masing angkatan. Pemilihan itu bukan asal-asalan tidak tergantung kepada negara, melainkan tetap harus disesuaikan dengan kondisi geografi, kebutuhan dan terutama sesuai dengan dananya.

"Masalah murah atau mahal itu bukan ukuran. Alutsista TNI itu harus dilihat kemampuan teknisnya, sesuai tidak dengan tugas TNI. Jika membeli murah tapi tidak sesuai dengan tugas TNI, kan tidak pas. Mahal, jika itu sesuai dengan tuntutan tugas, TNI tidak masalah, jadi relatif ukurannya," katanya.

Mengenai evaluasi dalam setiap pengadaan alutsista, Panglima TNI menegaskan hal itu tetap melalui proses dan tidak asal membeli. Pembelian alutsista sebelumnya dikaji oleh tim yang mengetahui spesifikasi kemampuannya. (*)

Sumber : ANTARA

Siap Berangkat : Konga XXIII-B



Sejumlah prajurit TNI yang tergabung dalam Pasukan Garuda XXIII-B mengikuti upacara pemberangkatan, di pangkalan TNI AU Halim Perdanakusuma, Jakarta, Senin (12/11). Sebanyak 800 prajurit yang terbagi dalam tiga gelombang pemberangkatan, akan berangkat menuju Lebanon hari ini.

Virginia Block III: The Revised Bow



"GDEB Receives $148M as Virginia Class Lead Yard" described changes to the Virginia Class submarine's design that are expected to reach 20% of the $200 million savings goal by the time orders for the versatile sea attack/ land attack/ special forces submarines rise to 2 per year, in 2012. Note that just 2% inflation per year would make that $2 billion $FY05 target about $2.3 billion in FY 2012 dollars, and 3% average inflation would raise the real dollars price tag to $2.46 billion.

The bow changes cover the FY 2009-2013 ships, referred to as Block III. SSN 774 Virginia – SSN 774 North Carolina are be Block I and SSNs 778-783 will be Block II. Block III begins with the 11th ship of class, SSN 784. That boat will be ordered in October 2008 (beginning FY 2009), for delivery around 2015. A fuller explanation of the bow changes, and the accompanying graphic, may be found below:

Continue reading…

Hari Ini Pameran Alutsista TNI AD dibuka di Semarang



Semarang - Sabtu (10/11) ini, Pameran Alat Utama Sistem Senjata (Alutsista) dalam rangkaian HUT Ke-62 TNI mulai digelar di Museum Mandala Bhakti. Menurut Letkol Inf Drs Zaenal M MSi, kegiatan akan digelar sampai 14 November 2007. Jika animo masyarakat tinggi, waktunya bisa diperpanjang hingga 17 November 2007.

''Dikatakan, masyarakat tidak akan dipungut biaya untuk melihat pameran. Tidak hanya senjata dan peralatan perang yang akan dipertontonkan di tempat itu, namun juga ada pemutaran film dokumenter tentang Kodam IV/Diponegoro dan film-film dalam negeri lain yang bertemakan perjuangan.

Lantaran ruang museum dan lapangan parkir untuk pameran, Zaenal mengimbau warga yang menyaksikan kegiatan ini agar memarkir kendaraanya di sekitar museum. Misalnya lahan parkir di halaman Gereja Katedral, Rumah Sakit Tentara, dan sekitar Pasar Bulu.''

Satuan-satuan yang ikut ambil bagian dalam kegiatan itu antara lain Kopassus, Yonkav-2/Tank, Penerbad, Yonif 400/Raiders, Lanal Semarang, Akademi Militer, Akademi Angkatan Udara, dan lain-lain. Selama pameran, panitia menghibur pengunjung dengan beberapa artis ibu kota.

Sumber : www.suaramerdeka.com

Agen Asing Incar Pelajar Indonesia

MAGELANG--MEDIA: Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Jenderal Djoko Santoso mengatakan saat ini bertebaran agen asing yang mengincar pelajar-pelajar Indonesia untuk dididik dan dilatih sebagai agen.

"Saya dengar banyak agen asing yang incar kalian dengan gaji tinggi untuk bekerja di luar negeri, dididik dan dilatih sebagai agen mereka. Ini saya prihatin. Kalian adalah taruna nusantara, jadi hidup mati kalian adalah untuk Nusantara," kata KSAD dalam pengarahannya kepada para siswa SMA Taruna Nusantara, di Magelang, Sabtu (10/11).

Ia melanjutkan siswa-siswi semacam di SMU Taruna Nusantara dididik agar berhasil bukan hanya untuk diri sendiri, tapi utamanya untuk rakyat, bangsa dan negara. Karenanya dia meminta para siswa dan pelajar untuk menerapkan hasil pendidikan yang diterima untuk kemajuan Indonesia di masa depan, khususnya menghadapi era globalisasi.

"Jangan apa yang telah didapat selama pendidikan malah cari pekerjaan, cari pasangan hidup di luar negeri. Itu pengkhianat namanya," tegas KSAD.

"Kalian siswa Taruna Nusantara, yang artinya siswa Indonesia, sudah seharusnya menerapkan apa yang didapat untuk kepentingan bangsa Indonesia, bukan untuk negara asing, seperti Singapura," tambah dia.

Makanya, lanjut KSAD, sangat diharapkan muncul pemimpin-pemimpin lintas profesi yang berwawasan kebangsaan. Intinya, ujar dia, warga negara yang terdidik dan terlatih, memiliki kepemihakan pada rakyat dan bangsa Indonesia.

"Nah untuk bangkit kita harus sadar dan paham bahwa bangsa kita berada pada posisi kritis. Kita juga harus bersatu dengan hidup rukun. Lalu kita harus mau bekerja keras membangun bangsa dengan menonjolkan militansi dalam artian ketekunan dan kerja keras mencapai tujuan," jelasnya.

Dalam pengarahannya kepada para siswa, KSAD didampingi mantan Wakil Presiden Try Soetrisno yang merupakan salah satu pendiri SMA yang didirikan pada tahun 1990 itu. (Mjs/OL-06)

Sumber : MIOL

Saturday, November 10, 2007

Interview with 2 Captured Foreign Militant Jihadists....Afghanistan

US Airforce Fighter Jet Targets Insurgent Car In Iraq

U.S. missile defense radar in the Czech Republic

Washington insists that a missile shield in Europe is needed to protect the U.S. and its NATO allies from potential missile attacks coming from Iran or North Korea, despite Russia's objections.

First Army MRAPs Arrive in Iraq



MRAP vehicles are trickling into Iraq, airlifted to the country by C-5 and C-17s from the US Navy's completion center in South Carolina, where they are fitted with 'government furnished equipment' such as CREW type IED jammers, radios and accessories.

The first examples from each model are delivered to the MRAP training center at Camp Liberty, western Baghdad where drivers and mechanics are trained through a 40 hour orientation course, before they are delivered to the combat units. Sofar the USMC has fielded Force Protection Cougar based 4x4 and 6x6 MRAPs while the Army is fielding the MaxxPro from International in 4x4 configurations.

Further models currently in production include the Caiman from BAE Systems' division Stewart & Stevenson, 6x6 RG-33s, also from BAE Systems and 4x4 RG-31 Mk5s originally developed by BAE System's South African subsidiary OMC and being delivered by General Dynamics Land Systems' Canada, primarily to the US Special Operations Command.

The MRAPs are currently being fielded to units who need them the most and operate in areas with the highest threat, officials said. Although the Humvee is not expected to be phased out anytime soon, the MRAPs will begin to take its place as a new standard Army vehicle.

Friday, November 09, 2007

650 Anggota YONIF 408 diberangkatkan ke Papua

Sragen - Sebanyak 650 anggota TNI Batalyon Infanteri (Yonif) 408/Sbh Sragen siap diberangkatkan ke Papua untuk menjaga wilayah perbatasan Indonesia dengan Papua New Guinea (PNG).

Pelepasan anggota TNI yang akan bertugas menjaga perbatasan selama setahun ke depan ini secara resmi dilakukan oleh Asisten Operasi Kepala Staf Umum TNI (Asop Kasum) Mayjen TNI Bambang Darmono, Rabu (07/11) di Markas Yonif setempat.

Acara pelepasan dihadiri sejumlah pejabat TNI seperti Pangdam IV/Diponegoro Mayjen TNI Agus Soeyitno, Waas Intel Kasum TNI Kolonel Widyagno, Waas Log Kasum TNI Marsma Suhadi, Danrem 074/Warastratama Kolonel Inf NG Sugiartha, Dandim 0727/Sragen Letnan Kolonel Inf Krido Santoso dan lainnya.

Saya lihat semuanya sudah siap dan dalam kondisi yang prima, sehingga nantinya prajurit TNI dapat menjalankan dan menyelesaikan tugas dengan baik, kata Mayjen Bambang Darmono.

Selain memeriksa kemampuan personel, Bambang juga memeriksa perlengkapan dan peralatan yang akan dibawa untuk menunjang pasukan selama bertugas di sana. Dalam kesempatan itu, Bambang sempat mengetes kemampuan beberapa prajurit untuk membidik sasaran dengan senjata milik prajurit.

Selengkapnya>>

U.S. missile defense radar in the Czech Republic

Washington insists that a missile shield in Europe is needed to protect the U.S. and its NATO allies from potential missile attacks coming from Iran or North Korea, despite Russia's objections.

Pengambilalihan Texmaco Tergantung Audit Teknologi

JAKARTA--MEDIA: Menteri Sekretaris Negara Hatta Rajasa mengaku sudah menerima surat dari Menteri Pertahanan Juwono Sudarsono agar Texmaco Engineering diambil alih pemerintah untuk dimanfaatkan teknologinya demi kepentingan militer.

"Surat dari Menhan sudah ada,. Isinya usulan agar Texmaco itu dimanfaatkan. Ada juga pertimbangan-pertimbangannya. Menhan juga menyarankan untuk dilakukan audit teknologi," kata Hatta setelah menghadiri acara penganugerahan Pahlawan Nasional di Istana Jakarta, Jumat (9/11).

Ia memaparkan, dirinya sudah memberikan masukan kepada Menhan bahwa sebetulnya sudah dilakukan audit teknologi oleh kantor riset dan teknologi dan BPPT terhadap Texmaco pada pemerintahan Megawati Soekarnoputri.

Dokumen itu bisa digunakan oleh Menteri Keuangan untuk mengambil keputusan terkait dengan pemanfaatan aset Texmaco untuk negara.

"Apakah aset tersebut bisa dimanfaatkan, diambil alih atau apapun juga, atau seperti apa. Saya tidak ingin masuk ke dalam wilayah yang seperti itu. Tapi kalau dikatakan bahwa aset itu semuanya bisa untuk digunakan membuat peralatan perang, itu tidak betul," cetus Hatta.

Ia menyarankan agar Menhan melihat hasil audit teknologi yang telah dilakukan oleh kantor riset dan teknologi dan BPPT. "Audit teknologi itu harus menjadi pertimbangan. Jangan sampai nanti ketika diambil menjadi beban negara yang cukup berat," tegas Hatta. (Far/OL-06)

Sumber : Media Indonesia Online

Slamet Soebijanto Berharap Pengembangan Kowilla Tetap Berjalan

Jakarta (ANTARA News) - Mantan Kepala Staf TNI Angkatan Laut (Kasal), Laksamana TNI Slamet Soebijanto, mengharapkan bahwa pengembangan Komando Wilayah Laut (Kowilla) menjadi tiga, yakni wilayah Barat, Tengah, dan Timur, tetap dapat dilaksanakan.

"Pengembangan harus terus dilakukan karena itu merupakan tuntutan bagi Indonesia sebagai negara yang 2/3 wilayahnya adalah lautan," katanya, setelah penutupan Pendidikan Reguler (Dikrek) Angkatan ke-45 Sekolah Staf dan Komando Angkatan Laut (Seskoal) tahun pengajaran 2007, di Auditorium Seskoal, Jakarta, Kamis.

Slamet Soebijanto digantikan oleh Laksamana Madya TNI Soemardjono selaku Kasal, yang dilantik Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di Jakarta, Rabu (7/11). Sementara itu, Slamet Soebijanto secara internal di jajaran Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut (TNI AL) bakal melakukan serah terima jabatan selaku Kasal kepada Soemardjono pada pekan depan.

Ia mengatakan, laut Indonesia yang sangat luas, sehingga memerlukan upaya perubahan baik dari sisi kekuatan, dukungan, maupun organisasi TNI AL.

"Kalau tidak dinamis, maka kita akan rugi sendiri karena tidak bisa mengamankan wilayah secara optimal," katanya.

TNI AL, menurut dia, telah menetapkan postur kekuatan hingga 2024 untuk pemekaran dan profesionalisme mewujudkan kebijakan "Green Water Navy".

Postur kekuatan itu, dikemukakannya, meliputi jumlah armada Kapal Perang RI (KRI) sebanyak 274 unit, terdiri dari satuan pemukul (Striking Force), satuan patroli (Patrolling Force) dan satuan pendukung (Supporting Force), serta pesawat udara sebanyak 137 unit.

Selain itu, kesatuan Marinir nantinya akan dibagi menjadi tiga Pasukan Marinir (Pasmar), dua Brigade Marinir (Brigmar) BS, satu Komando Latihan Marinir (Kolatmar), lima Pangkalan Marinir (Lanmar), dan 11 Batalyon Marinir Pertahanan Pangkalan (Yonmarhanlan), sedangkan pangkalan menjadi 59 unit, yakni 11 Pangkalan Utama TNI AL (Lantamal), 24 Pangkalan TNI AL (Lanal), 21 Stasion TNI AL (Sional), dan tiga Detasemen TNI AL (Denal).

Sedangkan, untuk pengembangan komando armada laut menjadi tiga wilayah ditargetkan selesai 2008.

Selengkapnya>>

Calo Senjata Ada di Mana-mana

Dua lembar surat yang disodorkan Gatra membuat Theo L. Sambuaga terkejut. Ketua Komisi I DPR ini serta-merta mengatakan, sebelumnya tidak pernah melihat dan membaca surat berbahasa Inggris itu.

Padahal, di sudut atas surat berlambang "Norinco" itu tertera nama Ketua Komisi I DPR tersebut. Di bagian akhir tertera pula nama anggota dewan Happy Bone Zulkarnaen sebagai tembusan. "Saya belum menerima surat ini," ujar Theo.

Surat tertanggal 16 Oktober 2007 itu menarik perhatian Theo. Surat tersebut dikirim oleh industri senjata Cina, China North Industries Corp (Norinco). Dalam surat itu, Norinco meminta Theo mempertimbangkan kembali rencana pengadaan sistem senjata anti-pesawat terbang Norinco 57 mm oleh TNI. Sistem senjata itu, menurut mereka, diproduksi sejak akhir tahun 1950-an alias teknologinya sudah ketinggalan zaman. "Senjata itu kini sudah tidak diproduksi lagi," demikian bunyi surat tersebut.

Dalam surat yang ditandatangani Luo Xiangdong yang mengaku sebagai Wakil General Manager Norinco Wilayah Asia Pasifik itu, Norinco menyodorkan sistem senjata yang lebih baru dan canggih, Giant Bow 23 mm dan Giant Bow II System. Kedua jenis senjata baru ini memiliki kemampuan jauh di atas sistem senjata 57 mm, yang disebut-sebut akan dibeli oleh Indonesia.

Anehnya, dalam surat itu juga dijelaskan bahwa kedua senjata terbaru tersebut pernah dipresentasikan di hadapan delegasi Tentara Nasional Indonesia (TNI) dan Departemen Pertahanan (Dephan) yang berkunjung ke pabrik Norinco di Cina. "Saya akan coba mengecek kebenaran hal tersebut," kata Theo.

Jika benar, surat penjelasan langsung dari Norinco itu menjadi salah satu bukti kesemrawutan proses pengadaan alat utama sistem pertahanan (alutsista) oleh pemerintah. Betapa tidak, kasus itu setidaknya menunjukkan bahwa senjata untuk menangkis serangan pesawat tempur tersebut bukan berasal dari Norinco. Sumber Gatra yang dekat dengan para rekanan pengadaan di Dephan menyebut pasar gelap sebagai sumber pembelian senjata-senjata out of date itu. "Harganya miring, sehingga untungnya bisa berlipat ganda," ujar sumber Gatra di kalangan rekanan senjata itu.

Pengadaan senjata anti-pesawat terbang ini bisa jadi bakal menambah daftar panjang masalah dalam proses pengadaan alutsista. Bukan satu-dua kali proses pengadaan alutsista untuk kebutuhan TNI bermasalah. Mulai kasus pengadaan 39 kapal perang eks Jerman Timur, tank Scorpion, pembelian senapan M16-A2, Heli Mi-2 untuk TNI-AL, panser VAB dari Prancis, hingga pembelian helikopter Mi-17-IV untuk TNI-AD.

Tak hanya itu. Dalam surat Asisten Perencanaan dan Anggaran TNI-AD, Mayor Jenderal Abdul Ghofur, kepada Panglima TNI terungkap beberapa masalah dalam proses pengadaan alutsista di TNI-AD. Laporan tertanggal 18 September 2007, yang dimiliki Gatra, menyebutkan adanya masalah dalam proses pengadaan alutsista pada tahun anggaran 2004. Menurut laporan itu, TNI-AD terpaksa membatalkan kontrak perbaikan tank milik TNI-AD yang telah disepakati.

Pembatalan tersebut terkait ketidakmampuan pihak pemasok mesin tank (VE) menyuplai kebutuhan sesuai dengan kontrak. Terpaksa kontrak itu diserahkan kepada pemasok lain. Selain itu, beberapa masalah muncul terkait terhambatnya proses loan agreement oleh Departemen Keuangan. Misalnya pengadaan alat berat Zeni (Alberzi) dan kapal landing craft utility (LCU).

Selengkapnya>>

Mehan RI menandatangani kesepakatan kerjasama Indonesia-Cina



Cina, DMC - Menteri Pertahanan Republik Indonesia, Juwono Sudarsono dan Menteri Pertahanan Republik Rakyat Cina, Cao Gang Chuan, Rabu (07/11), bertempat di Gedung Kementerian Pertahanan RRC Beijing telah menandatangani kesepakatan kerjasama kedua negara dibidang Pertahanan.

Perjanjian kerjasama ini tertuang dalam Defence Coorporation Agreement yang mencakup peningkatan kerjasama dibidang joint product / produksi bersama industri pertahanan dan program saling menukar perwira.

Kunjungan ini merupakan tindaklanjut dari kerjasama strategis / strategic partnership yang telah dilandasi oleh kedua kepala negara. pada kesempatan kunjungan ke Beijing Cina, Menhan Juwono Sudarsono juga bertemu dengan Ketua Kongres Nasional Cina, Wo Bang Que.

Sumber : DMC

Thursday, November 08, 2007

Up-Armored HMMWV Modifications



As MRAP is about to be fielded in mass, and more protected alternatives are considered for the HMMWV, this veteran vehicle is still operating in large numbers, continuously beefed-up with more armor protection and modifications. Some of the add-ons developed by BAE Systems were on display at MDM. The latest add-on armor applied to the HMMWV has improved side protection by heavier FRAG 5 / FRAG 6 armor kits. Several accessories designed to make life in an up-armored HMMWVs more tolerable were introduced recently.

Urban combat environment can be particularly dangerous to soldiers remaining in disabled vehicles. Rapid recovery is therefore imperative, and military users are examining many alternatives to facilitate rapid, safe recovery of disabled or damaged vehicles without putting the crew or rescue teams at unnecessary risk. Combat recovery systems were designed for the HMMWV on display at MDM 07, reflecting simple but effective vehicle recovery solutions.

Another essential accessory is the electrical door assist mechanism, designed to operate the u-armored door weighing over 400 kg (applied with FRAG 6 kit). This mechanism, introduced by BAE System's mobility and protection systems (formerly Armor Holdings) can operate the door on level ground or up to 17 deg slope (30%), opening or closing it within five seconds.

Another system that became too heavy for manual operation is the gunner protection kit. An electric traverse kit moves the turret at up to 6 rpm, under all inclinations, therefore improving the gunner's situational awareness and response even under difficult conditions. The traverse mechanism is powered by rechargeable batteries offering independent operation regardless of the vehicle's condition. BAE Systems also proposes an improved air conditioning and integrated cooling systems, designed to reduce the temperature in the simmering cabin to bearable 82 F (29 C) and further reduce the crew's temperature to 60-70 F (15-21C), utilizing water circulating cooling vests.

5 Pesawat Tempur 100/200 Skadron Udara I, Tiba di Lanud Halim



Lima Pesawat tempur Hawk 100/200 dari Skadron Udara I, Lanud Supadio Pontianak, yang dipimpin langsung oleh Komandan Skadron Udara I Letkol Pnb Minggit Tribowo mendarat di Halim Perdanakusuma, Rabu (7/11).

Kelima pesawat tersebut Senin lalu terlibat dalam penembakan di Air Weapon Range (AWR) Pandan Wangi, Lumajang, dalam Latihan Puncak TNI AU Angkasa Yudha dan terbang dari Lanud Iswahjudi Madiun, selanjutnya akan berada di Halim Perdanakusuma sampai tanggal 12 Nopember 2007 dalam rangka melaksanakan pengaman Alur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI).

Sumber : Dispen AU

Indonesia tidak Bermaksud Bentuk Pakta Pertahanan dengan China

BEIJING--MEDIA: Indonesia tidak bermaksud membentuk pakta atau aliansi pertahanan dengan China menyusul ditandatanganinya naskah kerjasama kedua negara dan Indonesia tetap menganut politik luar negeri bebas aktif.

"Kita tidak bermaksud membentuk alinasi atau pakta pertahanan dengan China, tetapi semata-mata untuk untuk meningkatkan kerjasama pertahanan kedua negara," kata Menteri Pertahanan (Menhan) Juwono Sudarsono, di Beijing, Kamis.

Hal tersebut ditegaskan Menhan dalam wawancara dengan Antara yang juga dihadiri oleh Dirjen Strahan Mayjen TNI Dadi Susanto, Dirjen Renhan Laksda TNI Tedjo Edhy Purgiatno, serta Atase Pertahanan di Beijing Yayat Sudrajat.

Pemerintah Indonesia dan pemerintah China yang masing-masing diwakili oleh Menhan RI Juwono Sudarsono dan Menhan China Cao Gangchuan, Rabu (7/11), di Beijing, menandatangani kerjasama bidang pertahanan.

Menurut Menhan, penandatanganan kerjasama bidang pertahanan tersebut merupakan realisasi dari Kemitraan Strategis yang telah ditandatangani oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Presiden Hu JIntao, di Jakarta, April 2005.

Kerjasama pertahanan kedua negara itu, katanya, tidak ada kaitannya dalam upaya kedua negara membentuk pakta pertahanan namun lebih difoksukan dalam upaya bagaimana kedua negara bisa melakukan kerjasama di berbagai bidang seperti pertukaran dan alih teknologi, pertukaran siswa militer, serta adanya kemungkinan pembelian senjata.

Juwono mengatakan, Indonesia merasa yakin bahwa China tidak bermaksud akan melakukan ekspansi militer ke luar negeri, termasuk ke Indonesia karena sama halnya dengan Indonesia, masih banyak persoalan di dalam negeri masing-masing negara yang harus diselesaikan.

"Kita sama-sama berprinsip bahwa masih banyak persoalan di dalam negeri yang harus diselesaikan, seperti di Indonesia dengan program pengentasan kemiskinan," kata Menhan Juwono.

Demikian pula dengan Indonesia, katanya, pihaknya telah meyakinkan dengan mitranya di luar negeri bahwa tidak ada maksud untuk melakukan ekspansi ke luar negeri.

Menhan Juwono yakin bahwa peran politik dan militer China harus disesuaikan dengan peran yang seharusnya diperankan setelah negara itu mengalami kemajuan sangat pesat di bidang ekonomi.

Dirjen Strahan Dadi Susanto mengatakan, kerjasama ini hendaknya jangan disalahtafsirkan bahwa Indonesia telah berkiblat ke China, namun masih menganut politik bebas aktif.

"Judul kerjasama ini adalah saling menguntungkan kedua belah pihak dan dasarnya saling mengakui kedaulatan masing-masing dan hukum internasional. Ini perlu dipahami sehingga jangan ditafsirkan Indonesia bergeser kiblat tapi tetap bebas aktif," katanya. (Ant/OL-1)

Sumber : Media Indonesia

Russia SMF successful Launch of an RS-18 ballistic missile

A successful test launch of an RS-18 (NATO reporting name SS-19 Stiletto) has allowed Russia to extend its service life to 31 years.

RI-China Kerjasama Bidang Pertahanan



Beijing (ANTARA News) - Pemerintah Indonesia dan Pemerintah China sepakat melakukan kerja sama bidang pertahanan sebagai tindaklanjut dari kerjasama strategis yang ditandatangani Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Presiden Hu JIntao, April 2005.

"Kedua negara telah menandatangani kerjasama bidang pertahanan dan kedua menteri pertahanan telah menyepakatinya," kata Duta Besar (Dubes) RI untuk China Sudrajat kepada ANTARA News di Beijing, Rabu.

Hal tersebut dikemukakan Dubes terkait adanya penandatanganan kerjasama antara Menhan RI Juwono Sudarsono dan Menhan Cina Cao Gangchuan, Rabu (7/11), di Beijing.

Menurut Dubes Sudrajat, kedua menteri telah menandatangani kerjasama di berbagai bidang pertahanan, diantaranya kerjasama di bidang kelembagaan, kerjasama di bidang teknologi, serta bidang pendidikan dan latihan.

"Kedua Menhan telah membuat payung kerjasama dan tentunya nanti akan ada tindak lanjut dengan pola dialog, pola seminar yang intinya kedua negara sepakat melaksanakan kegiatan bidang pertahanan," kata Dubes Sudrajat.

Dalam kerja sama itu, katanya, juga dimungkinkan adanya pembelian senjata yang masuk dalam bidang kerjasama bidang teknologi.(*)

Sumber : ANTARA

Catatan Moderator :
C-802 atau Ying Ji-802 (foto atas), merupakan salah satu rudal permukaan yg rencananya bakal di akuisisi teknologinya. Rudal tsb masuk dalam paket MoU antara RI-China. Kuat dugaan rudal ini sudah tiba di Indonesia, menurut sumber (anonim) beberapa rudal C-802 sudah ada di PT.PAL, Surabaya. Berikut spesifikasi Ying-Ji 802.

Sekjen Dephan : Pemerintah Mempunyai Kewajiban Untuk Menjaga Eksistensi BUMNIS

Jakarta, DMC - Sekretaris Jenderal Departemen Pertahanan (Sekjen Dephan) Letjen TNI Sjafrie Sjamsoeddin mengatakan, ke depan tantangan yang akan dihadapi Badan Usaha Milik Negara Industri Strategis (BUMNIS) dalam menampilkan produksi industri strategis pertahanan semakin berat. Oleh karena itu, pemerintah berkewajiban untuk mendukung pemanfaatan produksi BUMNIS agar senantiasa dapat digunakan untuk kepentingan pertahanan negara.

“Pemerintah mempunyai kewajiban untuk menjaga eksistensi BUMNIS sebagai produsen alutsista yang dibutuhkan oleh pengguna dalam hal ini adalah Tentara Nasional Indonesia (TNI)”, ungkap Sekjen Letjen TNI Sjafrie Sjamsoeddin, Selasa (6/11) saat memimpin pertemuan tiga bulanan antara penentu kebijakan, pengguna dan produsen di bidang alutsista yang ke lima di PT. Dahana Indonesia, Tasikmalaya, Jawa Barat. Dalam kesempatan tersebut Sekjen Dephan didampingi oleh Direktur Utama PT. Dahana, Tanto Dirgantoro.

Lebih lanjut dijelaskan Sekjen Dephan, bahwa komitmen pemerintah tersebut terlihat secara simbolik pada saat ditandatanganinya kesepakatan antara BUMNIS dengan Dephan pada bulan Januari 2006 di PT. DI, yaitu tentang komitmen untuk meningkatkan peran BUMNIS dalam kaitan produksi industri strategis pertahanan yang diperlukan TNI. Dephan sebagai salah satu perumus kebijakan dan pengemban amanat Undang – Undang Pertahanan Negara yang mengisyaratkan bahwa Dephan adalah Pembina industri teknologi pertahanan dan memberikan supervisi yang digunakan dalam rangka memenuhi kebutuhan alutsista TNI.

Sekjen Dephan mengatakan, sejalan dengan dukungan pemerintah tersebut tentunya ada prasyarat yang hendaknya menjadi komitmen untuk dipenuhi BUMNIS sebagai produsen industri strategis pertahanan dalam negeri. Prasyarat itu antara lain adalah dari segi kualitas, daya saing harga dan ketepatan waktu dalam pendistribusiannya.

Diungkapkan Sekjen Dephan, pemerintah memang belum berpikir bagaimana memberikan jalur-jalur yang dapat mempermudah BUMNIS dalam mendukung peningkatan produksinya. “Karena masih banyak sekali simpul-simpul yang memerlukan penyesuaian terutama dari aspek regulasi dan birokrasi. Sehingga perlu dipikirkan bagaimana mencari terobosan-terobosan agar bisa mendapatkan alternatifnya”, ungkap Sekjen.

Menurut Sekjen Dephan, dengan adanya pertemuan yang diadakan secara rutin antara penentu kebijakan dengan pengguna dan produsen di bidang alutsista, maka kehadiran BUMNIS sangat perlukan untuk mengadakan sinkronisasi dan interaksi tentang hal-hal yang menjadi komitmen bersama baik dari segi policy maker, user maupun produsen. “Kita akan selalu mengadakan sinkronisasi koordinasi agar tidak terjadi celah antara kebutuhan yang diperlukan oleh TNI dalam kaitan rencana kebutuhan alutsista dengan kemampuan yang dimiliki oleh BUMNIS”, tambah Sekjen.

Sementara itu, diakhir pertemuan tersebut Direktur Jenderal Sarana Pertahanan (Dirjen Ranahan) Dephan, Marsda TNI Eris Heryanto S.IP, MA kepada pers menjelaskan, dalam pertemuan kali ini dibahas dua hal tentang perencanaan proyek strategis. Pertama tentang kebijakan korvet nasional dan kedua adalah berkaitan dengan proyek pembangunan pabrik industri bahan peledak khusus untuk militer yang lebih spesifik disebut sebagai propelan atau amunium nitrat.

Mengenai program korvet nasional, Dirjen Ranahan Dephan mengatakan, bahwa program korvet nasional direncanakan dari tahun 2005 sampai dengan tahun 2009 dengan pentahapan setiap satu tahunnya. Dijelaskan Dirjen, sampai dengan tahun 2009 dianggap masih belum cukup. Oleh karena itu, untuk memutuskan dari mana diperoleh dukungan anggaran maka akan diputuskan pada rapat tingkat menteri, karena masalah tersebut tidak dapat diselesaikan pada tingkat eselon I ke bawah.

Dijelaskan Dirjen Ranahan, dalam perencaraan proyek strategis tersebut disepakati bahwa nantinya sebagai penjuru adalah Bappenas. Sehingga Bappenas juga diharapkan menjadi koordinator untuk menyelenggarakan suatu rapat tingkat menteri untuk membahas dan menentukan alokasi anggaran.

Ditambahkan Dirjen Ranahan, dalam pertemuan tiga bulanan kali ini disepakati pula bahwa untuk membina industri pertahanan dalam rangka kemandirian nasional akan dibuat blue print pengembangan industri strategis dalam negeri yang melibatkan dari pihak policy maker, BUMNIS maupun pihak pengguna. Sehingga, kemandirian dalam negeri di bidang alutsista bisa tercapai. Tetapi, hal itu masih perlu adanya tidaklanjut berikutnya yang nantinya akan dipenjurui pula oleh Bappenas.

Dalam pertemuan tersebut hadir pihak penentu kebijakan antara lain beberapa pejabat Eselon I dan II di lingkungan Departemen Pertahanan, Kementerian BUMN, Dirjen Industri Agro Kimia Deperind, Dirjen Anggaran Depkeu, Dir. Hankam Bappenas. Dari BUMNIS sebagai pihak produsen di bidang alutsista antara lain hadir para direktur dari PT. Dahana, PT. PAL, PT. Pindad, PT. DI dan PT. LEN. Sementara itu, dari pihak pengguna dalam hal ini Mabes TNI dan Mabes Angkatan antara lain hadir Aslog Kasum TNI dan Asrena, Aslog serta Kadislitbang dari masing masing ketiga angkatan darat, laut dan udara.(BDI/HDY)

Sumber : DMC

Wednesday, November 07, 2007

Photo-Stealth Camouflage Technology Unveiled

Military Wraps Inc. has unveiled today a patent-pending, camouflage technique enabling military units to conceal vehicles, aircraft, UAVs, boats or hardware by blending them in the surrounding scene.

The company unveiled the new camouflage at the U.S. Special Operations trade show (SOFEX 2007) and will also display again at the SpecOps East Warfighter Symposium and Expo next week.

According to Trevor J. Kracker, president of Military Wraps, unlike the 'hyperstealth' technique that utilize computer graphics to deform a pattern, Military-Wraps utilize proprietary 'Photo-Stealth' and 'Photo-Real' site-specific camouflage technique to combine photographic digital detailing and print them over vinyl-adhesive wraps that are designed to match a surrounding terrain so vividly that vehicles, weapons, and equipment can seem to disappear into the surrounding battlefield environment.

Military Wraps was established earlier in 2007 to promote the new technology. The company announced today it selected MACtac a subsidiary of the Bemis Company, Inc., (NYSE:BMS), to deliver the vinyl for the new system.

Source : Defense-Update.com


Image above: A typical application of Phot-Stealth' and 'Photo-Real' patterns applied over a British MWMIK vehicle, demonstrates how Military Wraps technology can be used with photo-realistic scene patterns to conceal vehicles in a specific terrain. Image: Military-Wraps inc.

Presiden : Anggaran Pertahanan Ditingkatkan Agar TNI/Polri Profesional dan Modern

Jakarta (ANTARA News) - Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menyatakan pemerintah akan meningkatkan anggaran pertahanan dan kepolisian, demi mendukung profesionalitas dan modernisasi persenjataan TNI dan Polri.

"Peningkatan anggaran pertahanan dan kepolisian dimaksudkan agar tugas pertahanan dan keamanan dilakukan dengan baik," kata Presiden, dalam sambutannya pada Munas XIII Persatuan Purnawirawan dan Warakawuri TNI dan Polri (Pepabri) di Istana Negara, Jakarta, Rabu.

Di hadapan sekitar 250 purnawirawan TNI/Polri, Presiden menyatakan tidak ingin jika tentara Indonesia kalah modern dibanding negara lain, terutama dengan negara tetangga.

Pada APBN 2007 khusus anggaran pertahanan diusulkan sebesar Rp31,3 triliun, terdiri atas TNI Angkatan Darat mendapat alokasi anggaran Rp11,9 triliun, Markas Besar TNI memperoleh alokasi Rp 4,3 triliun, TNI Angkatan Laut, Rp 4,7 triliun, TNI Angkatan Udara Rp 3,6 triliun dan Departemen Pertahanan Rp 6,5 triliun.

Presiden mengakui anggaran pertahanan dan kepolisian di APBN dari tahun ke tahun belum ideal, padahal mereka (TNI/Polri) dituntut lebih memiliki kemampuan menjalankan tugasnya.

"Komitmen meningkatkan anggaran pasti ada, namun tetap harus ada perimbangan dengan pos lain, seperti upaya peningkatan kesejahteraan rakyat, kesehatan dan pendidikan," kata Kepala Negara.

Presiden menyoroti reformasi TNI/Polri akan memasuki tahun ke-10 pada 2008.

"Tahun depan kami meminta keluarga besar TNI/Polri untuk melaporkan hasil reformasi yang telah berlangsung kepada rakyat, supaya dapat dinilai," kata Presiden.

Ia menjelaskan tugas TNI/Polri merupakan tugas yang mulia, yaitu pengabdian kepada bangsa dan negara, terutama dalam mempertahankan setiap jengkal tanah air.

"Kalau harus berperang misalnya, saya yakin Indonesia selalu siap. Saya yakin ketika negara memanggil mereka untuk mengemban tugas, tetap akan dilaksanakan," kata Presiden.

Tetapi harap diingat, perang adalah jalan terakhir, karena perang memerlukan biaya besar.

"Sebagai negara yang cinta damai, kita mengutamakan diplomasi tanpa mengorbankan keutuhan dan kedaulatan negara kita," tandas Presiden. (*)

Sumber : ANTARA

KSAL Diganti Mendadak

Buat : @moch-isa
Mungkin ini bisa dijadikan acuan mengapa KSAL diganti secara mendadak. Sumber saya ambil dari Jawa Pos, smoga berkenan.

JAKARTA - Kabar mengejutkan datang dari Mabes TNI. Kepala Staf Angkatan Laut Laksamana Slamet Soebijanto diganti mendadak. Hari ini KSAL baru langsung dilantik di Istana Negara oleh Presiden SBY. Serah terima jabatan dilaksanakan minggu depan di Komando Armada Timur Surabaya.

"Penggantinya Pak Sumardjono. Sekarang beliau Irjen Dephan," ujar Kepala Dinas Penerangan Umum Mabes TNI Kolonel Ahmad Yani Basuki kepada Jawa Pos tadi malam. Penggantian itu, kata Yani, karena KSAL Slamet memasuki masa persiapan pensiun. "Mengenai waktu penggantiannya hak prerogatif presiden," kata doktor sosiologi militer UI tersebut.

Kepala Pusat Penerangan Mabes TNI Marsekal Muda Sagom Tamboen mengatakan, pergantian KSAL tidak melalui sidang Dewan Jabatan Kepangkatan Tinggi. "Kebijakan itu diambil panglima TNI sebagai pimpinan. Tentu beliau mendengarkan masukan dari banyak pihak," katanya.

Lazimnya, pergantian pati melalui sidang Wanjakti. Misalnya, saat menentukan promosi jabatan seorang perwira. "Tapi, kalau level kepala staf yang bersidang kan harus jabatan yang lebih tinggi. Jadi, tidak ditentukan oleh musyawarah pangkat yang lebih rendah," kata Sagom.

Dalam UU No 34/2004 tentang TNI disebutkan, masa pensiun maksimal perwira tinggi adalah 58 tahun. Slamet lahir di Mojokerto 4 Juni 1951 (56 tahun). Uniknya, calon penggantinya, Laksdya Sumardjono, juga berusia 56 tahun. Irjen Dephan itu lahir di Jogja, 21 Juni 1951.

Adakah alasan lain dibalik mutasi mendadak itu? Sagom membantah. "Kalau urutannya Laksdya Sumardjono kan angkatan 74. Selain beliau, ada Laksdya Djoko Sumaryono (kepala Bakorkamla) dan Laksdsya Yosaphat Didik Heru Purnomo," katanya. Namun, "Bergantung siapa yang dipilih presiden itu yang jadi," tambahnya.

Sebelum menjadi calon KSAL, Sumardjono baru saja menjabat Inspektorat Jenderal Dephan April lalu. Sumardjono juga pernah menjadi Irjen TNI, Dansesko TNI (2006), Asrena KSAL (2004), dan Pangarmabar 2002. Sumardjono merupakan lulusan AAL angkatan ke-20 (1974).

Sumber Jawa Pos di TNI-AL mengatakan, Lakdsya Sumardjono pernah digadang-gadang menjadi KSAL saat panglima TNI masih dijabat Endriartono Sutarto. "Tapi, saat itu Pak Bernard merekomendasikan Pak Slamet," katanya.

Saat menjabat KSAL, Slamet Soebiyanto mendapat banyak pujian dari anak buahnya. "Tapi, banyak kebijakannya yang berseberangan dengan Mabes TNI," ujarnya sambil wanti-wanti namanya tidak dikorankan.

Apa saja kebijakan yang kontroversial itu? Yang pertama, menurut sumber itu, rencana pergeseran pangkalan utama TNI-AL ke daerah-daerah perbatasan. Juga pembentukan komando wilayah pertahanan. Slamet berencana menggabungkan beberapa armada menjadi satu di bawah satu pucuk pimpinan panglima. Nanti hanya ada satu panglima armada.

KSAL ingin membagi Indonesia menjadi tiga komando wilayah laut (Kowilla), yaitu Kowilla Timur di Sorong, Papua; Kowilla Tengah di Makassar; dan Kowilla Barat di Tanjung Pinang. Surabaya merupakan Markas Komando Armada Besar yang membawahkan tiga armada tersebut.

Juga yang menjadi kontroversi adalah sikap Slamet yang merekomendasikan Rusia sebagai kiblat pengadaan senjata TNI-AL. "Kubu yang pro Amerika Serikat agak tersinggung," katanya.

Efeknya juga berimbas pada rekanan. Jika kiblat pengadaan senjata berganti, otomatis rekanan berganti. "Pak Slamet juga terjun langsung untuk melihat barang sebelum dibeli. Ini yang tidak dilakukan oleh sebelum-sebelumnya," katanya.

Apa lagi? Rencana pergantian seragam PDH TNI-AL juga menjadi kontroversi. KSAL berencana mengubah PDH dari warna biru laut menjadi putih hitam. "Tapi, Mabes TNI menolak keras," katanya.

Kebijakan Slamet yang tegas terhadap purnawirawan yang menempati lahan dinas juga jadi kontroversi. "Kalau soal itu, para purnawirawan juga sudah mengambil sikap sendiri," katanya.


Anggota Komisi I DPR Yuddy Chrisnandhi sangat terkejut dengan penggantian Slamet. "Tadi siang (kemarin, Red) di Cipulir saya ketemu beliau tidak ada pembicaraan apa pun," ujarnya. KSAL kemarin memang sempat menghadiri seminar tentang industri pertahanan di Seskoal, Cipulir, Jakarta Selatan.

Menurut Yuddy, komitmen Slamet untuk menata TNI-AL bagus. "Karena itu, kalau alasannya bukan usia, itu subjektif dan harus dipertanyakan," katanya.

Kemarin siang KSAL masih sempat membuka seminar di Markas Seskoal, Cipulir, Jakarta Selatan. Dalam acara itu dia sama sekali tidak menyinggung pergantian jabatan. Orang pertama di tubuh TNI-AL itu malah meminta industri pertahanan dalam negeri berani mencuri teknologi negara lain. Jika itu dilakukan, biaya yang dibutuhkan untuk mengembangkan industri alat utama sistem persenjataan (alutsista) bisa dihemat.

"Indonesia jangan ragu-ragu mencuri teknologi itu. Semuanya juga mencuri toh? Jepang mencuri, China mencuri, Amerika dan Rusia juga mencuri," kata Slamet. Dalam teknologi militer meniru senjata buatan luar negeri sering disebut reverse engineering. (rdl)

Sumber : Jawa Pos

Resiko Texmaco Ber-Pelat Merah

Mengamankan agen pendahulu. Begitulah misi yang diusung pejabat baru Direktur Jenderal Sarana Pertahanan, Departemen Pertahanan, Marsekal Muda Ery Heriyanto. "Saya akan melanjutkan misi untuk menjadikan Texmaco sebagai industri strategis," katanya usai pelantikan, Selasa lalu. Ery menggantikan Marsekal Muda Slamet Prihatino, yang memasuki masa purnatugas.

Selama ini, TNI begitu bergantung pada produsen luar negeri untuk memenuhi alat utama sistem kesenjataan (alutsista) itu. Ketika Amerika Serikat mengembargo senjata terhadap Indonesia, TNI makin menderita. Biarpun kini embargo itu sudah dicabut, tetap saja kita belum bisa menyediakan alutsista itu dengan baik. Biaya yang disediakan sangat besar.

Untuk mengurangi ketergantungan terhadap produsen alutsista dari mancanegara itu, Departemen Pertahanan punya usul: menjadikan Texmaco Perkasa Engineering sebagai BUMN. Jika disetujui, perusahaan pelat merah eks Texmaco ini nantinya berfungsi sebagai industri strategis yang memproduksi alat pertahanan atau persenjataan militer.

Usul menjadikan Texmaco sebagai BUMN itu tergambar dalam surat Menteri Pertahanan (Menhan) RI, Juwono Sudarsono, kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), tertanggal 14 Agustus 2007. Dalam surat itu Juwono menyatakan bahwa Texmaco Perkasa Engineering, yang berlokasi di Subang, Jawa Barat, adalah satu-satunya industri di Indonesia yang punya kemampuan heavy engineering and fabrication.

Selain itu, Texmaco memiliki kemampuan textile machinery, machine tools automotive components, dapat melakukan rancang bangun permesinan dan pabrikasi suku cadang berbagai alat berat. Termasuk memproduksi alat-alat pertahanan atau senjata militer, antara lain tank tempur, panser, serta mobil truk angkut pasukan dan barang. Texmaco telah mendapatkan ISO 9001 dan 9002 pada 2001.

Selengkapnya>>